Pasangan Selingkuh Istriku

Pasangan Selingkuh Istriku
Kesuksesan Rayyan


__ADS_3

Selamat Membaca


"Wah, pesta yang meriah"


Lima tahun kemudian. Rayyan mendapatkan penghargaan sebagai pengusaha sukses dan masuk kedalam urutan sepuluh besar pengusaha muda berbakat Internasional. Dalam acara malam ini, Rayyan tampil sangat tampan dan tersenyum lebar ketika blitz kamera reporter memotret dirinya. Penjagaan dilakukan super ketat oleh para bodyguard yang memang bertugas menjaga Rayyan. Rayyan menaiki panggung dengan langkah gagah dan berwibawa.


“Hallo. Semua. Ini adalah titik awal yang saya lakukan dari visi yang sudah saya kerjakan untuk dunia IT. semua ini karena saya melihat peluang dari pentingnya bisnis IT secara profesional dan untuk melayani kebutuhan klien. Sejak saat itu hingga hari ini, Blue International Technology yang berjalan sejak tahun 1975 dari sebuah perusahaan kecil sampai sebesar sekarang ini berhasil menjadi nomor satu di Eropa dan Asia. Sebagai penyedia layanan, kami akan terus berkembang lebih jauh mengikuti era zaman modernisasi. Niat kami melayani setiap kebutuhan tiap klien.” Sambutan yang Rayyan ucapkan tadi, mendapatkan tepuk tangan dari semua orang yang menghadiri acara itu. Termasuk Ayah mertua yang tak pernah memberikannya restu tersebut.


Baron menghela nafas kasar. “Arghhh …”


Sekretaris baron mengingatkan akan jadwal setelah ini, “Pak, setelah ini anda akan bertemu dengan Tuan Rajendra.” Ucapan Sekretaris itu sedikit berbisik.


“Ayo, kita pergi. Supaya tidak telat menemuinya,” perintah Baron yang langsung berdiri dan merapikan jasnya. Baron berjalan meninggalkan acara itu diikuti sekretarisnya, Lidya. Namun sebelum Baron menuju pintu, kakinya tertahan dengan panggilan seseorang.


“Ayah, terima kasih sudah datang,” ucap Rayyan menyambut ramah Ayah mertuanya, sedangkan Baron tersenyum tipis.


“Rayyan kamu jangan berbahagia dulu, dan jangan memujiku berlebihan!” tukas Baron menunjuk ke arah Rayyan.


“Bekerja lebih giat dan katakan sebenarnya bahwa semua hasil kerja kerasmu!” Setelah mengucapkan itu, Baron pergi meninggalkan Rayyan. Rayyan terdiam di tempat hanya memandang dari kejauhan Ayah mertuanya itu.


“Oh, ya, malam ini aku akan menghadiri acara pernikahan keponakanku di Jepang, kemudian lanjut berpesiar menggunakan kapal dengan beberapa rekan bisnis. Aku ingin kamu ikut denganku!” Baron membalikkan badan. Kata-kata Baron, membuat Rayyan terdiam sebelum akhirnya mengangguk saja.


“Aku akan memperkenalkanmu kepada mereka.” Kata-kata itu membuat Rayyan mengerutkan kedua alisnya.


“Apa yang Ayah bicarakan?” tanya Rayyan karena belum paham maksud dari Ayah mertuanya itu. Bukannya menjawab, Baron malah memerintahkan Rayyan untuk bersiap-siap.


“Penerbangan jam 9 malam ini, Kamu harus bersiap-siap!” titah Baron dan menepuk pundak Rayyan. Rayyan tak bisa menolak semua keinginan mertuanya. Menolak keinginan Ayah mertuanya, akan berakibat fatal untuk dirinya dan hubungannya di kemudian hari.

__ADS_1


Baron meninggalkan Rayyan yang terdiam. Rayyan menatap kepergian Baron dan sekretarisnya itu. Rayyan menarik napas kasar.


Sementara itu di rumah, Yuna yang tengah tidur terganggu dengan suara panggilan ponselnya. Ya, yang menelponnya itu suaminya sendiri, Rayyan.


“Akhhhh, berisik sekali. Hmm … ada apalagi dia telepon?” gumannya sebelum mengangkat telepon dari suaminya itu. Dengan nada manja Yuna menjawab telepon suaminya.


“Haloo ...”


“Halo, sayang. Malam ini aku harus ke Jepang bersama Ayah. Aku ada rapat malam ini sehingga tidak akan pulang. Aku akan menyuruh pelayan menyiapkan koperku. Akan kusuruh seseorang mengambilnya. Kamu mendengarkan aku sayang? Aku akan kembali hari Jumat,” cap Rayyan di seberang sana.


