
Hari ini sedikit susah untuk bangun, seluruh badanku serasa remuk dan sangat sakit sekali.
Badanku seperti tak bertenaga pagi ini, namun tetap harus kupaksaan untuk bangun guna melaksanakan dua rakaat wajib sebelum matahari keluar dari tempat persembunyiannya.
Setelah melaksanakan ibadah rutin aku berniat ingin merebahkan diri sebentar lagi walau hanya sekedar rebahan tanpa menutup mata karena aku memang sudah tidak mengantuk setelah badanku terguyur air saat hendak berwudhu barusan.
Namun apa dayaku, karena ini bukanlah ranah pribadi yany bisa bertindak sesuai keinginanku. Aku dipanggil ibu mertua dan terpaksa kembali bangkit dari tempat tidur yang baru saja kududuki sebelum merebahkan badan yang lemah ini.
"Ini tolong kerjakan sebentar, Isma masih di kamar sepertinya dia masih lagi shalat subuh", beberapa butir telur diserahkan padaku. Ini pekerjaan kakak iparku untuk mengais rupiah. Kenapa harus aku yang mengerjakannya?
"Sekalian tolong masak nasi dulu sebelum Isma keluar", dengan sedikit berat alu melangkah memgambil beras dan mulai mencucinya.
Namun satu hal yang sangat susah saat aku harus memasak sepagi ini, disini cara memasak tidak sama seperti dirumah orang tuaku.
Di rumah orang tua kami biasanya memasak menggunakan kompor gas,sedangkan di rumah ibu mertua masih memasak menggunakan kayu bakar.
Aku selalu kesulitan saat menyalakan api di dapur beralaskan tanah dan debu itu, sampai memakan waktu lama untuk menghidupkannya padahal sudah beberapa bulan tinggal disini.
Setelah bersusah payah akhirnya api itu bisa menyala, langsung ku angkat beras yang telah bersih kucuci tadi ke atas perapian.
"Ya ampun Rista, dari tadi kamu ngapain aja? Kenapa cuma baru siap nyalain api itu?", suara ibu mertua yang terdengar sedikit keras membuatku terkejut dan mengelus dada.
Aku menantunya, tapi beliau berteriak seakan aku bekerja dengan bayaran besar darinya. Tapi, biarlah begitu karena mungkin sudah memang terbiasa beliau seperti itu dengan anak-anaknya yang lain juga. Mungkin karena aku sudah dianggap seperti anak kandungnya makanya ibu mertua bersikap seperti itu.
"Susah buk nyalain apinya", hanya itu kata yang bisa keluar dari mulutku.
"Terus kapan selasainya kamu bereskan telur-telur itu? Jangan sampai kesiangan. Mau diantar pagi ini kuenya".
"Itu kan kue buatan kak Isma buk, kenapa harus Rista yang kerjain?", suamiku baru keluar kamar dan sepertinya ia mendengar pembicaraanku dan ibu mertua.
"Cuma sebentar aja sambil nungguin Isma siap shalat subuh, lagian hidup sama-sama kenapa tidak saling membantu", masih dengan alasan shalat subuh padahal ini seharusnya kak Isma sudah siap dari tadi dengan hanya dua rakaat shalat subuhnya.
__ADS_1
"Sini biar abang bantu aja, kamu dari tadi lemas kenapa harus dipaksa membantu kak Isma?", aku hanya melanjutkan memecahkan telur dan dimasukkan ke dalam wadah untuk di aduk sebagai adonan bolu.
Yang membuatku susah adonan ini harus dilakukan secara manual menggunakan whisk pengocok telur.
Entah kenapa kak Isma masih betah saja menggunakan alat manual ini padahal dunia sudah serba canggih dan bisa menghemat tenaga, dan barang untuk membantunya mengocok telur ini juga bukan barang yang mahal.
Aku yakin ia sanggup beli barang ini karena orderan kuenya lumayan ada untung dan ia melakukan pekerjaan ini juga sudah sejak lama.
Apalagi dari hasil usaha kuenya ini hanya dipakai untuk diriny sendiri tanpa membantu biaya apapun di rumah. Karena suamiku bang Ahmad sudah menanggung semuanya.
Bahkan bang Amir yang laki-laki saja sangat jarang membantu biaya rumah, paling hanya beberapa kali kalau sapi peliharaannya terjual.
"Gak usah, abang siap-siap kerja aja", aku sudah mulai mengaduk telur-telur itu. Karena nasi yang aku masak di dapur sudah mendidih terpaksa bangun dulu untuk mengecilkan api biar tidak gosong.
Ternyata suamiku tetap ikut membantu mengaduk telur, padahal sebentar lagi ia harus mengurus sawah dan kebun.
Aku buru-buru menggoreng beberapa telur lain untuk lauk dan sedikit ikan di kulkas sisa kemarin, seklian menumis sayuran yang kemarin dibawa bang Ahmad hasil dari kebun.
