Pak Guru Aku Mencintai Mu

Pak Guru Aku Mencintai Mu
Bab 12


__ADS_3

Hari-hari yang kami lalui tak lah pernah berubah, dan ia selalu mejahili ku saat aku tertidur diruang kerjanya, ya kadang-kadang aku melakukan itu di saat aku perlu ia membantu untuk berbagai ha mengenai novel, maklum saja ini adalah pekerjaan pertama yang ia berikan kepada ku.


“Nih.minum”.


aku kaget saat ia menyentuh minuman kalang yang dingin itu kewajah ku,


huh... rasanya tengorokan ku kembali basah, “eh!”. Kenapa ia tiba-tiba mendekat kan wajahnya ke wajah ku, dengan refleks aku mentup mata dan seakan menunggu apa yang ia perbuat kepada ku,


“cup”.


Hanya sebuah ciuman singkat dan lembut yang ia lakukan.


“Sebantar lagi kamu kelas tiga ya?”.


Tanya ia kepada ku, dan lalu memberi sebuah cincin perak yang begitu cantik katanya ia tak ingin memberikan cincin emas karena ini akan berat bagi ku, aku tau maksudnya.

__ADS_1


Lalu ia memaskuan cincin perak itu ke jari manis ku. Sungguh indah.


Aku masih saja melihat cincin itu yang bermotif idah Dan lalu ia kembali menciumi ku dengan lembut, sampai aku larut dalam ciuman itu.


Kelas tiga di mulai, dan novel yang kami buat sudah sepenuhnya usai, jadi sekarang tak ada beban untuk kami selalu bersama dan tak memikirkan hal yang lain.


namun... Baru saja dua bulan aku berada di kelas tiga, kami harus di hadapi dengan perbaikan nilai, tapi aku sih terbebas dengan itu, namun tugas lain menanti ku, dasar para guru sadis.


Gerutu ku, baru saja pikiran ku melayang bersama nya.


Mendegar itu ibu dan kakak ku hanya bisa tertawa dan dia, ya pak guru yang membatu ku untuk mengerjakan tugas ini pun ikut tertawa.


“Bapak sedang apa sih?”.


Tanya ku saat melihat nya yang sibuk melihat lebaran seperti lebaran laporan saja.

__ADS_1


“Oh... Ini universitas yang ada di desa ini sudah hampir jadi, apakah kamu ingin masuk ke universitas ini?”.


Ucap nya, namun aku hanya menjawab seadanya, karena apakah aku mampu menempuh pendidikan setinggi itu dengan keadaan keluarga kami seperti sekarang ini.


Kemudian ia berkata bahwa ini tak akan membutuhkan biaya bagi yang mempunyai perestasi di akademik mau pun non akademik, dan selebihnya semua itu geratis.


Lalu aku berpikir seberapa kaya sih orang ini, sehingga bisa membuat desa kami mempunyai pasilitas pendidikan yang begitu lengkap melebihi kota-kota lainnya?


“kalau begitu aku harus lebih giat lagi dalam belajar?”. Tanya ku dan ia hanya mengangukkan kepalanya dan tetap fokus pada apa yang ia lihat, Aku tau kakak ku juga kuliah lewat jalaur perestasi dan ia kuliah di kota yang tak jauh dari desa ini, maka nya ia bisa pulang setiap harinya, walau pun jika pulang, pergi membutuhkan setidaknya 5 jam perjalan, atau pun sekali pergi atau pulang selama 2 setangah jam.


Itu pun tak ditambah dengan keadaan motor milik almarhum ayah yang mogok di tengah jalan.


Tapi aku tak pernah mendegar ia malu akan keadaan ini, aku bisa membayangkan bila di posisi nya, maksud ku seorang gadis pergi kuliah memakai motor butut pasti ada saja orang yang memandang nya dengan tatapan miring, aku juga yakin di akan menghindar dari laki-laki yang ia cintai atau sebaliknya yang mencintai dirinya.


Karena aku tak pernah melihat ia membawa seorang laki-laki kerumah ini.

__ADS_1


Tapi begitulah kakak ku yang tak akan kalah dengan keadaan ini.


__ADS_2