Pejuang Virtual

Pejuang Virtual
Ch. 9 Antiklimaks


__ADS_3

Seorang tim penguji berlari ke arah Squad Penjaskes seraya berteriak, “Kalian, cepatlah naik!”


Mendengar teriakan tim penguji, Squad Penjaskes menoleh. “Sepertinya ada yang tidak beres,” ucap Mawart. Ia urung mendaki dan malah berencana menemui tim penguji.


“Kenapa malah turun? Skuad kedua sudah hampir sampai. Kalau kalian lambat naik, peserta ujian bisa menumpuk di pos ini!” terang tim penguji yang barusan berteriak.


“Mereka tentunya sudah mengetahui ada penyusup. Dengan keberadaan Datu Busu, seharusnya masalah seperti ini bisa diatasi panitia,” ujar Asna dalam benaknya. Ia lalu membelai rambut Hairy Woo dan mulai mendaki.


Tiba-tiba rambut tersebut membelit dan menariknya ke atas. “Yaaan…!” seru Asna.


“Asna?!” Iyan berseru kaget melihat Asna ditarik ke atas. “Astaga, Asna!” Irvanpun tidak kalah kaget. Mereka lalu menyusul, menggenggam rambut dan mendaki tebing. Begitupun Mawart.


Seketika rambut-rambut melilit tubuh mereka dan menariknya ke atas dengan sangat cepat.


---------------------------------


Di saat bersamaan, Jiwa Selasa sedikit kesal karena tidak ada pergerakkan dari Rode untuk pergi ke ruang rahasia warisan. Akhirnya Asna memutuskan menguping percakapan Datu Busu dengan Pak Haris untuk mengetahui rencana mereka terhadap para penyusup.


Sebuah tenda yang biasa digunakan Aranena untuk membuka meja judi Domino Qiu Qiu kini dikuasai Datu Busu. “Kalau orang tua ini datang, Aku jujur saja tidak suka. Sangat tidak suka!” keluh Aranena seraya menatap Pak Haris. Wajahnya tampak dibubuhi lima jepit jemuran.


“Jangan Kau pikir Aku yang mengundangnya!” balas Pak Haris yang bernasib sama dengan Aranena. Jumlah jepitan di wajahnya bahkan satu biji lebih banyak. Ia lalu memelas kepada Datu Busu. “Kenapa tidak pakai koin saja, Datu?” tanyanya.


“Kau tau, kan, Aku tidak suka berjudi. Dan jangan berpikir Aku ini pelit,” jawab Datu Busu.


Mereka saat ini sedang bermain permainan kartu remi. Koin taruhan mereka ganti dengan poin jumlah kartu yang jadi. Pemain yang paling sedikit mengumpulkan poin atau bahkan minus akan dijepit pada wajah dengan jepit jemuran.


Seorang panitia datang dan berbisik di telinga Pak Haris. Melihat hal tersebut, Datu Busu menggebrak meja. “Jangan berbisik di tengah orang banyak! Itu bisa menyinggung perasaan orang lain,” teriak Datu Busu.


“A-ada tanda-tanda penyusup masuk ke dunia virtual ini, Datu…” Panitia itu gelagapan setelah dibentak Datu Busu. Pak Haris menggaruk lehernya yang tidak gatal. Baginya, sikap keras Datu Busu merupakan pelajaran untuk generasi muda. Jadi manusia yang beradab itu adalah salah satu sikap yang harus ditumbuhkan anggota GWM.


Datu Busu menyapu dahinya seraya berkata, “Ini ada kaitannya dengan kematian Bovak. Masalah seperti ini seharusnya sudah bisa Kau antisipasi. Kau terlalu mudah menerima anggota, Ris. Tidak semua mereka yang memiliki pengetahuan virtual bisa Kau akomodir. Itulah tujuan tradisi. Mereka yang tidak suka diatur, Kita kembalikan kepada keluarganya untuk mengatur. GWM bukan tempat servis yang memperbaiki barang-barang rusak.”


Pak Haris tak dapat berkata apa-apa. Hanya tangannya yang terus beraktivitas, mencabut setiap jepitan yang ada di wajahnya.


