
"Tolong tahan pintu liftnya, please tahan pintunya!" Teriak seorang gadis yang kini berlarian dari koridor menuju lift yang sudah dihuni oleh seorang pria bertubuh seksi dengan tinggi proposional. "Oh Tuhan," teriaknya setelah mengambil posisi. "Terimakasih ya Pak, hampir saja jantung saya lepas." Dia berkata sembari menunduk berulang kali.
Bianz Elvis, pimpinan utama Value Media. Sejak ibunya meminta untuk meneruskan perusahaan sang kakek, Bianz yang asing dengan Kota Bandung tak bersemangat dalam menjalani kehidupan sehari-harinya.
Sedangkan wanita yang berlari masuk ke dalam lift tersebut adalah Seyna Rianty, karyawan tidak tetap dengan masa percobaan 6 bulan. Dia baru saja lulus sekolah menengah kejuruan dan berusaha bekerja sembari kuliah di hari sabtu minggu.
Tak lama pintu lift terbuka, Seyna tundukkan lagi kepalanya berulang kali sebelum keluar dari lift menuju ruangan. Bianz tak menggubris sama sekali, tapi pupil mata pria itu menunjukkan ketertarikannya.
Seyna lega karena dia sudah sampai di kursinya, tugas wanita itu tidaklah banyak. Dia cukup menggunakan komputer di hadapannya dan menginput ulang data-data yang sudah ditentukan.
Walaupun Seyna di rekrut dari ijazah sekolah menengah, gadis itu sama sekali tak patah semangat.
__ADS_1
"Seyna, hari ini kamu sudah pindah ruangan. Aku melihat di pengumuman kalau rolling kali ini kamu bertugas di ruang pimpinan." Ucap seorang wanita hamil bernama Siska. "Bereskan barang-barangmu!"
Seyna yang bingung berdiri, dia kembali bertanya. "Kak, bukankah ruang pimpinan tidak terkena rolling anak magang?!"
Siska menggindikkan bahu, "setahuku seperti itu, tapi kita ikuti saja perintah perusahaan! Aku sangat berharap kau bisa menjadi pegawai tetap di sini."
Seyna senang sekali karena mendapatkan teman seperti Siska. "Terima kasih karena selalu menyemangatiku ya Kak!"
“Aku suka wanita mandiri, jangan merasa kesulitan karena diluar sana masih banyak yang tidak mendapatkan kesempatan seperti dirimu. Tetap semangat walaupun banyak orang yang iri dan tak suka dengan apa yang kita raih saat ini.”
Siska mengulas senyum dan meninggalkan Seyna yang kini bersiap menuju ruangan pimpinan. Selama satu bulan dia akan berada di sana, untuk saat ini Seyna belum tahu apa yang harus dia lakukan. Setelah satu jam bersiap Seyna langsung naik ke lantai 38, di sana sekretaris sang pimpinan menatap ke arah dirinya yang baru saja keluar dari lift.
__ADS_1
“Apa kamu Seyna?!” ucap sapa seorang gadis cantik berambut panjang. “Pimpinan sudah menunggu, silahkan masuk.”
“Terimakasih Bu,” dia berusaha untuk ramah walaupun dua orang sekretaris yang lain berwajah masam pada dirinya. Seyna mengetuk pintu, dua kali dan suara barito menyuruhnya untuk masuk.
Seyna melipat bibirnya, jantung gadis itu berdebar sangat kencang saat melihat pria bak lukisan kini berdiri menatap ke arah gedung-gedung tinggi di Kota Bandung. Dia tidak berbalik sama sekali, dan tentu saja gadis itu semakin tidak karuan. “Maaf Pak, saya Seyna Rianty!”
Suasana hening sejenak sampai pria itu berbalik, lalu duduk di kursinya. “Mulai hari ini kau yang mengurus segala keperluanku! Apa kau paham? Semuanya!”
Seyna mengangguk, “saya harus menyiapkan jadwal pribadi anda dan mengaturnya dengan sekretaris.”
“Panggil aku Bianz!”
__ADS_1
Seyna bingung dan gugup, “baik Pak Bianz!”
Pria itu agaknya tidak suka dengan apa yang dirinya dengar, tapi untuk saat ini baginya sudah cukup. “Itu Tablet yang harus kau kuasai, jangan sampai kau malah mengacaukan segalanya.”