
Sudah hampir satu bulan Luna bekerja di perusahan ini, banyak hal baru yang dia pelajari bahkan kini mereka berlima sudah sangat akrab satu sama lainnya.
“Kalian tahu ngak ada berita hot untuk minggu ini!” Luna menatap Neva yang kini tengah memberikan gosip, diatara kita berlima Neva dan juga Mala adalah biang gosip, sementara Diana dan Bagus mereka paling bobrok jika sudah dipersatukan.
“Jadi gosipnya apa?” ujar Bagus yang sudah sangat penasaran.
“Pak bos, hari ini kembali lagi ke kantor!”
“Yang bener? Bukannya dia erjalan bisnisnya selama dua bulan, ko ini udah kesini lagi sih, bisa gawat kita” Luna mendengarkan dengan seksama gosip yang dibicarakan oleh oelh keempat temannya itu
“Emangnya kenapa Mala harus gawat gitu, pak bos galak yah?” Tanyaku.
“Beuh, si karina ah beum tahu gimana pak bos, dia itu orangnya irit bicara, tegas, pemarah, dan juga banyak karyawab yang takut berhadapan dengan pak bos, karena jika melakukan kesalahan sedikit saja maka pekerjaan kita yang jadi taruhannya” Bagus menjelaskan itu dengan penuh penekanan, Karina hanya terkekeh mendengar semua temannya yang terlihat tidak menyukai pak bos yang sampai sekarang belum dia temui itu.
“Aku jadi penasaran sih, gimana muka sama sifatnya”
“Udah yah Karina sayang, mending loh nyari aman kalau masih mau kerja disini”
“Bener tuh apa kata Diana, dia itu kaya harimau yang siap menerjang mangsanya, ih serem” Luna tersenyum mendengar ucapan Neva dan juga ketiga teman yang lainnya itu.
Setelah makan siang tadi wanita itu kembali bekereja, selama hampir sebulan ini dia begitu menikmati waktunya yang di sibukan dengan banyak hal, sehingga beberapa hari ini dia tidak mersakan mimpi buruk itu lagi.
__ADS_1
Kota Jakarta tengah mendung, teman-teman Luna sudah pulang terlebih dahulu, sementara dirinya harus menunggu ojek online yang sudah dia pesan, langit bergemuruh awan semakin pekat bahkan rintikannya sudah membasahi sebagian bumi, sudah hampir setengah jam dia menunggu ojek yang di pesan namun sialnya secara sepihak orang itu membatalkan karena alasan hujan.
Luna hanya bisa mendesah pelan ketika harus menunggu hujan reda juga menunggu taksi atau sejenis kendaraan umum lainnya lewat, wanita muda itu mengalihkan pandangannya ke arah seseorang yang tengah memakai setelah jas rapih, tubuh jangkung dan terlihat sangat atletis juga wajah tampan yang mengingatkannya akan seseorang dimasa lalu.
Wajahnya, matanya dia seakan hafal dengan bentuk itu, dia teringat teman masa kecilnya yang memberikan warna di hari-hari sebelum insiden mengerikan itu terjadi, namun mungkin dia salah, sudah belasan tahun mereka tidak bertemu jadi mana mungkin laki-laki itu teman masa kecilnya, Luna menepis pikirannya.
Luna kembali melihat rintikan hujan yang masih lebat, sebuah mobil sedan hitam yang membawa laki-laki bersorot mata tajam itu melewatinya, Luna hanya tersenyum tipis dan kembali menggelengkan kepalanya agar pikiran yang aneh-aneh itu hilang.
Setelah penantian lama akhirnya ada sebuah taxi yang melintas, Luna pun bisa pulang dalam keadaan kering dan tidak basah kuyup, wanita itu melakukan ritual madinya seta mengganti baju dengan piyama tidur, dia kembali menulis setip kata di buku kecilnya yang sudah menjadi teman selama belasan tahun ini.
***
Dua minggu sudah berlalu namun wanita itu masih belum pernah melihat dan mendengar nama bosnya yang selalu di gosipkan oleh teman-temannya ketika jam makan siang.
Seorang laki-laki bersurau hitam datang dari bali pintu semua yang ada di ruangan ini menatap hormat kepadanya, Luna ingat laki-laki itu yang dia lihat dua minggu yang lalu ketika hujan.
“Saya senang dengan kinerja kalian mengenai produk baru ini, saya harap kain bisa meningkatkan kalitas kinerja dan jangan pernah merasa puas” Luna tetegun mendengar suara berat dan tegas itu, semua yang berada di dalam ruangan ini hanya tersenyum kecil, laki-laki itu hanya menyampaikan sepatah dua patah kata lalu pergi meniggalkan ruang rapat.
Luna melihat rut wajah lega dari semua orang termasuk teman-temannya, sedikit aneh dengan orang-orang yang berada di ruangan ini hingga akhirnya dia dan teman-temannya memutuskan untuk kembali ke meja masing-masing.
“Luna yang tadi itu pak bos, kamu lihat kan aura mengerikannya jujur sedari tadi ku ngak tahan rasanya pengen pergi ajah tuh dari ruangan.” Ujar Neva.
__ADS_1
Kini Luna faham dan juga mengetahui identitas laki-laki yang ternyata bosnya,
“Selain mengerikan dia juga irit bicara kecuali sama keluarganya, yah meskipun mempunyai pesona ke gantengan tapi kalau kejam gitu mah siapa yang mau coba sama tuh laki-laki” Ucap Mala menimpali.
“Jangan gitu, meskipun kejam dia itu pembisnis handal diusianya yang masih muda ajah udah bisa masuk majalah bergengs dan masuk top 50 orang yang berpengaruh di asia, mantap ngak tuh” Luna semakin penasaran dengan laki-laki yang tadi dia lihat itu.
“Namanya siapa sih?” Tanya Luna
"Loh ngak tahu namanya? Kebangetan anjir ni anak” Bagus menggelengkan kepalanya.
“Dia itu cucu pertama dari keluarga Atmaja, namanya Rion Fajar atmaja” Luna membelalakan matanya, dia sedikit kaget dengan ucapan Diana, karena namanya persis seperti seseorang di masa lalunya.
“Apa ibunya bernama April?” tanya Luna memastikan.
“Loh kok loe tahu, ibunya bos pernah kesini beberapa kali tentu sama suaminya, dia cantik meskipun sudah berumur apalagi adiknya bos, cantiknya ngak ketolong” Luna termenung jadi lelaki itu kini sudah hidup bahagia dan mempunyai adik perempuan, tentu dirinya juga merasakan bahagia, juga bisa bertemu lagi dengan lelaki itu meskipun dia tidak mengenalinya.
“Kenapa bengong?”
“Ah enggak, udah lanjut kerja nanti di marahin mbak erna” keempat temannya mendengus kesal.
‘Rion sudah lama kita tidak bertemu, selama ini kamu hidup dengan baik, aku seneng mendengarnya’ ujar Luna dalam hatinya.
__ADS_1
Dia laki-laki yang selalu memberikan senyuman manisnya, juga banyak moment indah ketika dulu mereka masih satu sekolah namun sekarang semua sudah berubah, Rion mempunyai kehidupan baru yang nampaknya bahagia dia tidak ingin mengganggu laki-laki itu lagi karena kini keduanya telah berbeda.
Meskipun begitu dia bersyukur karena bisa bertemu kembali dengan teman ketika masa kecilnya, kini janji yang sering dia tunggu itu sudah terpenuhi meskipun memang pertemuan ini hanya dirinya yang menyadari.