Need (Y)Our Help : Fyzo

Need (Y)Our Help : Fyzo
"Persetan dengan perasaanku"


__ADS_3

Hari ini aku bangun kesiangan karena jam di kamarku kehabisan daya. Ponselku juga sedang disita karena masalah minggu lalu. Aku segera bergegas ke kamar mandi menggabungkan semua kegiatan di sana dalam waktu yang sama. Semua itu memakan waktu sekitar 10 menit.


Saat aku mengenakan seragam sambil menyortir buku pelajaran, aku dipanggil orang tuaku, dan katanya ada tamu, ternyata Sina. Anak yang kemarin.. aku memintanya untuk menunggu beberapa menit, dan langsung bergegas menuju sekolah. Aku bisa menggunakan uang daruratku untuk membeli roti di perjalanan menuju sekolah. Di saat seperti inilah uang darurat sangat dibutuhkan.


“Fayzul, orang tuamu sangat ramah ya.” Ramah apanya? Pada anak sendiri tidak pernah se ramah itu.


“Oh, iya.. Mereka menerapkan prinsip tamu adalah raja.” Aku hanya membual untuk mempersingkat pembicaraan. Kebetulan juga tempat menunggu bis sekolah dekat dengan toko, mungkin aku akan membeli roti, dan baterai di sana.


Sayangnya setelah sampai di halte, bisnya datang, dan terpaksa aku melewatkan sarapanku atau aku mendapatkan masalah baru.


“Sina, wangimu berbeda dari kemarin. Kau memakai parfum yang berbeda?” Efek samping jika aku lapar ialah penciumanku yang menjadi lebih peka. Kemarin aku tidak terlalu ingat aromanya seperti apa, tapi sekarang aromanya seperti permen karet.


“Aku memakai parfum yang sama seperti kemarin, atau jangan-jangan kau mencium aroma permen yang kumakan?! Ini, mau beberapa!?” Dia menawarkanku permen karet. Setidaknya ini bisa menahan lapar.


“Terima kasih, akan kumakan langsung.” Sebenarnya tidak masalah jika aku tidak sarapan pagi, hanya saja kemarin aku tidak mau makan malam karena masalah perbandingan. Hanya membuatku muak.


Sepanjang perjalanan, Sina hanya menanyakan tentang keluargaku. Aku menjawabnya dengan kebohongan karena sejak awal semua sikap keluargaku padanya berbanding terbalik denganku. Hingga akhirnya kami sampai di halte dekat sekolah. Sina benar-benar membayar ongkos untuk kami berdua, dan hari ini dia lebih cepat daripada aku. Mungkin efek lemas ini membuat semua hal di sekitarku terasa lebih cepat, atau mungkin penyebab Sina memiliki daya pikir lebih lambat karena dia lelah.


“Kau mengingatkanku pada tean lamaku, Ayra. Dia mirip denganmu.”


“Di mana dia sekarang?”


“Sejak memasuki sekolah dasar, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Kami berteman saat kami masih sangat kecil, dan dia cukup pengertian.”


“Apa sejak dulu wajahmu datar seperti ini?”


“Tentu saja tidak, banyak hal yang terjadi sehingga aku menjadi seperti ini.”


“Aku penasaran seperti apa, pasti menggemaskan!”


“Tidak, aku sangat menjengkelkan. Saking nakalnya, kedua lenganku pernah patah.” Setelah aku menunjukkan kedua lenganku, dia terkejut, dan menanyakan apa yang terjadi padaku. Kami mengobrol sampai masuk kelas, tidak heran jika seisi kelas berprasangka aneh pada kami berdua.


Di tengah jam pelajaran, perutku terasa mual. Mungkin masuk angin karena perut kosong. Aku meminta izin untuk ke UKS karena merasa tidak sehat. Sesampainya di UKS mualku tak tertahankan sehingga aku muntah di wastafel ruang UKS, dan meminta multivitamin pada penjaga UKS. Bagiku, multivitamin adalah primadona segala penyakit, aku pun pergi ke kantin untuk membeli roti.


Saat aku berada di kantin, seorang guru memergokiku sedang makan di tengah jam pelajaran. Aku pun menjelaskan apa yang terjadi, karena aku jarang mendapati kondisi seperti ini, guru pun percaya padaku, dan mengizinkanku untuk hari ini saja. Kejujuranku dihargai sehingga mengharumkan namaku di sekolah, padahal sebenarnya aku jarang mengatakan kejujuran namun satu padunya ucapan, dan perlakuanku di sekolah dikenal sebagai kejujuran.


