PAULINA MENJADI PAULA

PAULINA MENJADI PAULA
BAB 1 : PERTEMUAN


__ADS_3

...PERTEMUAN...


Di sudut kota bandung Paula tidak sengaja menabrak seorang gadis yang sangat mirip dengan dirinya.


Mereka berdua terkejut melihat wajah satu sama yang lain, benar-benar mirip bagai pinang di belah dua.


" Ya Tuhan, mirip pisan sama muka aing " Seru wanita yang berdiri di depan Paula dengan logat sunda.


Begitu pula dengan Paula terkagum melihat penampilan sederhana dari gadis yang mirip dengan dirinya.


Tiba-tiba Paula mempunyai sebuah ide ketika menatap wajah gadis itu.


" Ikut dengan ku " Seru Paula sambil menarik tangan gadis yang belum Ia kenal.


" Teteh mau bawa saya, kemana ? " Seru Paulina kepada wanita yang belum Ia kenal.


Paula tidak mendengarkan perkataan Paulina, dan terus menarik tangannya ke dalam mobil.


Mereka sampai di sebuah rumah mewah di kota bandung yang letaknya di komplek taman sari bukit bandung.


Rumah yang sangat mewah itu terlihat hangat, di tata rapi dengan sentuhan feminim, tapi terlihat minimalis.


Mata Paulina tampak bersinar saat masuk kedalam rumah itu, jika di bandingkan dengan rumahnya tentu saja sangat jauh berbeda.


" Rumah Teteh besar sekali, beda banget sama rumah saya " Kata Paulina sambil memandangi ke sekeliling rumah Paula.


Paula tidak begitu menghiraukan perkataan Paulina dan sibuk berkutat di dalam kulkas, sambil berteriak kepada gadis itu.


" Kamu mau minum, apa ? " Tanya Paula sambil menatap wajah Paulina dengan perasaan aneh.


Melihat wajahnya di dalam wajah orang lain jadi ada perasaan aneh, dan canggung.


" Saya mah gampang, di kasih air putih aja juga pasti di habisin " Kata Paulina sambil tertawa.


Paula menuangkan es sirup ke dalam cangkir, dan memberikannya kepada Paulina.


" Terima kasih, Teh " Seru Paulina sambil meneguk habis minumannya. Paula tersenyum tipis melihat ke arah gadis itu.


" Nama kamu, siapa ? " Tanya Paula tanpa basa basi.


" Paulina, Teh " Jawab Paulina dengan suara yang halus.


Paula menganggulan kepalanya, sambil melipat sebelah kakinya.


" Kalau nama Teteh, siapa ? " Kata Paulina balik bertanya.


" Paula " Jawab Paula dengan wajah yang datar.


Mereka berdua kemudian terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing dan tidak tahu harus memulainya dari mana.


Tiba-tiba seorang anak laki-laki datang menghampiri Paula, anak itu baru pulang dari sekolah bersama dengan seorang baby sitter.


" Mami " Seru anak laki-laki itu sambil mencium Paula.


Paulina memandangi wajah anak itu dengan gemas, ingin sekali mencubit pipinya yang tembem.


" Itu anak, Teteh " Seru Paulina sambil menunjuk ke arah anak laki-laki yang ada di pangkuan Paula.


" Iya, kenalin namanya Lucio " Kata Paula memperkenalkan anak semata wayangnya.


" Hai Lucio, salam kenal ! Nama saya Paulina " Seru Paulina sambil mengulurkan tangannya.


Lucio menyambut tangan Paulina dan menciumnya dengan hormat.

__ADS_1


" Hallo tante " Kata Lucio sambil melambai-lambaikan tangannya yang mungil.


Paula memanggil suster yang mengurus putranya, dan menyuruh mereka pergi dari ruang tamu.


" Anak Teteh lucu banget. Berapa usianya ? " Tanya Paulina ingin tahu.


" Lima tahun " Jawab Paula seperti ada sesuatu yang di sembunyikannya.


Paulina yang tidak tahu apa-apa tentang Paula terus nyerocos kemana-mana.


" Pasti Teteh nikah muda, anaknya aja sudah sebesar itu. " Kata Paulina tanpa melihat ekspersi Paula yang terlihat tegang.


" Paulina " Seru Paula menghentikan mulut Paulina yang terus nyerocos.


" Iya " Sahut Paulina dengan wajah yang polos.


" Sebenarnya, aku membutuhkan bantuan kamu "


Paulina terlihat kaget mendengar perkataan Paula yang tiba-tiba, Ia tidak mengerti mengapa wanita yang begitu sempurna membutuhkan bantuan dari gadis desa seperti dirinya.


" Teteh mau minta bantuan apa ke saya ? " Tanya Paulina sambil menatap wajahnya dengan serius.


