ONESHOOT STORY

ONESHOOT STORY
. Falling In Love .


__ADS_3

  ❝ Falling In Love ❞


WARNING! YAOI!


Cast: - Akashi Seijuro


- Haizaki


- Aomine


- Masaomi


Genre: Romance, Misteri, School


0:35 ━❍──────── \-5:32



↻ ⊲ Ⅱ ⊳ ↺


||Modern AU||


Musim panas telah dimulai di kota Tokyo, Jepang. Tidak banyak dari beberapa orang yang menyiapkan liburan di bulan ini. Pria berambut cornrowsdia kepang ke belakang terduduk di bangku taman menunggu kekasihnya belanja.


Sudah 30 menit berlalu akashi tidak menampakkan batang hidungnya. Membuat Haizaki harus berdiri memasuki supermarket di belakang pohon sakura itu. Yang di cari sudah berada di kasir menunggu antriannya tiba.


"Kenapa tidak menunggu di luar sana?"


Perempatan siku kecil terlihat di kening kanan Haizaki.


"Kenapa diam saja?"


Haizaki menghelakan napas pelan menatap kedua manik merah milik Akashi. Dia menepuk pelan pundak kanan sang kekasih dan berlalu keluar dari supermarket.


Akashi terlihat kebingungan dan memilih acuhkan Haizaki saat ini. Toh tidak seperti biasanya Haizaki bersikap manis seperti tadi.


"Selanjutnya..."


Akashi mulai maju menaruh belanjaan di meja kasir. Sesekali manik merah itu menatap kearah pintu dimana Haizaki tengah berdiri menunggu dirinya selesai. Di keluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompet hitamnya untuk membayar belanjaan yang dia beli.


Akashi keluar membawa dua kantung putih berisikan cemilan dan kebutuhan pokok lainnya. Haizaki spontan menoleh mengambil dua kantung belanjaan tadi.


".... Oh, tumben sekali."


"Sudah kau diam saja."


"Hm...."


Keduanya mulai berjalan di trotoar menuju apartemen. Mungkin jika kejadian di penginapan itu tidak terjadi saat ini Haizaki tidak bersama dengan akashi.


*****


'Ting'


Suara lift terbuka, akashi melangkah kakinya keluar menuju kamar apartemen miliknya di ujung Utara sana. Di buka pintunya dengan card berwarna senada dengan rambutnya hingga pintu terbuka. Akashi masuk lebih dulu membuka sepatu yang dipakai nya.


"Hari ini cuaca begitu panas, tapi kenapa orang-orang begitu bersemangat sekali hari ini." Ujar Akashi mengambil sebotol air putih dari dalam kulkas dan langsung meneguknya.


"Karena besok malam akan ada Festival, bahkan kau sendiri tidak tau? Cih dasar."


Haizaki menaruh kasar belanjaan milik Akashi di meja. Kedua tangannya sibuk mencari sekaleng minuman soda yang sudah ia pesan tadi di supermarket. Keterlaluan sekali jika Akashi tidak membelikan minumannya.


"Dimana minuman ku, kash?"


"Aku lupa membelinya."


"Apa?! Yang benar saja!"


"Lagipula kau sudah minum terlalu banyak tadi malam."


"....."


"Aku benar kan?"


Haizaki langsung melengos pergi dari hadapan Akashi. Rasanya ini bukan dirinya lagi. Semenjak menjalin hubungan dengan Akashi, Haizaki selalu saja mengalah dalam hal apapun termasuk berdebat.


Pria berambut cornrowsdia kepang ke belakang itu kini duduk di sofa menyandarkan punggungnya. Tangan kanannya meraih remote televisi yang ada di meja dengan malas. Di lirik sekilas manik merah milik Akashi ketika pria pendek itu ikut duduk di sofa.


"Benar-benar membosankan." Gerutu Akashi menghabiskan air yang ada di botol tadi.


Haizaki mengusap belakang kepalanya kasar. Acara yang ada di televisi juga membosankan.


Keduanya terlarut dalam keheningan satu sama lain. Hanya ada bunyi denting jam dan suara klakson mobil dari luar apartemen.


"Kau tau, jika pada saat itu aku tidak bertemu dengan mu lagi. Mungkin aku...."


Haizaki menghentikan perkataannya seraya menundukkan kepala kebawah. Mengingat kejadian beberapa tahun lalu yang mengharuskan mereka berpisah. Kejadian dimana Akashi pingsan tak sadarkan diri di bar.


• Flashback •


Musik bar terdengar begitu menusuk masuk kedalam gendang telinga Akashi. Pria bersurai merah itu hanya terduduk di sebuah meja batender menunggu pesanan dia datang. Segelas wine sudah selesai di racik perlahan di taruh didepan Akashi. Banyak wanita begitu terkesima dengan paras Akashi.


