Pak Guru Aku Mencintai Mu

Pak Guru Aku Mencintai Mu
Bab 35


__ADS_3

Aku berharap ini semua tetap sama,


mencoba memahami diri nya walau kadang aku di buat kesal oleh nya.


“Jangan.”


Selalu ucapan itu keluar dari mulutku saat ia mulai memeluk tubuhku, mencium leher ku atau pun membisikan sesuatu kepada ku.


Sebenarnya kami tak terlalu romantis dalam artian kami tak pernah mengadakan makan malam diluar rumah, atau pun memberi kejutan hadiah di ulang tahun kami berdua.


Hubungan suami-istri ini hanya di penuhi candaan.


Aku suka menjahili nya dan sebalik nya ia juga suka menjahili ku.


“dikala hujan turun membasahi tubuh, lembab nya udara, basahnya bajuku.


Aku bejalan di genangan air, sepatu ku basah karena nya.


Payung ku tak mampu melindungi ku dari air hujan.


Aku berlari dalam germercik air yang ku injak itu.


Aku melihat nya duduk di tempat biasanya sembari membaca buku.”


Satu kutipan novel yang kami buat tempo dulu, saat awal-awal aku menjalin hubungan dengan pak guru, ceritanya sih sedikit bumbu romantis, cerita yang mengisahkan tentang kehidupan seorang peria .


Beberapa kali aku memangil nama nya, “mungkin tidur.”


Pikir ku dan melanjutkan lagi pekerjaan ku, membuat makan malam.


“Pak guru... Sayang...”


Ucap ku di telinga nya dan


“huks."


aku sulit bernafas saat ia memeluk ku dengan begitu eratnya, dan...


“Hum...”


ciuman nan lembut, aku hanya pasrah dengan apa yang ia lakukan itu.

__ADS_1


Mata ku mulai sayup-sayup menutup.


Aku tau pada akhirnya apa yang akan ia lakukan, tentu saja mengendong diri ku kekamar dan...


Ah...!


Aku cukup capek malam ini, rasanya tubuh ku lemas saat aku hendak berjalan dan berniat untuk makan malam.


“Sayang.”


Ucapnya membuka pintu kamar,


dan membawa kan makanan ke kamar,


“Aaa...”


eh ia mau menyuapi ku?


Aku terkejut!


Lalu aku turuti apa yang ia minta, membuka mulutku dan,


“hap.”


“hap.”


Saat makanan sudah di dalam mulut? Ada-ada saja.


Semua ini menurut ku hanya lah kejahilannya, Huh. Aku suda tau apa yang harus ku lakukan.


Ku dekati wajah ku ketelinganya lalu membisikan sesuatu di telinga nya.


“eh...”


ucap nya lalu tersipuh malu, dan tiba-tiba memeluk ku


“aku juga.”


Cinta ibrat segela kopi, pahit dan manis tercampur dalam kesempurnaan rasa.


Hah... Hari ini cuaca panas sekali, mana AC dirumah tiba-tiba mati, ingin menelpon orang untuk memperbaiki AC, tapi aku cukup malas bila berbicara dengan orang asing.

__ADS_1


Jadi deh aku Cuma mengipasi diri agar tak kepanasan.


“Uh...! Segarnya...”


meminum air dingin di hari yang panas ini adalah sebuah kenikamatan tersendiri.


Jam berputar, mata ku kini kian terpejam.


“Ah...! Aku ketiduran.”


“Mana lagi belum membuat makan malam.”


Aku mencoba untuk membuatkan makan malam di waktu yang tersisa ini,


“ia masih belum pulang.”


Ucap ku saat melirik ke arah jam dinding, goreng sana goreng sini potong bawang, potong wartel.


Aku cukup sibuk dan waktu hampir menunjukan pukul 6 sore.


“Sayang aku pulang.”


Mati aku, aku belum selesai melakukan tugas ku.


“ngapain?”


Ia bertanya pada ku,tapi tentu ini tak usah ku jawab,


“mau di bantu?”


“Tak usah, kamu duduk saja di meja makan.” Ucap ku,


untuk apa ia membantu ku?


Bukan nya membantu tapi hanya akan mengacaukan ku.


"Dunia?


Hanya lah tempat cobaan, semakin banyak cobaan semakin tinggi derajat manusia itu. Tapi menyerah dengan cobaan adalah perbuatan buruk apa lagi dengan cara mengakhiri hidup."


Kakak Ania

__ADS_1


__ADS_2