
Hidup merupakan pilihan yang bisa dipilih oleh setiap manusia, namun pilihan ini tidak pernah jauh dari yang dikatakan takdir.
Kehidupan sering kali tidak berjalan sesuai harapan dan rancangan lengkap serta sempurna dengan prediksi kita, mamun setiap langkah yang akan dilalui dan setiap detik waktu yang dilewati tidak pernah luput dari perhatian dan rancangan sang pemilik kehidupan yang maha mengetahui segala kemampuan hambaNya.
Disinilah aku saat ini, Rista Anandita anak sulung dari sebuah keluarga sederhana yang selalu menghiasi hari dengan penuh warna indah tanpa kelabu. Sungguh hidupku sabelum menikah bagaikan pelangi yang muncul setelah hujan.
Namun kini, pelangi indah telah ditutupi mendung kelabu yang memberikan rasa gundah dan resah bagi mata yang melihat dan hati yang ikut merasakan kehadirannya.
"Rista! Keluar dulu dari kamar mandi ini Amir mau mandi", suara ibu mertua dari atas memanggilku dengan keras.
Terpaksa aku keluar dari kamar mandi itu dengan rasa kecewa karena belum sempat melaksanakan rutinitas mandi pagiku hari ini.
Ya, aku kecewa. Ini bukan kali pertama aku harus keluar kamar mandi saat baru saja memasukinya.
Aku menuju kamar dan menunggu bang Amir mandi agar bisa melanjutkan kembali kegiatan mandiku, sudah setengah jam aku menunggunya dan sekarang aku keluar kamar karena berpikir abang iparku itu sudah selesai dengan kegiatannya dikamar itu.
Tapi, baru saja mau melangkah memasuki kamar mandi tiba-tiba Bunga sudah berada disampingku dan ikut melangkah ke kamar mandi yang sama.
"Kak, aku duluan ya mau berangkat ini buru-buru", tanpa menunggu jawaban dariku dia telah melangkah mendahuluiku dan menutup pintu.
Terpaksa aku kembali harus menunggu Bunga mandi untuk bisa melanjutkan mandiku. Dalam hati sudah mulai terasa sesak karena kesedihan itu tiba-tiba saja muncul.
Seringkali dalam situasi seperti ini hatiku menjerit ingin kembali kerumah orang tuaku biar bisa kembali hidup nyaman seperti dulu.
Tak terasa bulir bening telah lolos dari pelupuk mata dan terjun bebas hingga membasahi kerudungku.
Rumah mertuaku di desa ini memang kamar mandinya berada diluar dan berjarak sekitar 5 meter dari rumah dan hampir setiap rumah didesa ini memiliki desain yang sama dengan kamar mandi terpisah.
Aku yang sudah terbiasa menutup aurat memang agak sedikit repot dengan keadaan seperti ini, namun keteguhan untuk menjaga aurat dari tatapan yang bukan mahram masih sangat kuat terpatri dalam benakku.
"Lama banget sih kamu mandinya Rista, kapan mau masak kalau jam segini masih ngantri dikamar mandi", ibu mertua yang baru keluar dari rumah nampaknya ingin ke kamar mandi juga.
__ADS_1
"Bunga, ibu mau cuci muka ini. Kalau udah siap panggil ibu ya?".
Benarlah dugaanku kalau ibu juga mau ke kamar mandi. Sepertinya beliau baru bangun tidur.
Ibu kembali masuk rumah dan menuju dapur, aku sedikit resah dengan beliau memasiki ruangan itu karena makanan tadi pagi sepertinya sudah habis dimakan bang Amir barusan.
"Rista, kamu belum masak dari pagi?", suara ibu mertua benar-benar sangat keras kali ini. Lebih keras dari pada ia memanggilku untuk keluar dari kamar mandi tadi.
Aku buru-buru berjalan masuk menemui ibu untuk meredakan suara teriakannya, aku malu dengan para tetangga. Walaupun ini di daerah perdesaan tapi rumah penduduk lumayan padat sehingga kalau bicara sedikit keras saja akan terdengar ke rumah sebelah apalagi kalau berteriak seperti yang ibu mertua lakukan barusan.
Selama setengah tahun disini sudah berkali-kali aku masih sangat merasa malu dengan teriakannya.
Bagaimana tidak, yang diteriaki sering kali tentang kekuranganku. Contohnya seperti saat ini, ibu tidak kebagian makanan pagi karena terlambat bangun tapi aku disalahkan karena tidak memasak untuknya. Padahal perempuan di rumah ini bukan aku saja, masih ada Bunga dan kak Isma juga yang bisa memasak.
Bahkan mungkin kemampuan mereka lebih dariku yang dulunya hanya memasak sekali-kali saja membantu mama dirumah di sela-sela kesibukanku.
"Lagian salah ibu juga kenapa jam segini baru bangun, ini sudah mau siang buk gak usah repot dengan sarapan pagi lagi", tiba-tiba bang Amir angkat suara saat ibu sedang marah-marah padaku.
"Kalau dia ada masak pagi kan gak mungkin ibuk kelaparan walaupun terlambat sedikit bangun pagi", suara ibu mertua sudah terdengar sedikit lebih kecil.
"Kamu itu makan udah kek sapi aja, gak cukup-cukup. Mau buat ibuk mati kelaparan kamu?", ibu mertua masih mengoceh tapi bang Amir sudah pergi entah kemana.
Jam segini biasanya abang iparku itu pergi ke warung kopi. Semoga saja ia akan membawakan sedikit makanan dari warung kopi itu untuk ibu biar ibu tidak kelaparan.
