
Pagi ini Luna atau orang-orang menyebutnya Karina tengah berkutat dengan laporan yang harus dia selesaikan bersama timnya, setelah seharian penuh kemarin dia libur kini dia dan rekannya harus dihadapkan dengan banyak pekerjaan.
"Jangan terlalu dibawa serius Rin" Ujar Neva yang melihat wajah Luna nampak serius mengerjakan laporan.
"Wanita itu terkekeh dan kembali melanjutkan pekerjaannya, dia begitu menikmati setiap hal yang dia kerjakan dengan begitu dia tidak harus terbayang-bayang akan kenangan buruk itu.
Meskipun dia memiliki masa lalu yang tragis, tapi bukannya dia harusnya bersyukur karena selama ini dikelilingi oleh orang-orang yang baik, bahkan ketika di Malang, dia mendapatkan keluarga baru juga teman-teman yang sangat baik hingga dia sama sekali tidak merasakan kurangnya kasih sayang.
Bahkan sekarang setelah dia kembali ke Surabaya pun, dia di tempatkan di lingkungan yang baik juga teman baru yang begitu asik, Luna bersyukur akan hal itu, karena masa lalu biarlah berlalu.
"Karina, kamu berikan laporan ini ke pak Bisma yah, mbak ada urusan dan suruh yang lain pada ngak mau katanya takut" Luna terkekeh dan dia mengambil laporan itu.
Luna berjalan ke arah lift yang mengarah ke lantai dua lima, setelah keluar dari lift dia mencari ruangan pak Bisma yang merupakan sekertaris bosnya.
"Kamu sedang mencari apa?" Luna menegang dan terkejut ketika mendengar ucapan berat dari arah belakang, ketika Luna berbalik dia melihat sorot mata itu lagi.
"Emm..Anu pak, saya mau ngasih laporan ini ke ruangan pak Bisma" Ketika dia keluar dari ruangannya dia melihat seorang wanita yang nampak kebingungan dan ketika wanita itu berbalik Rion melihat wajah gadis yang membantu adiknya kemarin.
"Kamu yang kemarin nolong adik saya bukan?" Luna terkesima dengan penampilan Rion yang sekarang, nampak tampak gagah dan juga tampan.
"Emm.. Iya pak" laki-laki di hadapannya mengangguk dan kemudian mengambil laporan yang berada ditangan Luna.
"Ruangan Bisma di sana, laporan ini langsung saya pegang lagian dia sedang saya berikan pekerjaan" Luna mengangguk
"Kalau begitu saya permisi ya pak" Luna yang akan pergi dari hadapan bosnya, namun kemudian Rion menahannya.
__ADS_1
"Oh iya, saya mau mengucapkan terimakasih karena sudah menolong adik saya, dan apakah kita sebelumnya pernah bertemu jujur wajah kamu seperti tidak asing?" Luna meneguk ludahnya
"Iya pak sama-sama, emm.. sepertinya kita belum pernah bertemu pak, lagian saya juga karyawan baru" Rion mengangguk dan membiarkan gadis di hadapannya pergi.
Setelah kepergian gadis itu Rion merasakan hal yang aneh, dia yakin pern bertemu dengannya namun entah kapan dan dimana, pasalnya wajah dan tatapan gadis itu seperti familiar baginya.
"Permisi bos" Rion melihat ke arah sekertaris nya, dia melihat Bisma yang memberikan sebuah berkas.
"Bis, kamu cari tahu tentang gadis yang Queen temui kemarin, namanya Karina dia juga karyawan di kantor ini sepertinya dia bagian divisi keuangan" Bisma mengangguk dan kembali keluar.
Rion masih dengan lamunannya dan juga dia terus saja memikirkan kapan pertemuan dengan gadis itu karena dia sangat yakin jika dulu dirinya sempat bertemu dengan gadis yang berada di hadapannya, apalagi sorot mata dan juga senyumannya.
**
"Lama amat sih ngasih laporan, kaya habis di sidang ajah" celetuk Mala ke arah Luna.
