
Paula tersenyum tipis sambil sesekali meminum wine, dengan pakaian dress sexinya Ia tampak sedang menunggu seseorang di dalam kamar mandi.
" Sayang " Teriak Paula sambil menyilangkan kakinya.
Byuurrr.....byuurrrr.....
terdengar suara air dari dalam, selang beberapa menit, seorang pria keluar dengan memakai handuk di pinggangnya, memperlihatkan dadanya yang bidang.
Paula mendekati pria tersebut, tangannya yang mungil mengelus dada pria itu dengan lembut sambil sesekali menciuminya.
Pria itu pun menyambut Paula dengan penuh nafsu, napasnya terasa panas ketika bibir Paula menciumi dadanya yang bidang, Ia meremas rambut Paula sambil mengerang " Aaaaaahhhh "
Bibirnya seketika ******* bibir Paula dengan ganas, mendorongnya ke atas tempat tidur.
" Sayang " Ucap Paula sambil memeluk pria yang menindih badannya.
" Iya Sayang " Bisik Pria itu terus menciumi kuping, leher dan dadanya. sesekali tangannya meremas paha dan buah dada Paula.
" Aku berhasil membuat gadis kampung itu menjadi diri ku, sekarang aku bebas dari rumah, Amon serta dua anak nakal yang selalu membuat aku emosi.
" Baguslah ! berarti kita bisa menghabiskan waktu berdua " Pria itu melepaskan pakaian Paula, tubuhnya yang indah, kulit seputih susu dan dua buah dada yang menonjol membangkitkan gairahnya.
" Aaaahhhhhhh " Paula mendesah saat tangan pria itu meremas dadanya.
" Sa......ya.....ng " Pelan-pelan bisik Paula yang tidak sanggup menahan kecupan dari kekasih gelapnya itu.
Kekasinya kini sudah tidak memakai sehelai benang pun, Suasana semakin gelap dan udara terasa panas bagi dua sejoli yang sedang memadu kasih.
" Aahhhhhh.....Hah....... " Teriak Paula ketika Kekasinya memasukannya, Ia menikmatinya dengan penuh nikmat, Paula merasakan dirinya terbang ke awan-awan, yang belum pernah Ia rasakan ketika bersama dengan Amon, suaminya.
Amon adalah seorang pria kaya dan berwajah sangat tampan, siapapun gadis yang melihatnya pasti akan jatuh cinta, namun Paula tidak pernah merasakan kenikmatan saat bersama dengan Ling, kekasih gelapnya.
...♡♡♡♡♡♡...
Paulina berdiri di depan gerbang, tekatnya maju-mundur saat dirinya berada di rumah Paula. Ia tampak ragu, namun keinginannya semakim kuat ketika wajah abah melintas di kepalanya.
" Demi kesembuhan Abah, apapun akan aku lakukan " Gumam Paulina sambil mendorong pintu gerbang.
Di hadapan Paulina tampak seorang Pria dengan setelan jas, rambut berwarna coklat dengan mata birunya yang indah, hidungnya yang mancung menambah ketampanan Pria itu.
" Itu pasti teh Amon, suaminya teteh Paulina " Ucap Paulina di dalam hatinya, lalu melirik ke samping Amon, Seorang Nenek duduk di kursi roda dengan rambut yang sudah memutih, namun kecantikannya tidak pudar sedikitpun di wajahnya, dan sepasang anak kembar berdiri di depan pintu.
Mereka semua menatap ke arah Paulina, begitupun sebaliknya Paulina juga menatap ke arah mereka.
" Sayang " Seru Amon dengan suara yang lembut.
" Aa.....aaa...Sayang " Jawab Paulina sedikit terbata-bata dengan tangan yang gemeteran.
Amon mendekati Paulina dan mengelus dahinya sambil berkata," Wajah mu tampak pucat, apa kamu sedang tidak enak badan ? "
Paulina merasakan kehangatan dari tangan Amon, Ia bisa melihat ketulusan dari Pria yang berdiri di hadapannya, dan wajahnya begitu dekat dengan wajahnya.
Wajah Paulina memerah dan tampak malu-malu, maklum baru pertama kali ada seorang pria yang begitu dekat dengan dirinya.
__ADS_1
" Jetflag, membuat kepala ku menjadi sakit " Ucap Paulina sambil melangkah mundur, menjauhi Amon.
Amon sedikit terkejut dengan sikap isterinya, tidak biasanya Paula menjauhinya.
" Sepertinya begitu " Kata Amon sambil mengkerutkan dahinya dan terus menatap wajah Paulina yang tersipu malu.
" Biarkan dia istirahat, Amon " Seorang wanita paruh baya menyela perbincangan mereka.
Paulina bergegas melangkahkan kakinya kedalam rumah, melewati dua anak kembar yang sedari tadi berdiri di sana.
" Tolong panggilkan bibi untuk menyiapkan air panas " Seru Paulina menirukan gaya Paula.
Allysia dan Allesio segera memanggil Bibi, seperti yang di ucapkan oleh Paulina.
