
❝ THANK YOU FOR TODAY GOD ❞
Cast: - Sasuke Uchiha
- Sakura Uchiha
- Sarada Uchiha
- Boruto Uzumaki
Genre: Familly, Drama
0:35 ━❍──────── \-5:32
↻ ⊲ Ⅱ ⊳ ↺
Musim dingin di bumi bagian utara bumi awal bulan Desember sudah dimulai. Semua orang sedang mempersiapkan sebuah acara untuk perayaan festival kembang besok malam.
Uchiha Sarada masih bergelud dengan berbagai gulungan didepan mejanya. Iris onyx nya melirik malas mendengar decitan pintu kayu kamarnya terbuka. Sarada hanya menghelakan napas pelan menaruh gulungan tadi di meja.
"Papah mu akan segera datang, kau tidak perlu khawatir, Sarada."
Sudah dua puluh kali dia mendengar kata itu keluar dari mulut Sakura. Bukannya tidak percaya, hanya saja Sarada begitu-- Ah sudahlah, toh papahnya begitu sibuk mengurus berbagai misi di kantor Hokage.
"Ha'i, aku ingin mandi terlebih dahulu." Sarada berdiri meraih handuk yang berada didalam lemari kayu miliknya.
Gadis berambut Raven itu melangkahkan kedua kakinya keluar dari kamarnya menuju kamar mandi. Terdengar samar-samar sakura menghelakan napas melihat putri semata wayangnya yang begitu merindukan sosok Sasuke. Sakura meraih ponselnya mencoba untuk menelpon sang suami dari sebrang sana.
"Sasuke-Kun, aku harap kau pulang malam ini. Sarada ingin sekali berlibur melihat kembang api bersama dengan mu." Gumam Sakura setelah telepon nya tidak dijawab sama sekali.
Sakura keluar dari kamar bernuansa putih dengan sederet berbagai buku di meja belajar milik sarada. Perlahan dia tutup pintu kayu putih itu perlahan. Gadis berambut gulali itu memutuskan bersantai di ruang tamu.
Tidak membutuhkan waktu lama Sarada sudah selesai mandi. Dia masuk kedalam kamarnya, mengenakan pakaian biasanya dan kembali keluar.
"....."
Gadis raven itu terdiam melihat sakura tertidur nyenyak di atas sofa. Sepertinya mamah lelah seharian bekerja? Pikir Sarada kemudian melangkah keluar rumah mencari udara segar.
Bukannya setiap anak ingin kedua orangtuanya lengkap bersama dalam menjalani suatu kegiatan? Bahkan dihari anak Sasuke hanya menyediakan waktunya di rumah hanya sebentar. Sarada memaklumi itu.
"Yo, Sarada. Kenapa wajah mu terlihat murung?" Tanya pria berambut blonde berdiri di hadapan Sarada.
"Hah? Tidak. Mana ada aku murung?" Bohong Sarada.
"Aku tau kau pasti sedang memikirkan papah mu, bukan?"
"Urusai."
Sarada kembali melanjutkan jalannya menuju taman di dekat air mancur dekat lampu merah. Dia mendudukkan dirinya di kursi bawah pohon sakura. Menatap lurus kearah air mancur di sebrang jalan.
"Jangan berbohong pada ku." Ucapnya Boruto lagi.
Sarada melirik sekilas kearah Boruto yang masih setia berdiri diujung kursi paling kanan. Manik biru lautnya itu senan tiasa tertuju pada si pemilik sharingan itu.
"Sebentar lagi akan ada festival, aku ingin sekali pergi bersama dengan keluarga ku."
Akhirnya, si pemilik sharingan itu membuka pembicaraan. Menundukkan kepalanya kebawah.
Boruto yang sedari tadi berdiri akhirnya ikut duduk menenangkan gadis Uchiha satu ini.
"Hei, aku yakin Sasuke-san akan pulang. Kau tenang saja." Ucap si pirang mengelus bahu Sarada pelan.
"Aku tidak yakin."
"Kau harus yakin!"
"....."
Terdiam, Sarada merasa begitu malas untuk berdebat kali ini. Dia memilih diam membiarkan tangan kanan Boruto mengelus pundak kiri miliknya. Angin mulai berhembus menerpa rambut Raven Sarada. Hawa dingin menusuk tepat di kulit tidak membuat Sarada merasa kedinginan.
Beberapa saat mereka berdiam di sana hingga sesuatu berbunyi dari balik baju Boruto, ya apalagi kalau bukan perut Boruto yang kelaparan?
