
“Bercanda...!”.
Ucapnya kepada ku, Aku legah mendengar kan itu, namun ada suatu yang tak nyaman di hati, rasanya ada yang menganjal, namun...
Ah! sudah lah, menurutku tak penting mengetahui perasaan yang menganjal ini.
Lalu ia mengeluarkan seuatu di dalam tas nya, sebuah contoh buku novel yang ia buat dan tak ia jual dalam artian sesungguhnya, katanya ini hanya untuk ia baca peribadi.
Lalu aku mengambil buku itu dan membacanya dengan sekilas saja, lalu menutupnya lagi.
Ia masih saja menyeruput teh hangat itu, apakah dia jarang minum teh?
Ataukah ia tak bisa membuat teh?
Tapi itu tak mungkin kalau ia tak bisa membuat teh.
Namun... Melihat nya yang begitu menikmati teh buatan ku, aku cukup yakin ia jarang meminum teh.
Hari liburku pun harus dihabiskan dengan keberadaan dia di dekatku, melihat ku yang sedang mengerjakan pekerjaan yang ia berikan, aku cukup risih bila di lihat orang saat aku sedang fokus mengerjakan sesuatu.
__ADS_1
namun...
Rasa...?
Tak aku tak yakin ini adalah perasaan dalam hatiku, tapi apa bila ini perasaan sesungguhnya aku minta kepada tuhan agar perasaan ini di hilangkan dari ku.
Ah... Akhirnya semua ini usai, aku pun bisa sedikit legah
namun, Kenapa ia masih disini sih, mana lagi kakak sudah pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ibu, Aku takut apa yang orang bicarakan kepada keluarga kami nantinya.
Namun... “Aku tak yakin tapi kuharap ini benar-benar perasan dalam hatiku”.
Ucap ku kecil, saat aku mendekati dirinya yang sedang tidur, wajah polos yang saat tidur itu enak untuk dipandang.
Apa kah ini salah bila mencintai orang yang lebih tua dari ku, bukankah ia lebih cocok dengan kakak ku yang sepantaran dengannya.
Huh... Aku lalu terduduk wajah yang ku tundukan kebawah, rasa tertekan mulai kurasa kan, aku berharap cinta ku hanya bertepuk sebelah tangan, aku berharap begitu.
Waktu menunjukan sore hari, terpaksa aku membangunkannya, awalnya aku kesusahan membangunkannya, mungkin beliau termasuk tipe orang yang susah untuk dibangunkan waktu sedang tidur.
__ADS_1
Dengan upaya yang tak kalah dengannya, aku pun berhasil membangunkan dirinya.
“Owaaaahhhh”. Ia tak malu menguap didepan ku, aku tau nafasnya wangi, namun dengan setatus seorang guru yang ia sandang di pundak...?
apakah ini tak memalukan?
Cukup lama ia termenung sebelum otak nya kembali bekerja secara baik paska tertidur, cukup kasar kalimat yang ku katakan, namun begitulah kenyataan nya, dan lebih parahnya lagi, kenapa aku mencintai orang seburuk nya sih, maksudku bukan di fisiknya, namun ya... aku tak ingin mengatakan nya.
Lalu ia bersiap untuk pulang.
“yang ku katakan tadi bukan lah candaan, itu karena aku malu saat ada kakak mu”.
Ucap nya dengan tersenyum kepada ku, bak di sambar petir aku terpaku tanpa bisa berbuat berkata apa-apa.
Lalu ia pun pulang, dan aku masih saja terdiam di tengah pintu sambil mata melihat ia yang perlahan menjauh.
“Eh...!”
aku baru tersadar saat mobil yang ia kendarai sudah berbunyi, dengan senang aku melambaikan tangan ku kearahnya, dan dibalas nya dengan lambaian juga.
__ADS_1
“Ah..” apakah cinta ku secepat ini maksud ku? kisah cinta ku, aku yakin kebanyakan orang-orang tak ada yang sama dengan kisah cinta ku ini.
“Yah tuhan aku senang sekali”. Ucap ku girang saat menutup pintu rumah ku.