“Kalau sudah seperti ini, urusannya jadi panjang,” lanjut Datu Busu seraya berdiri dari tempat duduk. Ia kemudian berjalan mengitari meja, mendekati Pak Haris.


Sambil menaruh kembali jepit jemuran ke wajah Pak Haris, Datu Busu menyambung omelannya, “Seperti inilah makanya Aku sangsi memberi kalian kepercayaan mengelola GWM. ****** itu jangan disayang. Kita usahakan mencari siapa yang membuka lubang virtual untuk mereka. Kalau bentrok tidak terhindarkan, Aku yang akan meladeni yang terkuat dari mereka…”


“Siaplah, kalau begitu,” ujar Pak Haris yang segera berdiri. Melihat Pak Haris mencoba melepas jepitan, Datu Busu bergegas kembali ke tempat duduk sambil menunjuk Pak Haris. “Siap apanya? Kita lanjut main sampai wajahmu ganteng!”


--------------------------------------


“Mencari siapa yang membuka lubang? Memang mudah? Rode tidak mungkin karena Ia terus-terusan Ku awasi. Teman-temannya Bovak pasti bakal jadi tersangka, nih. Tapi yang jelas, tiga peserta itu harusnya jadi prioritas karena jadi kunci serangan mereka,” pikir Asna yang sedang menikmati perjalanan setelah mendapat bantuan dari tim penguji.


Squad Penjaskes tidak perlu mengeluarkan energi saat mendaki karena dibantu Hairy Woo. Hal ini cukup mengganggu Irvan dan Iyan. “Ini efek Asna ada di squad kita. Benar-benar tidak menantang!” keluh Irvan.


“Kalau Kau ingin tantangan, hadapilah Kami!” seru seorang berjubah hitam yang mengayunkan pedang ke leher Asna. Dengan sigap Asna menangkisnya dengan [B-Shock]. Sentuhan pedang dengan [B-Shock] menimbulkan suara gemerisik dan percikan yang cukup menyilaukan mata.


Penyerang Asna berlalu dan menjadi incaran Iyan dan Irvan. Sedangkan Mawart melindungi Asna yang memang paling lemah di squad ini. “Jumlah orang yang hendak menangkapku tidak mungkin sendirian! Mereka jelas juga menaruh dendam dengan Irvan dan yang ikut menggebuk Bovak. Mereka akan membunuhku kami semua setelah berhasil membunuh tiga peserta lemah selain Aku.” Dalam kewaspadaan, Asna masih bisa melakukan analisis.


Analisis Asna cukup mendasar karena Ia telah cukup lama menguping ocehan Nini Seke. Strategi awal Nini Seke membunuh tiga peserta terlemah selain dirinya akan membuat kuota penyimpanan jiwa pada [Resurrection Mandau] penuh. Saat Asna, Irvan dan orang-orang yang menghakimi Bovak terbunuh, mereka akan mengalami kematian sesungguhnya walaupun di dunia virtual. Selain itu, Anggota GWM yang kuat bakal berpikir dua kali untuk bertarung hidup mati.


Situasi yang masih membuat Asna dapat bersikap tenang adalah keberadaan Datu Busu. Orang tua ini seolah menaruh perhatian pada dirinya. Bukan sebagai orang tua yang pedofil, tapi seperti majikan terhadap budaknya. Dari perspektif Asna, Datu Busu bukan tipe orang yang suka dengan kerugian setelah membuang air liur hanya untuk merekrutnya.


Dua orang berjubah datang menyergap Mawart dan Asna sambil mengayunkan pedang. Kembali Asna berhasil menangkis tebasan pedang lawannya. Tapi tidak dengan Mawart.


Sebenarnya Mawart bisa menghindari penyerangnya dengan mudah. Akan tetapi sabetan pedang yang ditangkis Asna menyasar tubuh Mawart. “Untung cumlucil!” tegur Mawart yang sedikit kesal dengan Asna yang balik bertanya, “Apa itu cumucil?”