"Ma, sepertinya perut mu minta di isi." Ejek Sarada.
Boruto terdiam menatap kearah lain. Terlihat semburat merah dikedua pipi milik Boruto.
"Urusai."
Boruto segera berdiri kemudian berjalan lebih dulu menuju kedai burger Thunder. Sarada hanya menggelengkan kepala dan ikut mengekor dibelakang si sulung Uzumaki.
Mereka berdua sudah sampai dan memilih duduk tepat didekat kasir. Suasana kedai yang begitu ramai membuat Sarada merasa bising.
"Ada apa?" Tanya Boruto meletakan pesanan milik dia dan Sarada di atas meja.
Boruto ikut duduk didepan Sarada memperhatikan terus gerak gerik Sarada. Gadis itu pasti sedang memikirkan Sasuke-san. Pikir Boruto memakan burger kesukaan nya pelan.
Manik biru laut itu ia tolehkan ke samping jendela tempat ia duduk. Sosok pria berjubah hitam berjalan kearah Utara. Kedua matanya lantas membulat mengetahui ciri-ciri khas dari pria itu.
"Ada apa?" Tanya Sarada.
Boruto segera menggelengkan kepala menjawab ucapan Sarada. Dia tidak mau memberitahu bahwa pria yang baru saja dia lihat adalah papahnya. Bisa-bisa dia tidak menghabiskan makan siangnya hari ini.
"Tidak ada, ayo di habiskan. Setelah ini aku mau menemui Tou-chan." Jelas Boruto meminum milkshake nya.
"Souka..."
__ADS_1
Sarada kembali memakan makan siangnya hingga habis. Dia berdiri keluar dari meja tempat dia duduk. Melangkahkan kedua kakinya keluar dari kedai lebih dulu dari si sulung Uzumaki.
"Dah, terimakasih sudah menemani ku makan siang." Ucap Sarada.
"Hum! Ya, sama-sama. Pulanglah cepat." Ucap Boruto berjalan berlawanan arah dengan Sarada.
'Rasanya aku agak malas untuk pulang hari ini. Apa aku pergi saja untuk jalan-jalan?' Pikir Sarada.
*****
"Tadaima..."
"Sebentar!" Teriak Sakura dari balik pintu ketika mendengar beberapa kali sebuah ketukan pintu dirumahnya.
"S-sasuke-Kun...."
Wanita berumur 32 tahun itu terdiam mematung menatap suaminya yang baru saja pulang sore itu. Dia terkejut bukan main dan hampir ingin pingsan. Beruntung dia sudah bisa mengendalikan dirinya agar tidak jatuh.
"Dimana Sarada?" Tanya Sasuke.
Sakura menggeleng cepat kemudian menolehkan kepalanya kedalam rumah mencari sosok Sarada.
"Tadi sebelum aku tidur dia sedang mandi dan aku pikir sejak aku tidur dia berada di kamar."
Sakura segera melengos masuk kedalam menuju kamar Sarada. Kosong, sakura tidak menemukan keberadaan sarada didalam kamar.
Sakura begitu panik. Dengan langkah cepat dia kembali ke depan pintu.
"Sarada tidak ada di kamarnya." Nada begitu panik terdengar keluar dari bibir sakura.
"Biar aku yang cari."
"Aku ikut."
"Tidak perlu, biar aku saja." Ujar Sasuke melangkah pergi kembali mencari keberadaan Sarada.
****
"Ahaha kau terlihat begitu manis kucing kecil."
Sarada terkekeh ketika bermain dengan anak kucing yang berada di taman. Gadis Uchiha itu berjongkok mengusap lembut perut si anak kucing berbulu kuning itu. Tawanya begitu ceria membuat Sasuke tersenyum dari kejauhan.
"Dia memang manis, little Peanut."
Sarada menoleh kebelakang dimana Sasuke berdiri sekarang. Pria Raven itu melengkungkan sebuah senyuman di sudut bibirnya.
"Papah!" Pekik Sarada berdiri tidak percaya menatap sosok Sasuke dihadapannya.
"Maaf aku pulang terlambat, maaf membuat mu dan Sakura menunggu."
"Tidak apa-apa, aku mengerti dengan tugas mu untuk desa."
Sarada menyeka bulir air mata yang turun dari kelopak mata onyx nya. Sarada tersenyum kemudian menggenggam tangan Sasuke.
