Pejuang Rumah Tangga

Pejuang Rumah Tangga
Part. 5


__ADS_3

Akhirnya kami memilih langsung pergi meninggalkan ibu mertua yang masih dengan pemikirannya sendiri dan tidak mau mendengar penjelasan apapun.


Padahal apa salahnya mendengar dulu penjelasan kami sebelum memutuskan untuk menyalahkan setiap apa yang kami lakukan.


Selama beberapa lama berada disini aku semakin menyimpulkan bahwa memang ibu mertua kurang cocok denganku. Lebih ironisnya lagi, ia bahkan sering menganggap bang Ahmad yang anaknya sendiri serba salah. Apapun yang dilakukan bang Ahmad selalu saja bertentangan dengan ibunya.


Aku tidak tahu apakah ini sebab kehadiranku di rumah ini atau sudah terjadi sejak dulu sebelum kehadiranku ibu mertua sudah sering tidak sependapat dengan salah satu anak lelakinya.


Tapi rasanya aneh, kenapa cuma dengan bang Ahmad saja ibu bertingkah seperti tidak senang dengan apapun yang ia lakukan. Sedangkan dengan bang Amir ibu terlihat biasa saja, bahkan beberapa kali aku mendengar bang Amir membantah perkataan ibu mertua tetapi ia tak ada respon berlebihan seperti pada bang Ahmad.


Ah, mungkin ini perasaanku saja. Atau mungkin karena ibu mertua lebih sayang pada bang Ahmad sehingga ia lebih diperhatikan setiap gerak langkahnya dan ibu selalu menegur sekecil apapun kesalahan itu sebagai tanda kasihnya terhadap anak.


Kemarin aku aku mendengar saat bang Ahmad berbicara dengan ibunya, "Kamu itu cuma disuruh perbaiki hal kecil aja tidak becus. Cuma tinggal diperbaiki sedikit aja kok bisa sampai rusak lagi?". Suara ibu memecahkan kesunyian saat suasana rumah sedang lenggang karena anak-anak ibu yang lain sedang pergi.


"Nanti Aku perbaiki lagi buk", hanya itu jawaban yang keluar dari mulut bang Ahmad, belum pernah aku mendengar ia membantah atau berkata kasar pada ibunya.


"Nanti, nanti, ibu mau pakek sekarang mesinnya bukan nanti", suara ibuk mertua terdengar memekik. Ia bicara dengan anak laki-lakinya yang sudah menikah, bahkan istrinya ada di rumah ini tapi masih seperti bicara pada anak nakalnya yang belum dewasa.


"Iya buk . . .", sudah sebegitu kerasnya suara ibuk mertua tapi jawaban bang Ahmad masih terdengar lembut dan ia begitu sabar menghadapi ibunya.


"Jangan iya iya aja, kamu harus perbaiki mesin jahit itu sekarang. Ibuk gak mau tau".


Begitulah suasana kalau ibu sudah menginginkan sesuatu. Tapi anehnya kejadian seperti ini hanya ia lakukan pada bang Ahmad sedangkan pada anak-anaknya yang lain tidak pernah terdengar sampai marah-marah begitu.


***

__ADS_1


"Udah kenyang gini enaknya kita gak langsung pulang atau gimana dek?", bang Ahmad memulai pembicaraan setelah sunyi senyap diantara kami saat menikmati makan siang yang sudah sangat terlambat.


"mmm, kalau pulang kira-kira ibuk masih akan ngomel-ngomel gak ya?", aku masih ingat sebelum kami berangkat tadi ibu kami tinggal pergi masih dengan pendiriannya menyalahkan kami yang memilih makan diluar.


"Semoga saja tidak dek, atau kita jalan-jalan dulu saja pulang biar bisa istirahatkan hati sejenak dek?", sepetinya bang Ahmad juga merasa jenuh sama sepertiku yang merasa beban menumpuk di hati selama tinggal di rumah mertua padahal aku disana belum sampai setengah tahun, tetapi sudah sangat terbeban dengan sifat-sifat penghuni rumah itu. Apalagi bang Ahmad yang sudah tinggal bersama mereka bertahun-tahun, entah bagaimana sudah isi hatinya.


Akhirnya kami memilih bersantai sejenak di pinggiran pantai yang berada tidak terlalu jauh dari desa ini supaya tidak banyak menghabiskan waktu dalam perjalanan.


