
Sebelum aku berangkat ke gunung berapi, Dewi Cahaya memberikan pesan penting kepada kami berlima. Dia berkata: "Raka, Luna, Leo, Zara, dan Liam. Aku ingin memberitahu kalian sesuatu. Jika kalian memerlukan bantuan saat pergi ke sana, segera berikan informasi kepada ku melalui cincin komunikasi. Aku akan mengirimkan tim bantuan yang terdiri dari pahlawan terpilih lainnya yang tidak ikut bersama kalian. Mereka akan segera menolong kalian."
Aku merasa terkejut dan bersyukur. Aku berkata: "Terima kasih, Dewi Cahaya. Saya sangat menghargai bantuan dan perhatian mu. Saya berharap kami tidak akan memerlukan bantuan dan bisa menyelesaikan misi kami dengan lancar."
Dewi Cahaya berkata: "Sama-sama, Raka. Aku juga berharap begitu. Tapi aku ingin kalian berhati-hati dan waspada. Gunung berapi itu adalah tempat yang berbahaya dan penuh dengan rintangan. Kalian harus siap menghadapi segala kemungkinan."
Aku mengangguk dan mengerti.
Dewi Cahaya berkata: "Baiklah, Raka. Sekarang saatnya untuk kamu pergi dan mencari Mahkota Cahaya. Semoga kamu berhasil."
Aku berkata: "Baiklah, Dewi Cahaya. Saya akan pergi sekarang. Sampai jumpa lagi."
Dewi Cahaya berkata: "Sampai jumpa lagi, Raka. Aku akan selalu mendukungmu dari jauh."
Setelah mengucapkan itu, suara Dewi Cahaya menghilang lagi dari cincin komunikasi kami.
Aku berjalan menuju gunung berapi bersama Luna, Leo, Zara, dan Liam.
Aku harus segera menemui burung phoenix dan mendapatkan Mahkota Cahaya.
Ini adalah lanjutan dari cerita petualangan yang saya buat.
Ini adalah lanjutan dari cerita Pahlawan Terpilih: Petualangan di Dunia Althea.
Aku berjalan menuju gunung berapi bersama Luna, Leo, Zara, dan Liam. Kami harus segera menemui burung phoenix dan mendapatkan Mahkota Cahaya.
Perjalanan kami tidak mudah. Kami harus melewati berbagai rintangan dan bahaya yang ada di sepanjang jalan. Kami harus menghadapi hewan-hewan buas, tanaman-tanaman beracun, dan cuaca yang ekstrem.
Tapi kami tidak menyerah. Kami saling membantu dan melindungi satu sama lain. Kami juga saling menghibur dan menyemangati satu sama lain. Kami menjadi semakin akrab dan kompak sebagai tim.
Setelah beberapa jam berjalan, kami akhirnya sampai di kaki gunung berapi. Kami melihat asap hitam yang mengepul dari puncak gunung. Kami merasakan panas yang menyengat dari tanah. Kami mendengar suara gemuruh yang menggema dari dalam gunung.
Kami merasa takut dan kagum.
Aku berkata: "Ini dia, teman-teman. Ini adalah tempat tinggal burung phoenix. Ini adalah tempat terakhir kita mencari Mahkota Cahaya."
Luna berkata: "Wow, ini sangat menakjubkan. Aku tidak pernah melihat gunung berapi sebesar ini sebelumnya."
Leo berkata: "Aku juga tidak pernah melihat gunung berapi sepanas ini sebelumnya. Aku bisa merasakan kekuatan api yang luar biasa dari sini."
Zara berkata: "Aku juga tidak pernah melihat gunung berapi seaktif ini sebelumnya. Aku bisa mendengar suara letusan yang menggetarkan telinga."
Liam berkata: "Aku juga tidak pernah melihat gunung berapi seindah ini sebelumnya. Aku bisa melihat warna-warna yang mempesona dari sini."
Aku tersenyum dan berkata: "Kalian semua benar. Gunung berapi ini memang luar biasa. Tapi kita tidak boleh terlena oleh keindahan atau kehebatannya. Kita harus tetap waspada dan hati-hati. Kita tidak tahu apa yang menanti kita di sana."
__ADS_1
Mereka mengangguk dan setuju.
Aku berkata: "Baiklah, teman-teman. Ayo kita mulai mendaki gunung berapi ini. Semoga kita bisa bertemu dengan burung phoenix dan mendapatkan Mahkota Cahaya."
Mereka mengangguk dan bersiap-siap.
Kami kemudian mulai mendaki gunung berapi dengan penuh semangat dan harapan.
Ini adalah lanjutan dari cerita petualangan yang saya buat.
Ini adalah lanjutan dari cerita Pahlawan Terpilih: Petualangan di Dunia Althea.
Kami mulai mendaki gunung berapi dengan penuh semangat dan harapan. Kami harus segera menemui burung phoenix dan mendapatkan Mahkota Cahaya.
Perjalanan kami tidak mudah. Kami harus melewati berbagai rintangan dan bahaya yang ada di sepanjang jalan. Kami harus menghadapi hewan-hewan buas, tanaman-tanaman beracun, dan cuaca yang ekstrem.
Tapi kami tidak menyerah. Kami saling membantu dan melindungi satu sama lain. Kami juga saling menghibur dan menyemangati satu sama lain. Kami menjadi semakin akrab dan kompak sebagai tim.
Setelah beberapa jam berjalan, kami akhirnya sampai di puncak gunung berapi. Kami melihat sebuah sarang raksasa yang terbuat dari ranting-ranting kering dan batu-batu panas. Di tengah sarang itu, kami melihat seekor burung phoenix yang sedang tertidur.
