
...SEBUAH KONTRAK...
Seminggu kemudian Paulina bertemu kembali dengan Paula di tempat yang sudah mereka sepakati.
Kali ini Paula tidak membawa Paulina ke rumahnya, tapi ke sebuah kafe yang ada di kota Bandung, yang letaknya tak jauh dari rumahnya.
" Pesan saja yang kamu mau " Kata Paula berusaha untuk mengambil hati Paulina.
Paulina melihat daftar menu sambil menelan ludahnya sendiri, Ia belum pernah makan di restoran mahal begini.
Apalagi satu porsi steak daging sapi saja harganya bisa sampai ratusan ribu. Bagi orang seperti Paulina uang ratusan ribu sudah cukup untuk makan selama sebulan penuh.
Ternyata menjadi orang kaya sangat enak, mereka tidak perlu pusing memikirkan hari ini masak apa, uang segini cukup atau tidak untuk makan, dan besok bisa dapat uang atai tidak.
Yang di pusingkan oleh orang-orang kaya adalah bagaimana caranya menghabiskan uang satu juta dalam satu hari, mereka tidak pernah tahu betapa pentingnya arti uang bagi rakyat jelata.
Uang yang mereka hamburkan dalam satu malam, bisa di gunakan untuk membantuk anak-anak yang hidupnya di jalanan.
Apalagi di zaman sekarang, persaiangan untuk mendapatkan pekerjaan semakin sengit.
Orang pintar akan kalah oleh orang yang memiliki uang untuk menyogok orang dalam, dan orang bodoh akan semakin terpojokan.
" Saya pesan nasi goreng petai saja yang paling murah harganya. " Kata Paulina dengan logat sundanya.
Paula tertawa mendengar perkataan Paulina yang begitu lugunya, biasanya orang kalau di traktir pasti memilih harga yang paling mahal, tapi gadis itu justru kebalikannya.
" Memang apa hubungannya dengan mahal atau murah ? aku tidak mempermasalahkan harganya, sekalipun kamu pilih yang paling mahal, aku tidak akan meminta imbalan kepadamu " Paula masih menahan tawanya.
" Saya gak berani makanannya, takut tidak cocok dengan perut, saya." Ucap Paulina berkata dengan jujur.
" Lagian itu daging terbuat dari mana coba, masa harganya bisa sampe delapan ratus sembilan puluh sembilan ribu " Kata Paulina dengan suara yang pelan.
Paula cuma bisa menggelengkan kepalanya sambil senyam senyum. Padahal harga nasi goreng yang Ia pesan, hampir di angka dua ratus ribu rupiah.
Pelayan masih setia menunggu pesanan kedua gadis tersebut dengan sabar.
" Aku pesan bistik ayam lada hitam, dua orang juice, dan dua serendipity 3 chocolate. " Kata Paula kepada Pelayan yang sejak tadi menunggu untuk mencatat pesanan, mereka.
Paula langsung memesan pencuci mulut tanpa bertanya kepada Paulina, Ia takut gadis itu akan jatuh pingsan jika tahu harga secangkir serendipity 3 chocolate.
Hidangan pencuci mulut seharga mobil, Serendipity 3 Chocolate. Paula harus menyiapkan uang sebesar tiga ratus dua puluh lima juta rupiah untuk seporsi puding Frozen Haute Chocolate.
Bahkan es krim sundae yang menjadi pelengkap hidangan ini dijual seharga dua ribu enam ratus dolar atau setara dengan tiga puluh empat juta rupiah.
Tak heran jika Guinness Book of World Record melabelkannya sebagai minuman termahal di dunia.
Salah satu yang membuat produk ini mahal karena menggunakan 28 jenis biji cokelat dengan 14 jenis kakao termahal dan eksotis di dunia.
Setengah jam kemudian pesanan mereka tiba, Paulina menyantap nasi goreng petainya dengan lahap.
Meski Paulina sudah terbiasa makan nasi goreng petai, tapi rasanya jauh berbeda dengan tukang nasi goreng langganannya.
Jika Paulina menghabiskan makanannya tanpa ada sisa sedikitpun, Paula justru cuma makan secuil, masih banyak yang tersisa di piringnya.
__ADS_1
" Teteh kok makanannya gak di habisin ? " Seru Paulina sambil menatap gundukan nasi yang ada di piring Paula.
" Aku memang makannya sedikit, tapi kalau makan camilan, jangan di tanya. Aku bisa menghabiskannya sedirian. " Ucap Paula sambil menyingkirkan piringnya.