Jam istirahat telah tiba, aku mengumpulkan beberapa sampah plastik dan membuangnya ke tempat sampah dan meninggalkan kantin. Di perjalanan aku bertemu dengan para bully sekolah, dan seperti dugaanku mereka hanya menanyakan apa hubunganku dengan si anak baru, Sina.


“Kenapa tidak kalian tanyakan saja sendiri pada anak itu jika semua perkataanku hanya akan dianggap sebagai bualan?” Ucapku sambil berjalan menuju kelas, aku melirik ke sekelilingku dan kebetulan ada guru. Kemungkinan ucapanku tadi akan memancing para murid berotot besar dan berotak kecil itu, aku pun menoleh ke belakang untuk memastikannya.


“Hmm? Kurasa mereka sudah memiliki sasaran lain selain aku” Aku tidak melihat ke depan dan tak sengaja menabrak seseorang. “Oh! Maaf! Aku tidak melihat ke depan.” Ku lihat ternyata hanya ketua kelas yang membawa buku catatan murid. “Ada tugas hari ini?”


“Tidak, hanya latihan soal dan guru memintaku untuk membawa buku catatan murid untuk diperiksa nanti.” Jawabnya sambil menyusun kembali buku yang jatuh.


“Akan kubantu, mungkin bisa kau terima sebagai permintaan maafku.” Aku membantunya menyusun kembali buku catatan itu dan menyimpannya di tangannya.


“Terima kasih.”


“Sama-sama.” Dan aku pun melanjutkan perjalananku ke kelas, lagi pula suasana seperti tadi terlalu mudah untuk dibaca, dan aku tidak ingin mendapatkan masalah yang lainnya.


Sesampainya di kelas aku hanya duduk dan menggambar sesuatu yang tidak beraturan, bagiku simetris itu membosankan, aku bahkan menggambar dengan tangan kiri meskipun aku bukan seorang yang kidal. Aku sudah terbiasa menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi kali ini aku merasakan ada yang kurang atau hilang atau lupa. Aku mengecek dompetku, semuanya pas, mengingat kembali beberapa hal yang terlewat, hmmm.....


“Dor!! Melamun terus! Sudah merasa lebih baik?”


Oh! Aku lupa mengerjakan latihan soal karena aku ke kantin!! Tapi, sepertinya aku tidak perlu mencemaskan hal itu karena tadi kondisiku sedang tidak stabil, mungkin aku bisa menemui guru mata pelajarannya dan meminta maaf.

__ADS_1


“Hey!!!”


“Apa?”


“Kau ini benar-benar seperti mayat hidup! Memangnya kau tidak terkejut? Kulihat reaksimu datar-datar saja.”


“Jadi?”


“Harusnya kau terkejut!”


“Tidak, terima kasih, ada hal yang lebih penting dari itu. Bisakah kita tidak perlu berbicara di sekolah?”


“Kenapa!?”


“Cobalah untuk berbicara pada beberapa murid yang duduk di belakang sana, mungkin mereka ingin berkenalan denganmu.” Ucapku sambil mengarahkan telunjukku ke tempat duduk para bully di kelasku pada Sina.


“Apa mereka mengancammu untuk memperkenalkanku pada mereka? Kenapa tidak kau lawan saja? Kau ini laki-laki.”


“Tidak, terima kasih. Aku lebih suka jika hidupku damai, lagi pula menyerahkanmu pada mereka bukanlah hal yang sulit.”


“Aku akan membuatnya menjadi sulit.”


“Oh ayolah.. jangan membuat hidupku menjadi sulit juga.”


“Mereka bukan temanmu kan? Mereka hanya sekelompok orang yang selalu berbuat jahat padamu.”


"Memang, tapi akan lebih menyebalkan lagi jika mereka mulai memperlihatkan kemunafikan mereka dengan berprilaku baik padaku hanya untuk mendekatimu. Itulah kenapa aku rekomendasikan hal itu."


"Memang, tapi akan lebih menyebalkan lagi jika mereka mulai memperlihatkan kemunafikan mereka dengan berperilaku baik padaku hanya untuk mendekatimu. Itulah kenapa aku rekomendasikan hal itu."


