
Alfi menyetandarkan supranya. Fani dan Alfi duduk di motor, di tengah tengah kebun jagung.
Tidak ada orang sama sekali di kebun jagung tersebut kecuali Pani dan Alfi. Ada satu dua orang juga, tapi itu jauh di saung tempat memanen jagung.
Dengan keadaan yang sepi, Alfi mencium pipi Pani. Pani pun merasa gak enak akan hal itu, tatapannya menatap mata Alfi dengan rasa ingin kabur dari tempat tersebut.
Tangan Alfi mulai nakal, ia meraba tubuh Pani dari pinggang sampai ke dada.
Dari situ Pani mulai marah, dia turun dari motor dan langsung pergi tanpa mengucapkan satu patah kata pun.
Alfi berlari dan mengejar Pani. Alfi memeluk Pani dari belakang dengan paksa. ia sambil menciumi ke sekitar wajah Pani.
Tangan Alfi meremas payudara Pani. Dikarenakan tenaga Pani tidak mampu mematahkan tikaman Alfi. Ia pun sontak berteriak sekuat tenaga minta tolong.
"Tolong!!!"
"Tolong!!!"
Tangan Alfi langsung menutupi mulutnya. Ia menggesek-gesek si joni nya ke pantat Pani.
Tak lama kemudian ada seorang petani jagung yang mau mengantarkan hasil panennya ke bandar. ia kebetulan melihat seorang siswa siswi yang melakukan adegan yang tak pantas.
Melihat adanya seorang petani, Alfi melepaskan tikaman nya. Keadaan Alfi juga sudah merasa Plong seperti sudah melepaskan gairahnya.
Pani lari menghampiri petani tersebut. Dengan baju yang kusut dan mata mengeluarkan airmata. Pani mengadu terhadap Bapak Petani itu.
"Pak saya di lecehkan sama orang itu."
Ia berbicara sambil menangis. Entah gimana nasibnya ke depan kalau tidak ada bapak petani itu lewat kesini.
Petani itu mengambil golok yang ada di pinggangnya, dan menamparkan nya ke wajah Alfi.
"Woy, G*bl*k."
"Kalau mau bercocok tanam jangan di kebunku! Bawa sana ke Oyo atau ke kosan!"
"Bikin sial kebunku saja!"
Alfi tidak berani melawan, ia hanya menundukkan kepala dan memegang pipinya yang di tampar dengan golok tadi.
"Sekali lagi lu ketemu begitu lagi di tempat gua! Jangan harap itu kepala bisa nyatu dengan tubuh!"
"Ayo Neng, ku antar bapak pulang ke rumah."
Pani duduk di atas karung jagung yang dibawa motor petani. ia tidak takut akan jatuh, melainkan ia takut dilecehkan kembali sama si Alfi.
Bapak petani mulai pergi untuk mengantar pulang Pani ke rumahnya.
Ketika Bapak Petani dan Pani sudah berjalan jauh. Alfi melampiaskan amarahnya, ia menendang satu persatu pohon jagung sampai patah.
Ketika banyak pohon jagung banyak yang patah, ia pun berangkat dengan supranya meninggalkan kebun jagung.
Pani sudah sampai dirumahnya. ia membiasakan wajahnya agar tidak ketahuan oleh orang tuanya.
Ibu Pani yang sedang duduk di sofa sambil menonton TV, bertanya.
"Kok bajunya kusut gitu Ni?"
"Iya bu, ini Pani habis olahraga."
"Pani lupa gak bawa baju olahraga."
__ADS_1
Suara pani terdengar berat seperti sehabis nangis.
"Ada masalah apa disekolah? Biar Ibu bantu beresin."
"Gak ada masalah apa-apa bu, aku cuman kecapean aja."
"Aku ikutan futsal tadi di sekolah Bu."
"Waduh,,, Kamu sekarang punya hobi baru Ni?"
"Hehe, iya Bu."
"Ya Udah makan dulu sana, Ibu siapin siksa tahu di sana."
"Iya Bu."
Pani menuju ke kamarnya. ia mengunci rapat-rapat pintu kamarnya dan sambil menangis.
Dia trauma dengan pacaran. Dia terpikirkan terus atas kejadian tadi di kebun jagung.
