Obsession Rion

Obsession Rion
One


__ADS_3

Luna Karina Sukma, dulu nama itu terlihat sangat cantik seperti orangnya, nama itu diberikan oleh kedua orangtuanya yang teramat sangat mencintainya, Luna kecil tumbuh dengan penuh kasih sayang, Ayahnya seorang pembisnis dan ibunya hanya seorang ibu ruah tangga biasa yang selalu mengurusinya.


Meskipun sang ayah jarang pulang namun, luna tidak pernah sedikitpun merasa kurang akan kasih sayang, ayah dan ibunya melimpahkan itu semuanya kepada Luna kecil.


Namun itu dulu, sementara kini semua telah berubah, bahkan Luna sendiri haru mengganti namanya demi keselamatannya sendiri, dia mengganti semua identtasnya dan pergi dari Surabaya.


Di umurnya yang tujuh tahun dia harus menyaksikan begitu banyak cobaan dan masalah dalam hidupnya, hingga dia tumbuh menjadi wanita dewasa yang penuh dengan ketegaran dan juga kesabaran,


Meskipun banyak mimpinya dulu yang harus dia pendam dalam-dalam, tapi dia bersyukur bisa dipertemukan dengan orang-orang baik di sekitarnya, banyak pembelajaran hidup yang dia rasakan hingga bisa menjadi sekuat ini.


“Jadi kamu mau ke Surabaya lagi?” Luna mengangguk ketika mendengar pertanyaan yang sudah di lontarkan lebih tiga kali itu.


“Iya bi, lagian disana Luna juga kerja, Luna udah berusaha coba luain apa yang terjadi delapan belas tahun lalu, Luna harus bisa bangkit kan bi, luna janji akan sering ke sini ko” Seseorang yang dia panggil bibi itu hanya bisa menatap sedih kearah gadis dihadapannya.


Dia adalah Sera, Luna menyebutnya bibi sera, setelah insiden delapan belas tahun lalu Luna tingga bersamanya bahkan dia sudah menganggap Luna sebagai anaknya sendiri.


“Yasudah kalau begitu kamu jaga diri yah baik-baik, jujur bibi masih berat melepaskan kamu” Luna memeluk wanita yang sudah membesarkannya selama ini, dia juga merasa berat jika harus kembali ke Surabaya, namun dia juga tidak bisa lari terus-menerus banyak hal yang harus dia lakukan disana, salah satunya mendatangi makam kedua orangtuanya.


“Cukup doain Luna bi, Kalau ada apa-apa juga pati kasih tahu” Sera harus melepaskan Luan dengan hati yang berat, gadis itu kini sudah menaiki kereta dan meninggalkannya.


Luna hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam kini dia tengah berada di dalam kereta keles ekonomi menuju tujuan surabaya, dia menggenggam buku kecinya yang berisikan banyak isi hatinya yang selau dia curahkan ke dalam buku itu.


Sudah delapan belas tahun berlalu, dia akan kembali ke tanah kelahirannya dengan identitas yang berbeda, seminggu yang lalu dia mendapatkan tawaran dari salah satu perusahaan multi nasional di bagian divisi keuangan, tawaran itu sangat menggiurkan apa lagi gajih yang lumayan besar baginya yang hanya lulusan sarjana di universitas swasta dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bagus itu.


Luna kini tengah nyaman dengan dunia imajinasinya sendiri, dia menatap gantungan kuci yang berbentuk pesawat, dia tersenyum kecil dan kembali mengingat kenangan masalalunya bersama seseorang yang telah memberikan gantungan ini, semasa kecilnya orag juga salah satu hal yang membuatnya merasa masa kecilnya sangat bahagia, sebelum insiden mengerikan itu terjadi.

__ADS_1


“Kamu apa kabar Rion? Aku harap kamu selalu baik, semoga kita bisa bertemu lagi yah” Nama itu selalu dia sematkan dalam diari kecilnya, karena laki-laki itu sudah berjanji akan menemuinya kembali setelah kepergiannya ke Jakarta.