Sina melihatku dengan tatapan aneh, terlihat seperti sedikit kecewa karena mungkin dia pikir aku hanya membuatnya seperti ayam yang kulemparkan ke dalam danau buaya. Saat dia menghela nafas, dan akan mengatakan sesuatu, bel pun berbunyi. Semua siswa kembali belajar seperti biasanya.


“Mmmm... mungkin aku akan pulang dulu untuk mengerjakan kewajibanku sebagai anak di rumah.”


“Yang benar saja! Kau ini laki-laki, tidak wajib bagi anak laki-laki untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Bahkan itu harusnya pekerjaan saudarimu, bahkan aku di rumahku sendiri.”


“Bahkan jika kuceritakan semua hal kau tak akan pernah percaya apa saja yang telah terjadi padaku. Semua saudariku tipe orang yang sangat perhitungan. Jika aku mendapatkan bagian dapur dan halaman depan, mereka hanya akan menyapu sampai daerah sana.”


“Serius!!?”


“Karena tiap orang punya daerah masing-masing untuk dibersihkan, ya mereka hanya membersihkan ruangan yang telah jadi bagian mereka saja, sisanya dibiarkan berserakan karena itu sudah bukan bagian mereka. Pernah sekali aku terlalu lama membersihkan halaman depan sehingga dapur terbengkalai untuk beberapa menit dan aku dihakimi.”


“Bahkan dibalik sifat hangat mereka?” Sepertinya dengan seiring berjalannya waktu, Sina berpihak padaku. Andai saja aku seorang antagonis dalam sebuah kisah, aku bisa memanfaatkan hal ini, tapi aku hanya siswa biasa yang memiliki kehidupan yang agak berbeda, dengan sifat yang berbeda juga.


Kami berpisah di persimpangan, Sina berteriak untuk segera datang ke tempatnya tetapi aku terlalu malas untuk membalikan badan atau menoleh ke belakang. Sesampainya di rumah, seperti biasa aku melakukan apa yang sudah menjadi kebiasaanku, dan diakhiri dengan mandi.


Setelah mandi aku mengenakan baju yang agak berbeda dari biasanya karena kali ini aku tidak akan diam di rumah, namun hal ini mencuri perhatian adikku.


“Mau ke mana? Tumben rapi, kencan ya? Bilang ibu ah..”


“Aku hanya akan mengerjakan tugas kelompok.” Jawabku sambil menutup pintu rumah dan pergi. Cukup aneh dan menyebalkan menerima kenyataan bahwa tak satu pun yang sebenarnya peduli padaku, jika aku menggunakan motor, beda lagi ceritanya. Jika terlalu lama pergi mereka akan memanggilku bahkan sampai spam panggilan tak terjawab belasan kali.


Sampai di persimpangan aku melihat Sina sedang bermain dengan kucing liar, aku pun menghampirinya dan ikut bermain dengan kucing itu dengan melambaikan tali jaketku ke wajah kucing itu.


“Fayzul!! Sejak kapan kau sampai!!?” Sina kaget ketika lengan kami bersenggolan.

__ADS_1


“Baru saja, kenapa kau ada di sini?”


“Aku suka bermain dengan kucing, dulu aku tidak pernah diizinkan untuk memiliki hewan peliharaan, ingin rasanya memelihara kucing ini.”


“Kau sekarang tinggal sendiri kan? Kenapa tidak kau adopsi saja anak kucing ini?”


“Ide bagus!! Kalau begitu aku akan mulai menamai dia......” Sina mulai membisu setelah memikirkan nama yang cocok untuk kucing liar ini, kukira semua perempuan sangat pandai dalam memilih nama.


“Dia memiliki tiga warna, matanya hijau, ekornya panjang, betina, ummm... nama apa yang cocok untuknya ya? Ada saran?”


“Saran dariku cukup buat nama yang mudah diingat dan simpel.”


“Si Manis!” Ucapnya dengan girang. Senyumnya yang lebar membuat lesung pipinya terlihat jelas, gigi taring yang gingsul juga terlihat jelas.


“Jadi, kapan kita mulai mengerjakan beberapa hiasan untuk acara lusa?”


“Karton, gabus, dan lainnya sudah kusiapkan di atas meja, ayo masuk! Dadah Manis, datang lagi ya!”  Kami berdua pun memasuki rumah, Sina langsung menuju dapur untuk membuat jamuan, aku duduk di sofa ruang tamu dan membuka bungkus-bungkus dari bahan yang akan kami gunakan.