“Untung cuma luka kecil, bodoh!” tegas Mawart. Inilah gambaran orang asli Indonesia. Selalu merasa untung.


“Kita menuju pos dua, cepat!” titah Irvan yang berhasil menghindari lawannya. Iyan mengikutinya dari belakang.


“Jangan sampai terpisah!” sahut Mawart yang langsung menggandeng tangan Asna. Sebagai salah seorang yang ikut menggebuk Bovak, Mawart pasti ikut bertanggung jawab dengan situasi saat ini.


Sayup-sayup terdengar lengkingan permainan alat musik biola nan romantis. Dilanjutkan rentak irama gendang khas musik Bollywood. Musiknya semakin jelas terdengar dengan alunan lagu “Mohabatein” yang sekarang sangat sering dipertontonkan di salah satu televisi swasta. Rupanya lagu ini mengiringi gandengan tangan Mawart dengan Asna yang sesekali memutar di sebuah pohon.


Mawart memandang ke wajah Asna dengan birahi, lalu beranjak ke genggaman tangan mereka. Wajah Mawart berubah ketus setelah menyaksikan Asna berulang kali meletakkan upil di tangannya.


“Hentikan musiknya!” titah Mawart. Suara musik berhenti seketika. “Ada apa?!” tanya Timpakul yang datang membawa radio tape tahun 90-an.


“Aike minta lagu ‘Kucingta Kau’ bawaannya Kuncup Citra Lestari, sayang!” pinta Mawart sambil menjulurkan lidah.


“Aku tidak punya lagu itu. Dan Buat apa?” Timpakul kembali bertanya.


“Ntuk melemparkan ******** ini! Dia tidak bersyukur ku gandeng, malah memberiku bulatan-bulatan virus!” seru Mawart.


“Bagusnya lagu ini!” Timpakul menyetel alunan musik cadas Spultura. Hentakan musiknya membuat Mawart bersemangat melempar Asna.


Asna terus terlempar hingga cukup dekat dengan pos dua. Ia pun mendarat dengan selamat secara akrobatik sambil bergaya dub ala Paul Pogba.


Seketika seorang bertubuh besar mencekik leher Asna dan mengangkatnya tinggi. “Eh, anjing!” seru Asna kaget.


Sosok bertubuh besar yang mencekiknya saat ini memiliki wajah anjing. Jelasnya, sosok ini telah bersekutu dengan makhluk spiritual jenis anjing, Haudog.


“Jangan bunuh bocah itu, Anjing!” teriak Nini Seke. Ternyata Ia memang sedang menunggu kedatangan salah satu orang yang ikut memukuli cucunya di dekat pos dua.


“Aku tidak bodoh, Nini! Dan jangan mengumpat Aku dengan sebutan anjing! Cukup sebut namaku, Anjay!” protes pemimpin orang-orang berjubah hitam, Anjay Depkan.


“Sekedar mengingatkan saja,” sahut Nini Seke sembari menepuk wajah Asna dengan cueknya. Ia lalu mengurung Asna dalam rangkaian cahaya yang cukup panas.


----------------------------------


Di saat Asna tertangkap, Jiwa Selasa masih menyaksikan permainan kartu Datu Busu, Aranena, Pak Haris dan seorang panitia lain. Situasi sedikit berubah. Kali ini Pak Haris dan Aranena bebas dari jepit jemuran sebagai hukuman. Poin mereka menjadi yang tertinggi saat ini.


“Bagaimana? Apa peserta terlemah sudah diamankan?” tanya Pak Haris kepada seorang panitia yang ada di belakangnya.


“Sudah, sih. Tapi Asna keburu pergi ke pos dua sekarang.” Panitia itu menjawab sambil menggaruk kepala.


Pak Haris melirik sinis kepada Datu Busu. “Hal penting sekarang, jangan sampai Asna menjadi alasan bagi Kita menghentikan kegiatan. Sejauh ini belum ada yang mati, kan?” sindirnya.


Datu Busu menguap mendengar pernyataan Pak Haris. Ia sadar kalau Pak Haris menyindir dirinya. “Budakku tidak akan semudah itu mati. Kau seperti tidak mengenalku saja!” balas Datu Busu.


