
“Aku pikir kau tidak butuh rumah!” ucap pria bertubuh besar dengan rambut acak-acakan. “Sudah gajian hari ini? Aku minta uang!” dia menyergah dengan sedikit tatapan sinis. “Kau itu cantik, kenapa tak jual diri saja?! jadi kita bisa kaya lebih cepat.”
Seyna tidak menjawab sama sekali, dia membuka tas dan membagi uang di dalam amplop tersebut. “Seperti biasa Ayah setengah aku juga setengah! Jangan banyak minum Alkohol karena aku tak berminat untuk jual diri!” Seyna tak menatap mata Ayahnya, dia bergegas pergi dari ruangan yang kini di penuhi oleh asap rokok.
Seyna adalah anak bungsu dari 4 bersaudara, dia adalah perempuan satu-satunya. Dulu keluarga Seyna berkecukupan namun kebiasaan sang Ayah yang suka berjudi dan mabuk-mabukkan membuat mereka akhirnya masuk dalam lubang kemiskinan. Semua kakak Seyna selalu menyalahkan gadis itu karena menurut mereka Seyna adalah pembawa sial, sejak dia lahir usaha keluarga mereka roboh. Tak ada rasa dendam dan sakit di hati Seyna karena gadis itu sangat paham jika hubungan darah tak akan mungkin terpisah.
“Seyna, Seyna!” suara teriakan terdengar jelas dari luar pintu kamarnya, Seyna yang baru saja ingin beristirahat kembali menegakkan tubuhnya. “Seyna cepat buka pintunya!” yaa.... gadis itu sangat paham jika sang Ayah sedang sibuk mencari tempat persembunyian.
“Siapa lagi kali ini yang mencari Ayah?! apa tak bosan hidup seperti ini terus?!”
“Ssst, jangan banyak bicara Seyna! Aku cuma numpang sebentar, dia tak mungkin masuk ke dalam kamarmu!”
Seyna menghela napasnya, dia tak bisa mengatakan apapun lagi saat ini karena tubuhnya sudah terlalu lemah untuk berdebat dengan manusia manapun. Dia membuka pintu kamarnya lebar, Ayahnya pun langsung berlarian dengan cepat. Seyna duduk dan termenung di atas ranjang, sedangkan sang Ayah masih mendekap di dalam kamar mandi.
“Dimana Ayahmu Seyna?!”
__ADS_1
Gadis itu menggeleng, “Bang jangan masuk kamarku!”
“Dimana Beni? Jangan pura-pura bodoh! Aku malas bertengkar denganmu.”
“Bang, kalau abang masuk aku akan lapor polisi!” ucap Seyna dengan nada lesu, “tolong mengerti ya Bang!”
“Seyna... Seyna! Itu saja terus andalanmu!” dia memukul pintu kamar Seyna dengan keras, “bilang bapakmu jangan lagi mencuri jualan ibuku. Sudah tua malah makin gila dia, buat orang-orang di sini mulai resah! Bisa-bisa kalian di usir dari sini.” Seyna kembali tertunduk lesu, “begitu terus kau Seyna! Sampai mati kau hidup seperti ini.”
“Maafin Ayah Bang, Aku akan coba ingatin Ayah lagi. Hitung saja apa yang Ayah ambil setelah gajian aku bayar Bang.”
Rasa tak tega tentu saja ada, tapi pria ini juga takut pada ibunya jika jualan keluarga mereka habis terus. “Sehat-sehat kau Seyna.” gadis itu mengangguk.
“Besok Ayah mau ke Jakarta, cucu Ayah baru saja lahir!”
Seyna yang baru ingin memejamkan mata langsung berusaha duduk, “Anak Bang Haris?!”
__ADS_1
“Mereka pesan kamu tidak boleh ikut!”
Seyna langsung lemas lagi, “hati-hati Ayah di jalan, kapan kira-kira Ayah pulang?!”
“Tergantung keadaan, mereka senang kalau Ayah di sana!”
Untuk hal ini Seyna sangat paham karena 3 orang saudara laki-lakinya memiliki pendidikan yang tinggi bahkan ada yang lulusan luar negeri. Jarak mereka yang cukup jauh dengan Seyna membuat gadis itu tak memiliki keberanian untuk mengatakan apapun.
“Fotokan aku bayi Bang Haris, Ayah bisa ‘kan?!”
Pria itu mengangguk, “minta uang mau potong rambut, abangmu tak suka ayah berantakan.”
Mau tak mau Seyna kembali mengeluarkan uang untuk sang Ayah. “Padahal ibuku adalah adik kandung abang-abang, tapi kenapa mereka tak anggap aku sama sekali!” kalimat itu tiba-tiba keluar dari mulut Seyna.
Ayahnya yang sudah ada di depan pintu pun berbalik, “semua salah ibumu, kalau saja dia tak main gila dan menghancurkan perusahaan mungkin semua ini tak terjadi. Sekarang wanita serakah itu berada di Jerman dan bersenang-senang dengan berondongnya! Kau tak usah menyalahkan abang-abangmu Seyna!”
__ADS_1
Gadis itu membeku, lidahnya keluh tak bisa mengatakan apapun. Entah kenapa kenyataan pahit ini harus terjadi di hidupnya, Seyna tidak ingin terlalu hanyut dalam permasalahan keluarga. Dia berusaha untuk tegar menghadapi semua ini, walaupun hati kecilnya juga berduka.
“Hati-hati di jalan, kabari aku jika Ayah sempat.” kalimat tersebut menjadi penutup interaksi dirinya dan sang Ayah.