
Setelah kami mendengar teka-teki dari Dewi Cahaya, kami mulai berpikir keras untuk mencari jawabannya. Kami berdiskusi dengan menggunakan cincin komunikasi yang kami miliki.
Aku bertanya: "Menurut kalian, apa jawaban dari teka-teki ini?"
Luna berkata: "Aku rasa jawabannya adalah **es**. Es adalah benda yang ada di mana ada air, lenyap di mana ada api, bergerak di mana ada angin, terkubur di mana ada tanah, dan bersinar di mana ada cahaya."
Leo berkata: "Tidak, itu salah. Es tidak bisa bersinar di mana ada cahaya. Es malah meleleh dan menjadi air."
Zara berkata: "Kalau begitu, mungkin jawabannya adalah **kaca**. Kaca adalah benda yang ada di mana ada air, pecah di mana ada api, bergetar di mana ada angin, terpendam di mana ada tanah, dan memantulkan di mana ada cahaya."
Kai berkata: "Tidak juga. Kaca tidak bisa ada di mana ada air. Kaca malah hancur dan menjadi pasir."
Nina berkata: "Lalu, bagaimana dengan **mutiara**? Mutiara adalah benda yang ada di dalam air, terbakar di dalam api, terbawa oleh angin, tertanam di dalam tanah, dan mengkilap di bawah cahaya."
Noah berkata: "Hmm, itu cukup masuk akal. Tapi aku masih ragu. Mutiara tidak selalu terbakar di dalam api. Mutiara bisa tahan panas jika dilapisi dengan sesuatu."
Lila berkata: "Aku punya ide lain. Mungkin jawabannya adalah **bintang**. Bintang adalah benda yang terbentuk dari air, meledak karena api, berputar karena angin, tercipta dari tanah, dan menyala karena cahaya."
Liam berkata: "Wow, itu keren sekali. Tapi aku takut itu terlalu sulit. Bintang tidak bisa ditemukan di dunia ini. Bintang hanya bisa dilihat dari langit."
Lana berkata: "Aku setuju dengan Liam. Bintang terlalu jauh dan tidak nyata. Aku punya jawaban yang lebih sederhana. Jawabannya adalah **bayangan**. Bayangan adalah benda yang muncul karena adanya air, hilang karena adanya api, berubah-ubah karena adanya angin, tertutup karena adanya tanah, dan terbentuk karena adanya cahaya."
Aku mendengarkan semua pendapat mereka dengan seksama. Aku merasa bingung dan tidak yakin.
Aku bertanya: "Kalian semua punya jawaban yang berbeda-beda. Bagaimana kita bisa tahu mana yang benar?"
Mereka diam sejenak dan tidak tahu harus berkata apa.
Tiba-tiba, kami mendengar suara Dewi Cahaya lagi dari cincin komunikasi kami.
Dia berkata: "Waktu kalian sudah habis, pahlawan terpilih. Sekarang saatnya untuk menjawab teka-teki ini. Jika kalian menjawab dengan benar, kalian akan menemukan artefak cahaya pertama. Jika kalian salah atau tidak menjawab sama sekali, kalian akan mendapatkan hukuman dari saya."
Kami merasa ketakutan dan tegang.
Kami bertanya: "Hukuman? Apa hukuman itu?"
Dewi Cahaya berkata: "Hukuman itu adalah ... hmm, sebenarnya saya belum memikirkan hukuman apa yang cocok untuk kalian. Tapi jangan khawatir, saya akan memberikan hukuman yang sesuai dengan kesalahan kalian. Hukuman itu bisa berupa hal-hal yang menyakitkan, menjijikkan, memalukan, atau menakutkan."
Kami merasa semakin ketakutan dan tegang.
Kami bertanya: "Bagaimana cara menjawab teka-teki ini? Apakah kita harus sepakat satu sama lain atau boleh beda-beda?"
Dewi Cahaya berkata: "Kalian boleh menjawab dengan cara apapun yang kalian mau. Kalian bisa sepakat satu sama lain atau beda-beda. Tapi ingat, hanya ada satu jawaban yang benar untuk teka-teki ini. Jika kalian menjawab dengan jawaban yang salah atau berbeda dengan jawaban yang benar, kalian akan mendapatkan hukuman dari saya."
Kami merasa semakin bingung dan tidak yakin.
Kami bertanya: "Lalu, bagaimana cara mengirim jawaban kami? Apakah kita harus mengucapkannya atau menuliskannya?"
Dewi Cahaya berkata: "Kalian harus menuliskan jawaban kalian di atas selembar kertas dan menunjukkannya ke arah langit. Saya akan melihat jawaban kalian dari kuil saya. Kalian harus menulis jawaban kalian dengan jelas dan benar. Jika kalian menulis jawaban kalian dengan buruk atau salah, kalian juga akan mendapatkan hukuman dari saya."