"Ayo kita pulang, mamah pasti sudah menyiapkan makan malam untuk kita berdua." Ajaknya.
Sasuke mengangguk membiarkan putrinya menggandeng lengan kanannya berjalan menuju ke diaman Uchiha. Keduanya menghabiskan waktu berbincang dan bercanda bersama.
Keduanya sudah sampai di rumah. Sarada melepas sepatu yang dia pakai dan menaruhnya di rak sepatu.
"Ta--"
Sarada tersentak mendapatkan sebuah pelukan tiba-tiba dari Sakura dari arah dapur menuju pintu. Memeluk begitu erat sang buah hati kecil mereka satu-satunya.
"Kenapa kau tidak bilang jika pergi!? Kau membuat aku khawatir tau."
Ujar Sakura memajukan bibirnya, mengusap air mata yang turun dari kedua kelopak matanya.
"Gomen ne, mamah."
"Jangan diulangi lagi!"
Sarada mengangguk takut, kemudian iris onyx nya melirik kearah Sasuke perlahan. Sasuke yang sadar langsung acuh pura-pura tidak melihat.
"Ha-ha'i."
Sakura kembali menarik Sarada kedalam pelukannya. Tidak lupa tangan suaminya dia tarik juga kedalam pelukan. Begitu hangat. Pikir sarada tenggelam dalam kebahagiaan.
*****
Sang surya sudah menunjukkan dirinya di ufuk timur. Cahayanya turun menyinari bumi. Semua orang sedang bersiap untuk dimulainya sebuah festival kembang nanti malam.
"Sasuke-Kun, Sarada ayo sarapan." Teriak Sakura dari dapur. Kedua tangannya begitu telaten menyiapkan masakan yang akan dihidangkan untuk sarapan.
"Ha'i..."
Sarada melangkah malas keluar kamar menuju meja makan. Dia terduduk di sana memandangi hidangan di atas meja kayu itu.
"Dimana papah?" Tanyanya.
"Dia sedang mandi, sebentar lagi dia akan bergabung untuk sarapan bersama kita." Tutur Sakura menaruh nasi di mangkuk dan memberikannya pada Sarada.
Tidak butuh waktu lama, Sasuke sudah keluar dan bergabung dengan mereka berdua dimeja makan. Sarapan bersama ditambah perbincangan dari si pemilik sharingan kecil mengenai misi yang bisa dia selesaikan beberapa hari yang lalu.
'Malam ini akan menjadi malam yang paling membahagiakan untuk diriku. Aku tidak akan menyia-nyiakan nya.' Batin Sarada.
__ADS_1
Seharian penuh mereka habiskan bersama berkeliling desa berbelanja kebutuhan rumah. Mulai dari makanan, alat mandi, alat pembersih rumah dan berbagai kebutuhan lainnya. Sarada seharian tidak melepaskan genggaman tangannya pada Sasuke. Bukan karena takut Sasuke pergi lagi, hanya dia ingin meluapkan rasa rindunya saja.
"Sebentar lagi festival akan dimulai, ayo kita pulang dan segera berganti baju. Jangan lupa membawa mantel." Ucap Sakura mengingat ayah dan anak itu.
Sasuke dan sarada hanya menganggukkan kepalanya. Mereka bertiga segera bergegas berjalan menuju rumah.
-----
Jam menunjukkan pukul 18.00 malam, Keluarga Uchiha itu sudah siap dengan yukata yang mereka pakai saat ini. Di tambah tatanan rambut raven Sarada yang di gulung membuat dirinya semakin terlihat cantik dan anggun.
"Ayo silahkan mampir!"
"Mari silahkan di lihat dulu!"
"Mari mari!"
Riuh para pedagang yang menawarkan berbagai macam dagangannya pada pembeli yang berlalu lalang di depan mereka. Tidak banyak juga dari mereka sibuk di kerumunan pembeli di sana.
"Kau senang Sarada?" Tanya Sasuke menolehkan pandangannya ke arah Sarada.
Sarada mengangguk antusias menjawab ucapan Sasuke.
"Tentu saja! Aku tidak akan melupakan peristiwa menyenangkan ini, Kau tau. Aku iri dengan yang lain..."
Ketiganya menghentikan langkahnya tepat di tengah kerumunan para pejalan kaki di sana. Suara ramai dari para pedagang dan pembeli masih bisa di dengar. Sarada terdiam, kedua kelopak matanya tidak bisa membendung air di sana. Butiran air bening itu lolos juga keluar.