“Ada laporan kalau Asna sudah tertangkap musuh,” ujar seorang panitia yang tiba-tiba masuk ke dalam tenda.


“Apa?!” Pak Haris berseru kaget.


Satu kartu Pak Haris yang tiba-tiba terjatuh diambil Datu Busu. “Kau Ku tangkap! Sekarang Kau yang jepit. Hahaha…” Datu Busu tampak kegirangan.


Pak Haris segera meletakkan semua kartunya. “Ini bahaya, Datu! Akan banyak teman-teman Asna yang akan datang menyelamatkannya!” terangnya.


“Kau ku tangkap. Jangan cari-cari alasan… Cukup sampaikan kepada semua orang untuk tidak gegabah…!” ucap Datu Busu yang terlihat santai menanggapi tertangkapnya Asna.

__ADS_1


“Satu jiwa masuk ke [Resurrection Mandau]! Itu siswa kelas 10!” Laporan dari panitia pelaksana lagi-lagi masuk. Pak Haris kembali terkejut hingga dua jepitan melompat dari wajahnya.


Dua jepitan itu diletakkan kembali ke wajah Pak Haris oleh Datu Busu. “Mainlah! Baru satu yang tewas…”


--------------------------------------


Panitia pelaksana mulai panik setelah satu jiwa masuk ke [Resurrection Mandau]. Ini seperti lampu kuning yang menyala redup. Tapi peringatan tetaplah peringatan. Baik peserta maupun panitia yang tau teman sebaik Asna sudah tertangkap memilih membuat counter strategy.


“Terserah Kak Haris atau Datu Busu bilang apa, yang jelas Aku akan menyelamatkan Asna! Siapa yang mau ikut?” seru seorang senior. Sebagian besar peserta dan panitia mengangguk setuju.


“Baik, cukup seperempat dari Kita yang pergi menyerang. Sisanya menjaga [Resurrection Mandau]. Kalau satu atau dua di antara kita tewas, tidak mungkin Kak Haris dan Datu Busu tidak bergerak. Kita harus berinisiatif memang,” lanjut senior tersebut.


Tiba-tiba Rode tampil di tengah-tengah anggota GWM yang peduli dengan Asna. “Kalau hanya menyerang pakai otot, bukan cuma dua, tapi kalian semua bakal mati! Anggota GWM yang tewas saat perkemahan akan menjadi headline berita nasional. Harusnya kalian pikir kembali!”


Seorang peserta menghalangi Rode yang ingin mengambil momen saat ini. “Halah! Kau orang yang tidak suka dengan Asna. Tidak perlu Kau ikut campur!”


“Aku tidak suka? Aku hanya menunjukkan padanya kalau kehidupan pejuang virtual itu keras. Status pertarungan rendah akan menyusahkan orang lain. Seperti sekarang!” balas Rode.


Perdebatanpun terjadi. “Sebaiknya Kau pergi! Daripada Kau memperkeruh suasana…”


“Memperkeruh? Aku ada solusi yang lebih baik…”


“Solusi apa yang bisa Kau berikan kepada orang yang Kau benci?”


“Terserah kalau kalian bilang begitu. Tapi Aku ada rencana yang lebih baik…”


------------------------------------


Apa yang terjadi di bumi perkemahan sesungguhnya diketahui Asna yang saat ini masih menikmati suasana walau berada di balik kurungan. Bagi Asna, dramatisasi yang dilakukan Rode agar menjadi pahlawan terlalu dipaksakan.


Ada dua kemungkinan yang Asna temukan dari pertunjukkan seni peran Rode. Kemungkinan pertama, Rode memang sudah mengetahui serangan balasan keluarga Bovak dan berperan penting. Drama ini tentu saja bisa dikatakan sebagai usaha Rode yang mencoba mencuci tangan.


Kemungkinan kedua, Rode memang sudah tau, tapi tidak mendapat peran. Dengan melawan para pendendam ini, Rode bisa menjadi pahlawan GWM.


