
"Ngomong-ngomong NFT kamu projek nya tentang apa?" Tanya Pani sekali lagi.
"Aku lebih ke budaya. Terutama budaya sunda. Seperti gambar wayang golek, dan alat musik sunda."
"Eh... Kamu tadi bilang kamu mau ikutan pentas musik?"
"Iya!"
"Pentas musik di CapKoboy Pestival atau dimana?"
"Iya aku pentas musik di CapKoboy Pestival." Kata Pani dengan nada lelah.
Setelah mendengar itu, wajah Andre gembira, bibirnya tersenyum kecil dan matanya berkilauan.
***
Teori Albert Einstein memang benar. Sebuah teori yang menunjukkan adanya suatu konsep kecepatan waktu, yaitu, kecepatan membuat waktu bersifat relatif. Dan itu yang sedang dirasakan oleh mereka berdua.
Waktu sudah menjelang malam dan Kereta sudah tiba di Stasiun Yogyakarta. Bangunan yang sangat kental dengan nuansa Eropa itu sudah terlihat jelas di mata mereka.
Begitu turun dari kereta, mereka langsung mengenalinya dari pintu-pintu besar berwarna coklat serta langit-langit yang tinggi dimantapkan dengan warna dinding yang putih. Mereka juga menikmati pesona bangunan stasiun yang hingga sekarang masih dipertahankan keasliannya dari depan. Bangunan tampak megah dengan pintu besar dan dua atap yang memayungi jalur kereta.
Tim Kreatif, dan Manajer Pani sudah menunggu di depan Stasiun.
Mereka berdua berpisah dengan tidak mengkhawatirkan rasa rindu.
Andre berjalan menuju ke bagian barat stasiun, menuju tempat perbaikan lokomotif kereta untuk mengamati secara detail setiap komponen yang ada di lokomotif dan mengamati mesin dari bawah karena ada sebuah tangga menuju bagian bawah lokomotif yang diparkir. Tak jauh dari situ, Andre melihat patung kereta kuno berwarna hitam yang juga menarik untuk dinikmati.
Andre berjalan sedikit ke selatan, dan menuju tempat perbaikan gerbong kereta. Meski tak bisa masuk, Andre bisa mengintipnya dari pagar-pagar besi berwarna putih biru yang mengelilinginya. Memandang ke atas, akan terlihat sebuah onderdil kereta yang diletakkan di menara berwarna kuning. Onderdil itu adalah derek penyambung gerbong kereta yang telah digunakan sejak jaman Belanda.
Puas menikmati keindahan stasiun, Andre memulai perjalanan wisata di Yogyakarta.
Andre berjalan ke arah selatan dan sampai di Malioboro. Seperti orang kampung yang biasanya. Andre begitu takjub melihat lampu yang berseri-seri di pusat Kota Gudeg teresebut.
Setelah membeli baju tradisional Yogyakarta yaitu Pinjung, Andre langsung memesan taxi menuju mes yang telah disiapkan oleh CapKoboy Pestival.
***
Pani yang sedang menggunakan baju tidur, masih memikirkan atas kejadian tadi siang di kereta.
Dengan rasa ingin tahu, Dia mengambil Handphone nya yang tergeletak di kasur dan membuka akun instagramnya dan langsung mencari nam Andre di pencariannya.
Namun naas usahanya sia-sia. Memang hidup itu tak sesuai dengan harapan. Yang muncul di pencarian Instagramnya adalah Andre Taulany.
"Mas - mas sudah sampai." Ucap supir taxi terhadap Andre.
Andre yang sedang berkhayal kaget ketika ditanya oleh sang supir. Andre turun dari kursi penumpang. "Berapa Pak?"
"Lima puluh lima ribu mas."
"Makasih Pak! Ambil aja kembaliannya." Ucap Andre sambil membayar taxi dengan uang enam puluh ribu.
__ADS_1
"Terimakasih mas, semoga kebaikannya di balas oleh Tuhan Yang Maha Kaya." Ucap sang supir taxi yang baik hati.
Mobil taxi sudah berangkat dan Andre berjalan mencari kamar Mes yang sudah di sediakan oleh CapKoboy Pestival.
Gedung yang dengan interior yang begitu megah. Lampu - lampu yang disusun dengan indah, dan lukisan - lukisan mewah yang di pajang untuk memanjakan mata.
Ketika Andre sedang asyik melihat-lihat lukisan, ada sekumpulan orang yang menghampirinya.
