
Saat Asna mendapat penjelasan orientatif dari Pak Haris, Rode datang menghinanya yang memiliki status pertarungan seperti anak sekolah dasar. Iyan dan Asna akhirnya terlibat perkelahian dengan Rode.
“Sudahlah… Tidak banyak waktu kalian di sini. Rode, pergilah sana!” Pak Haris menggerak-gerakkan empat jarinya ke arah Rode.
Seolah tak mengindahkan Pak Haris, Rode melirik ke dada Asna dan melepaskan sebuh tinjuan. Asna pun terlempar hingga lima puluh meter. “Baik Aku akan pergi.” Rode pergi meninggalkan Pak Haris menuju hutan rimba.
Rode termasuk siswa yang disegani di sekolah dan memiliki beberapa anak buah. Ia sangat terobsesi dengan kekuatan, status sosial dan kemashuran. Tiga hal yang sangat dekat dengan Pejuang Virtual.
Iyan berjalan membawa Asna dengan terhuyung menuju Pak Haris. Darah mengalir di tepi bibir mereka. Ini kekalahan ketiga mereka melawan Rode. Pak Haris tersenyum melihat dua sahabat ini. “Kalian ini. Rode salah satu anggota berbakat yang sudah masuk tingkat First Shaf. Kau Iyan, harus bersabar jika ingin mengalahkannya. Kau jelas lebih berbakat dari Rode. Masih kelas sembilan tapi sudah mencapai 142 poin, tingkat Angkare Empat. Satu tingkat di bawah rode.”
Pak Haris kemudian memberikan mereka salep virtual. Herbal dari dunia virtual yang jika dioles ke tempat yang sakit akan mempercepat proses penyembuhan. Berlaku hanya di dunia virtual.
Pak Haris lalu lanjut memberikan arahan kepada Asna. Agar dapat menjadi anggota, Asna minimal mencapai tingkat terendah, Little Circle, 16 Poin. Total poin status Asna sekarang ada 15. Artinya Ia hanya perlu menaikkan satu poin. Hanya saja, mereka yang mencapai tingkat Little Circle di awal mula masuk GWM sering mendapat perlakukan diskriminatif oleh anggota lain.
Menghindari hal tersebut, Pak Haris memerintahkan Iyan membantu Asna melakukan peningkatan status selama tiga bulan ke depan sebelum upacara kenaikan tingkat diselenggarakan. Tepat saat liburan semester gasal.
Setidaknya status Asna bisa naik 30 poin dan langsung mencapai tingkat Big Circle. Dengan usaha yang keras tentunya.
Iyan lalu mengajak Asna berkeliling di tenda-tenda. Betegur sapa dengan para senior. Mereka lalu pergi ke toko milik Arnabshop tua untuk membeli senjata. Iyan memberikan pinjaman 100 Koin Virtual kepada Asna. Sebuah tongkat besi kualitas buruk menjadi pilihan Asna karena harganya yang sesuai dengan jumlah pinjaman Iyan. Senjata yang lumayan efektif untuk melawan makhluk virtual liar rendahan.
Usai membeli senjata, Asna dan Iyan pergi berburu ke tepi hutan. Makhluk berkepala ayam dengan tubuh kue pie, Piecock, menjadi pilihan Asna untuk melakukan peningkatan. Sesuai dengan status Asna yang masih lemah.
----------------------------------------------
Jiwa Asna terus mengikuti Irvan yang sedang berburu Bloody Squirrel di saat Asna dan Iyan memilih berburu Piecock. Kekuatan Bloody Squirrel memang tidak lebih tinggi dari Irvan. Tapi tetap dapat membantu peningkatan statusnya dibanding Piecock.
Tiba-tiba Rode terlihat melewati Irvan. Ia tidak tertarik dengan makhluk virtual yang ada di sekitar Irvan karena telah mencapai tingkat First Shaf. Makhluk di sekitar Irvan tentu tidak akan memberikan dampak signifikan pada peningkatan statusnya.
Jiwa Asna tidak membuang kesempatan untuk ikut pergi mengikuti Rode. Jika saja ada kemampuan dan peluang, Asna ingin sekali menggebuk Rode. Bukan hanya ribuan kali. Kalau bisa ratusan kali.
Sayangnya untuk saat ini hal itu tidak mungkin terjadi. Bahkan bisa saja tidak mungkin terjadi. Mengingat, saat Asna meningkatkan status pertarungan, saat itu juga Rode naik status yang lebih tinggi. Anggota baru akan sulit menyaingi anggota lama.
Ini sama persis dengan role game masiv-multiplayer (MMORPG) yang paling Asna benci namun sangat ingin Ia mainkan. Grafik bagus, tapi selalu kalah dengan pemain lama. Status karakter mereka seperti gunung yang terus membesar, adapun Asna sedang membuat gundukan tanah.
Menggebuk Rode sangat tidak mungkin. Terlebih, diri Asna saat ini hanyalah entitas halus, bagian dari jiwanya. Roh. Jadi, Asna sekarang cukup melihat apa yang dilakukan Rode dalam meningkatkan status pertarungan.
Jarak yang ditempuh Rode sudah lebih dari sepuluh kilo meter. Tanpa gangguan makhluk virtual yang lebih kuat darinya. Rode terkesan hafal dengan jalur-jalur di hutan ini. Bergerak melingkar menuju satu titik tertentu. Tiba-tiba saja Rode berubah wujud menjadi makhluk seperti kera yang tinggal di Kalimantan. Bekantan. Tinggi Rode kini mencapai 2 meter.