Asna sangat yakin Rode sudah tau bakal ada penyerangan. Jika tidak, mana mungkin Rode sangat memperhatikan detil persiapan panitia. Padahal Rode bukan tipe orang yang peduli terhadap orang lain.


Kalau Rode ingin kegiatan berlangsung sukses, Ia mestinya mengambil posisi penting dalam kepanitiaan. Bukan hanya pada acara pembukaan dan penutupan.


Keyakinan Asna tentang pengetahuan Rode mengenai penyerangan keluarga Bovak ini ditambah dengan beberapa percakapan Rode yang mengarah ke arah sana. Walaupun tidak begitu oral.


“Kalau Aku memeluk jeruji kuning ini, apa tubuhku bisa terbakar, Nek?” Tanya Asna kepada Nini Seke.


Nini Seke enggan menatap Asna. Ini salah satu sikap pelitnya. “Ya…” jawab Nini Seke, super singkat. Saking pelitnya, Nini Seke hanya menjawab dengan dua huruf. Penambahan tiga titik itu hanya efek nada dari Author.


Kalau Nini Seke membalas menggunakan pesan singkat, bisa jadi Ia cuma menggunakan satu huruf, yaitu “y” tanpa spasi. Itupun pakai handphone milik orang lain.


“Ya, Artinya Aku bakal mati kalau meletakkan leherku di jeruji ini!” seru Asna yang mencoba meraih jeruji panas yang dibuat Nini Seke.


Belum sempat Asna meraih jeruji, kurungan langsung membesar. Terus membesar karena Asna masih berupaya untuk meraihnya. Sampai akhirnya jeruji itu mengenai tubuh  Anjay Depkan.


“Aaaggghhh…!!!” Anjay Depkan mengerang kesakitan karena kulit di punggungnya melepuh. “Nini bangkai!” hardiknya.


“Kau yang bodoh! Kenapa tidak menghindar?!” balas Nini Seke.


Anjay Depkan berkilah, “Aku sedang membalas mention, bangkai!”


“Ayo, hajar mas bro!” Asna memprovokasi.


“Huh, itu tadi hampir!” ujar Asna seraya mengelus dada. “Oh, iya. Aku sudah tau di mana lubang virtual tempat kalian masuk di dunia kita. Kalian harus berhati-hati,” lanjut Asna.


“Kau tau pun tidak mengubah apa-apa!” balas Anjay Depkan.


Asna menggeleng tanda tak setuju. “Kalau Kau kenal Datu Busu, beliau saat ini sedang pergi ke Paguyuban Anggrek Bulan… Kalian harus berhati-hati!”


Mendengar kebohongan Asna, Anjay Depkan berseru kaget. “Datu Busu?! Bagaimana mungkin?”


“Terserah Kau, lah!” balas Asna. Ia lalu menunjuk hidungnya sendiri. “Yang jelas sekarang Aku mau bunuh diri biar aman!”


Seketika kurungan Asna menghilang dengan satu jentikan jari. Nini Seke kemudian menyuruh Anjay Depkan, “Jangan sampai Dia mati! Lumpuhkan dan bawa Ia ke markasmu!”


Asna yang sudah tak lagi terkurung langsung berlari ke pos dua. Sayangnya kecepatan Asna bukanlah tandingan Anjay Depkan. “Mau lari? Kau harus lebih tua dariku lima tahun!”


Nini Seke menunjuk bawahan Anjay Depkan lalu mulai memerintah, “Kalian, bunuh siapa saja yang bisa kalian bunuh. Saat kuota [Resurrection Mandau] mereka penuh, priotitaskan membunuh orang-orang yang memukul cucuku!”


“Kau ingin menyelesaikan ini dengan cepat? Bagus! Kalau bisa kisah karakter tidak penting kayak Bovak selesai di chapter ini!” teriak Asna yang saat ini sudah diikat Anjay Depkan.


Kesal dengan Asna, Nini Seke memukul punggung leher Asna hingga pingsan.


Inilah kisah main character yang doyan pingsan…


-----------------------------------


Mendapat perintah melakukan pembunuhan secara frontal, puluhan anggota Paguyuban Anggrek Bulan menampakkan batang hidungnya. Menyerang siapapun anggota GWM yang akan mereka temui.


