
Selamat Membaca
“Haruskah aku berhenti meminum itu?”
Ucapan Rayyan dibantah Yuna. Dengan mata penuh amarah, Yuna menghempaskan genggaman tangan Rayyan sehingga pria itu menarik napas kasar.
“Ini tidak bisa! Ini tidak bisa!” teriak Yuna sambil berlalu meninggalkan Rayyan yang mematung. Sikap kekanak-kanakan dan manjanya Yuna, membuat Rayyan sakit kepala.
“Apa yang bisa aku lakukan?” Yuna mendorong tubuh Rayyan saat pria itu berusaha mencekal tangannya.
“Dengarkan aku dulu. Kenapa kamu marah Yuna? Tenanglah … kita bisa kemari lagi setelah aku rapat nanti,” bujuk Rayyan, berusaha memegang bahu Yuna yang sedang marah padanya. Tidak hentinya Yuna memukul bahu Rayyan.
“Dengarkan aku dulu. Sejujurnya … aku sudah melakukan apa pun yang kamu mau, sayang. Kita setuju untuk bepergian ke Amerika dan Eropa selama satu bulan. Aku tidak keberatan kamu meminta perpanjangan liburan sepekan lagi. Aku tidak keberatan saat kamu ingin berbelanja di Thailand. Kamu, aku bawa ke sini saat kamu bilang ingin bepergian kembali. Tapi aku mohon sama kamu agar mengizinkan aku kembali bekerja. Kumohon?”
Yuna sangat kecewa karena Rayyan tidak mengabulkan keinginannya dan justru memaksa dirinya pulang. Yuna menghempaskan genggaman tangan Rayyan.
“Jika bekerja dengan Ayahku sangat penting, pergilah!” usir Yuna sambil menantang Rayyan dengan kedua mata melotot. Rayyan pun menatap mata Yuna yang saat ini sedang emosi.
“Aku akan terus berpergian!” teriak Yuna meninggalkan Rayyan.
“YUNA … YUNA …”
Yuna tak menghiraukan panggilan Rayyan. Dengan bergegas, tangannya mengambil kasar tas dan kunci mobil yang tergeletak di atas nakas. Rayyan berusaha mencegah kepergian Yuna. Namun Yuna dengan tergesa-gesa berlari keluar rumah.
“Yuna …Yuna!”
Entah panggilan keberapa, Rayyan memanggil Yuna dan mengejar istrinya itu yang akan menaiki mobil sport miliknya. Yuna yang sedang membuka pintu mobilnya, tidak menoleh ke arah Rayyan. Namun Rayyan berhasil mencegah Yuna menaiki mobilnya dan dengan segera menutup mobilnya.
“Ada apa? Beritahu aku?” tanya Rayyan menatap sang istri.
Yuna menghempas tangan Rayyan kasar. “Aku hanya ingin bepergian terus!” jawab Yuna dengan nada tinggi.
__ADS_1
“Bepergian terus? bagaimana kamu bepergian sendiri?” tanya rayyan bingung dengan sikap Yuna yang berubah-ubah. Terkadang manja dan hanya menginginkan bepergian terus dalam hidupnya.
“Kenapa aku tidak boleh bepergian sendiri? Au bukan anak kecil yang harus dijaga terus!” marah Yuna semakin menggila bahkan berani berteriak di depan Rayyan, suaminya sendiri yang berada di depan mobil.
“Tenanglah dahulu, Yuna. Mari kita bicara sebentar.” Rayyan berusaha membujuk Yuna, memegang kedua bahu Yuna dan menatap teduh sang istri.
“Pulanglah bersamaku!” Rayyan mengajak kembali dengan berbicara lembut kali ini, mencoba menepis harga dirinya yang diinjak-injak Yuna dengan sikap kasarnya tadi.
“Kamu ingin aku melakukan apa di sana? Kamu bilang akan bekerja. Lalu, bagaimana dengan aku? Kamu membiarkanku bermalas-malasan di rumah. Aku bahkan tidak tumbuh dengan baik di rumah itu!”
“Yuna, aku mengerti sekarang. Baik, jadi alasanmu bepergian setelah menikah karena kamu takut menjalani kehidupan pernikahan denganku?” tanya Rayyan lembut, mencoba mengerti perasaan Yuna saat ini.
“Tidak perlu takut, aku mengerti. Mungkin kamu belum terbiasa atau ada alasan lain. Aku berjanji saat pulang nanti, kita akan hidup bahagia. Jika ada masalah, kita bisa mengatasinya bersama, kita selesaikan bersama.
Tapi jika kamu belum siap bahkan saat belum ada masalah, kita tak perlu membantu berhubungan. Pulanglah denganku. Ayo, Yuna!” jelas Rayyan kembali membujuk Yuna dengan memberi pengertian dan menatap lembut sang istri.