" Tolong gantikan saya untuk pulang ke rumah " Paula mengenggam tangan Paulina dengan erat.


" Apa ? " Kata Paulina tersentak.


" Maksud Teteh, saya di suruh nyamar jadi Teteh ? " Teriak Paulina sambil membelalakan kedua matanya.


Paula menganggukan kepalanya sambil tersenyum, dan memohon kepada gadis itu. Hanya Paulina yang bisa membantunya.


Paulina mempertimbangkan permintaan Paula yang tidak masuk akal, bagaimana bisa dia menjadi Paula.


Wanita itu begitu cantik, langsing, kulitnya sangat putih dan mulus, sementara dirinya ?


" Maaf, Teh " Kata Paulina mau menolak permintaan Paula.


" Aku benar-benar membutuhkan bantuan kamu " Kata Paula sambil berjongkok di depan Paulina.


Paulina semakin kesulitan untuk menolak permintaan Paula, tanpa Ia sadari, Ia mengatakan sesuatu yang membuat Paula memiliki harapan.


" Akan Saya pertimbangkan, Teh "Jawab Paulina sambil mengangkat tubuh Paula untuk berdiri.


" Kamu serius akan membantukan ? " Mata Paula tampak bercahaya, Paulina semakin tidak bisa berkutik.


" Tapi saya tidak janji " Seru Paulina dengan perasaan yang tidak enak.


" Tidak apa-apa, aku akan memberikan kamu waktu untuk berpikir. " Ujar Paula sambil memeluk Paulina dengan erat. Perasaan aneh yang menjalar keseluruh tubuhnya ketika memeluk gadis itu.


Kemudian Paula menganter Paulina kembali ke rumahnya, mereka sepakat akan bertemu lagi di tempat ini.


" Sampai ketemu minggu depan " Seru Paula dari dalam mobil, wajahnya tersenyum ceria.


Paulina justu tidak mengatakan apapun kepada Paula, pikirannya ruwet karena mulutnya yang asal nyerocos.


Dari dulu Paulina selalu sulit untuk menolak permintaan dari orang lain, hatinya yang gampang tersentuh sering kali di manfaatkan oleh orang lain.


Bahkan Paulina pernah di tipu sama sahabatnya sendiri, saking terlalu polosnya.


Abah yang baru saja pulang dari jualan bakso memandangi putri satu-satunya yang sedang melamun.


Abahnya tidak tahu apa yang sedang di pikirkan oleh anak gadisnya.


" Ngapain nglamun ? Awas nanti kesambet " Seru Abah ngledek putrinya.

__ADS_1


" Ini Bah " Ucap Paulina uring-uringan.


" Kenapa ? " Kata Abah sambil ikut duduk di samping Paulina.


" Abah " Seru Paulina.


" Apa ? " Tanya Abah dengan wajah yang serius.


" Abah " Kata Paulina tampak ragu-ragu.


" Iya, ada apa ? " Tanya Abah jadi gregetan sendiri melihat putrinya.


" Kalau ada orang yang minta bantuan sama Abah, Abah bakal nolongin, gak ? " Kata Paulina.


" Kalau Abah bisa bantu, paati Abah bantuin. " Jawab Abah dengan perkataannya yang bijak.


Paulina menganggukan kepalanya, Ia juga paham tentang itu, harus saling membantu sesama. Tapi masalahanya adalah permintaannya yang sulit untuk di lakukan.


Bukankah itu sama saja sudah menipu orang lain, dan sudah termasuk kedalam tindakan kriminal.


Paulina jadi tambah pusing memikirkannya, sebaiknya Ia menolak permintaan Paula, dari pada terjerat masalah yang lebih serius.


Apalagi mereka baru kenal, dan cuma bertemu beberapa jam saja, belum cukup untuk saling mengenal masing-masing.


Walaupun hati Paulina mengatakan Paula adalah orang yang baik, tidak ada pikiran jelek tentang dirinya.


Membayangkan anak Paula, Ia jadi senyam senyum sendiri di depan Abah yang sedang memandangi wajahnya.


Abah mencubit pipi Paulina dengan gemas melihat tingkah aneh dari putrinya.


...****************...


tunggu di Chapter selanjutnya 😉😉


Terima kasih sudah mampir dan membaca Novel ku


Yuk terus baca Anak Genius : Ayah sedingin es.....😊😉


Dan mampir juga ke karya terbaru ku.....




Berbagi Cinta : Pengantin yang tidak di cintai.




Yang Muda Yang Bercinta : Bitter Sweet




Anak Genius : Ayah sedingin es




dan jangan lupa meninggalkan jejak dengan Like , Vote , Komen , dan Favorit ☺

__ADS_1


Aku sangat berTerima Kasih untuk semua dukungan Kalian 🤩🤩


__ADS_2