
Bab 1. Tidak Direstui Ayah Mertua
“Apa aku benar, memilih gaun ini?’ tanya Yuna. Gadis yang tengah bercermin itu kini mengenakan gaun pengantin berbelah dada rendah dan punggung yang sangat terbuka. Gaun tersebut yang akan dipakai pada hari pernikahannya dua minggu lagi. Yuna melihat ke kanan dan ke kiri dengan perasaan berkecamuk, seperti ada yang lain pada gaun tersebut.
“Ya, tentu saja. Nona sendiri yang memilihnya,” jawab seorang pelayan yang berada di belakang Yuna seraya membantu rekannya membereskan beberapa gaun pengantin. Gaun-gaun itu nantinya akan Yuna coba juga.
“Apa Nona tidak ingat?” sahut pelayan satunya, seraya menatap tampilan Yuna yang sudah sangat cantik dengan gaunnya. Namun, tidakkah mereka tahu jika Yuna memang tidak ingin dibantah oleh siapa pun?
“Aku sedang bicara sendiri dan tidak bertanya pada kalian!” ketus Yuna pada pelayan yang memberikan celetukan seraya membusungkan dada. Penampilan Yuna bisa dibilang sempurna sekali karena wajahnya pun sangat mendukung.
“Aku hanya penasaran. Kenapa gaun ini tidak sebagus tempo hari?” gumam Yuna kesal dengan gaun pengantinnya karena tidak sesuai keinginan saat ini. “Haruskah aku ganti?” ucapnya kembali. pelayan yang mendengar ucapan Yuna itu tersentak kaget. Bagaimana mungkin mereka harus mengerjakan ulang gaun pengantin yang sempurna untuk Nona Yuna yang perfeksionis ini?
“Tapi, Nona … hari pernikahan anda hanya beberapa hari lagi,” jelas pelayan yang tadi dimarahin Yuna. Perkataan pelayan itu semakin membuat Yuna sangat marah.
“Aku tidak peduli meskipun pernikahan itu hanya kurang sepuluh menit lagi. Jika aku bilang ganti, ya harus ganti!” bentak Yuna seraya membalikkan badan dengan mata melotot kepada pelayan itu. Pelayan itu segera menundukkan kepala sebelum Yuna semakin murka.
Derap langkah nyaring suara pantofel terdenga. Semua menjadi diam ketika seorang pemuda tampan datang dengan setelan jas berdasi kupu-kupu datang mendekati Nona Yuna. Pemuda itu bernama Rayyan Hendrawan yang tidak lain adalah calon pengantin pria. Rayyan mendekati Yuna dengan tersenyum melihat kecantikan yang terpancar di wajah Yuna. Yuna yang menyadari kedatangan Rayyan membalikkan badan dan mengibaskan rambut panjang indahnya. Saat ini Yuna tengah menatap pantulan dirinya sendiri di cermin.
“kamu cantik sekali,” puji Rayyan tersenyum manis ketika melihat tingkah Yuna yang tersipu karena godaannya.
Yuna yang mendapat pujian dari sang calon suami, tersenyum dan membalikkan badan. Kedua tangannya memegang bahu Rayyan yang lebih tinggi darinya.
“Aku, atau gaunku yang cantik?” tanya Yuna manja. Tangannya masih bergelayut di bahu Rayyan. Rayyan tersenyum mengerti dengan apa yang dimaksud calon istrinya itu.
“Gaunnya cantik, yang memakai pun sangat cantik,” puji Rayyan, membuat Yuna tersenyum lebar dan memeluk rayyan tanpa sadar. Tiba-tiba Yuna tersadar ketika keempat pelayan itu memandang ke arah mereka berdua.
“Uuh, kamuu Rayyan. Apa yang kalian lihat, hei!” maki Yuna sambil menunjuk ke arah keempat pelayan yang sedari tadi membantunya. Rayyan pun ikut melihat ke arah di mana Yuna menunjuk keempat pelayan butik. Keempatnya serempak menunduk takut.
“Aku akan menyuruh seseorang untuk mengembalikkan gaunnya. Sekarang, kalian boleh pergi!” usir Yuna mengibaskan tangannya. Namun seorang pelayan berani menyangkal perkataan Yuna.
“Nona, aku bisa menunggu. Aku bisa mengambilnya sekarang agar bisa diperbaiki sesuai keinginan Nona dan kami akan menyuruh orang untuk mencuci gaunnya terlebih dahulu. Biar bisa siap dan dipakai ketika hari pernikahan anda, Nona.” jelas pelayan itu, menatap Yuna yang terlihat arogan . Perkatan pelayan itu membuat emosi Yuna tersulut. Ketika Yuna akan berjalan mendekati pelayan itu, tangan Yuna ditahan Rayyan dan pria itu menggelengkan kepalanya hingga membuat Yuna terdiam di tempat.
“Aku sudah bilang kepada seseorang agar mengembalikkan gaunnya besok!” Suara Yuna terdengar tinggi menggema di ruangan itu. Tangan Yuna juga bersedekap di depan dada. “Apa kalian ada masalah denganku?” tanya Yuna menatap tajam keempat pelayan itu yang ketakutan dengan suara Yuna.
__ADS_1
Mereka berempat menggelengkan kepalanya dan satu pelayan yang berani menjawab.
“Sama sekali tidak, Nona. kalau begitu kami permisi.” Pelayan itu menyerah, tidak ingin terlalu lama dengan Yuna yang arogan tersebut. Mereka berempat pun membungkukkan badan dan berpamitan kepada Rayyan serta Yuna.
