
Bab 2. Hari Pernikahan
“Semua orang mencintai putriku yang cantik. Tapi jika dia tidak cantik, tidak kaya dan bukan putriku
Perkataan Ayahnya Yuna yang menohok, membuat Rayyan hanya bisa terdiam saat itu. Kedua matanya menatap Ayah Yuna yang sedang emosi dan meluapkan pada dirinya seorang.
“Hei, Rayyan … meskipun kamu CEO di perusahaan milikku dan seseorang yang aku percaya, bukan berarti aku senang kamu bersama putriku, menjadi menantuku, jangan bermimpi kamu!” sentak Ayah Yuna di hadapan Rayyan.
“Ayah masih belum rela?” timpal Yuna yang tiba-tiba datang, menyela pertanyaan sang Ayah yang diajukan kepada Rayyan. Pria itu sedari tadi tidak menjawab apa yang Ayah Yuna tanyakan.
Yuna turun dari tangga menuju ruangan tengah hanya dengan menggunakan kemeja kebesaran milik Rayyan membuat Ayah Yuna menarik nafas kasar karena pemandangan putrinya di luar ekspektasi. Rayyan pun cukup terkejut dengan kedatangan Yuna yang ikut campur dengan pembicaraan dirinya dan Ayah Yuna.
“Setelah selama ini, apa Ayah tidak terpikir bahwa Ayah tidak bisa menghentikan kami?” tukas yuna, berdiri tegak di depan Rayyan seolah sedang melindungi Rayyan dari Ayahnya.
“Kamu … Yuna … kamu sedang apa di sini?” tanya Ayah Yuna kebingungan, dan Yuna hanya tersenyum tipis kemudian langsung memeluk Rayyan.
“Tentu saja aku menemani suamiku," ucap Yuna membuat mata Ayah Yuna melotot dan Rayyan tersentak kaget. Tubuh Rayyan sedikit terdorong ke belakang dengan kedua tangan terangkat sedikit.
Ayah Yuna menggelengkan kepalanya, “Yuna …”
“Jika Ayah ingin menyabotase pernikahan kami yang akan diadakan beberapa hari, terserah Ayah saja. Terlepas dari pernikahan kami, aku sudah jadi istri Rayyan, Ayah,” ucap Yuna dengan tegas dan melawan sang Ayah. Rayyan tak berdaya, hanya diam menurut keinginan Yuna.
“Suka atau tidak Ayah, mungkin aku sudah menjadi Ibu dari anaknya,” jelas Yuna kembali. Ayah Yuna menatap Rayyan dan Yuna bergantian, tak percaya apa yang baru dilihat dan di dengarnya.
“Yuna, kamu pikir mudah menjadi istri dan Ibu?” tanya sang Ayah, “Terutama dengan pria seperti Rayyan ini!” Lanjut Ayah Yuna sambil menunjuk ke arah Rayyan. Yuna melotot menantang sang Ayah.
__ADS_1
“Jika kamu yakin, maka lakukan saja!’ ucap sang Ayah menatap Yuna yang tersimpan kesedihan di kedua matanya.
“Ayah yakin , pernikahanmu tidak akan bertahan lama. Yuna … kamu hanya perlu bertahan sebelum Ayah mati nanti, dan kamu Rayyan … kamu harus membalas kebaikanku. Kamu paham itu Rayyan!” ucap sang Ayah kembali, sembari menunjukkan jarinya ke arah Rayyan.
“Pahamilah, Rayyan. Aku tidak akan menganggapmu menantuku, melainkan seorang mucikari yang menginginkan hartaku serta mengandalkan kemampuanmu di atas ranjang,” sarkas Ayah Yuna membuat mata Rayyan sedikit memanas dan emosinya tersulut karena perkataan Ayah Yuna.
Ayah Yuna yang emosi segera berbalik badan dan meninggalkan Yuna serta Rayyan. Yuna mengikuti Ayahnya keluar.
“Yuna ...”
“Ayah!” panggil Yuna, mengikuti Ayahnya yang keluar dari rumah itu dan tidak menengok saat dipanggil Yuna karena sudah merasa geram dengan putrinya yang buta akan cinta.
“Ayah, tunggu! Tidak masalah Rayyan adalah mucikari atau bukan karena Rayyan sudah membuatku sadar bahwa di dunia ini masih ada pria baik!” teriak Yuna yang tersulut emosinya dengan mata memerah.