"Aku udah siap buk", suara Bunga sudah keluar dari kamar mandi.
"Iya", bahkan untuk menanggapi ucapan Bunga saja ibu masih dengan suaranya yang nampak kesal. Apakah ini kekesalannya padaku, entah pada bang Amir abang iparku.
Sambil menunggu ibu mertua keluar dari kamar mandi aku langsung mengambil beras dan memasak, berharap nasi ini akan cepat matang suapaya ibu tidak kelaparan. Walaupun tanpa lauk setidaknya aku sudah berusaha memasak apa yang ada sebagai rasa peduliku pada ibu mertua.
Dari awal memasuki rumah ini memang sudah niat hati akan menjalani kehidupan ini dengan keluarga suami sebagaimana keluargaku sendiri, tanpa membedakan apapun karena bagiku keluarga suami juga keluargaku saat ijab dan kabul itu sudah terucap dihadapan para saksi.
__ADS_1
Ayah dan mamaku telah merestuiku untuk menyambung hubungan kekeluargaan dengan ikatan pernikahan ini, tidak akan ada keraguan untuk aku melangkah melanjutkan hubungan baik dengan yang telah direstui orang tuaku.
Tapi ternyata, kehidupan nyata tidak semulus impian dihati. Betapa mudahnya diri ini berangan dan bercita-cita sesuai kehendak hati dan pikiranku, namun saat ini aku berhadapan langsung dengan kehidupan nyata.
***
Baru saja keluar dari dapur dan akan melanjutkan mandiku yang tertunda oleh tiga orang penghuni rumah yang membuatku terus mengalah sedari tadi. Bahkan tanpa bantahan sedikit pun karena aku sadar saat ini aku sedang tidak berada di daerah kekuasaanku sendiri, maka mengalah akan lebih baik untukku.
"Eh, buk Mimi . . . kusut amat tuh muka, kenapa?", itu suara buk Hindun tetangga samping rumah ini.
Aku melanjutkan langkah menuju kamar mandi seraya sedikit tersenyum kearah buk Hindun sebagai sapaan, lagian senyum ini kan sedekah. Hitung-hitung mencari pahala tanpa modal.
Namun saat aku sudah berada dikamar mandi suara perbincangan mereka masih terdengar. Karena air dalam bak masih penuh aku belum menyalakan keran air supaya tidak boros dan mubazir.
"Gimana gak kusut ni mukaku buk Hindun, punya mantu satu aja gak becus dan biarkan aku kelaparan sudah jam segini dia gak masak", jawaban ibu mertua terdengar jelas ditelinga dan ini membuat hati tidak enak.
"Masak sih buk Rista gak masak, tadi pagi aku liat masih suasana remang-remang dia udah sibuk angkat air", syukurlah buk Hindun tidak menyudutkanku.
"Cuma angkat air aja kan bukan berarti untuk masak, buk Hindun jangan sok tau kedaan rumahku deh", ya Allah ibu mertuaku benar-benar niat sekali ingin aku terlihat salah di depan buk Hindun.
Dadaku terasa sesak saja mendengar perbincangan mereka, aku nyalakan keran air biar suara mereka tidak terdengar jelas lagi dan tidak semakin membuatku sakit hati pada ibu mertua. Biarkan saja ibu mertua berkata sesukanya, mungkin ini pengaruh usia sehingga ia lupa dengan pembicaraannya dengan bang Amir barusan.
Tidak perlu didengar bila hanya akan membuat sakit hati, bukannya aku membiarkan orang lain salah paham dengan membiarkan orang tua berbicara yang tidak-tidak tentangku tetapi aku selalu ingin berfikir positif saja. Seberapa mampu ibu mertuaku bersilat lidah membalikkan kedaan sebenarnya, aku yakin para tetangga akan tahu keadaan yang sebenarnya.
Tidak perlu aku berkoar-koar untuk membela diri dan menyudutkan ibu mertuaku, walau bagaimanapun beliau tetaplah ibuku. Ibu dari suamiku, maka itu juga ibuku yang harus dihormati walaupun beliau sedang berbuat salah dan menyakiti perasaanku.
Mungkin sebagian orang akan berfikir untuk melawan dan memilih meluruskan disaat dihadapkan dengan suasana seperti ini dan itu akan membuatnya puas, tapi lain halnya denganku.
Saat ini aku lebih berfikir dengan keadaan kedepan, bila sekarang aku keluar dan membantah setiap perkataan ibu mertua mungkin saja aku akan terlihat benar dihadapan tetangga dan hati akan puas sesaat. Tetapi setelah itu dilakukan maka akan timbul rasa tidak nyaman saat berhadapan dengan ibu mertua nanti.
Dan mungkin saja bila aku berlaku seperti itu akan membuat hubungan dengan ibu mertua jadi tidak baik lagi, mungkin juga hatinya akan terluka pada suamiku sebagai anak lelaki yang telah memilih seorang istri yang tega menyakiti hati ibunya.
__ADS_1
Aku tidak ingin menjadi salah satu alasan tidak baiknya hubungan ibu mertua dengan suamiku. Sedari kecil dalam pendidikan sudah diajarkan bahwa surga berada ditelapak kaki ibu. Apalagi anak laki-laki, sampai kapan pun mereka tetap wajib berbakti pada ibunya.
Aku sadar, aku pun seorang perempuan yang kelak akan menjadi seoarang ibu pula seperti posisi ibu mertua saat ini.