Kami merasa semakin kesulitan dan tidak siap.
Kami bertanya: "Berapa lama waktu yang kami punya untuk menulis jawaban kami?"
Dewi Cahaya berkata: "Kalian hanya punya waktu satu menit untuk menulis jawaban kalian. Jika kalian tidak menulis jawaban kalian dalam waktu satu menit, kalian juga akan mendapatkan hukuman dari saya."
Kami merasa semakin panik dan tidak tenang.
Kami berkata: "Baiklah, Dewi Cahaya. Kami akan mencoba menjawab teka-teki ini sebaik mungkin."
__ADS_1
Dewi Cahaya berkata: "Baiklah, pahlawan terpilih. Saya tunggu jawaban kalian. Semoga kalian berhasil."
Setelah mengucapkan itu, suara Dewi Cahaya menghilang lagi dari cincin komunikasi kami.
Kami saling pandang dan berlari mencari selembar kertas dan sesuatu untuk menulis.
Kami harus segera menulis jawaban kami sebelum waktu habis.
Kami harus segera menemukan artefak cahaya pertama sebelum mendapatkan hukuman.
Ini adalah akhir dari teka-teki kami, pahlawan terpilih.
Ini adalah akhir dari ujian kami, pahlawan terpilih.
Kami berlari mencari selembar kertas dan sesuatu untuk menulis. Kami menemukan beberapa kertas bekas dan pensil yang tergeletak di dekat sebuah pohon. Kami mengambilnya dan mulai menulis jawaban kami.
Aku masih bingung dengan jawaban teka-teki ini. Aku tidak yakin apakah aku harus mengikuti pendapat salah satu dari pahlawan terpilih lainnya atau mencari jawaban sendiri.
Aku memutuskan untuk mencoba menganalisis teka-teki ini dengan logika dan kecerdasan yang aku miliki. Aku berpikir:
- Es, kaca, mutiara, bintang, dan bayangan adalah benda-benda yang ada di dunia nyata. Tapi, artefak cahaya adalah benda-benda yang ada di dunia fantasi. Jadi, jawaban teka-teki ini haruslah sesuatu yang ada di dunia fantasi juga.
- Es, kaca, mutiara, bintang, dan bayangan adalah benda-benda yang memiliki bentuk dan warna yang tetap. Tapi, artefak cahaya adalah benda-benda yang memiliki bentuk dan warna yang sesuai dengan elemen-elemen dasar di dunia ini. Jadi, jawaban teka-teki ini haruslah sesuatu yang bisa berubah-ubah bentuk dan warnanya.
- Es, kaca, mutiara, bintang, dan bayangan adalah benda-benda yang tidak hidup. Tapi, artefak cahaya adalah benda-benda yang memiliki kekuatan cahaya yang luar biasa. Jadi, jawaban teka-teki ini haruslah sesuatu yang hidup atau memiliki kehidupan.
Dengan berpikir seperti itu, aku menyadari bahwa ada satu hal yang memenuhi semua kriteria itu.
Hal itu adalah ...
**Makhluk Cahaya**.
Makhluk Cahaya adalah makhluk-makhluk ajaib yang hidup di dunia Althea. Mereka memiliki tubuh yang terbuat dari cahaya dan bisa berubah-ubah bentuk dan warna sesuai dengan elemen-elemen dasar di dunia ini. Mereka juga memiliki kekuatan cahaya yang luar biasa dan bisa mengendalikan pasang surut air, mengeluarkan panas dan api, menciptakan angin dan badai, menggerakkan tanah dan batu, dan memancarkan cahaya dan kebaikan.
Makhluk Cahaya adalah jawaban dari teka-teki ini.
Aku yakin dengan jawaban ku. Aku menulis "Makhluk Cahaya" di atas selembar kertas dengan huruf besar dan jelas. Aku kemudian menunjukkan kertas itu ke arah langit.
Aku berharap aku benar.
Aku berharap aku bisa menemukan artefak cahaya pertama.
Ini adalah akhir dari jawaban ku, pahlawan terpilih.
Ini adalah akhir dari keputusan ku, pahlawan terpilih.
Setelah kami menulis jawaban kami, kami menunggu dengan tegang reaksi dari Dewi Cahaya. Kami berharap kami tidak salah menjawab teka-teki ini.
Tiba-tiba, kami mendengar suara Dewi Cahaya lagi dari cincin komunikasi kami.
Dia berkata: "Saya sudah melihat jawaban kalian, pahlawan terpilih. Saya akan memberitahu kalian hasilnya sekarang."
Kami merasa deg-degan dan was-was.
