
Jantung Seyna berdegub sangat kencang saat aroma wangi yang keluar dari tubuh sang Bos mengisi rongga hidungnya. “Seyna, sebaiknya kau tidak meletakkan jam makan siangku seperti karyawan! Aku ini Bos setidaknya kau berikan aku waktu 2 sampai 3 jam!” teriak Bianz yang kini dengan posisi yang sangat dekat dengan dirinya.
“Hm-iya Bos saya akan ubah!”
Bianz menghela, “sebaiknya kau konsultasi lagi dengan semua sekretarisku karena mereka mengikuti jadwal yang kau buat. Lalu beberapa hari lagi kita akan pergi ke Pulau Maladewa, siapkan beberapa pakaianmu untuk kita di sana selama tujuh hari. Aku ingin liburan tapi sayang tetap harus bekerja.”
Seyna kebingungan, “saya harus ikut Bos?!”
Dengan wajah tak senang Bianz langsung saja mencela sebelum Seyna melanjutkan kalimatnya. “Hey, kau pikir apa pekerjaanmu?!”
__ADS_1
Seyna menggigit bibir bawahnya dan segera berdiri, “baik Bos, saya akan segera bersiap!” sungguh gadis ini tak ingin pekerjaan yang dia miliki terbang melayang. Toh tak ada siapapun juga di rumah, untuk apa dirinya menolak permintaan sang Bos dengan mempertaruhkan pekerjaan yang Ia dapat dari selembar Ijazah SMK.
Mojang Bandung satu ini benar-benar tidak usah di tanyakan lagi keberaniannya, sekarang dia sedang sibuk membereskan pakaian dan bersiap untuk berangkat menuju Apartremen milik sang Bos.
Bel berkali-kali yang dia tekan nyatanya tidak membuat siapapun keluar dari pintu tersebut, Seyna yang sudah kehausan akhirnya menyerah dan kembali turun ke lantai bawah untuk menemui resepsionis. “Permisi Mbak, apa Bos saya di kamar lantai 13 nomor 23 tidak ada di tenpat?!”
Resepsionis tersebut tersenyum simpul, “anda mungkin tidak berkonfirmasi pada Bos Bianz, hari ini beliau berada di Hotel yang ada di jalan Batu. Silahkan Nona konfirmasi ke Bos untuk lebih detailnya.”
Saat Seyna masuk, waktunya bertepatan dengan Bianz yang baru saja turun dari kamar hotelnya. “Pak maafkan saya!”
__ADS_1
“Hm, aku menunggumu sudah cukup lama dan sayang sekali kau malah berjalan dengan santai! Seharusnya kau berlari saat melihat wajahku, aku tak paham dengan cara kerjamu.”
Lutut Seyna langsung lemas, dia tidak bisa bernapas dengan benar karena merasa takut. “Maafkan saya Bos, saya berjanji untuk tidak mengulanginya lagi!” Bianz tidak ingin menambah kacau suasana dan perasaan hatinya, pria itu langsung memberikan kode agar Seyna masuk ke dalam mobil. “Semoga Bos semakin sehat dan mendapatkan kebaikan,” ucapnya sambil berbisik setelah melihat jika Bianz mencoba untuk menahan diri.
Bianz bukannya tidak dengar, tapi dia merasa Seyna menjadi lebih imut ketika sedang bersungut seperti itu. “Jangan lupa semua jadwalku, aku harus tepat dalam setiap melakukan kegiatan.”
“Siap Bos, tentu saja saya tidak akan mengulangi apa yang terjadi hari ini.”
Selama di pesawat Seyna tidak banyak bicara karena ini adalah kali pertama dia melakukannya, sedangkan sang Bos yang sejak tadi memperhatikan Seyna diam-diam sedikit heran dengan raut wajah gadis itu. “Ada apa? Aku tidak ingin membawa orang sakit bekerja, jangan sampai membuat aku merasa tidak nyaman oleh tindakan konyolmu itu.”
__ADS_1
“Tidak Bos, hanya saja ini adalah kali pertama saya! Sedikit pusing dan mual.” ucapnya pelan.