Dia bersumpah kepada dirinya sendiri tidak bakalan pacaran lagi.
Dia merasa pacaran hanya bisa menyiksa batinnya saja.
"Tinut."
Ada BBM masuk di Hp nya.
"PING!!!"
"Yang maafkan aku, tadi aku khilaf."
Pani langsung memblokir kontak Alfi di BBM nya.
"PING!!!"
"Maaf ya soal kejadian yang tadi."
Pani memblokir lagi kontak yang tidak di kenal itu.
"PING!!!"
"Yang jangan marah. Aku tadi khilaf."
Pani langsung menghapus aplikasi BBM nya karena banyak pesan dari Alfi yang ikut nge chat di temannya.
Suara Hp Pani berdering. Itu adalah panggilan biasa dari Alfi.
Dengan marah Pani mengangkat teleponnya dan berbicara agak sedikit keras.
"Sudah kita akhiri hubungan kita!"
Pani mematikan panggilannya, terus dia mematikan Hp nya.
Dia menangis terus menerus sampai lupa makan.
Kepalanya pusing, badannya lemas, hatinya tersiksa dan mukanya kacau, seperti itulah gambaran Pani yang di ruangan enam ke enam meter.
Beda dengan Pani yang sekarang, dengan keadaan badan yang segar bugar, hati yang damai, dan muka yang berwibawa.
"Ingat jangan gugup, tampil lah semaksimal mungkin."
__ADS_1
"Iya Pak Manajer." Jawab pani yang sedang memperindah wajahnya di depan cermin.
***
"Selamat Pagi!!!"
"Pagi!!!"
Gemuruh semua orang di dalam gedung bisa terdengar keluar sampai satu kilometer jauhnya.
"Hadirin yang kami hormati."
"Kita mulai acara ini dengan sambutan oleh Bapak Presiden kita yang baik hati."
"Waktu dan tempat kami persilahkan kepada Bapak Presiden."
Semua orang bertepuk tangan dengan meriah. Ada yang bersorak-sorai, dan bersiul dengan keras.
Bapak Presiden berjalan di karpet merah sambil melambai-lambaikan tangannya. Kepala beliau melenggak-lenggok kesana kemari sambil tersenyum senang.
"Ehem..."
"Bapak dan Ibu yang saya hormati."
"Pemuda dan Pemudi yang saya cintai."
"Acara ini kami adakan, untuk membuat masyarakat menjadi kreatif, inspiratif, dan produktif."
"Kami berharap Negara kita ini nantinya, mempunyai lapangan kerja yang luas, bisa mandiri, dan bisa bersaing di pasar global."
"Ingat, agar untuk menjaga kebersihan, ketertiban dan kenyamanan untuk bersama."
"Terimakasih atas perhatiannya, semoga terhibur dengan acara yang kami adakan."
"Salam Sejahtera."
Gemuruh suara tepuk tangan di dalam gedung.
Dikarenakan banyak pekerjaan yang lain, Bapak Presiden berjalan menuju mobil untuk meninggalkan gedung Pestival. Acara diambil alih oleh MC kembali.
"Halo semuanya."
"Masih semangat?!"
"Masih..."
"Mari kita mulai dengan acara utama yaitu Pentas."
"Saya akan memberi tahu, untuk yang belum tau jadwal dan tempat berbagai Pentas."
"Yang pertama, pentas musik, kita mulai dari jam sembilan sampai jam sebelas pagi, di bagian gedung sebelah barat."
"Yang ke dua, pentas NFT (Non Fungible Token) dan Lukisan, dari jam sepuluh sampai jam sebelas, di bagian timur."
"Yang ke tiga, pentas Otomotif, dari jam satu sampai jam tiga, di bagian utara."
"Yang ke empat, pentas Seni dan Budaya, dari jam empat sampai setengah enam, di bagian selatan."
"Yang ke lima, pentas KAB (Karya Anak Bangsa) atas segala penemuannya, dari jam setengah delapan malam sampai jam sepuluh di tempat pentas musik."
"Yang ke enam, acara syukuran sambil makan-makan atas kelancaran acara ini yang diberikan oleh tuhan."
__ADS_1
"Sambil menunggu setengah jam acara pentas akan di mulai. Kita tampilkan Band Legendaris tanah air kita. Inilah dia ..."