Dewi Cahaya berkata: "Ada satu orang yang menjawab dengan benar. Orang itu adalah ... Raka. Selamat, Raka. Kamu telah menjawab teka-teki ini dengan benar. Jawaban yang benar adalah Makhluk Cahaya."
Aku merasa lega dan senang. Aku tidak percaya aku bisa menjawab teka-teki ini dengan benar.
Aku berkata: "Terima kasih, Dewi Cahaya. Saya senang bisa menjawab teka-teki ini dengan benar."
__ADS_1
Dewi Cahaya berkata: "Sama-sama, Raka. Kamu memang pahlawan terpilih yang cerdas dan berbakat. Kamu pantas mendapatkan artefak cahaya pertama."
Aku merasa bangga dan bersyukur.
Dewi Cahaya berkata: "Artefak cahaya pertama adalah Mahkota Cahaya, sebuah mahkota berbentuk lingkaran yang bisa memancarkan cahaya dan kebaikan yang terang dan memberikan kekuatan cahaya kepada pemiliknya. Mahkota Cahaya adalah artefak cahaya yang paling cocok untuk kamu, Raka, karena kamu memiliki kekuatan cahaya."
Aku merasa tertarik dan penasaran dengan Mahkota Cahaya.
Aku bertanya: "Di mana saya bisa menemukan Mahkota Cahaya, Dewi Cahaya?"
Dewi Cahaya berkata: "Mahkota Cahaya berada di tangan Makhluk Cahaya yang menjadi penjaganya. Makhluk Cahaya itu adalah seekor burung phoenix yang indah dan perkasa. Burung phoenix itu tinggal di sebuah gunung berapi yang ada di sebelah barat padang rumput ini. Kamu harus pergi ke sana dan menemui burung phoenix itu."
Aku merasa takut dan ragu.
Aku bertanya: "Bagaimana cara saya menemui burung phoenix itu? Apakah dia akan bersahabat atau bermusuhan dengan saya?"
Dewi Cahaya berkata: "Burung phoenix itu adalah makhluk yang bijaksana dan baik hati. Dia akan bersahabat dengan kamu jika kamu menunjukkan niat dan sikap yang baik. Tapi dia juga akan bermusuhan dengan kamu jika kamu menunjukkan niat dan sikap yang buruk. Kamu harus berhati-hati dan sopan saat berbicara dengan dia."
Aku mengangguk dan mengerti.
Dewi Cahaya berkata: "Baiklah, Raka. Sekarang saatnya untuk kamu pergi dan mencari Mahkota Cahaya. Semoga kamu berhasil."
Aku berkata: "Baiklah, Dewi Cahaya. Saya akan pergi sekarang. Terima kasih atas bantuan dan petunjuknya."
Dewi Cahaya berkata: "Sama-sama, Raka. Saya akan selalu mendukungmu dari jauh."
Setelah mengucapkan itu, suara Dewi Cahaya menghilang lagi dari cincin komunikasi kami.
Aku berbalik dan melihat pahlawan terpilih lainnya yang masih berdiri di sana dengan wajah kecewa dan cemas.
Aku merasa kasihan dan bersalah pada mereka.
Aku berkata: "Maaf, teman-teman. Saya tidak bermaksud untuk membuat kalian kalah atau mendapatkan hukuman."
Mereka menggeleng dan tersenyum paksa.
Mereka berkata: "Tidak apa-apa, Raka. Kami tidak marah atau iri padamu. Kami mengucapkan selamat padamu. Kamu memang pantas mendapatkan artefak cahaya pertama."
Aku merasa lega dan terharu.
Aku berkata: "Terima kasih, teman-teman. Kamu semua sangat baik dan sportif. Aku berharap kalian juga bisa mendapatkan artefak cahaya lainnya."
Mereka mengangguk dan berterima kasih.
Mereka berkata: "Terima kasih, Raka. Kami juga berharap begitu. Kami akan terus berusaha dan tidak menyerah."
Aku merasa senang dan optimis.
Aku berkata: "Baiklah, teman-teman. Aku harus pergi sekarang. Aku akan berusaha untuk segera kembali dan bergabung dengan kalian lagi."
Mereka mengangguk dan mengucapkan selamat tinggal.
Mereka berkata: "Baiklah, Raka. Selamat jalan dan hati-hati. Kami tunggu kabar baik darimu."
Aku mengangguk dan berpamitan.
Aku kemudian berlari menuju gunung berapi di sebelah barat padang rumput ini.
Aku harus segera menemukan Mahkota Cahaya sebelum terlambat.
__ADS_1
Ini adalah awal dari pencarian ku, pahlawan terpilih.
Ini adalah awal dari petualangan ku, pahlawan terpilih.