Tidak butuh waktu lama bagi puluhan orang ini menemukan tim kesebelasan Rode.


Yah, Rode berencana menyerang lubang virtual penyusup dengan beranggotakan sebelas anggota kuat dari GWM SMA 25 Samarinda.


Apesnya, Rode dan kesebelasannya terciduk. Ia merasa serangannya terjebak offside.


“Ini aneh. Baru satu jiwa yang masuk [Resurrection Mandau], tapi mereka sudah menunjukkan diri. Apakah kuota sudah terpenuhi?” pikir Rode, kebingungan.


Bersama dengan tim penyerang, Rode sekarang terkepung lawan yang jauh lebih kuat dari mereka. “Mengeluarkan skillku di saat ini sangat merugikan. Aku masih belum bisa mengontrol Bronzehair Bekantan. Bertemu dengan Nini Pelit itu malah membawaku kepada kematian. Aku harus mencari celah untuk mundur.” Rode kembali membatin.


“Rode, apa yang Kau pikirkan? Ini rencanamu! Cepat, apa yang harus kita lakukan?” seorang anggota tim berseru panik.


“Tetap tenang. Tetap di tempat. Sementara kita upayakan untuk bertahan!” titah Rode.


Puluhan orang-orang berjubah hitam menerjang ke arah kesebelasan Rode. Mereka akan membongkar pertahanan ala kadarnya dari pejuang virtual yang masih belajar itu.


-----------------------------------


Di saat yang bersamaan, Penjaskes Squad yang minus Asna kewalahan menghadapi dua orang musuh. Semuanya sekarang sudah cukup terluka.


“Bagaimana dengan Asna? Mawar Berduri itu Ku lihat melempar Asna beberapa menit yang lalu…” tanya Iyan yang bersandar di punggung Irvan. “Kita tidak bisa memikirkan Asna. Nyawa Kita sekarang di ujung tanduk!” jawab Irvan.


Tiba-tiba sebuah tombak dari tanduk melesat ke dada Irvan. Secepatnya Irvan merebahkan tubuhnya di punggung Iyan hingga membuat Iyan tersungkur.


Tombak terus melesat dan menancap pada paha Timpakul. Ia pun mengerang kesakitan.


Melihat kejadian itu, Nini Seke mengingatkan anak buah Anjay Depkan. “Jangan sampai gadis berkepala besar itu mati, bodoh! Bunuh yang itu dulu!” Nini Seke menunjuk Iyan.

__ADS_1


Peringatan Nini Seke itu sangat beralasan. Di antara anggota Penjaskes Squad, hanya Iyan yang tidak ikut menggebuk Bovak.


Membunuh Iyan dapat menambah jumlah jiwa yang ada di [Resurrection Mandau] menjadi dua. Sehingga Nini Seke cukup mencari satu korban lagi agar dapat membantai semua orang yang membuat cucunya sakit hati.


Sadar masih ada lowongan di [Resurrection Mandau], Mawart menjambak rambut Timpakul. “Tim, bunuh Aku cepat! Aku sudah kagak tahan!” ujar Mawart yang lupa dengan gaya ngondek.


Timpakul malah mendorong kepala Mawart dengan jari telunjuk. “Jangan bodoh! Kita lindungi Iyan biar rencana mereka sedikit terhambat!”


“Melindungi si ganteng Iyan?! Oooohh…!” Mawart kembali bergairah untuk melanjutkan perjuangan. Tubuhnya sekarang mulai memerah dan menimbulkan bercak-bercak bentuk hati.


Ini seperti sebuah evolusi kekuatan ke tahap berikutnya.


Ya, di tahap berikutnya Mawart langsung pingsan setelah terkena pukulan di leher.


Begitupun dengan Timpakul.


Inilah akibatnya kalau evolusi dilakukan di tengah pertarungan. Musuh tidak akan menunggu lawannya menjadi lebih kuat.