"Serius loh?" Tanya Diana yang merasa itu adalah ketidakmungkinan.
"Iya, malahan kemarin gue sempet nolongin gadis dan ternyata itu adiknya pak Rion" mereka kembali menatap tidak percaya kearah Luna, karena mereka yang sudah bekerja selama bertahun-tahun tahu bagaimana sikap bos yang irit senyum dan bicara itu.
"Gue kaya mimpi dengernya sumpah, kita tahu sendiri kan gimana pak bos galaknya" teman-temannya mengangguk mendengar ucapan Neva.
"Pak Rion ngak seburuk itu ko, dia bahkan ngucapin terimakasih ke gue karena ngebantuin adik nya kemarin, udah ah jangan bahas pak Rion lagi nanti orangnya nongol baru tahu rasa" Neva mencebik kan bibirnya dan kembali bekerja begitupun dengan ketiga temannya.
**
__ADS_1
Kini sudah waktunya jam pulang bekerja Luna baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan memutuskan untuk pulang namun, lagi-lagi kota Surabaya diguyur hujan hingga gadis itu memutuskan untuk menunggu sampai hujannya reda.
"Kamu mau pulang?" Luna terkejut mendengar ucapan seseorang disampingnya, dia melihat Rion yang sudah bersiap-siap untuk pulang.
"Iya, pak" Rion mengangguk dan memberikannya tumpangan, namun Luna merasa sedikit enggan.
"Masuk biar saya antaran pulang" Luna mempertimbangkan ajakan bosnya, karena hujan semakin deras akhirnya dia memilih untuk ikut pulang bersama sang bos.
"Maaf yah pak, jadinya merepotkan" Ujar Luna
"Tidak papa, hitung-hitung ucapan terimakasih saya karena menolong Queen kemarin." Luna hanya bisa mengangguk, kini keduanya sudah berada di dalam mobil, tapi hanya keheningan yang tercipta.
"Saya disini saja pak, kontrakan saya didepan" Rion langsung memberhentikan mobilnya.
"Sebelum kamu keluar saya ingin bertanya sekali lagi, apakah sebelumnya kita pernah bertemu?" Luna menelan ludahnya dengan kasar, dia bingung harus mengatakan apa karena jika paa akhirnya jujur, dia takut akan mengganggu kehidupan Rion yang terlihat baik itu.
"Belum pak, saya baru ke Surabaya sekitar sebulan yang lalu" Rion hanya mengangguk dan membiarkan Luna pergi dari mobilnya.
Setelah kepergian Rion, Luna hanya termenung semoga keputusannya ini tepat dengan tidak memberitahukan identitas aslinya, Rion sudah bahagia dengan kehidupannya kini dia tidak ingin mengganggu kehidupan laki-laki itu, bukankah mereka sudah bertemu meskipun Rion tidak mengenalinya, jadi janji yang sempat mereka ucapkan kini sudah terbayar lunas.
Luna berjalan ke arah kontrakan dengan perasaan yang sedikit tidak menentu, selama bertahun tahun ini sosok Rion selalu dia rindukan bahkan kenangan bersamanya mampu membuat Luna bertahan hingga saat ini.
Rion sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang jadi dia tidak pusing lagi memikirkan laki-laki itu, kini yang harus dia tata dalam hidupnya adalah masa depan tanpa ada bayangan masa lalu, dia berharap mimpi buruk yang selalu menghantuinya setiap malam bisa secepatnya terhapus.
Namun pada kenyataanya baik Luna ataupun Rion Keduanya mempunyai masa lalu yang kelam juga, bahkan kenangan itu ibarat monster yang selalu menghantui mereka berdua, hanya saja mereka belum menyadari akan kesakitan satu sama lain sehingga merea hanya berpikir bahwa teman masa lalunya kini hidup dengan baik tanpa ada masalah sedikitpun.
__ADS_1
Mereka hanya bisa berpikir, tai pertemuan dan juga takdir tuhan tidak bisa di ganggu gugat, jadi kita hanya bisa menunggu waktunya tiba