...♡♡♡♡♡♡...
Paulina tidak bisa membohongi debaran jantungnya yang begitu hebat, tidak hanya wajah Amon yang membuatnya berdebar-debar tapi Ia juga takut aktingnya kebongkar.
" Gila.....sungguh gila " Ucap Paulina sambil menggigit ujung jarinya dengan dengan langkah kaki yang mondar-mandir.
" Tenangkan dirimu, Paulina " Ia berusaha menghembuskan napasnya perlahan-lahan.
Tiba-tiba suara ketukan menggagetkannya kembali, " Si...Siapa " Teriak Paulina tergagap.
" Nyonya, saya mau menyiapkan air panas " Jawab seorang wanita dari balik pintu.
" Masuk " Seru Paulina.
Pelayan itu masuk dan menyiapkan air untuk Paulina, serta menuangkan minyak beraroma black opium, dan menaburkan rempah-rempah di dalam bath tub.
" Tidak perlu " Kata Paulina dengan cepat.
Jika pelayan itu melihat tubuhnya, maka kebohongannya akan segera terungkap lebih cepat. Wajah, bentuk badan serta suara mereka memang mirip, tapi ada satu yang membedakan, Paulina memiliki tanda lahir di punggungnya, sedangkan Paula tidak.
Pelayan itu masih berdiri di depannya dan membuat Paulina sedikit heran. " Apakah orang kaya memang seperti ini kalau mau mandi di tungguin oleh pelayannya " Gumam Paulina di dalam hatinya.
" Kamu boleh pergi " Kata Paulina menyuruh pelayan itu meninggalkan dirinya sendiri.
" Baik,Nyonya " Jawab Pelayan.
Paulina segera menuju ke kamar mandi, lalu melihat sekeliling dengan rasa kagum.
kamar mandi ini sangat besar, bahkan rumahnya di kampung tidak seluas kamar mandi Paula. terdapat botol-botol sabun dari berbagai merk dan negara, baik itu sampo, kondisioner, sabun maupun lulur.
" Buset....banyak amat jenisnya. di rumah Abah cuma ada satu biji sabun batang, serta sampo sasetan tanpa kondisioner " Gumam Paulina.
" Entah apa yang di pikirin Teteh Paula, meninggalkan suami yang tampan,anak yang lucu, dan segala kemewahan yang ada di sini " Celetuk Paulina membayangkan nasibnya Paula begitu beruntung memiliki segalanya.
Paulina melepas pakaiannya, kemudian membenamkan tubuhnya ke dalam bathtube. Ia memejamkan matanya sambil merileksasikan segala pikirannya, aroma sabut membuatnya merasa nyaman.
Sudah hampir dua jam Paulina berendam, Ia tidak sadar suaminya sedang menatap tubuhnya yang di selimuti oleh buih-buih sabun.
Amon membelai wajah Paulina dengan lembut, sambil membisikan ke kupingnya, " Sayang "
__ADS_1
" Aaarrrrrrggggg "Teriak Paulina kaget ketika merasakan tangan Amon yang hangat mengenai kulitnya.
" Kamu.....Kamu kenapa ada di sini ? " Kata Paulina sambil menutup dua buah dadanya.
" Dari tadi aku manggilin kamu terus, tapi kamu tidak menjawabnya, jadi aku masuk. Aku takut kamu pingsan " Jawab Amon.
" Harusnya ketuk pintu dulu sebelum masuk " Bentak Paulina.
Amon sedikit terkejut mendengar bentakan Paula apalagi merekq adalah suami dan isteri yang sah, apa salahnya seorang suami masuk kedalam kamar mandi bersama.
" Maaf sudah membuat mu terkejut, aku hanya khawarir " Kata Amon menahan emosinya, ada banyak pertanyaan di dalam kepalanya tapi Ia enggan untuk membicarakannya sekarang.
" Aa....Aku hanya ketiduran bukan mati, jadi tidak perlu khawatir " Paulina merasa tidak nyaman melihat Amon terus memandanginya, seakan ia adalah sebuah buruan yang siap di mangsa.
" Selesaikan mandinya, kita semua sudah menunggu di bawah " Celetuk Amon sambil mengusap rambut Paulina.
" Aku akan segera selesai, tolong tinggalkan aku sendiri " Ucap Paulina tersipu malu.
" Baik " Kata Amon sambil meninggalkan Paulina yang masih berendan di dalam bathtube.
...****************...
tunggu di Chapter selanjutnya 😉😉
Terima kasih sudah mampir dan membaca Novel ku
Yuk terus baca Anak Genius : Ayah sedingin es.....😊😉
Dan mampir juga ke karya terbaru ku.....
Berbagi Cinta : Pengantin yang tidak di cintai.
Yang Muda Yang Bercinta : Bitter Sweet
Anak Genius : Ayah sedingin es
dan jangan lupa meninggalkan jejak dengan Like , Vote , Komen , dan Favorit ☺
__ADS_1
Aku sangat berTerima Kasih untuk semua dukungan Kalian 🤩🤩
.