“Kau suka jus jeruk? Jika kau haus minumlah ini, kusimpan di meja sudut ruangan.”


“Maksudmu jus jeruk yang beberapa hari lalu kau tawarkan padaku?”


“Tentu saja bukan! Aku menyimpan banyak karena aku suka jus jeruk, hehe. Tapi, Fayzul.. kau  tidak lepas dulu jaketmu? Aku yang melihatmu memotong beberapa kertas cukup merepotkan. Lagi pula sekarang musim kemarau.”


“Ah, aku lupa. Baiklah akan kulepaskan dulu.”


“Bisa-bisanya kau tidak merasakan panas, aku saja memakai baju pendek masih berkeringat.”


“Entah, kelenjar keringatku tidak bekerja dengan baik, aku jarang berkeringat.”


“Lalu bagaimana dengan rasa gerah?”


“Aku tidak terlalu peduli dengan apa yang kurasakan saat mengerjakan sesuatu. Hal ini mungkin berguna untukmu agar bisa fokus dalam mengerjakan sesuatu. Apa pun yang kau rasakan jangan sampai mengganggu urusanmu. Cukup katakan ‘persetan dengan perasaanku’ dan masukilah mode robotmu atau mode di mana kau mengerjakan sesuatu tanpa perasaan.” Setelah kujelaskan Sina terlihat kebingungan dan tidak bisa berkata-kata. Aku pun membuka jaketku dan melipatnya lalu menyimpannya di sofa.


Kami mulai mengerjakan beberapa hiasan panggung, dan menggambar beberapa objek untuk hiasan dinding. Kelas kami akan menyediakan kafe, dengan denah yang sudah disepakati semuanya, ada panggung kecil di sudut untuk beberapa siswa menyanyikan lagu jazz, di sudut lain ada meja resepsi, di belakangnya ada kasir, dan meja tamu yang disusun sedemikian  rupa di tengah.


Waktu terasa begitu cepat, sekarang sudah pukul lima sore, namun pekerjaan kami tinggal melakukan sentuhan akhir. Karena tak akan ada yang menghubungiku di ponsel, mungkin aman-aman saja jika aku tetap di sini sampai pekerjaan kami selesai.


“Fayzul, kau tidak haus? Jus jeruknya malah jadi hangat.”


“Tidak, aku cukup nyaman sejauh ini. Mungkin akan kuminum nanti saja setelah semua ini selesai.”


“Kita sudah mengerjakan semua ini selama tiga jam dan kau tidak sedikit pun istirahat, bahkan tidak pergi ke toilet.”


“Aku sudah biasa seperti ini, kalau kau mau pergi ke toilet lurus saja dari sini sampai dapur lalu belok kiri.”


“Ini kan tempatku, kenapa malah aku yang merasa jadi tamunya?”


“Ini perumahan, semua isinya sama. Wajar jika aku mengetahui letak toilet.”


“Kau ini unik, Fayzul. Tidak seperti kebanyakan laki-laki pada umumnya.”


“Wajar karena aku dibesarkan dengan dua saudari sehingga tidak gugup menghadapi perempuan, dan juga aku bisa melakukan hal-hal yang dilakukan para gadis. Andai saja di dunia ini wanitalah yang mencari nafkah, aku cukup nyaman dengan posisiku sebagai ayah rumah tangga.” Sina kembali terdiam “Lupakan saja.”


Pekerjaan kami pun selesai, aku kembali mengenakan jaketku dan segera pulang. Keesokan harinya kami membawa hasil kerja kami dan menyimpannya di kelas, dan aku terbebas dari beban karena bagianku telah selesai. Memang terkesan seperti menjilat ludah sendiri di mana aku tidak menyukai sistem pembagian pekerjaan seperti ini, namun untuk beberapa  kasus aku menyukainya.

__ADS_1


Hari-hariku biasa saja, tidak ada yang spesial sama sekali. Itulah kenapa aku tidak perlu menceritakan semua hal secara detail, mungkin hanya beberapa hal yang menjadi keluh kesahku seperti saat kenaikan kelas. Berapa pun peringkatku kecuali peringkat satu, di rumah selalu menjadi dapur neraka di mana aku adalah masakannya, orang tua sebagai koki, dan saudara-saudariku menjadi kompornya.


. . . .


__ADS_2