Pak Guru Aku Mencintai Mu

Pak Guru Aku Mencintai Mu
Bab 1 prologe.


__ADS_3

Segarnya bau hujan ku hirup dalam-dalam, menyegarkan paru-paru ku.


Beceknya jalanan yang tergenang air hujan terinjak oleh sepatuku, hingga membuat sepatu ku menjadi basah.


Baju yang ku gunakan pun ikut basa karena payung tak cukup bisa melindungi diri ku dari hujan.


Suara tetesan hujan begitu tenteram kan hati, “ah... Rasanya aku ingin menikmati ini”.


Kaca jendela kelas kini mulai mengebun, dibalik itu aku melihat langit berwarna hitam, sedikit petir menyambar dalam balik awan hitam itu.


Walau pun begitu guru masih tetap mengajar dikelas, memberi materi untuk pembelajaran, bunyi gesekan kapur putih ke papan tulis berwarna hitam membuat gigi ku agak ngilu.


“hu...,” Hembusan nafas panjang mengiringi setiap gerakan ku.


Menulis apa yang harus ku tulis di sebuah buku.


Rasanya sekolah ini memuakkan bagi ku, hanya saja ini kewajiban untuk murid seusia ku.


Angin berhembus kencang melewati lubang angin, hingga mengenai tubuh ku, terasa begitu dingin, hingga aku dibuat menggigil oleh terpaan angin itu.

__ADS_1


“Trettt..., Trettt..., Trettt...,” bunyi bell pulang sekolah memekakkan telinga namun begitu membuat semua murid tersenyum.


Aku bergegas merapikan alat-alat tulis ku, dan memasukannya dalam tas sandang ku, berjalan ditengah hamparan sawah yang mulai menguning, namun terendam oleh air akibat hujan yang terus menerus mengguyur desa ku.


Aku berjalan sambil senandungkan beberapa lagu, di dalam jalan pulang.


Gemercik bunyi air di irigasi sawah begitu mengenakan telinga, pematangan sawah yang begitu luas untuk dipandang.


Aku masih tetap memegangi payung milikku, agar tak terkena terpaan hujan di hari ini.


“Ibu mana kak?”.


“Udah pulang nak?”.


Tanya ibu ku, lalu melewati diri ku yang tengah asik menyeruput kuah soto hangat.


Meletakan beberapa bagian kain di atas meja, lalu memisahkan beberapa bagian itu.


Kakak pun dengan cekatan ikut menolong ibu.

__ADS_1


“Besok adalah hari peringatan kematian ayah apakah kalian tak merindukannya?”.


Ucap ibu ku lagi, aku hanya diam dan mematung terasa dada ku sesak dan pikirkan ku melayang terhempas di ruang waktu saat bersama ayah ku dulu.


“Cepat Nia ayah udah telat kerja nih”.


Aku masih ingat saat itu ayah ku dengan motor alfa miliknya menunggu ku memakai sepatu, tak henti ia mainkan gas motornya mengisyaratkan diri ku untuk cepat bergegas.


“Tunggu...!”


aku pun dengan cepat membuka pintu dan “brak...!”


dengan sekali banting pintu itu ku tutup dan sontak saja membuat ayah ku terkejut dan mungkin ibu dan kakak juga ikut terkejut mendengar itu dari dalam rumah.


Jalan aspal, di pinggir kiri dan kanan penuh dengan rerumputan hijau, gunung tinggi khas desa di dataran tinggi, udara dingin hampir setiap waktu, sawah yang membentang, atau pun sungai mengalir dengan air yang begitu jernih, begitu lah setiap harinya aku melewati jalan ini yang menuju ke sekolah ku,


aku pegangi pinggang ayah ku, yang masih fokus pada apa yang ada didepan.


angin berhembus menyibak rambut panjang ku, kadang-kadang aku pejamkan mata agar tak perih terkena angin.

__ADS_1


Sungguh itu kenangan yang membuat aku kembali kemasa lalu yang begitu indah, lalu ku tatapi ibu ku, melihat dirinya yang mulai menjahit setiap potongan kain itu, untuk ia jadikan baju yang sudah dipesan oleh orang.


__ADS_2