Pejuang Rumah Tangga

Pejuang Rumah Tangga
Part. 4


__ADS_3

Akhirnya selesai juga dengan acara masak-masak siang hari ini, badanku semakin lelah saja setelah setengah hari bekerja tanpa jeda.


Sekarang saatnya israhat sebentar sebelum tiba waktu dhuhur, semoga israhatku ini bisa membuat badan segar kembali nantinya.


Aku masih punya waktu hampir satu jam untuk bisa mengistirahatkan tubuh yang lelah ini sebelum tiba waktu dhuhur.


Vang Ahmad juga biasanya akan pulang saat tiba waktu ibadah shalat dhuhur untuk melaksanakannya sekalian untuk makan siang.


***


Alhamdulillah, israhatku kali ini sangat nyaman. Aku tertidur begitu nyenyak sampai bang Ahmad kembali dari bengkel dan membangunkanku.


"Dek Rista . . . ayo bangun", suara bang Ahmad terdengar di sampingku. Ia terlihat segar sepertinya bang Ahmad sudah selesai mandi dan shalat.


Bagitu lelap tidurku sampai tidak sadar bang Ahmad sudah pulang sedari tadi dan sudah bolak-balik memasuki kamar mandi untuk berganti pakaian sebelum mandi.


"Abang udah makan?", aku bertanya seraya bangkit duduk di atas tempat tidur.


"Belum, dek Rista shalat aja dulu biar bareng aja nanti".


"Tapi abang pasti sudah lapar, biar Rista siapkan makanan abang aja dulu ya", aku l berdiri hendak menuju dapur namun bang Ahmad segera memegang tanganku.


"Abang belum terlalu lapar, pingin makan bareng dek Rista aja hari sebentar lagi", bang Ahmad menatapku dengan penuh cinta. Sepertinya wajahku sedikit memanas ini.


"Apaan sih abang, liatinnya gitu amat. Rista kan malu abang", pelan suaraku seraya menutup mata bang Ahmad agar ia tidak terus menatapku seperti itu dan membuatku salah tingkah.


"Memangnya abang tidak boleh lihat istri sendiri?", bang Ahmad malah memeluk sekarang.


"Abang . . . Rista mau mandi", aku berusaha melepaskan pelukan bang Ahmad karena mengingat suamiku pasti akan kelaparan kalau aku tidak buru-baru menyelesaikan kegiatan karena ia kukuh menungguku untuk makan bersama.


***


"Abang ketiduran ya? Ayo makan abang . . . ", aku menyentuh pelan lengan bang Ahmad yang sedang terbaring di atas tempat tidur.


Sepertinya bang Ahmad kelelahan sekali sampai terlelap seperti ini saat menungguku. Aku jadi kasihan dan ragu ingin membangunkannya.

__ADS_1


Kuputuskan berbaring disamping bang Ahmad seraya menatap lekat wajah sendu yang begitu meneduhkan, aku perhatikan wajah yang belakangan ini selalu membersamai hari-hariku dengan penuh cinta kasih.


Tanganku tergerak untuk menyentuh hidung suamiku yang mancung namun terkesan sangat selaras dengan wajah ovalnya, lalu kukecup pipinya pelan.


"Udah siap shalat dek?", ternyata walaupun udah sangat pelan tetap saja aku telah mengusik lelapnya tidur suamiku itu.


"Eh, maaf. Abang jadi keganggu ya?"


"Mana ada terganggu, abang gak sengaja ketiduran tadi padahal kita mau makan ya? Kenapagak bangunin abang kalau udah siap dari tadi?", bang Ahmad memegang tanganku, aku juga ikut bangun mengikutinya ke dapur.


"Abang duduk aja dulu", aku menarik kursi mempersilahkan suamiku menunggu dan aku bergegas mengambil masakan yang telah aku siapkan tadi sebelum beristirahat siang.


Namun, saat aku membuka tudung saji dimana lauk untuk makan siang telah ku siapkan tadi ternyata hanya tinggal sisa sedikit. Mungkin ini hanya cukup untuk satu orang saja.


Ya sudah, aku masih bisa berbagi walaupun hanya dengan sedikit lauk, asalkan tidak kelaparan.


Aku beralih membuka rice cooker, dan ternyata juga isinya tinggal sisa bahkan ini tidak cukup walau hanya untuk satu orang.


Tanpa terasa, mataku sudah berembun dan menetes seiring tutup rice cooker itu kembali kuletakkan rapat pada pososinya semula.


Aku sedih, benar-benar sangat sedih dengan keadaan ini. Aku yang capek masak sendiri, dari pagi aku bekerja tanpa jeda tak ada yang membantu bahkan kak Isma hanya sibuk dengan kuenya dan ia juga masih meminta bantuanku, tapi kenapa mereka menghabiskan semuanya masakan yang telah aku masak?


Apa mereka tidak tahu aku dan bang Ahmad belum makan? Tapi kejadian ini bukan hanya terjadi kali ini saja. Bahkan aku sudah tidak ingat lagi berapa kali kejadian ini terjadi karena kejadiannya sudah berulang kali.


