
...KESEPAKATAN...
Paulina terdiam memandangi surat yang di berikan oleh Paula, air liurnya terus menetes dari bibirnya, dan berulang kali Ia harus menelan ludahnya sendiri.
Isi kepalanya di penuhi dengan suara bisikan yang menyuruhnya untuk menerima tawaran tersebut.
" Terima saja Paulina untuk Apa kamu ragu ? Toh masa waktunya hanya setahun kamu menggantikan Paula, jangan membuang kesempatan yang ada di depan mata. Kapan lagi kamu bisa mendapatkan uang sebanyak itu. "
Sementara hati kecilnya selalu mengingatkannya untuk jangan tergiur dengan sesuatu yang bisa membuat hidupnya dalam masalah.
" Ingat perkataan Abah, jangan tergiur dengan uang apalagi kalau mendapatkannya secara cuma-cuma. "
" Kita memang miskin tapi bukan berarti kita tidak punya harga diri, yang bisa di beli dengan uang. "
Saat itu Paulina ingin sekali menjerit sekencang-kencangnya, menyuruh mereka semua diam.
Mendengarkan suara hati secara bersamaan dengan pikirannya yang saling bertentangan malah membuat dirinya semakin pusing.
Paulina memejamkan kedua matanya untuk memantapkan keputusan yang akan Ia pilih, sambil menarik napas dalam-dalam.
Dan dengan berat hati, Paulina mengatakan sesuatu yang membuat Paula kecewa ketika mendengarnya.
" Maafkan saya, Teh "
" Saya tidak bisa membantu Teteh " Kata Paulina sambil membuka sebelah matanya, dan menyodorkan kertas tersebut ke Paula.
"Kenapa ? " Tanya Paula dengan suara yang halus.
" Saya takut ketahuan, lagian saya teh gak sebanding dengan Teteh. "
" Liat atuh penampilan Teteh dengan Saya, bagaikan langit dengan bumi. "
" Teteh mah cantik pisan, elegan, dan berkelas. sementara saya cuma gadis dari desa yang sederhana, gak sebanding dengan Teteh pokoknya " Seru Paulina merendah.
Paula menggenggam tangan Paula dengan hangat, layaknya seorang kakak yang memberi dukungan kepada adiknya.
" Kalau itu kamu tidak perlu takut, aku akan membantu kamu untuk berubah menjadi Paula Marcedes. " Kata Paula meyakinkan Paulina.
Paulina menarik tangannya dari genggaman Paula dengan wajah yang kaku," Saya juga takut ketahuan. "
" Bagaimana kalau saya di laporkan ke polisi karena sudah memalsukan idenditas. "
" Saya teh gak mau masuk penjara. " Ucap Paulina dengan wajah yang tegang.
" Hahahahhahahah " Paula tertawa melihat wajah gadis itu yang ketakutan.
" Kamu tenang saja, Aku bisa menjaminnya.Tidak akan jadi masalah untuk kamu, asal kamu mengikuti semua yang aku katakan " Kata Paula sedang berusaha untuk meyakinkan Paulina.
Paulina kehabisan kata-kata untuk menolak permintaan Paula, Ia sudah tidak tahu lagi, bagaimana caranya terbebas dari masalah yang membelenggunya.
" Aku mohon sama kamu. Kamu mau kan bantuin, aku ? " Kali ini perkataan Paula begitu lemah, Ia tidak lagi terlihat seperti seorang gadis yang kuat.
Paulina membisu memandangi Paula yang begitu pucat, dan merasa gak enak menolak permintaan Paula.
Terlihat dengan jelas di wajah Paula yang pucat pasi, bercampur stres karena memikirakn permasalahannya.
Paulina sendiri tidak mengerti masalah yang di hadapi oleh gadis yang mirip dengan dirinya, sampai membuatnya kurang tidur.
" Saya.....saya...." Gumam Paulina bingung harus mengatakan apa kepada Paula.
Paula bahkan sampai merendahkan dirinya sendiri dengan berlutut di hadapan Paulina.
__ADS_1
" Ya....ampun, Teteh " Seru Paulina semakin tidak enak, apalagi tatapan semua orang tertuju kepada dirinya.
" Teteh bangun, jangan kaya gini atuh. "
" Aduh....saya jadi serba salah kalau kaya gini, teh. "
Paula tetap tak bergeming dari posisinya, Ia tidak peduli dengan pandangan orang lain yang melihat dirinya.
Satu-satunya yang ada di kepala Paula cuma untuk meyakinkan gadis itu menuruti permintaannya.
Paula Marcedes gadis terkaya di kota Bandung harus merendahkan dirinya di depan gadis desa, hanya untuk Paulina.
" Ayo Teteh bangun " Kata Paulina ikut berjongkok sambil memapah tubuh Paula.