Burung phoenix itu sangat indah dan perkasa. Tubuhnya berukuran sebesar gajah, dengan bulu-bulu yang berwarna-warni seperti pelangi. Kepalanya berbentuk seperti elang, dengan mata yang bersinar seperti intan. Sayapnya lebar dan panjang, dengan ujung-ujung yang berapi-api. Ekor nya panjang dan bercabang, dengan bulu-bulu yang berkilauan seperti emas.
Di atas kepala burung phoenix itu, kami melihat Mahkota Cahaya yang kami cari. Mahkota Cahaya itu berbentuk lingkaran, dengan permata-permata yang berwarna-warni seperti bulu-bulu burung phoenix. Mahkota Cahaya itu memancarkan cahaya dan kebaikan yang terang dan hangat.
Kami merasa takjub dan kagum.
Luna berkata: "Wow, ini sangat menakjubkan. Aku tidak pernah melihat burung sebesar dan seindah ini sebelumnya."
Leo berkata: "Aku juga tidak pernah melihat burung sepanas dan sekuat ini sebelumnya. Aku bisa merasakan kekuatan api yang mengalir dari tubuhnya."
Zara berkata: "Aku juga tidak pernah melihat burung seaktif dan secerdas ini sebelumnya. Aku bisa mendengar suara pikirannya yang menggetarkan udara."
Liam berkata: "Aku juga tidak pernah melihat burung seindah dan sesempurna ini sebelumnya. Aku bisa melihat seni dan harmoni yang tercipta dari warna-warnanya."
Aku tersenyum dan berkata: "Kalian semua benar. Burung phoenix ini memang luar biasa. Tapi kita tidak boleh terpesona oleh keindahan atau kehebatannya. Kita harus tetap waspada dan hati-hati. Kita harus mencoba membangunkan burung phoenix ini dengan sopan dan hormat."
Mereka mengangguk dan setuju.
Aku berkata: "Baiklah, teman-teman. Ayo kita dekati sarang burung phoenix ini dengan perlahan-lahan. Jangan membuat suara atau gerakan yang bisa mengganggu tidurnya."
Mereka mengangguk dan bersiap-siap.
Kami kemudian mendekati sarang burung phoenix dengan hati-hati dan diam-diam.
Kami harus segera membangunkan burung phoenix dan meminta Mahkota Cahaya.
__ADS_1
Ini adalah lanjutan dari cerita petualangan yang saya buat.
Ini adalah lanjutan dari cerita Pahlawan Terpilih: Petualangan di Dunia Althea.
Kami mendekati sarang burung phoenix dengan hati-hati dan diam-diam. Kami harus segera membangunkan burung phoenix dan meminta Mahkota Cahaya.
Tapi kami tidak tahu bahwa burung phoenix itu sebenarnya tidak sedang tertidur. Burung phoenix itu pura-pura tertidur dan menyadari kehadiran kami berlima saat kami memasuki sarangnya.
Burung phoenix itu ingin menguji kami, apakah kami pantas mendapatkan Mahkota Cahaya atau tidak. Burung phoenix itu ingin melihat niat dan sikap kami, apakah kami sopan dan hormat atau tidak.
Burung phoenix itu menunggu kami mendekat kepadanya, lalu dia membuka matanya yang bersinar dan menatap kami dengan tajam.
Kami merasa kaget dan terkejut. Kami berhenti berjalan dan menatap balik burung phoenix itu dengan takut.
Aku berkata: "Halo, burung phoenix yang mulia. Kami datang dengan damai dan hormat. Kami adalah pahlawan terpilih yang dipanggil oleh Dewi Cahaya untuk menyelamatkan dunia ini dari Dewi Kegelapan."
Burung phoenix itu berkata: "Aku tahu siapa kalian, pahlawan terpilih. Aku juga tahu apa yang kalian cari, Mahkota Cahaya. Tapi aku tidak akan memberikan Mahkota Cahaya begitu saja kepada kalian. Kalian harus membuktikan bahwa kalian layak mendapatkannya."
Aku berkata: "Bagaimana cara kami membuktikan bahwa kami layak mendapatkan Mahkota Cahaya, burung phoenix yang mulia?"
Burung phoenix itu berkata: "Kalian harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan aku ajukan kepada kalian. Jika kalian menjawab dengan benar, aku akan memberikan Mahkota Cahaya kepada kalian. Jika kalian salah atau tidak menjawab sama sekali, aku akan mengusir kalian dari sarangku."
Aku berkata: "Baiklah, burung phoenix yang mulia. Kami bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan mu. Kami berharap kamu bisa memberikan pertanyaan-pertanyaan yang adil dan jujur."
Burung phoenix itu berkata: "Baiklah, pahlawan terpilih. Aku akan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang adil dan jujur. Tapi ingat, hanya ada satu jawaban yang benar untuk setiap pertanyaan. Jika kalian menjawab dengan jawaban yang salah atau berbeda dengan jawaban yang benar, kalian akan gagal mendapatkan Mahkota Cahaya."
Aku mengangguk dan mengerti.
Burung phoenix itu berkata: "Baiklah, pahlawan terpilih. Sekarang saatnya untuk aku mengajukan pertanyaan pertama kepada kalian. Pertanyaan pertama ini adalah:
**Apa nama dari dunia ini?**
Jawablah pertanyaan ini dengan benar, dan kalian akan lebih dekat untuk mendapatkan Mahkota Cahaya.
Selamat berjuang, pahlawan terpilih.
Aku percaya pada kalian."
Setelah mengucapkan itu, burung phoenix itu diam dan menunggu jawaban kami.
Kami saling pandang dan berpikir keras.
Apa nama dari dunia ini?
Apa jawaban dari pertanyaan ini?
__ADS_1
Ini adalah awal dari ujian kami, pahlawan terpilih.
Ini adalah awal dari tantangan kami, pahlawan terpilih.