Rion Fajar Atmaja


**


Luna sampai di salah satu kontrakan yag berada di pinggiran kota Surabaya, dia membereskan baju-bajunya ke dalam lemari, sekarang ini tempat tinggalnya yang baru, besok adalah hari pertama dia bekerja untuk itu dia harus segera beristirahat.


“Mamah Luna takut..” Gadis itu menangis tersendu-sendu ketika mendengar suara tembakan dari luar kamarnya.


“Sayang kamu masuk yah ke kolong kasur dan jangan menangis ingat, jangan nangis yah, mamah nanti akan menjemput kamu, faham kan?” Luna kecil mengangguk patuh dan dia masuk ke dalam kolong ranjang yang sangat sempit, dia menahan tangisannya dengan menggigit tangan.


Ibunya hanya bisa menatap sedih, dia berjalan ke arah luar dan terlihat beberapa orang berpakaian hitam menyeret sang ibu, Luna kecil melihat semua itu dengan mata kepalanya sendiri, hingga suara tembakan terdengar lagi, ibunya terbujur kaku dengan darah yang bercucuran.


Dia keluar dari tempat persembunyiannya dan melihat ibunya yang sudah tak sadarkan diri dengan penuh darah.


“Mamah” Luna memangunkan sang ibu namun nampak ibunya tak bangun, dia berlari ke arah luar dan terlihat papahnya juga dalam kondisi yang sama bahkan lebih mengenaskan.


“Papah bangun” Gadis kecil itu menggoyang-goyangkan badan papahnya, namun sama sekali tak bangun.


“Papah bangun”


Luna terbangun dari tidurnya, dia terlihat sangat berantakan bahkan kini keringat sudah membasahi wajah gadis itu, dia mengatur nafasnya dan meminum air yang berada di dekat meja, mimpi itu selalu hadir sehingga membuatnya terkadang tidak bisa tidur.


Luna berusaha menenangkan dirinya kemudian dia ke kamar mandi dan membasuh wajahnya, ini hal yang sangat biasa dia alami meskipun begitu tetaplah sangat menyakitkan baginya.

__ADS_1


Pagi ini Luna sudah rapih dengan celana bahan dan juga kemeja putihnya, tubuhnya terlihat sangat bagus dan proposional, meskipun Luna jarang sekali makeup namun wajah gadis itu selalu cantik.


Luna menaiki ojek onlinenya menuju tempat dia bekerja, terlhat gedung tinggi di hadapannya, Luna tersenyum kecil dan dia memasuki gedung itu dengan sangat antusias.


Minggu kemarin dia sudah melakukan wawancara dan lulus, hari ini menjadi hari pertama dia bekerja, sebelum itu dia menemui terlebih dahulu ketua divisinya yaitu mbak Erna.


“Selamat pagi Karina”


“Pagi mbak”


“Sudah siap bekerja disini”


“Siap mbak”


Erna membawa Karina ketempat kerjanya, disana terlihat empat orang yang berada di divisi keuangan.


“Pagi semuanya, hari ini kita kedatangan anggota baru, dia yang akan menggantikan Mita” Semua orang yang berada di ruangan itu mengalihkan pandangannya ke arah Karina.


“Selamat pagi, saya Karina Laluna, semoga kita bisa menjadi patner kedepannya”


“Lun tu yang dipojok namanya Bagus, dia satu-satunya laki-laki dia divisi kita, yang di sebelah kanan itu ada Diana dan disampingnya itu Neva, dan yag akan duduk di samping kursi kamu itu Mala, saya harap kalian bisa memberikan gambaran tentang pekerjaan kita” mereka berempat mengangguk faham, sementara itu Luna duduk di kursinya dia merasa bahagia karena akhirnya setelah sekian lam dia bisa bekerja di perusahaan besar.


“Hai Karina, semoga kita bisa jadi teman baik yah” Luna membalas uluran tangan Mala, mereka berempat terlihat sangat ramah dan juga baik.


Bahkan hari pertama ini dia begitu banyak mendapatan pelajaran yang baru, mekipun mengurus keuangan adlah hal yang biasa baginya, namun dia terus mempeljari apa setiap berkas di depannya.

__ADS_1


__ADS_2