
"Ih apaan si mereka." Gerutu kesal Diandra saat melihat begitu dekatnya Irene dan Vanno.
Diam-diam Diandra mengamati mereka dari jauh. Rumah Diandra memang masih satu komplek dengan Irene. Maka tidak mengherankan Diandra sekarang berada di taman komplek itu.
"Gua harus lebih dekat lagi. Apa si yang lagi diomongin sampai segitunya amat." Kata Diandra dengan mata yang tak hentinya mengawasi mereka.
"Van, pulang yuk. Mau belajar." Ajak Irene disela obrolan mereka.
"Ayo." Kata Vanno sambil memegang tangan Irene seraya bangkit dari duduknya. Irene membeku dan hanya melihat tangannya yang digenggam Vanno. Seketika jantung Irene berdegup begitu kencang. "Loh kok diem, katanya mau pulang." Ucap Vanno membuyarkan apa yang sedang Irene rasakan. Dia pun bangkit dan berjalan mengikuti Vanno. Irene memegang dadanya sendiri, memastikan jantungnya kali ini baik-baik saja.
Diandra yang masih mengawasi mereka dari belakang menatap sinis Irene. "Ih apaan sih itu pegangan tangan segala lagi." Kata Diandra dengan penuh kesal. "Tunggu Irene, gua bakal buat perhitungan buat lu." Ancam Diandra.
...............
"Terimakasih Van udah ngajak aku jogging." Kata Irene tulus dengan senyum setelahnya. "Oh iya, masuk dulu yuk." Sambung Irene.
"Terimakasih Rene, aku langsung pulang aja. Mau mandi sekalian nanti belajar. Kamu masuk gih." Jelas Vanno.
Irene menggeleng tak mengiyakan Vanno. "Aku masuk setelah kamu pergi." Ucap mantap Irene.
"Ok siap tuan putri." Kata Vanno menggoda.
"Ih sana." Dengan semburat merah kentara di kedua pipinya.
"Manis." Puji Vanno menambah merona pipi Irene.
"Ih sana, malah godain mulu." Ucap kesal Irene melihat tingkah Vanno.
"Iya iya, aku pulang nih." Jawab Vanno seraya masuk ke dalam mobilnya.
Irene melihat mobil Vanno menjauh dari pekarangan rumahnya. Diapun akhirnya masuk ke rumah. "Aku pulang." Kata Irene semangat.
"Anak papi cerah banget pagi ini." Puji Bhagaskara.
__ADS_1
"Iya dong harus gitu pi, kan abis pergi sama Vanno." Goda Hana. "Tuh liat pi, pipinya nambah merah." Sambung Hana kemudian.
"Ih mami." Jawab Irene malu. "Aku ke kamar dulu ya, aku udah sarapan tadi di taman komplek bareng Vanno. Jadi, aku mau langsung belajar ya." Jelas Irene dan bergegas naik ke kamarnya.
Irene belajar cukup lama sampai Hana harus memanggilnya keluar untuk makan siang. "Sayang, makan yuk. Turun. Belajarnya lanjut nanti lagi." Ajak Hana.
"Bentar Mi, sebentar lagi. Mami duluan aja." Kata Irene.
...............
Komputer di depan menampilkan soal-soal yang rumit jika hanya dipandang. Sedang ada seseorang yang begitu kritis memecahkan soal didepannya. Hari ini, Irene sedang melaksanakan ujian akhirnya. Dia begitu fokus dan hati-hati. Hingga waktu telah berakhir, dia pun tidak menyadari karena masih fokus mengecek jawabannya.
"Ok, anak-anak selesai sudah ujian hari ini. Terimakasih atas kerja keras kalian. Sampai jumpa besok." Kata guru pengawas mengakhiri ujian hari ini.
Irene bernapas lega telah menyelesaikan ujian hari ini. "Besok harus lebih baik lagi. Harus bisa dapetin nilai yang bagus." Gumam Irene.
Tidak terasa ujian selesai. Irene sangat lega itu. Dia pun memutuskan untuk menemui Ina.
"Naaaa....." Panggil Irene girang akhirnya bisa berjumpa dengan temannya itu.
"Aku kangen..." Rengek Irene melepas pelukannya.