Melihat suasana pantai bersama suami pilihan hati membuat hati terasa begitu nyaman, ini pertama kalinya kami menikmati pemandangan pantai berdua seperti ini.


"Sepertinya kita harus lebih sering mengunjungi tempat-tempat seperti ini abang", usulku pada bang Ahmad yang sedang merangkul salah satu lenganku sambil berjalan menyusuri pinggiran pantai. Ombak-ombak bergelombang memecahkan diri ke pinggiran pantai dan membasahi kaki kami sepanjang langkah.


Begitu sejuk dan meneduhkan rasanya sampai terasa menembus hati yang tadinya terasa panas dengan beban hidup kini menjadi tenang bagaikan daun-daun hijau tertiup similir angin kecil pada ranting-ranting yang indah.


"Dek Rista senang?", bang Ahmad menghentikan langkah kami, ia melihat wajahku dengan tatapannya yang seakan sedang memeluk hati. Sungguh membuatku ingin berlama-lama menghabiskan waktu bersamanya tanpa harus memikirkan hal lain.


Tidak terasa sudah lumayan jauh kami menyusuri pantai indah ini "Israhat dulu sebentar yuk dek", bang Ahmad mengarahkan langkah kami menuju sebuah kantin kecil di pinggiran pantai.


Nikmatnya kelapa hijau yang disuguhkan di kantin ini, sambil menikmati suasana pantai kami juga menghabiskan masing-masing sepiring pangsit yang terasa begitu memanjakan lidah.


Hanya perjalanan kecil yang dilakukan dengan fasilitas tak seberapa, tetapi rasanya seperti berlibur dengan fasilitas mewah. Begitulah rasa damai yang indah bila hati tidak terlalu menuntut kesempurnaan. Hal yang biasa saja pada penilaian orang lain akan terasa begitu indah di pandangan si pemilik hati yang selalu berucap kata syukur.


**


Sudah lumayan lama kami menghabiskan waktu disini, tanpa terasa waktu ibadah sudah tiba. Kami memilih melaksanakan ibadah di musalla kecil pinggiran pantai ini juga karena masih sangat menikmati suasana indahnya.

__ADS_1


"Shalat disini keknya nyaman juga abang ya?".


"Ya sudah, kita shalat disini aja dulu. Biar lebih lama sedikit hati tenang", jawaban bang Ahmad yang disertai senyuman menggodanya mengingatkanku akan suasana rumah yang begitu sumpek dengan segala aktifitas yang begitu melelahkan jiwa ragaku.


Aku bilang jiwa raga karena bukan hanya tubuhku saja yang lelah dengan pekerjaan di rumah itu, tetapi hatiku juga merasa lelah sekali menghadapi sikap mereka yang selalu pingin menang sendiri.


Dengan menggunakan fasilitas mukena dan sarung yang telah tersedia, aku melaksanakan empat rakaat kewajibanku pada sang pencipta.


Tidak pernah lupa sehabis ibadah aku memanjatkan beberapa bait doa harapanku pada sang pemilik langit, bumi dan segala isinya. Berharap doa-doaku segera diijabah dan bisa melewati segala cobaan hidup dengan baik.


**


"Kita pulang sekarang dek?", bang Ahmad menghampiriku setelah kami keluar dari musalla.


"kan gak mungkin kita lanjut melaut juga abang", aku malah menjawab dengan tersenyum usil menggodanya.


"Ah iya ya, sudah sore ini. Tapi . . . .", bang Ahmad Aad menggantungkan ucapannya, membuatku penasaran ingin tau.


"Tapi apa abang?".


"Ya, tapi bisa aja dong lanjut jalan-jalan ke laut sama para nelayan", kali ini bang Ahmad tertawa lepas balas menggodaku.


"Abang . . . ", gemas sekali rasanya melihat bang Ahmad tertawa seperti ini. Sangat jarang sekali aku melihat tawa suamiku selepas ini.


Lagi-lagi aku memikirkan keadaan rumah dengan segala keruwetannya yang tak pernah habis. Ah, menyebalkan sekali suasana rumah mertuaku.

__ADS_1


Semoga saja perjuanganku bertahan di rumah mertua akan memberikan rasa nyaman di kehidupanku kedepan.


Hidup berumah tangga saatnya berjuang menghadapi rintangan dan cobaan. Perjuangan adalah syarat mutlak untuk menggapai kemenangan. Inilah saatnya memperjuangkan kehidupan yang lebih nyaman, semoga aku memperoleh kemenangan itu.


__ADS_2