"Terimakasih..." Ujar Akashi melihat sekilas gelas beling yang berisikan wine berwana merah.


Sudah dua jam berlalu Akashi berada didalam bar. Di kelilingi wanita-wanita cantik yang begitu seksi. Banyak dari mereka menggoda Akashi hingga di bawa menuju kamar private bar.


Tubuh meliuk itu seakan menghipnotis Akashi untuk menjamahnya. Di tambah kedua bongkahan pantat yang begitu indah memantul ke atas bawah meminta untuk di tampar.


"Akashi sama~"


Panggilnya begitu lembut, kedua kaki jejang itu melangkah menuju sang surai merah di atas kasur. Pakaian kemeja itu terbuka memperlihatkan dada telanjangnya.


Si gadis hanya menjilat sekilas bibir bawahnya agar basah. Setelah itu dia mulai memeluk tubuh Akashi begitu erat. Mencium setiap inci dari bagian leher Akashi hingga meninggalkan bercak merah di sana. Akashi hanya diam memegang pinggul sang gadis sampai dirinya benar-benar terbuai dan kehilangan akal.


Akashi sudah terlarut dalam cumbuan gadis tadi. Napas tersengal-sengal usai bercinta. Kini dirinya terbaring di kasur king size berwarna putih itu. Kedua tangannya masih memeluk sang gadis yang tertidur lelap didalam selimut.


***


Keesokan paginya dia membuat kedua matanya terbuka mengerjap mencoba melihat sekitarnya.

__ADS_1


"Astaga, aku melakukannya lagi."


Akashi bangkit dari kasur memakai pakaian miliknya. Berjalan gontai keluar kamar menuruni tangga bar.


"Heh, kau baru saja keluar?" Seorang pria berambut cornrowsdia kepang ke belakang menyapa setelah membersihkan meja.


"Bukan urusan mu, Haizaki."


Akashi keluar gontai keluar bar. Dia berniat berkunjung menuju supermarket. Berjalan kearah minuman dingin di sana. Sebotol air putih dia ambil.


"U-uh."


Desisnya ketika berada di kasir membayar air yang dia pegang. Kedua pasang mata yang ada dibelakang Akashi terus saja memperhatikan gerak gerik Akashi.


"Silahkan datang kembali." Kasir tersenyum memberikan plastik berisi minuman milik Akashi.


Pria bersurai merah itu segera keluar kemudian berjalan di trotoar tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Kuliahnya sebentar lagi akan dimulai, dia harus segera bersiap sebelum dosennya datang.


"Hmpt!"


' Prang! '


Sebuah gelas yang dipegang Haizaki jatuh kelantai. Kepingan kacanya berhamburan kemana-mana di area lantai. Haizaki berjongkok meraih pecahan beling tadi.


".... Tidak biasanya tangan ku tergores seperti ini?"


Ucap Haizaki melihat jari telunjuknya berdarah. Hatinya merasa gusar, tapi sebisa mungkin dia acuhkan. Dia meraih kembali beling tadi kemudian membuangnya. Pekerjaan nya hari ini sudah selesai, dia bersiap pergi ke kampus.


******


"Dia terlihat sangat cantik sekali..."


"Siapa kalian?" Nada parau Akashi keluar setelah enam jam di sekap oleh penculik.


Kedua matanya tertutup oleh kain hitam dan tubuhnya telanjang tanpa mengenakan sebuah pakaian. Rambut merah tergerai hingga sepunggung membuat Akashi terlihat seperti wanita pada umumnya.


"Kau tidak perlu tau, Akashi sama..."


Sebuah elusan mendarat tepat di dagu Akashi turun ke leher jenjang juga hingga terlihat sebuah kecupan merah di bagian pundak kanan pemilik Surai merah tadi.


"Heh, seperti biasa kau bermain dengan wanita lagi? Kali ini siapa hum?"


Wajah itu semakin mendekat. Akashi dapat merasakan deru napas berat menerpa wajahnya. Di tambah bau rokok dari mulut pria itu.


"Itu bukan urusan mu, pria tua."


Satu tamparan mengenai pipi kanan Akashi. Dia menampar begitu kuat hingga Akashi terlempar jauh kebelakang. Dia meringis kesakitan tepat di lengan kanannya. Tangan dan kaki terikat membuat Akashi tidak leluasa bergerak. Bukan tidak leluasa lagi, tetapi tidak bisa bergerak.


"Tentu saja itu urusan ku, kalau bukan karena dia, aku tidak akan mendapatkan mu!" Jelasnya lagi mendekati Akashi. Menarik rambut panjang Akashi begitu kasar ke atas.


"Kau akan membayar perbuatan mu kali ini." Ujar pria tadi.