"A-aku juga ingin papah selalu ada bersama dengan ku.... Wa-walaupun sebentar, tapi aku ingin!"
Pecah sudah Isak tangis dari Sarada. Gadis Uchiha kecil itu dipeluk perlahan oleh Sasuke. Dia membiarkan putri semata wayangnya yang sudah menginjak usia lima belas tahun ini menangi.
Manik hijau tosca milik Sakura juga menetes kan air mata. Segera dia menyeka air mata yang turun membasahi kedua pipi tirusnya itu.
"Hari ini kita mau bersenang-senang, bukan? Ada beberapa wahana menarik yang tidak boleh kita lewatkan!" Seru Sakura melepas keheningan menarik tangan suami serta anaknya menuju bianglala tertinggi di ujung Utara sana.
Sarada tersenyum sayu mengikuti langkah kaki jejang milik sakura.
Mereka tiba di bianglala dan memilih bianglala berwarna merah, sarada masuk lebih dulu duduk di dekat jendela.
"Hah, hah... Capek juga berlari." Keluh Sakura.
"Pft, habisnya kenapa mamah malah berlari seperti itu?"
"Hah hah... Supaya bianglala nya tidak di tempati orang lain." Bohong sakura.
Bianglala milik mereka bertiga tertutup pintunya. Bergerak memutar perlahan naik keatas menuju langit. Uchiha kecil itu terkagum melihat desa tempat dia tinggal begitu cantik dibawah sana dengan hiasan lampu yang menerangi setiap rumah.
"Indah..."
Diam-diam Sasuke mengeluarkan smartphone miliknya memotret sarada.
"Little Peanut..." Gumam Sasuke melihat kearah jendela bianglala tadi.
Sudah 10 menit berlalu akhirnya bianglala mereka berhenti. Sasuke turun lebih dulu sebelum istri dan anaknya turun.
Mereka melanjutkan jalan kembali menaiki berbagai macam wahana lainnya di festival. Tidak lupa juga bermain game yang ada di sana. Beberapa kali Sarada menang mendapatkan Boneka dan juga gantungan kunci disana.
Canda dan tawa yang begitu bahagia. Langit semakin menghitam. Keluarga kecil Uchiha itu kini tengah berada di kuil untuk berdoa sebagai penutup acara sebelum kembang api dinyalakan di langit.
Sarada menangkup kedua tangannya mulai berdoa di sana. Begitu juga dengan Sasuke dan Sakura.
"Terimakasih untuk hari ini, Tuhan. Aku sangat senang sekali, tetapi aku juga tidak mau hari ini berakhir begitu saja.
Biarkan papah tetap di rumah untuk beberapa hari lagi, tuhan."
Selesai Sarada segera membuka kedua matanya meraih kertas yang ada di kuil.
"Ayo kita pulang." Ajak Sarada ketika melihat kedua orangtuanya selesai berdoa.
"Heh, kau tidak ingin melihat kembang apinya dulu?"
Duar!
Suara kembang api perlahan terdengar sebelum sarada mengeluarkan sebuah kata dari mulutnya. Kembang api mulai menghiasi langit malam dengan percikan warna warni di atas sana.
"Kirei..." Ujar Sarada melangkah menuruni kuil. Di susul Sakura dan Sasuke dibelakang.
Ketiganya terpukau melihat kembang api yang mengakhiri festival pada malam hari ini. Sarada membuka kertas yang ada di genggamannya dan mulai membaca isinya.
"Aku akan mendapatkan keberuntungan besok." Ucapnya senang menunjukkan kertas putih pada Sakura dan Sasuke.
"Benarkah!" Ucap Sakura antusias melihat kertas di genggaman sarada.
"Syukurlah." Timpah Sasuke menepuk pelan kepala Sarada seraya memberikan senyum kecil di bibirnya.
"Doa ku akan terkabul."
Tidak bisa dibayangkan jika Sarada mendapatkan kertas keberuntungan pada malam hari ini. Dia begitu bahagia bisa bersenang-senang dengan papah dan mamahnya.
Hal yang ingin Sarada lakukan selalu adalah menghabiskan waktu bersama sang papah setiap saat. Tapi apa daya jika beliau sibuk karena tugas dari petinggi desa?
Keluarga Uchiha itu kembali larut dalam sebuah pelukan hangat. Menunggu kembang api selesai dinyalakan.
- Tamat -
__ADS_1