"Aku juga. Apa rencana kamu setelah lulus ?" Tanya Ina sambil memberi kode Irene untuk duduk.
"Hmmm, sekolah disini." Jawab Irene jujur. "Kamu sendiri mau kemana ?" Sambung Irene.
"Aku sekolah di Bandung, orangtuaku ditugaskan di Bandung. Jadi aku ikut mereka." Jelas Ina.
"Hah ? Kita pisah dong." Rengek Irene dengan bibir yang dimajukan. Ina ketawa melihat ekspresi Irene yang begitu lucu. "Ih kok ketawa sih." Masih dengan nada kesal. Ina semakin menjadi tawanya.
"Rene...." Panggil Vanno. Mereka yang sedang asyik mengobrol menoleh mencari si empunya suara itu. Senyum Irene mengembang. "Pulang yuk." Ajaknya.
"Ayo, tapi aku mau ke toilet. Sebentar ya. Ina, aku duluan ya. Aku akan sangat kangen sama kamu nanti." Pamit Irene. Ina, mengangguk dan berjalan menjauh dari mereka.
__ADS_1
Irene di toilet sedang mencuci tangannya, senyumnya masih lekat di wajahnya. Namun, tiba-tiba ada suara pintu ditutup keras. Irene terkejut dan menoleh sumber suara tersebut. Diandra, mata Irene menangkap sosok Diandra. "Kali ini apa lagi ?" Batin Irene ketika menangkap sosot mata Diandra yang marah. Diandra tidak sendiri, dia bersama dua temannya yang selalu membututinya. Rosa dan Kei.
"Wahh ada wanita penggoda nih." Kata Diandra dengan nada yang begitu merendahkan. Tak lupa senyum miring dia tunjukkan.
"Iya nih, enaknya diapain ya guys ?" Tanya Kei menyeringai.
Irene mundur selangkah saat Rosa berusaha mendekatinya. Dia tahu cepat atau lambat Diandra akan merundungnya seperti ini. Cepat-cepat dia membalikkan tubuhnya dan mengambil ponsel yang berada disaku bajunya. Langsung saja dia mendial nomor 1. Panggilan cepat yang langsung terhubung dengan Vanno.
"Aakkhh....." Irene memekik kesakitan saat rambutnya ditarik oleh Rosa tepat setelah Vanno menjawab panggilan tersebut.
"Berani sekali lu mengabaikan gua. Lu tahu siapa gua kan ?" Ucap Diandra tepat di depan wajahnya.
"Mau kamu apa ?" Tanya Irene tenang.
"Mau gua apa ?" Tanyanya sendiri dan tertawa. "Anak ini bilang mau gua apa guys ?" Sambungnya masih tertawa.
"Diandra, nih yang lu minta." Kata Kei menunjukkan gunting. Tatapan Irene melebar melihat gunting itu.
"Gimana ? Udah takut ?" Ucap Diandra.
"Vanno, kamu dimana ? Cepat kesini." Batin Irene.
Braakkk...
Suara pintu dibuka, terlihat Vanno berdiri. Irene tersenyum. Rosa yang masih menarik rambut Irene seketika melepaskannya dan itu membuat Irene terjatuh terduduk. Diandra dan Kei hanya melongo tak percaya melihat Vanno yang masuk.
"Apa-apaan kalian." Teriak Vanno dan menatap tajam mereka sambil membantu Irene bangun. "Kamu enggak kenapa-kenapa ?" Tanya Vanno lembut sambil mengeceknya. Irene menggeleng dan tersenyum penuh arti.
"Enggak kok kak, kita enggak ngapain-ngapain dia kok. Kita bisa jelasin ini kak." Jawab Diandra terbata-bata.
"Ck..." Decak Vanno. "Gua akan laporin kalian semua ke kepala sekolah." Ancam Vanno.
Mata Diandra menatap Rosa dan Kei bergantian. Kemudian tawa mereka meledak. "Enggak akan berpengaruh buat kita kak." Masih dengan tertawa.
__ADS_1
"Oh iya ? Kalian lihat saja nanti." Ucap Vanno dengan seringainya dan berlalu meninggalkan mereka. Tangan Vanno menggandeng Irene erat.
................