Dulu sebelum menikah dengan bang Ahmad aku rutin melakukan hal ini di sela-sela kesibukan berkuliah untuk mencari uang tambahan walaupun uang dari orang tua sudah lebih dari cukup untuk keperluanku.
Aku sudah terbiasa punya penghasilan sendiri dari semenjak menduduki bangku sekolah menengah atas. Dulu semasa sekolah aku sempatkan diri berjualan pulsa karena pekerjaan itu tidak pernah menyita waktu belajar, semuanya mengalir begitu saja tanpa mengganggu konsentrasiku untuk meraih nilai terbaik.
"Abang makan aja dulu biar aku lanjutkan", sarapan sudah aku siapkan di atas meja. Aku mengambil alih whisk yang dipegang bang Ahmad supaya suamiku tidak terlambat dengan pekerjaannya.
Walaupun ia hanya kerja di kebun dan sawah namun pekerjaannya cukup menyita waktu, apalagi sebelum matahari terang ia harus mengantar hasil kebun ke pasar.
Selain bekerja di sawah dan kebun suamiku juga masih sempat jual beli hasil kebun warga dan barang itu akan diantarkan langsung ke pasar setiap pagi. Disana sudah ada orang kepercayaannya yang menunggu dan akan menjual barang-barang itu ke pembeli.
Sebelum waktu pekerja kantoran masuk kerja, suamiku sudah berada di sawah untuk mengontrol apa saja yang perlu dilakukan agar hasil panen bisa tercapai.
Lalu ia ke kebun untuk mengontrol sambil membawa sarapan untuk para pekerja. Tidak jarang ia pun ikut bekerja bersama mereka sebelum bergegas menuju bengkel kecil yang telah dirintisnya sejak sebelum kami menikah.
__ADS_1
Aku terkadang merasa kasihan dengannya membayangkan susahnya ia bekerja dari pagi buta.
Pernah aku mengusulkan biar bengkel dipekerjakan orang lain saja, biar bang Ahmad cukup mengontrol seperti yang ia lakukan di kebun dan sawahnya.
"Penghasilan di bengkel belum jelas, mungkin tidak cukup untuk menggaji pekerja", itulah alasan bang Ahmad untuk bekerja sendiri dibengkel itu.
"Kalau misalkan bengkelnya sekalian kita jadikan toko aja gimana?", aku memberinya ide biar pengasilan di bengkel jadi bertambah dan layak memperkerjakan orang lain.
"Maksudnya toko yang menjual alat-alat bengkel gitu?"
"Iya, abang kembangin gitu bengkelnya. Ada jasa dan ada barangnya juga", jelasku untuk memberikan ide meringankan beban suami.
"Tapi itu butuh banyak modal sepertinya, abang belum sanggup", bang Ahmad sepertinya tertarik dengan ideku namun kendala dengan biaya.
Sebenarnya aku punya tabungan, kurasa akan cukup kalau hanya untuk mengisi beberapa barang di bengkel kecil suamiku ini. Tapi sepertinya aku kurang rela kalau modal dariku tapi penghasilannya hanya untuk menanggung beban keluarga ini.
Bukannya tidak mau berbagi, tetapi yang bang Ahmad tanggung sudah bukan pada haknya.
Kalau hanya untuk keperluan Ibu dan biaya sekolah adiknya aku tidak akan perhitungan seperti ini karena aku tau itu memang kewajiban seorang anak laki-laki walaupun ia sudah menikah asalkan ia mampu.
Tapi ini kakak dan abangnya pun ikut menikmati hasil jerih payah suamiku, padahal mereka sama-sama punya penghasilan. Aku masih perlu banyak belajar tentang keikhlasan berbagi karena ilmu belum setinggi itu dalam hal ini.
"Tapi kalau mulai dari barang-barang kecil dulu mungkin abang sanggup, kan bisa putar modal nanti bang", aku kembali memberi ide.
"Mungkin bisa dicoba nanti". Hanya sampai disitu pembicaraan kami saat itu dan kulihat bang Ahmad masih sangat ragu tengtang modal usahanya. Sampai sekarang aku belum mendengar apapun pembahasan bang Ahmad mengenai hal ini lagi.
Itulah suamiku, sangat gigih bekerja dan tidak pernah pelit untuk berbagi. Buktinya ia menanggung segala keperluan di rumah dan biaya sekolah adiknya. Tapi sayang, capek bekerja memeras keringat tidak ada sisa untuk menabung.
Padahal ibu mertua punya kebun yang berpenghasilan juga, ada kebun kopi dan sawit yang tidak pernah putus penghasilannya. Tetapi suamiku tidak pernah sekalipun kudengar komplain dengan pengeluarannya.
Aku tidak mau ikut campur, lagian bang Ahmad juga tidak pernah alpa memberiku nafkah untuk keperluan pribadi. Hanya saja aku masih merasa kurang dengan nafkahnya yang belum mampu mewujudkan tempat tinggal untuk kami tempati.
__ADS_1
Aku hanya bisa bersabar dengan keinginanku yang satu itu. Semoga akan segera terwujud.