****


Haizaki terdiam didalam perpustakaan memandangi buku yang dia baca di atas meja. Pikirannya kosong entah kemana. Tidak biasanya Akashi bolos kelas untuk seharian. Apa ada sesuatu yang terjadi padanya? Pikir Haizaki.


"Tunggu dulu....


Haizaki mengusap kasar bagian belakang kepalanya. Kembali dia melanjutkan pelajaran tadi pagi dibahas oleh dosen nya. Biarpun begitu, Akashi pernah sekali ada untuk dirinya.


Haizaki berdiri berjalan keluar dari perpustakaan. Mahasiswa lainnya juga sudah tidak ada di kampus. Mereka pulang lebih dulu. Beberapa tugas dari dosen membuat kepala mereka semua pusing, begitu juga Haizaki.


"Yo, kau sendirian?"


Haizaki melirik malas kearah seseorang yang menyapanya. Aomine Daiki namanya, pria tan teman Haizaki dan Akashi sejak SMP.


"Seperti yang kau lihat."


Ucap acuh Haizaki berjalan terus di trotoar jalan.


"Aku dengar Seijuro tidak masuk kelas hari ini. Tidak seperti biasanya anak itu bolos."


"Aku tidak tau..."


"Heh? Bukannya kau semalam melihat dia bercinta di bar tempat kau bekerja?"


"Aku tidak tau."


Aomine menghela napas pelan. Pria tan itu kecewa dengan jawaban yang diberikan Haizaki untuknya.


Haizaki melengos ke kanan gang tepat ke rumahnya. Begitu sederhana. Dia segera melepas sepatu yang dikenakan. Melangkah masuk kedalam dapur untuk menyiapkan makan malam.


"Aku jadi khawatir dengan nya..." Gumam Haizaki pelan.


****


Sudah dua hari berlalu sejak hilangnya Akashi. Haizaki melangkah naik ke ruang private tepat dimana Akashi bercinta dengan wanita dua hari yang lalu.


Kedua bola matanya mengedarkan setiap pandangan pada kamar bernuansa putih itu. Dia mendekat ke kasur, nihil tidak ada bukti di atas kasur sana. Edaran pandangannya tertuju pada sebuah keranjang sampah di samping lemari kayu besar dekat jendela. Terdapat sebuah plastik putih yang belum sempat di buang oleh Service Room.


"Jangan-jangan? Oh tunggu dulu...."


Haizaki membawa plastik tadi menuruni tangga menuju kearah atasannya. Napasnya tersengal-sengal.


"Aku ingin bertanya adakah yang menempati kamar private nomor 180 setelah Akashi yang memakainya?" Tanya Haizaki terburu-buru.


"Tidak ada."


"Terimakasih banyak!"


Haizaki segera melengos pergi mencari sosok keberadaan Akashi ke kantor polisi. Jalanan hari ini begitu ramai sekali. Beberapa kali dirinya bertabrakan dengan orang.


"Permisi! Aku ingin menanyakan perihal kain ini dan aku ingin melaporkan kehilangan teman ku."


Ujar Haizaki berdiri tepat didepan pintu kantor polisi.


*****


"Hah hah... Kau boleh juga bocah, merah."

__ADS_1


Akashi terbaring lemah di lantai. Lebam di sekitar tubuhnya begitu banyak. Rambut panjangnya perlahan kusut tidak beraturan. Beberapa rontok mengotori lantai gudang.


Detak jantungnya hampir saja ingin berhenti pada hari ini. Pandangan kabur, tubuh lemas dan darah bercucuran keluar dari kening kanannya.


Brak!


Pintu kayu gudang tempat dimana Akashi terbuka begitu keras membuat bunyi. Haizaki berlari mendekati Akashi yang terbaring lemas.


Para polisi segera menangkap para pelaku yang sudah menganiaya Akashi itu. Haizaki terdiam melihat luka yang ada di tubuh Akashi. Dia sama sekali tidak bisa melihat Akashi seperti ini, di lepas ikatan tangan dan kaki pria bersurai merah itu. Di kecup telapak tangan kanannya juga.


"Akashi..." Panggil lirih Haizaki.


Tubuhnya di gendong di bawa pergi keluar dari gudang. Haizaki membiarkan polisi untuk membawa pelaku penculikan Akashi.


"Aku tau kau kuat, Kash."


******


Dokter dan suster di dalam ruangan sibuk membersihkan luka pada tubuh Akashi. Di perban kepala, tangan dan kaki Akashi. Terbaring lemah di kasur membuat hati kecil Haizaki menangis. Tidak bisa terbayang jika Akashi akan menjadi korban penculikan maniak fetish aneh itu. Darimana dia tau? Haizaki tau dari polisi dan kepala polisi juga memberitahukan kejadian ini pada pak Masaomi.


"Kash...."