Dilumpuhkannya Timpakul dan Mawart mempermudah pekerjaan para penyusup. Mereka mendekati Irvan dan Iyan dengan santainya. Dua puluh pejuang virtual dewasa melawan dua pejuang virtual bau kencur.


Ini sudah seperti permaian MMORPG pada mode versus player. Pemain baru pasti kalah dengan pemain veteran karena perbedaan level yang sangat jauh.


“Sial! Habislah, Aku!” seru Irvan. “Kita harus saling menjaga, yan!” pintanya.


“B-bagaimana, Van? Kakiku sulit bergerak…” balas Iyan.


Irvan menyikut rusuk Iyan yang masih bersandar di punggungnya. “Kau tidak akan mati, Yan! Tapi saat jiwamu masuk ke [Resurrection Mandau], Aku yang akan mati!”


Situasi sekarang memang sangat berbahaya untuk Irvan. Tapi tidak untuk Iyan.


Tidak ada yang bisa Irvan lakukan selain melawan balik dengan kekuatan seadanya. “Aku tidak mau mati!!!” seru Irvan yang bergegas mengayunkan pedangnya ke arah lima orang penyusup. Sebuah serangan yang sangat mudah untuk dihindari.


Mengetahui Irvan berinisiatif melawan, Iyan yang semula merasa ketakutan mulai memberanikan dirinya. Tangan Iyan tampak menggenggam erat, kala kakinya masih sangat sulit untuk digerakkan.


Seorang penyusup berinisiatif menghunuskan pedang ke perut Iyan.


“Hah?!” Iyan kaget setelah sebuah tarikan di tangan kanannya membuat pedang hanya menusuk angin.


Tidak sampai di situ, penyusup yang menyerang Iyan mengarahkan mata pedangnya ke tubuh Iyan. Sejurus kemudian mengayunkan pedang secara vertikal.


Tarikan di tangan kanan Iyan kembali terjadi. Lagi-lagi menyelamatkan Iyan dari kematian fana.


Dua ayunan pedang si penyerang barusan membuat dirinya kehilangan momen untukmelakukan serangan berikutnya. Seketika tangan kanan Iyan mengayun dengan sendirinya mengenai rahang si penyerang.


Serangan ke arah rahang adalah titik kritis yang membutuhkan poin status pertarungan pada unsur DEX yang harus cukup baik. Pukulan di titik ini membuat penyerang Iyan mengalami rasa pusing yang teramat sangat.


Gelombang serangan kembali menyerbu Iyan. Kali ini ada lima orang penyerang di saat Iyan belum siap bertarung. Berpikirpun sangat sulit. Logika sedang absen.


Iyan jelas masih sangat kebingungan dengan serangan aneh sebelumnya. Yang pasti, Ia merasa ada seseorang yang memegang tangannya dan menggerakkannya.


Menghadapi lima orang, Iyan seharusnya tidak bisa berharap pada bantuan yang Ia terima sesaat yang lalu.


Mati berarti hidup dengan selamat untuk Iyan. Tapi kematiannya akan memudahkan musuh melakukan pembantaian terhadap teman-temannya.


Iyan sudah berada dalam jarak serang lima orang penyusup. Lima pedang sedang mengincar tubuhnya.


Lagi-lagi Iyan terselamatkan setelah sosok transparan memutar tubuhnya. Ini serangan sentrifulgar!


Lima penyerang Iyan berhamburan terkena kakinya. “Jurus apa itu?!” hardik penyup yang lain. “Kita fokuskan pada bocah itu!”


Sayup-sayup terdengar teriakan tim kesebelasan Rode. Mereka lari kocar-kacir dikejar puluhan penyusup yang lain. Berlari mendekati Iyan.


Melihat Rode, para penyusup kini dapat dua target di satu tempat. Rode dan Iyan.


Irvan bergerak menuju Iyan yang dari pandangannya dapat bertahan dengan sangat baik. Terlalu baik malah sampai membuatnya bingung. “Kayaknya di dekatmu jauh lebih aman, Yan. Tapi itu tadi janggal. Untung sekarang Rode datang membawa anggota.” Sambil berkata, Irvan kembali bersandar di punggung Iyan.