Pantas saja badannya lebih kecil dari pada Paulina, padahal yang jarang makan adalah Paulina, tapi yang paling gemuk adalah Paulina.
Paulina merasa sayang melihat makanan Paula yang tidak habis, dan tanpa rasa malu atau jijik Ia menghabiskan makanan Paula.
Paula tersentak melihat tindakan gadis itu, entah apa yang ada di kepalanya.
" Mengapa kamu memakannya ? Jika kamu mau kan bisa pesan yang baru. " Kata Paula.
" Kata Abah, jangan pernah membuang makanan, mubazir " Sahut Paulina sambil ketawa.
"Tapi kan itu bekas makananku "
" Gak bekas kok, Teh. Lagian Tetehkan makannya cuma tiga sendok, dan masih bersih tidak terlihat bekas. " Kata Paulina.
Beruntung perdebatan mereka terhenti karena pelayan datang membawakan makanan pencuci mulut.
Paulina yang tadinya ingin menceramahi Paula, begitu melihat ada makanan di depan matanya, langsung terlupakan.
Dalam sekejap serendepity 3 chocolate langsung ludes di santap oleh Paulina. Ia sampai mengusap-usap perutnya yang buncit karena berisi lemak semua.
" Kekenyangan ? " Tanya Paula sambil melihat perut Paulina yang seperti balon.
Paulina tidak sanggup berbicara, rasanya begah sekali, dan Ia cuma menganggukan kepalanya pelan-pelan.
" Biarkan saya bernapas dulu, Teh " Ucap Paulina dengan napas yang tersengal-sengal, padahal cuma makan tapi bisa membuatnya lelah.
TIGA PULUH MENIT KEMUDIAN
Paula baru menyelesaikan pekerjaannya, dan begitu melihat ke arah Paula, gadis itu ternyata sudah terlelap ke alam mimpi.
Tubuhnya di senderkan ke kursi, tangannya di lipat ke atas perut, dan mututnya terbuka dengan air liur yang menetes di sekitar bibirnya.
" Paulina "
" Paulina "
Paula terus membangunkan Paulina tapi sepertinya tidak berhasil, Ia justru semakin terlelap.
Paula beranjak dari kursinya, dan mendekati gadis itu, sambil menguncang tubuhnya.
" Teteh, Paula " Kata Paulina tersentak.
" Maaf Teh, saya ketiduran. heheheheh " Celetuk Paulina sambil menggaruk-garukan kepalanya.
" Tidak apa-apa " Seru Paula tersenyum menatap wajah Paulina.
" Cuci muka dulu, sana " Paula menunjuk bibirnya dengan jari manisnya.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
__ADS_1
Paula menggeleng-gelengkan kepalanya sambil senyam senyum memandangi tubuh Paulina yang menghilang dari matanya.
" Saya jadi malu " Seru Paulina yang baru kembali dari kamar mandi.
Paula tersenyum menatap wajah Paulina, kemudian memberikan sebuah kertas kepada gadis itu.
" Apa ini, Teh ? " Tanya Paulina sambil mengangkat kertas itu.
" Itu surat kontrak perjanjian kita. Kalau kamu setuju, kamu bisa mendapatkan sejumlah uang yang tertera di kertas itu. " Kata Paula sambil meminum kopinya dengan elegan.
" Sa-satu milyar ? " Teriak Paulina dengan tangan yang bergetar.
Dia belum pernah mempunyai uang sebanyak itu, apalagi menyentuh rupanya saja Ia tak tahu.
" Jumlahnya banyak sekali, Teh " Celetuk Paulina sambil melirik ke wajah Paula.
Paulina yang tadinya mau menolak permintaan Paula jadi tergiur dengan penawaran yang di berikan oleh gadis kaya itu, Apalagi bukan hanya uang yang akan di berikannya, ada rumah serta mobil mewah yang tertulis di dalam surat perjanjian.
Ia jadi bimbang untuk memutuskan pilihannya sendiri.
...****************...
tunggu di Chapter selanjutnya 😉😉
Terima kasih sudah mampir dan membaca Novel ku
Yuk terus baca Anak Genius : Ayah sedingin es.....😊😉
Dan mampir juga ke karya terbaru ku.....
Berbagi Cinta : Pengantin yang tidak di cintai.
Yang Muda Yang Bercinta : Bitter Sweet
Anak Genius : Ayah sedingin es
dan jangan lupa meninggalkan jejak dengan Like , Vote , Komen , dan Favorit ☺
__ADS_1
Aku sangat berTerima Kasih untuk semua dukungan Kalian 🤩🤩