Seharian penuh Haizaki tidak mengalihkan pandangannya dari kamar rumah sakit tempat dimana Akashi dirawat hari ini. Sebuah ketukan sepatu beradu dengan lantai terdengar. Haizaki menoleh kearah suara itu, benar saja, itu suara dari sepatu pak Masaomi.


"Ikuti aku..." Ujar pria tua itu melangkah lebih dulu kearah ruangan private di rumah sakit.


Haizaki menurut mengikuti langkah beliau di temani bodyguard nya dibelakang. Suasana mencekam.


Haizaki terdiam melihat uang 1000 Yen berada di atas meja.


"Jangan pernah dekati lagi Seijuro. Jika tidak, saya akan membuat hidup mu tidak tenang." Jelasnya.


Haizaki mengangguk menerima uang yang diberikan. Pria tinggi putih itu segera pergi dari ruangan serba putih tadi meninggalkan rumah sakit menuju rumahnya.


Haizaki terdiam beberapa saat berdiri di belakang pintu. Mungkin yang dikatakan pak Masaomi padanya ada benarnya juga. Dia memang tidak pantas berada di samping Akashi.


"Kash, apa aku bisa menyatakan perasaan ku pada mu?"


Ucapan konyol itu lolos dari mulutnya begitu saja.


*******


Dua hari berlalu, Haizaki mulai mengganti beberapa jadwal kuliah berbeda dengan Akashi. Setiap siang Haizaki bekerja dan malam dia lakukan untuk kuliah. Mengisi jadwal kosong lainnya mengajar di sekolah menengah atas sebagai guru olahraga. Biarpun dia benci dengan basket, tetapi dia pernah masuk kedalam tim sama dengan Akashi.


"Sensei!"


"O-oh, Mayumi..."


"Jangan melamun terus! Kau tidak akan bisa fokus!"


Haizaki mengangguk kembali mengajar para siswanya itu. Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 sore. Semuanya sudah pada pulang kecuali dirinya dengan siswa yang dia ajarkan.


"Hah, sensei kita tidak pulang?"


"Kalian sudah lelah? Pulanglah kalau begitu." Ucap Haizaki.


"Tapi bukankah ada praktek yang lain, sensei?"


"Kita lak--"


Haizaki terdiam melihat sosok dari sebrang sana. Akashi Seijuro datang menghampiri dirinya.


"Kenapa kau tidak menemui ku dirumah sakit?"


Haizaki masih diam tidak mengatakan sesuatu dari mulutnya. Siswa yang mengerti akan kondisi Haizaki memilih untuk pergi.


"Katakan sesuatu..."


"Maafkan aku, Akashi. Aku terpaksa melakukan nya."


"Karena ayah?"


"....."


"Haizaki...."


"Hum?"


"Aku tau ini sangat aneh, setiap bersama dengan mu menghabiskan waktu bersama ada sesuatu perasaan yang tidak bisa aku jelaskan pada diriku sendiri. Bahkan ketika aku melakukan itu dengan wanita sekalipun tidak ada perasaan yang sama aku rasakan pada mu."


"Maksud mu?"


"Aku menyukai mu."


Buku absen di pegang Haizaki jatuh ke tanah beserta dengan pulpennya. Seorang Akashi kenapa bisa mengatakan hal itu pada dirinya? Pikir Haizaki


"K-kau menyukai aku?! Kenapa?"


"Aku tidak tau, perasaan itu datang begitu saja."


Di tarik lengan kecil itu hingga tubuh kecil Akashi di peluk begitu erat oleh pria cornrowsdia kepang ke belakang. Di elus Surai merah itu turun perlahan agar si pemiliknya merasa hangat.


"Aku juga menyukai mu, Akashi. Maaf selalu menghindar dari mu." Jelasnya.


Mereka berdua terlarut bersama dalam pelukan hangat pada hari itu. Tidak bisa dibayangkan jika Akashi menjadi kekasihnya sekarang.


• Flashback End •


"Sudahlah, lupakan kejadian itu dan sekarang aku ada di sini."


Pria tinggi berambut Cornrowsdia kepang ke belakang itu tersenyum tipis. Memeluk sang kekasih begitu erat seakan tidak ingin melepaskan nya. Di kecup puncak kepalanya pelan.


"Aku akan mengajak mu ke festival malam hari ini." Ujarnya.


Akashi hanya menganggukkan kepalanya.


"Baik..."


Keduanya terlarut dalam kemesraan satu sama lain. Haizaki beruntung memilih Akashi sebagai kekasihnya saat ini. Dia juga bersumpah pada dirinya akan terus menjaga Akashi sepenuh hatinya. Dia juga tidak akan pernah meninggalkan bahkan melindungi Akashi dari serangan orang-orang jahat seperti waktu itu.

__ADS_1


- Tamat -



__ADS_2