Tiba-tiba terdengar suara hp yang berdering dari dalam tasnya yang usang, tas itu ada banyak jahitan dimana-mana.
" Hallo " Kata Paulina menjawab teleponnya, sementara Paula masih berlutut di bawah kaki gadis itu.
" Apa ? " Teriak Paulina dengan wajah yang pucat.
" Baik, saya akan segera kesana " Tutup Paulina terduduk lemas di kursinya, air matanya menetes membasahi wajahnya.
Paula yang melihat itu langsung bangkit berdiri dan memeluk tubuh Paulina yang bergetar.
" Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja " Seru Paula sambil mengusap-usap kepalanya dengan lembut.
...♡♡♡♡♡♡...
Paulina berlari sambil menangis di lorong rumah sakit, dengan perasaan yang kalut, Ia mendatangi meja resepsionis.
" Suster, pasien yang bernama Ruslan Abadi ada di ruangan mana ? " Kata Paulina dengan wajah yang panik.
" Sebentar, Saya carikan dulu di data pasien " Jawab Suster sambil menetap layar komputer.
" Iya, Suster ! Benar itu Abah, Bagaimana kondisi Abah ? " Kata Paulina sambil menjentikan jarinya di meja resepsionis.
" Ada di ujung lorong, kondisinya..... " Paulina langsung meninggalkan suster tanpa mendengarkan perkataannya terlebih dahulu.
Paula masih berdiri di meja resepsionis, dan membungkukan badanya sebagai tanda terima kasih.
Suster memperhatikan Paula dan Paulina dengan seksama sambil bergumam, " Dua saudara kembar yang aneh. "
Paulina tiba di ruangan operasi, namun pasien bernama Ruslan Abadi belum di lakukan tindakan karena masih menunggu keluarga pasien.
" Teteh keluarga dari pasien yang bernama bapak Ruslan Abadi ? " Tanya salah satu suster kepada Paula.
Paula menggelengkan kepalanya, dan memanggil Paulina untuk menghampiri mereka.
" Saya teh putrinya, Sus " Ucap Paulina pilu.
Suster sedikit terkejut melihat wajah Paulina yang begitu mirip dengan Paula, tapi gadis itu mengatakan bukan keluarganya.
" Teteh harus tanda tangan surat pernyataan, dan membayar biaya operasi bapak Ruslan." Kata Suster menjelaskan secara rinci sambil menunjukan dua buah surat yang harus di tanda tangani oleh Paulina.
" Pernyataan apa, Teh "
" Dan.......berapa biaya operasi Abah ? " Ucap Paulina dengan nada yang gugup.
" Pernyataan kalau keluarga pasien menyetujui tindakan operasi, dan biaya operasi sekitar delapan puluh juta rupiah "
" Dan harus segera di bayar supaya kami bisa langsung mengoperasi bapak Ruslan " Kata suster.
__ADS_1
Paulina tersentak mendengar biaya operasi Abahnya, dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu.
Apalagi Ia harus membayarnya hari ini juga.
" A-apa tidak boleh di cicil, Sus ? " Tanya Paulina.
Suster tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.
" Aduh....Abah " Gumam Paulina sambil menangis tersedu-sedu.
Paula yang melihat gadis itu menangsi menjadi iba, dan melangkahkan kakinya menuju meja resepsionis.
" Suster, saya yang akan melunasi biaya operasi bapak Ruslan " Kata Paula.
Suster mengernyitkan alisnya menatap wajah Paula, padahal tadi bilangnya bukan keluarga pasien, tapi sekarang ia mau membayarkan biaya operasi yang bukan keluarganya.
Tapi tidak mau ikut campur dengan urusan orang lain, tugasnya adalah mengurus biaya administrasi.
Suster menunjukan kertas yang harus di tanda tangani oleh keluarga pasien untuk urusan administrasi.
Paula menanda tangani kertas tersebut, dan memberikan kartu kreditnya kepada suster.
" Kamu tidak usah khawatir lagi memikirkan biayanya, aku sudah melunasi semuanya " Seru Paula sambil menepuk pundak Paulina.
Paulina memeluk Paula dengan erat, dan tidka henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Paula.
" Aku setuju " Seru Paulina dengan wajah yang serius.
...****************...
tunggu di Chapter selanjutnya 😉😉
Terima kasih sudah mampir dan membaca Novel ku
Yuk terus baca Anak Genius : Ayah sedingin es.....😊😉
Dan mampir juga ke karya terbaru ku.....
Berbagi Cinta : Pengantin yang tidak di cintai.
Yang Muda Yang Bercinta : Bitter Sweet
Anak Genius : Ayah sedingin es
dan jangan lupa meninggalkan jejak dengan Like , Vote , Komen , dan Favorit ☺
__ADS_1
Aku sangat berTerima Kasih untuk semua dukungan Kalian 🤩🤩