“Kamu bicara apa, Rayyan? Ini tidak relevan. Jika kamu ingin pulang, pulanglah! Aku akan pulang sendiri. Rumah tidak akan ke mana-mana!” Jawaban Yuna kali ini malah sengit. Yuna tidak memperdulikan pekerjaan Rayyan karena yang terpenting untuk Yuna adalah kebahagiaannya sendiri.
“Jangan memaksaku, aku tidak suka! Minggir!” Yuna menghempaskan genggaman tangan Rayyan di bahunya dengan mata melotot, kemudian bersedekap tangan di dadanya.
“Ayo. kubilang Pergi!” ajak Rayyan mencoba meraih tangan Yuna, namun gagal karena Yuna berhasil lolos dari cekalan tangannya. Yuna menaiki mobil sportnya, bersiap meninggalkan Rayyan.
“Yuna, kamu kenapa? Yuna berhenti!” Rayyan berteriak ketika melihat mobil Yuna akan pergi.
“Apa ini, jenis kebahagian yang kamu janjikan padaku? Bukankah kamu berjanji akan melakukan semua keinginanku? Apa ini? Minggir!” maki Yuna, bersiap akan memasukkan kunci mobil dan melajukan mobilnya.
“Jika aku pergi, ikutlah denganku,” ajak Rayyan, kembali menahan mobil Yuna.
“Kubilang minggir!” sentak Yuna tidak mendengarkan kata-kata suaminya. Suara mobil pun langsung terdengar keras di telinga Rayyan. Rayyan hanya menatap kepergian Yuna, menarik napas kasar seraya menyugar rambutnya
***
__ADS_1
Di dalam bar, Yuna duduk di deretan kursi. Seorang bartender dengan tato bunga di lengannya, memberi sebuah minuman dengan kadar alkohol rendah saja. Yuna kini berusia dua puluh tujuh tahun, tetapi sudah menjalin pergaulan besar dengan beberapa organisasi ilegal di Eropa, tempat Ibunya berasal. Ia memiliki watak yang sedikit berbeda dengan Rayyan.
Samar-samar Yuna mendengar tangis seorang wanita yang duduknya tak jauh darinya. Suara yang rasanya begitu ia kenal bertahun-tahun lalu. Jika tak salah ingat, mereka dulu sempat berteman walau tak terlalu dekat. Penasaran, gadis Jepang tersebut mendatanginya terlebih dahulu.
“Butuh teman untuk curhat?” sapa Nara pada gadis yang masih menundukkan kepala. Beberapa detik kemudian Yuna memberikan segelas minuman padanya. “Supaya lebih lega,” lanjutnya.
Gadis berambut lurus itu mendongak, sesaat itu juga mata keduanya terbelalak bersamaan.
“Nara?” panggil Yuna .
“Yuna, akhirnya, kau datang di saat yang tepat.” Nara memeluk Yuna, di sana pula ia menangis sesenggukan menumpahkan segala keluh kesah di hatinya.
“Hancur sudah, Yuna. Mamaku gila karena mentalnya tertekan, Papaku tergila-gila dengan perempuan selingkuhannya. Harta, jangan kau tanya lagi. Papaku telah buta mata hatinya, dia tak mengingatku lagi. Dua tahun aku dan Mama berjuang, mencoba merebut kembali Papa, tapi nihil. Akhirnya aku dibuang. Kau tahu, bahkan persediaan uangku hanya cukup untuk beberapa bulan saja,” jelas Nara.
Nara, gadis berusia dua puluh tujuh tahun yang sempat mejadi teman Yuna dulu saat mereka masih sama-sama sekolah. Yuna tak menyangka beberapa tahun tak berjumpa, gadis yang dulu kerap ia dengar memiliki kehidupan sempurna harus berakhir mengenaskan karena ulah seorang wanita penggoda lainnya. Sebuah rencana besar saat itu juga terbit di pikiran Nara yang kerap kali berurusan dengan mafia di Jepang.
“Malam ini aku traktir kau sampai puas, Nara. Minumlah sampai kau lupakan semua kesedihanmu. Aku di sini menemani.” Nara memberi kode pada bartender.
Adik tiri Rommy mulai membisikkan sesuatu pada bartender. Kode yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. Tak lama setelah itu, beberapa minuman dengan kadar alkohol tinggi dituang bartender di dalam gelas Nara, minuman yang sanggup membuat gadis itu mabuk kepayang.
“Seperti biasa.” Nara menyerahkan lembaran uang pada bartender.
Saat itu juga lelaki yang ahli menyajikan minuman mengantar satu botol wine sesuai pesanan Yuna ditambah dengan satu pil perangsang yang akan diantar ke kamar Rommy. Rencana sempurna yang telah diatur oleh tangan dingin Yuna.
“Ok, enough Yuna, kau mabuk parah.”
Nara memapah tubuh Yuna memasuki lift, menuju kamar paling atas tempat kakaknya menunggu gadis sewaan yang tak kunjung datang.
“Sempurna, calon Ibu yang tepat untuk calon keponakanku,” bisik Nara yang tak didengar Yuna.
“Rommy, aku balas semua permainanmu malam ini,” seringai Nara. .
__ADS_1