"Woyahhhh..."
Andre terkejut setelah di kagetkan oleh teman semasa smk nya.
"Haduh... Kirain siapa."
"Gua kira lu gak ikutan CapKoboy Pestival. Kalau tau gitu mungkin gua gak bakalan berangkat sendiri."
"Gua juga gak tau lu ikutan CapKoboy Pestival Ndre!"
"Lu takut di pinjemin duit ya jika lu juara dan mendapatkan cuan nanti? Jadi pada diam - diam lu berangkatnya?"
Semua tertawa setelah mendengar gurauan Andre.
"Hahahaha..."
"Lu juga diam - diam Ndre. Tau nya lu ada disini aja."
"Kalau tadi Itok tidak melihat lu, mungkin kita bakal ketemu ketik pentas."
"Sorry Ndre, gua tidak merasa kehilangan duit. Jadi gua gak mencari duit. Tapi gua hanya lagi berusaha menghasilkan duit di tangan sendiri." Ungkap Farhan yang dari tadi cuman ikut nyimak dan tertawa.
Itok, Arun, dan Farhan mereka semua adalah teman sekelas Andre.
Mereka semua mengikuti pentas NFT. Padahal dulunya mereka semua waktu sekolah mengikuti jurusan OTOMOTIF.
Benar kata pepatah, siswa sekolah tidak semuanya bisa ditentukan masa depannya oleh pendidikan kurikulum. Bahkan ada yang bilang juga, siswa yang sekolah sekarang adalah percobaan kurikulum oleh menteri pendidikan.
"Mes lu dimana Ndre?"
"Gak tau, soalnya baru nyampe ini juga."
"Enggak, maksudnya itu yang ditetapkan oleh panitia di WhatsApp lu dimana?"
"Oh, ini di Hotel Margono lantai 4 kamar 180."
"Tetanggaan kita semua bro!" Ucap Farhan dengan nada senang.
"Udah kita sekamarin aja jangan di pisah-pisah."
"Hahaha... Oke!" jawab mereka dengan senang.
"Ya Udah simpan dulu barang-barang lu, nanti kita keliling gedung sini, biar besok pas pentas gak grogi."
__ADS_1
"Gua gak tau Han dimana itu Hotel Margono!"
"Ini disebelah gedung sini."
"Ya udah sini gua antar lu." Kata Arun dengan mengajak.
"Ya ayo."
"Tapi sebelum nyimpen barang gua, tolong fotoin dong. Gua udah habis foto untuk bikin status."
Mereka pun semuanya ikut berfoto di samping lukisan Raden Saleh.
Malam terus berlanjut, waktu terus bergulir.
Andre dan teman-temannya memesan kopi di warung pinggir jalan. Mereka terus lanjut bercanda gurau sambil melihat kesana kemari kendaraan lewat.
Rasa lelah Andre hilang ketika Andre meminum segelas kopi dan habis tiga batang rokok.
Andre terlalu senang bertemu dengan teman-temannya. Sampai sampai kejadian yang waktu di kereta itu hanyalah mimpi.
Di lain sisi, di Hotel Margono lantai 8 kamar 360. Pani sedang menyeruput kopi sambil mendengarkan musik senja. ia merasa gugup, dikarenakan ini pertama kalinya ia mengikuti Tes. Di tambah lagi, ia di tuntut harus tampil bagus oleh manajer nya.
Dia menatap kosong gelas kopinya. Seperti memaksa ketenangan untuk masuk ke dalam jiwanya.
Dikarenakan segelas kopi sejuta inspirasi. ia pun berfikir, 'obat tenang adalah bagi mereka yang tidak punya masalah. dan walaupun punya masalah, dia tidak menganggap itu sebagai masalah."
Pani mulai menganggap hari esok adalah hari yang seperti biasanya. Tapi sayang hati kecil nya tidak bisa dibohongi.
Ada panggilan masuk ke HP Pani.
"Tinut."
"Hallo"
"Apakah ini dengan Pani Falecia?"
"Iya betul ini dengan saya sendiri."
"Ada apa ya?"
"Apakah anda yang memesan Gudeg dan Soto Ayam?"
"Astaga. Iya, maaf mas sudah membuat anda menunggu lama."
"Ini saya di lobi."
"Iya saya kesitu sekarang."
Pani bergegas menuju ke lobi dengan pakaian tidurnya.
Ia menghampiri kurir yang dari tadi menunggu dekat pintu masuk ke lobi.
__ADS_1