One Night With Playboy

One Night With Playboy
Episode 12


__ADS_3

Keren memberikan Jesi kontrak kerja sebagai prosedur yang ada di perusahaan itu. Setalah Jesi menandatangani kontrak itu barulah Keren mengantarkan Jesi ke ruangan sang CEO.


" Karena kamu sudah menandatangani kontrak, makan kamu akan saya antarkan keruangan Sang Ceo " ucap Karen


" Baik Bu.. terima kasih " ucap Jesi


" Kita lihat saja.. kamu akan betah atau tidak " batin Karen


Karen dan Jesi segera menuju ruangan sang CEO di lantai Tujuh, Keren memencet tombol lift khusus CEO, membuat Jesi bingung.


" Nona sebaiknya jangan menggunakan lift ini, Kau tau tadi aku di marahi oleh CEO galak itu " ucap Jesi


" Mana ada Dia memarahiku ku... aku akan kekasihnya " batin Karen


" Nanti kamu bisa pergunakan Lift ini.. kan kamu sekarang Sekertaris nya " ucapnya Karen


" Apa... jadi aku sekretaris CEO galak itu " tanya Jesi


" Ya.. tapi sayangnya kamu sudah menandatangani kontrak jadi tidak bisa mengundurkan diri " ucap Karen


" Em.. baiklah Tidak apa-apa " ucap Jesi


" Kita sudah sampai... ayo keluar " ajak Karen


" Oh ia Bu... " ucap Jesi


" Jangan panggil saya ibu, panggil saya Nona " ucap Karen dengan nada sombongnya


" Baik Nona " ucap Jesi


" Aku merasa Nona Karen ini... sepertinya dia punya hubungan dengan CEO tadi " batin Jesi


Tok... Tok... Tok...


" Masuk "


" Tuan... Saya kesini bersama dengan Jesi " ucapnya Karen


" Wah ruangannya bagus sekali " ucapnya Jesi dalam hatinya


" Sudah cukup melihat ruangan ku yang bagus ini " ucapnya


" Eh.. kenapa dia bisa tahu " batin Jesi


" Mejamu ada di depan ruangan ini, nanti Fadli akan menyiapkannya.. " ucapnya melihat pada Sang asisten


" Baik Tuan " ucap Fadli


" Panggil saya Tuan Rifa " ucapnya dengan bangganya


" Baik Tuan Rifa " ucap Jesi


" Rifa... nama yang sering ku dengar dan juga wajahnya tidak asing bagiku " batin Jesi


" Sekarang keren bisa keluar dari ruangan ini " ucap Rifa

__ADS_1


" Baik Tuan " ucap Karen kesal


" Apa dia tidak kangen padaku setelah beberapa hari tidak bertemu " batin Karen


" Fadli siapkan Semuanya " ucap Rifa pada sang asisten


" Baik Tuan "


Fadli keluar dari ruangan itu, tersisa hanya Jesi dan Rifa. Rifa menjelaskan tentang apa saja yang harus dan tidak boleh Jesi lakukan padanya.


" Saya bukan orang yang suka basa basi.. saya akan mengatakan jika pelarutan nomber satu.. Bos tidak pernah salah... ingat bisa tidak pernah salah " ucap Rifa


" Cih, namanya juga manusia.. pasti bisa salah lah " batin Jesi


" Kalau Tuan salah " tanya Jesi


" Ingat pelarutan nomber satu " ucapnya Rifa sambil tersenyum jahat


" Apakah aku bisa tahan padanya " batin Jesi


" Pelarutan yang ke dua.. kamu jangan menanyakan hal pribadi padaku... atau kamu jangan mencampuri kehidupan pribadi ku " ucap Rifa


" Baik Tuan " ucap Jesi


" Apapun yang kamu dengar dari dalam ruangan ku jangan sekali-kali membocorkan sesuatu pada karyawan lainnya" ucap Rifa


" Baik Tuan " ucap Jesi


" Memang dia siapa sampai aku harus mencampuri kehidupannya.. aku tidak ada kerjaan apa.. sampai-sampai harus begitu " batin Jesi


" Bagaimana jika Tuan memerintah saya untuk melakukan sesuatu yang tidak benar " ucap Jesi


" Jangan terlalu percaya diri, aku tau maksudmu... kamu dengar ya aku Rifa tidak akan tergoda pada wanita seperti mu... " cibir Rifa


" Baik Tuan " ucap Jesi


" Syukurlah, aku tidak mau jika dia memerintah ku sesuatu yang di luar batas pekerjaan " ucap Jesi dalam hatinya


" Itu tiga pelarutan yang penting, untuk pelarutan yang lainnya akan di berikan oleh Fadli " ucap Rifa


" Baik Tuan " ucap Jesi


" Sebelum Mejamu selesai kamu harus mengerjakan ini dokumen di sana " ucap Rifa menunjuk sofa yang diduduki Jesi


" Baik Tuan " ucap Jesi sambil tersenyum


" Kita lihat saja apa kamu masih bisa tersenyum disaat seperti ini... " batin Rifa


" Sial, sial, sial, baru hari pertama kerja eh udah di kerjain saja sama Tuan Rifa, dasar CEO ga ada ahlak " ucapnya Jesi dalam hatinya


Rifa kini sibuk dengan pekerjaannya sama seperti Jesi, mereka tampak serius tanpa ada suara sepatah kata pun. Suasana berubah menjadi seram.


Tok... Tok... Tok...


" Masuk "

__ADS_1


" Tuan Meja Nona Jesi sudah saya siapkan " ucap Fadli


" Bagus kalau begitu saya permisi Tuan " ucapnya Mesi


" Mau kemana " tanya Rifa


" Ke meja saya Tuan " ucap Jesi


" Tidak boleh kamu harus Disni mengerjakan tugasmu " ucap Rifa


" Tapi Tuan " ucap Mesi terpotong


" Apa Kamu tidak ingat pelarutan nomber tiga, atau pura-pura lupa " bentak Rifa


" Maafkan saya Tua " ucap Jesi


" Kembali bekerja " ucap Rifa dingin


" Baiklah Tuan " ucap Jesi


" Dia bukan hanya galak ,tapi tukang membentak... kesal kan jadinya " batin Jesi


" Dia bikin emosiku naik saja.. " batin Rifa


" Untuk pertama kalinya, aku melihat Tuan seperti hidup kembali, ia merasakan sedih senang, dan bahkan galak kembali " batin Fadli


Jesi melanjutkan pekerjaannya kembali, sama seperti Rifa dan Seno, mereka menyelesaikan pekerjaannya dengan serius.


Namun sesekali Rifa terlihat melirik Mesi yang berada di hadapannya berada beberapa meter denganya.


" Apa apa denganku... aku seperti pernah melihatnya.. tapi aku lupa dimana " batin Rifa


" Tapi dia menarik juga ketika dia serius bekerja, hanya saja pakaiannya membuat mataku sakit " batin Rifa


.


.


.


.


Bersambung....


Jangan Lupa dipencet tombol Like....Komen..... dan Vote ......


Biar saya lebih semangat nulisnya..


Saya ucapkan banyak-banyak Terima kasih pada kalian semua yang sudah mampir ke Novel Ku dan memberikan Like....Komen..... dan Vote ......


So... Ikuti terus kisahnya...


Jangan bosen-bosen ya .....


Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian semua.... jangan lupa jaga kesehatan ya guyz

__ADS_1


__ADS_2