
Minggu pagi Luna sudah bersiap-siap untuk mengunjungi makan kedua orangtuanya, sudah menjadi kebiasannya selama sebulan ini mendatangi dan berziarah ke makan mamah dan papahnya, selain itu juga Luna sering sekali curhat di hadapan batu nisan orangtuanya.
Seperti kali ini, Luna menceritakan pertemuannya kembali dengan Rion teman kecilnya, mungkin sebagian orang jika melihat Luna yang berbicara sendiri di depan makan akan nampak aneh, namun bagi Luna ini adalah satu hal yang membuatnya bisa melepas rindu bersama mendian orangtuanya, meskipun dia hany berbicara sendiri dia yakin oragtuanya di sana selalu mendengar curhatannya.
“mah, pah, Luna pergi dulu, inggu depan Luna kesini lagi” Luna egi meninggalkan makan orangtuanya, dia berjalan keluar dari pekaman dengan hati yang sedikit lega.
Luna memasuki sebuah rumah makan pinggir jalan, dia memesan satu porsi nasi uduk, tadi pagi dia memutuskan untuk langsung ke makam tanpa sarapan terlebih dahulu.
Luna menikmati nasi uduk itu dengan tenang namun dia melihat ke arah gadis muda yang tengah kebingungan, Luna menyergitkan kepalanya dia seperti mengenal wajah gadis itu yang mirip seseorang namun entahlah dia juga lupa.
Luna langsung menghentikan makan dan langsung membayar, dia menghampiri gadis cantik yang mungkin usianya masih belasan tahu.
“Kamu kenapa, tadi aku lihat kaya kebingungan gitu” Gadis itu menatap Luna dengan sedikit takut, dia faham mungkin gadis ini memang bukan asli dari daerah sekitr sini.
“Jangan taku saya bukan orang jahat ko, jadi kamu kenapa?” Ucap Luna dengan nada pelannya.
“Tadi saya pergi joging tapi, saya ngak tahu arah pulang” Luna tersenyum, dia membiarkan gadis itu duduk dan menangkan dirinya.
“Saya Karina, kalau boleh tahu kamu tadi jalan dari arah mana?” Gadis itu membalas uluran tangan Luna.
“Aku Queenesia, kaka bisa panggil aku Queen, aku juga bingung soalnya aku ngak bawa ponsel” Gadis yang bernama Quen itu menunduk sedih.
__ADS_1
“Kamu tahu tempatnya atau patokan rumah kamu?”
“Setahu aku di sebelum pertigaan di samping rum ada gedung tinggi sama beberapa cafe, nama gedungnya kalau ngak salah Nexon” Luna tersenyum tempatnya itu tidak terlalu jauh sebenarnya dari sini.
“Saya tahu tepat itu, kamu dari permahan elit?” Quen mengangguk, meskipun baru sebulan dia tinggal disini, namun Luna tipikal oang yang tidak bisa diam, dia suka menjelajahi sudut kota ini.
“kaka antar gimana?” Quen mengangguk kecil, sementara itu Luna mengantarkan Luna menuju arah rumahnya.
Mereka berdua berjalan kaki sambil beberapa kali mengobrol ringan, Quen merasa nyaman dengan Luna, wanita itu baik dan juga tutur katanya lembut. Setelah cukup lama Quen melihat pertigaan yang tadi dia lewati, akhirnya dia bisa kembali pulang dan semoga saja kakanya tidak memarahinya.
“Kaka itu pertigaan nya, makasaih yah kak, dari sini aku udah hafal ko jalannya” Luna tersenyum dan menganggukan kepalanya.
“Kamu ngak papa?” Quen hanya mengangguk, lalu seorang laki-laki keluar dari mobil, Luna menatap kearah laki-laki itu, sontak dia terkejut karena dia adalah Rion bosnya di tempat kerja.
"Kak...." Cicit Queen, Luna membelalakan matanya ke arah gadis disampingnya yang memanggil Rion dengan sebutan kaka.
“Pulang!” Queen ketakutan, Luna melihat wajah pucat dari gadis itu.