“Yuna, sudahlah!” ucap Rayyan menenangkan Yuna yang terlihat jelas tengah emosi itu. Yuna menatap ke arah Rayyan penuh tanya.
“Yuna, kamu mengusir mereka? Siapa lagi yang akan membantu melepaskan gaunmu ini?” tanya Rayyan, justru membuat Yuna tersenyum dan berbisik ke telinga Rayyan. “Aku ingin kamu yang melepasnya.” bisik yuna membuat Rayyan tersenyum ketika Yuna menatap penuh arti.
Dan mereka pun bertukar saliva sehingga Rayyan membawa Yuna ke tempat tidur. Yuna berada di bawah Rayyan saat ini.
“Apa aku bermimpi, bahwa pria seperti aku bisa mendapatkan kamu sebagai istriku?” bisik Rayyan di atas tempat tidur, dan mereka saling melepaskan segala perasaan cinta.
Setelah dua jam mereka saling melepas dan menerima cinta mereka di atas tempat tidur, Yuna duduk menghadap Rayyan.
“Bagaimana dengan kamu? Apa kamu akan mencampakkan aku sebagai istrimu?” tanya Yuna menatap Rayyan, Rayyan tersenyum dan menggeser duduknya mendekat ke arah Yuna.
“Kenapa kamu bilang begitu, sayang?” Bukannya menjawab, Rayuan justru bertanya balik ke Yuna. Yuna memegang tangan Rayyan dan mengaitkan dengan jari lnya dan Rayyan.
“Aku bukan pria seperti itu,” tukas Rayyan, membuat Yuna hanya bisa terdiam menatap Rayyan.
“Hmm.”
“Yuna, seumur hidupku … aku tidak pernah mempunyai siapa-siapa. Hanya kamu yang berharga bagiku, dan aku tidak akan melepaskanmu.” Jawaban itu membuat Yuna tersenyum lebar.
“Rayyan berjanjilah padaku. Berjanjilah kamu akan menjagaku dan selalu membuatku bahagia,” ucap Yuna seraya menatap mata Rayyan dan Rayyan tanpa ragu, mengangguk setuju.
“Ya, aku berjanji,” jawab rayyan dan Yuna mendekati Rayyan kemudian mengecup bibir itu.
Suara ponsel Rayyan yang tiba-tiba berbunyi, mengganggu kemesraan Rayyan dan Yuna.
“Tunggu sebentar, Yuna,” ucap Rayyan menunjuk ke ponsel yang terletak di nakas. Rayyan pun mengangkat ponselnya, membuat Yuna berdecak dan memalingkan mukanya karena kesal
“Hallo, Ayah?” jawab Rayyan.
__ADS_1
Rayyan hanya diam mendengarkan suara Papanya di ponsel itu sehingga Yuna ragu dan menatap Rayyan.
“Yuna, Ayah akan datang,” ucap Rayyan memberitahu, dan Yuna tahu itu.
“Ayah datang?” seru Yuna.
“Ya, kamu tunggu di sini. jangan ke mana-mana. Kamu tidak perlu turun,” ucap Rayyan dan segera memakai bajunya kembali, membuat Yuna menarik napas berat dan kecewa.
“Haaah …” Yuna mengeluarkan napasnya. Dia tidak mungkin bermesraan jika ada Ayahnya Rayyan datang.
Sementara di bawah, sang Ayah sudah menunggu Rayyan seraya memegang minuman yang disuguhkan pelayan di rumah itu. Rayyan perlahan mendekat sang Ayah.
“Hallo, Yah?” sapa Rayyan mendekati sang Ayah yang sedang duduk di meja bar.
“Ada yang bisa kubantu, Yah?” tanya Rayyan sopan, namun sang Ayah mencebikkan bibirnya.
“Hmm. Aku hanya ingin melihat langsung seperti apa rumah yang kubangun di atas tanahku, dengan uangku. Agar putri tunggalku hidup dengan nyaman,” jelas sang Ayah mertua Rayyan itu. Rayyan membalas dengan senyuman tenang.
“Ayah, rumah ini dibangun, dirancang, dan didekorasi sesuai keinginan Yuna sendiri. Tolong Ayah jangan khawatir kalau Yuna tidak senang. Dan mengenai uang itu … aku akan mengembalikkan kepada Ayah termasuk bunganya.”
Rayyan menatap sang calon mertuanya itu, begitu pun Ayahnya Yuna. Pria paruh baya itu membalikkan badan dengan kedua tangan di kantong sakunya.
“Dari mana kamu mendapat uangnya?” Ayahnya Yuna merendahkan Rayyan dan Rayyan hanya diam menatap sang calon mertuanya itu.
“Hei, kamu Rayyan. Ini terakhir kali aku bernegosiasi dengan kamu. Aku akan memberikan rumah ini untukmu, tapi … kamu harus berpisah dengan putriku!” ancam Ayah Yuna sambil menunjukkan tangannya ke depan muka Rayyan. “Mengerti kamu?” Ancaman itu, membuat Rayyan terdiam dan mematung ditempat.
“Tapi, Ayah … kami akan segera mengadakan pernikahan.” Icapan rayyan membuat Ayah Yuna melotot dan menatap tajam Rayyan.
“Tapi ini belum terjadi.”
“Ayah, aku akan memberitahu terakhir kali bahwa aku mencintai Yuna.” Icapan Rayyan, membuat Ayah Yuna semakin kesal dan mengerutkan kedua alisnya.
“Semua orang mencintai putriku yang cantik. Tapi jika dia tidak cantik, tidak kaya dan bukan putriku satu-satunya. Bisakah kamu mencintainya?”
__ADS_1