Itu sebabnya setiap masakan yang aku masak selalu disisihkan terpisah dari masakan untuk anggota keluarga yang lain.


Aku dan bang Ahmad memang hampir setiap hari makan telat karena aku selalu menunggu suami dulu untuk makan bersama. Tidak tega rasanya kalau aku makan duluan sementara suamiku masih sibuk bekerja keras mencari nafkah diluar sana.


Aku ingin menyambut suamiku pulang dan makan bersama untuk sedikit membuatnya senang karena ada teman makan, apalagi memang menurutku makan bersama itu lebih nikmat rasanya walaupun hanya dengan makanan sederhana.


"Abang, maaf . . . ", suaraku seakan tertahan di tenggorokan. Begitu sedihnya hatiku saat ini, sampai aku tak sanggup mengeluarkan suara.


"Kenapa minta maaf?", Bang Ahmad bahkan sampai heran dengan tingkahku.


"Maaf abang . . . ", aku semakin menunduk dan tidak sanggup memandang wajah suamiku, aku tidak ingin ia melihat bulir bening telah berjatuhan melewati pipiku.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih dek, dari tadi mintak maaf terus?", bang Ahmad bangun dari kursi dan melangkah ke arahku.


"Kamu nangis dek? Ada apa tiba-tiba nangis?"


Aku tidak menjawab, kali ini badanku terasa gemetar menahan kesedihan di hati. Aku tidak sanggup seperti ini. Lelah bekerja dari pagi membuat perutku semakin lapar, aku berpikir suamiku pasti juga merasakan hal yang sama karena ia pun biasanya tidak makan apapun setelah sarapan pagi tadi di rumah sebelum berangkat kerja.


Bang Ahmad sepertinya tahu apa penyebab tangisku ini, ia bergegas membuka rice cooker yang baru saja telah aku tutup kembali setelah melihat isi di dalamnya.


Bang Ahmad juga membuka tudung saji di tempat biasanya aku menyisihkan makanan khusus untuk suamiku karena ia sering makan paling akhir.


"Gak usah sedih dek, kita makan di luar aja hari ini. Dek Rista siap-siap aja dulu kita berangkat sekarang". Bang Ahmad mengelus kepalaku pelan.


Aku sudah siap berganti pakaian, bang Ahmad sudah menungguku di depan.


"Mau kemana kalian jam segini?", ibu mertua baru saja keluar dari kamar dan berpapasan denganku saat hendak keluar.


Aku hanya menunduk tidak mampu menjawab pertanyaan ibu mertua karena rasa sedih masih sangat kuat menguasai hatiku.


"Selama nikah Ahmad sering kali jalan-jalan tidak jelas, dia sudah tidak rajin bekerja seperti dulu", ibu melanjutkan kalimatnya dengan suara yang lebih keras. Aku yakin bang Ahmad pasti mendengar apa yang ibu katakan ini.


"Kami mau makan buk, bukan mau jalan-jalan", akhirnya bang Ahmad membantuku menjelaskan tujuan kami pada ibunya.


"Halahhh, mentang-mentang ada uang sedikit kamu manjain istrimu sampai makan diluar begitu. Kamu jadi boros setelah menikah", lagi-lagi ibu tidak menyaring kata-kata yang keluar dari mulutnya.


Perutku sudah sangat lapar tapi untuk makan saja tidak bisa. Mereka sudah menghabiskn makanan yang telah susah payah aku masak, bahkan saat ingin mencari makan diluar pun masih saja ibu mencecar dengan perkataan pedas.


Sudah perih dengan tingkah mereka yang tidak peduli padaku, sekarang ibu menambahkan luka dihatiku dengan perkataannya.


"Makanan di dapur sudah gak ada buk", bang Ahmad masih memberi pengertian pada ibunya, tapi sepertinya ibu mertua tidak peduli dengan penjelasan itu.


"Tinggal masak aja lagi apa susahnya?", inilah ibu mertuaku yang tidak pernah mau mengalah dan merasa selalu paling benar. Lebih parahnya ia tidak pernah peduli dengan perasaan kami, mungkin lebih tepatnya ia tidak peduli denganku.


"Yok dek, cepat pakai helm kita berangkat sekarang", bang Ahmad memilih berhenti memberi penjelasan pada ibunya dan segera menyalakan motor.


"Ingat nabung kamu Ahmad, jangan terus berharap numpang di rumah ibuk udah mau punya anak kalian", ibu masih saja melanjutkan luapan isi pikirannya.

__ADS_1


Tapi kata-kata terakhir ibu mertua membuatku berpikir, mungkin itulah yang menjadi penyebab segala tingkah kurang menyenangkan dari keluarga bang Ahmad selama ini.


Mungkin sudah saatnya aku dan bang Ahmad memikirkan tentang tempat tinggal biar tidak berterusan menumpang di rumah ibu mertua.


__ADS_2