“Kak Luna ini kaka aku, aku pulang duluan yah” Rion menyergitkan matanya ketika melihat wanita di samping adiknya, entah mengapa dia merasa pernah melihat wajah wanita itu.
“Masuk!” Quen mengangguk, dan kini keduanya sudah masuk mobil, Luna tahu Rion tipikal kaka yang protektif, meskipun begitu dia juag bersyukur bisa bertemu dengan laki-laki itu.
__ADS_1
Luna kembali melangkahkan kakinya menuju arah pulang, dia tersenyum kecil dengan pertemuan tak tertuga dengan laki-laki bermanik hitam, mereka di pertemukan kembali.
**
Rion menatap adiknya dengan nyalang pasalnya tadi pagi dia mendapatkan kabar dari para pembantunya jika sang adik tengah lari pagi di sekitar kompleks perumahan, namun hingga matahari terik sang adik belum juga kembali kerumah.
Rion seperti kesetanan mencari adiknya di setiap jalan, bahkan dia juga mengerahkan anak buah untuk mencari keberadaan sang adik, hingga dia melihat adiknya sedang berjalan dengan seorang wanita, Rion pun menghentikan mobilnya dan menyuruh sang adik pulang bersamanya.
"Jadi bisa jelaskan kenapa kamu lari pagi sampai matahari terik seperti ini?" Queen dengan takut menatap sang kakak, karena dia sangat tahu bagaimana protektifnya sang kaka.
"Awalnya Queen cuman lari sekitaran kompleks namun tadi pagi banyak juga yang lari jadi Queen inisiatif untuk ikut, trus Queen nyasar karena ngak tahu jalan pulang, dan untungnya ada Kak Karina yang nolongin Queen" gadis itu menunduk, sementara Rion hanya menghela nafasnya dengan kasar, dia juga tidak bisa menyalahkan sang adik terus menerus, ion tahu jika adiknya belum tahu daerah ini.
"Lain kali jangan diulang yah, kalau mau lari biar kaka yang temenin" Rion memeluk adiknya dengan sedikit perasaan bersalah karena membentaknya tadi, semenjak kelahiran sang adik Rion menjadi seorang kakak yang protektif karena dia sangat takut kejadian yang pernah dia alami, dialami juga oleh sang adik apalagi sekarang bisnis keluarganya bisa dikatakan maju dengan begitu pesat, dan tidak dipungkiri juga banyak orang yang tidak suka dengan kesuksesan dirinya.
"Kaka harus berterimakasih juga sama ka Karina, dia orangnya baik, Queen suka" mengenai gadis yang tadi dia lihat bersama adiknya, Rion teringat tatapan mata dan juga wajah yang tidak asing, dia seperti pernah bertemu dengan gadis itu namun entah kapan dia juga tidak tahu.
"Baiklah, kalau nanti kaka bertemu dengan gadis itu kaka akan mengucapkan terimakasih kepadanya" Queen mengangguk senang, dia memang tipikal orang yang jarang dekat orang lain selain keluarganya, namun melihat kebaikan Karina membuat dia merasa ingin sekali mempunyai seorang kakak perempuan, karena dia hanya mempunyai dua kaka laki-laki yaitu Rion dan Ardyan anak dari Dewa dan Atika yang kini sudah tumbuh besar.
"Kalau begitu kita sarapan dulu yah, bukannya kamu ingin pergi jalan-jalan siang ini?" Ujar Rion, sementara Queen langsung mematuhi ucapan sang kaka dengan senang, selama dua minggu ini Queen sedang libur semester ganjil, jadi dia memutuskan untuk berlibur ke rumah sang kaka yang berada di Surabaya ini.
Awalnya kedua orang tua Queen yakni Januari dan April sempat melarang karena mereka takut jika terjadi sesuatu dengan putri mereka, namun gadis itu merayu Rion sang kaka untuk bicara kepada momy dan dady mereka, sedangkan Rion juga tidak bisa menolak keinginan sang adik yang selalu dia utamakan.
__ADS_1