“Lindungi Iyan dan Rode!” seru seorang anggota GWM.


Seketika seluruh anggota GWM yang merasa ikut menggebuk Bovak mengelilingi Rode dan Iyan dengan gagah berani.


“Lumpuhkan mereka terlebih dahulu, baru bunuh dua yang di tengah!” seorang penyusup ikut berteriak.


Seluruh anggota Paguyuban Anggrek Bulan yang berjumlah 50 orang menerjang 14 anggota GWM plus Timpakul yang tiba-tiba siuman setelah tawuran sebenarnya terjadi.


Bertarung dalam kerumunan tentu saja tidak mudah. Ada wabah latah yang terus mengintai. Bahkan seorang gamer MMORPG pemula akan sembarangan menekan tombol.


Pada situasi seperti ini, pejuang virtual dengan skill area akan sangat mudah menghabisi musuh. Untuk chapter ini jangan dimunculkan karena akan mengganggu alur cerita.


Walau menang jumlah, para penyusup sebenarnya berada dalam posisi tertekan karena dituntut dua hal. Pertama membunuh Iyan dan Rode, yang  kedua melumpuhkan anggota GWM yang menggebuk Bovak.


Terang saja, para penyusup yang menggunakan pola serangan teka-teki tampak kesulitan membongkar pertahanan gerendel anggota GWM. Gaya bertahan timnas sepak bola Italia era 80-90an, catenaccio.


Sepertinya hanya ada satu cara untuk mengalahkan teknik bertahan catenaccio. Serangan virus corona.


Terlalu fokus menyerang, satu per satu orang-orang berjubah hitam terkena kartu merah. Lebih tepatnya mengalami cedera serius. Jumlahnya terus menyusut seiring berjalannya waktu.


Melihat angin peruntungan berbalik arah, Rode dan Iyan berinisiatif keluar menyerang.


Pada periode ini, Iyan menyadari adanya bantuan dari seseorang yang tidak terlihat. Bantuan yang sangat kental Ia rasakan.


“Semestinya serangan Kami tidak begitu begitu memberikan dampak besar pada mereka. Tapi entah apa yang merasuki Kami? Serangan Kami begitu kritis! Pasti ada yang membantu . Namun siapa?” pikir Iyan sembari melayangkan sebuah pukulan kepada musuh.


Anggota GWM melakukan counter attack!


Lima puluh penyusup dapat diatasi dengan anggota GWM yang masih berjumlah 15 orang.


-----------------------------------------


Anjay Depkan membopong Asna yang sudah mulai siuman.


Saat terkena pukulan Nini Seke, Asna sempat mengontrol gerakan kepalanya untuk mengurangi kerusakan. Upaya ini berhasil menjaga koneksi sistem sarafnya tidak terputus.


Asna membatin. “Chapter pembalasan keluarga Bovak ini sudah melebihi 3300 kata. Aku ingin semua berakhir cepat! Toh, Bovak bukan karakter penting yang tidak boleh dikenang kembali!”


Bak gayung bersambut, Datu Busu, Pak Haris dan Aranena muncul di belakang Anjay Depkan. Ini sebuah antiklimaks dari upaya Anjay Depkan membantu Nini Seke.


Pada saat itu pula Nini Seke muncul. Ia berjalan dengan cepat menuju lubang virtual tempat Ia menyusup. Raut muka Nini Seke terlihat datar dan tak bergairah.


Pak Haris berkata dengan keras kepada Datu Busu. “Betapa memalukannya! Kalau Ku laporkan ini kepada pemerintah kota, paguyuban ini bisa dibekukan! Hahaha…”


“Kau jangan bawa-bawa Aku, Ris. Tiap paguyuban punya cara sendiri dalam mengumpulkan duit kas!” balas Datu Busu.

__ADS_1


Anjay Depkan yang merasa tersinggung, meletakkan tubuh Asna ke tanah lalu berjalan mengikuti Nini Seke. Duo perusuh ini masuk ke lubang virtual dan menghilang begitu saja.


***


__ADS_2