“Hmm ...” Hanya itu yang Yuna jawab dan memutuskan telpon dari suaminya. Dengan emosi, Yuna melempar sembarangan ponselnya itu. Rayyan terdiam ketika merasa istrinya mematikan duluan sambungan teleponnya itu. Rayyan sudah menduga Yuna pasti sedang marah saat ini. Yuna menutup dirinya dengan selimut karena kesal suaminya bepergian sendiri tidak mengajaknya.


***


“Kapan Desainer baru anda siap, Nona? Aku tidak sabar untuk melihat dan membelinya,” ucap seorang rekan dari Raline yang tengah mengamati beberapa hasil desainer yang kebetulan akan melakukan peluncuran produk barunya. Raline mendengar itu hanya tersenyum dan menarik napas perlahan.


“Nantikanlah produk desain saya yang terbaru di acara peluncuran nanti!” ucap Raline kembali. Rekan bisnisnya itu pun duduk di sofa yang disediakan dengan melihat-lihat album hasil desain Raline selama empat tahun terakhir.


Kemudian Raline duduk dan mengambil laptopnya. Dia pun berselancar di media sosial. Mata raline tertuju pada postingan tentangan pasangan ideal tahun ini.


Raline melihat dengan seksama, entah ada perasaan apa melihat foto itu membuat hati Raline berdesir.


“Pasangan yang cocok,” gumam Raline memandang foto pasangan itu, yang di mata raline terlihat menarik.


“Hai, raline kenapa kamu masih duduk di sini?” ucap seseorang yang mengejutkan Raline saat itu. Orang itu adalah Dira, sahabat Raline yang datang tiba-tiba ke perusahaan Papanya.


“Ya, tentu saja aku sedang bekerja, Ra. Tidak kamu lihat?” jawab Raline membuat Dhira tertawa lepas.

__ADS_1


“Hahaha … iya, bekerja. Melihat sosmed kamu bilang bekerja, ya?” sindir Dira. Suara Dhira membuat rekan bisnis Raline yang mendengarkan percakapan dua sahabat itu pun tersenyum. Rekan bisnis Raline pun berpamitan pergi dan berkata akan kembali besok.


“Raline, apa kamu akan ikut Ibumu melihat lahan?” tanya Dira. Raline tersenyum ketika Dira mengalihkan pembicaraan tadi.


“Tentu saja, aku akan mengikuti keinginan Ibu,” jawab Raline dan tersenyum setelahnya.


“Cuaca di sana panas sekali, Raline,” keluh Dira yang sudah mengetahui lokasi yang akan Raline lihat nantinya.


“Di sana itu daerah terpencil dengan pengairan yang kecil. Karena Ibumu telah mengizinkanmu, aku akan menemani untuk bepergian ke pantai. Ayo kita pergi!” ajak Dira membuat Raline mengangguk saja.


“Aku pasti akan menderita jika jadi dirimu,” ucap Dira kembali sambil berbisik di telinga Raline, membuat raline tertawa mendengarnya. sahabatnya itu sangat mengkhawatirkan dirinya.


“Aku ingin belajar tentang pekerjaan Ibu, jika suatu hari desain ku tidak laku. Aku akan menjual lahan seperti Ibuku,” jawab Raline menatap Dira. Dira tahu kekhawatiran Raline saat ini. Tidak mudah buat Raline mempertahankan perusahaan Ayahnya ini saat sedang mengalami kebangkrutan sehingga Raline harus mandiri dalam meluncurkan desainnya itu tanpa nama belakang perusahaan Ayahnya.


“Jika tidak, sepertinya aku akan kelaparan,” ucap Raline kembali, membuat Dira tak percaya dan tersenyum tipis.


“Aku tidak percaya, orang sepertimu mengalami semua ini. Aku tidak percaya. Bibi memintaku mengajakmu makan! Ayo kita pergi!” Kata-kata Dira membuat Raline tersenyum. Raline tahu, Dira sedih dengan keadaan Raline saat ini, tetapi Raline tidak mau menerima bantuan dari Dira begitu saja.


“Apa Ibuku sudah kembali? Bukankah dia bilang akan mengunjungi beberapa tempat hari ini?” tanya raline tak percaya apa yang Dira katakan tadi.


“Hmm. Karena hari ini seseorang membantu Bibi. Bibi merencanakan akan membuat keputusan. Bibi tidak perlu membuang waktunya lagi mengunjungi tempat-tempat itu.”


“Maksudmu, Kak Rommy?’ tanya Raline dengan mata bersinar menatap Dira.


“Tentu saja, Pangeranmu … Kak Rommy,” jawab Dira.


“Bibi hanya mendengarkan apa kata kak Rommy. Dia tidak pernah mendengarkan orang lain,” ucap Dira kembali menatap Raline yang terdiam. Raline tersipu jika mengingat tentang Rommy.

__ADS_1


***


__ADS_2