“Ayah tau, kenapa aku seperti ini? Karena sejak lahir, aku tidak pernah bertemu dengan pria baik!” Ucapan Yuna menyakiti hati Ayahnya. Ayahnya itu hanya diam dan memalingkan wajah, lalu meninggalkan Yuna dan Rayyan dengan cepat. Rayyan hanya menatap kepergian sang mertua dengan sedih, tidak tahu harus berbuat apa.
Seminggu kemudian, hari pernikahan Rayyan dan Yuna berjalan lancar. Walaupun sang Ayah datang di hari pernikahan Yuna dan Rayyan, namun Ayahnya itu menghindari untuk bercakap lama-lama dengan kedua pengantin yang sedang mabuk asmara.
Malam harinya, acara pesta pernikahan dirayakan di hotel. Begitu pintu terbuka, semua orang bertepuk tangan menyambut kedua pengantin itu. Di acara malam itu, mereka terlihat sangat bahagia. Para tamu yang datang merupakan teman dan rekan bisnis Rayyan juga, Ayah Yuna yang menghadiri acara malam ini.
“Cium pipinya!” Sorak mereka semua kepada pengantin baru yang berada di depan. Rayyan pun melakukannya, membuat hati Yuna sangat bahagia. Mereka semua bersorak dan bertepuk tangan.
Banyak juga yang mengabadikan moment istimewa itu. Mereka memotret dan mengunggah di media sosial. Yuna dan Rayyan terlihat bahagia saat mereka memotong kue pernikahan yang bertingkat tujuh itu. Ditambah semua orang mengucapkan selamat.
“Selamat Yuna, selamat Rayyan!”
__ADS_1
Yuna pun bertepuk tangan dengan senyuman bahagia di wajahnya begitu pun dengan Rayyan.
Pemandu acara mengucapkan, “Ini momen yang kita tunggu. Kita minta kedua mempelai untuk mengungkapkan kemesraan mereka!” Semua orang bersorak dan bertepuk tangan. Yuna dan Rayyan yang berpegangan tangan saling melirik serta tersenyum bahagia. Ayah Yuna yang duduk hanya melihat dari jauh dan bersedekap di dada dengan muka tertekan dan cemberut. Dia terpaksa merestui pernikahan putri kesayangannya itu. Jika tidak, mungkin dia akan kehilangan muka.
“Cium … Cium!” teriak beberapa orang membuat Ayah Yuna jengah mendengarnya. Pria itu hanya bisa diam melihat kebahagian Yuna dan Rayyan disertai helaan napas berat. Ayah Yuna membuka mata lebar-lebar melihat Yuna menciumi Rayyan.
Yuna memegang pipi Rayyan dan mengecupnya, membuat semua orang bersorak dan bertepuk tangan kembali. Yuna menyandarkan kepalanya di bahu bidang Rayyan yang atletis. Ayah Yuna memperhatikan dari jauh dan memalingkan wajahnya. Pria itu mengambil minuman yang tersedia di meja dan meminum dengan emosi bergelora.
Pesta pun berakhir jam 12 malam. Yuna dan Rayyan menginap di hotel malam ini karena besok pagi mereka akan bepergian bersama. Satu-persatu dari tamu undangan pun pulang, begitu pun dengan Ayah Yuna.
Keesokan pagi, Yuna dan Rayyan pergi ke daerah pantai. Yuna sangat cantik dengan kostum pantainya dengan wajah bahagia. Di dalam mobil, Yuna menyandarkan tubuhnya di bahu Rayyan.
“Seberapa besar kamu mencintaiku?” tanya Yuna menatap Rayyan. Rayyan memeluk erat tubuh Yuna.
“Sebesar samudera,” jawab Rayyan membuat Yuna tergelak dan tertawa dengan jawaban Rayyan.
“Hanya sebesar itu?” ucap Yuna kecewa. Rayyan tersenyum jahil.
“Hahaha … Naiklah.” Rayyan membungkukkan badan supaya Yuna naik ke atas punggungnya..
Hari ini mereka berdua asyik bermain dan bercengkrama selayaknya pengantin baru pada umumnya. Suara kicauan burung di pantai, serta deburan ombak membuat mereka semakin terlena dengan suasana pantai
Keesokan paginya, Yuna sudah terlihat sangat cantik. Wanita itu sedang meminum anggur. Rayyan yang baru keluar kamar melihat dengan ekspresi sedih.
“Kamu belum berhenti minum?” tanya Rayyan.
__ADS_1
Yuna meletakkan anggur tersebut dan melangkah pelan mendekati Rayyan. Ekspresi wajahnya dibuat sesedih mungkin hingga Rayyan gemas dibuatnya.
“Haruskah aku berhenti meminum itu?”