Asna semakin memahami Rode. Berdasarkan pengetahuan dari mendiang Ayahnya, kebanyakan Pejuang Virtual sudah biasa bersekutu dengan makhluk virtual tertentu untuk mendapatkan penambahan kekuatan. Untuk jenis makhluk virtual yang bersekutu dengan Rode sekarang, adalah jenis primata, [Bekantan Rambut Biasa]. Jenis yang bisa ditingkatkan. Rode jelas mendapat sekutu yang bagus.
Rode yang telah berubah sepenuhnya, masuk ke dalam semak belukar yang didiami tanaman karnivora. Ia langsung berjibaku dengan tanaman tersebut. Di saat itu Jiwa Asna terus terbang mengamati kondisi di dalam semak belukar. Tidak ada yang mencurigakan di dalam sana. Semua hanya tanaman liar yang lebih lebat lagi.
Seketika Rode menembus Jiwa Asna dan menuju tumpukan tanaman. Rode mulai membuka tanaman-tanaman itu hingga menemui sebuah lubang alam. Jiwa Asna segera masuk lebih dahulu.
Tiada apa yang bisa di lihat dalam lubang karena tiada cahaya. Semua gelap gulita. Sepasang mata seperti senter menyorot lubang. Sepasang mata Rode dalam wujud makhluk virtual Bekantan. Boleh jadi inilah alasan utama Rode memilih Bekantan Rambut Biasa. Ia hendak mengambil harta karun atau warisan. Rode berlari memasuki lubang dengan jalan menurun. Terus ke dalam dan menurun. Diikuti Asna.
Asna mulai berpikir, “Bekantan Rambut Biasa sebenarnya hidup berkelompok. Tapi di sepanjang perjalanan tadi, tidak ada tanda-tanda kehidupannya. Tentu Rode tidak secara kebetulan melakukan persekutuan dengan Bekantan dan menemukan lubang yang sangat gelap ini. Hanya bekantan yang memiliki sorot mata seperti senter. Sehingga sangat cocok untuk memasuki lubang ini.”
Mata Rode menyorot ke sebuah dinding. Ada tulisan berupa angka arab di sana. “Itu?!” Asna yang sedang berada di tepi hutan bersama Iyan langsung gelapan mencari kertas dan pulpen. Iyan jelas tidak memilikinya, sehingga Asna memutuskan kembali ke perkemahan.
Kertas dan pulpen didapatkan. Asna pergi ke belakang tenda untuk mencatat apa yang tertulis di dinding yang disorot Rode. Iyan sangat kebingungan melihat tingkah Asna. “Ini sebuah petunjuk rahasia,” pikir Asna yang segera mencatat sebelum diledakkan Rode.
Benar saja. Mulut Bekantan Rode menganga dan menembakan sebuah bola putih ke arah dinding. Ledakan dinding diikuti dengan jatuhnya batu-batu dari langit-langit lubang. Berjalan lebih jauh, Rode kembali menemukan sebuah tembok batu. Rode bergumam, “Satu tembok, satu warisan. Baiklah….” Ia lalu memandang ke sekeliling.
Tanpa disangka, seekor kelabang bertubuh logam merah raksasa menyergap Rode. Kelabang ini ingin sekali menyengat Rode dengan dua sapit yang ada di tepi mulutnya. Tapi dua sapit itu sedang menyangga sebuah batu merah muda menyala sebesar bungkus rokok.
Melihat batu tersebut, Asna jadi teringat dengan batu yang dimiliki teman Ayahnya, [Buntat Lipan]. Itu sama persis. Batu langka yang membuat pemiliknya selalu menang judi. Namun dalam memori ayahnya tersebut tidak termuat informasi tentang bagaimana cara batu itu bekerja dan apa yang menyebabkannya bisa memenangkan judi.
Belum sempat Asna mendapati kesimpulan, Rode berhasil lolos dari kelabang raksasa dan bergerak menjauh ke belakang. Kelabang raksasa ingin mengejar Rode, namun tiba-tiba sebuah tembok muncul di hadapan kelabang dan kembali mengurungnya. Samar-samar suara tawa Rode terdengar.
Seharusnya Rode sudah mati jika tidak ada [Buntat Lipan] di sapit kelabang raksasa itu. Kekuatan Rode bukan apa-apa nya untuk saat ini.
Terkurung bersama kelabang, tidak membuat Asna panik. Buat apa panik? Toh, Asna bisa kembali dengan mudah. “Mumpung di sini. Aku akan melihat-lihat ke dalam. Hehehe…”
--------------------------------
Usai menyimpan catatan ke dalam saku, Asna tersenyum sendirian. “Kau gila, Na?” tegur Iyan. Asna menggeleng dan mengatakan bahwa saat ini Ia sedang lapar. Senyum dan lapar bukan istilah yang berasosiasi. Jawaban Asna menambah kesan gila di benak Iyan. Mereka lalu berjalan menuju sebuah tenda, dapur umum. Sesekali Iyan menanyakan perihal catatan Asna. Lagi-lagi Asna menjawab sembarangan. “Kau memang gila! Stress!” kutuk Iyan.
Mereka melanjutkan aktivitasnya setelah makan siang. Asna tetap tidak dapat meningkatkan status pertarungan. Iyan merasa ada yang janggal. “Ini aneh! Seharusnya pejuang virtual dengan total poin status 15 dapat dengan mudah naik!”
Asna menyikapi situasi yang dialaminya sebagai hal yang lumrah. Baginya, karakter utama dalam sebuah cerita memang sering seperti ini. Lemah di awal, perlahan tapi pasti berhasil mencapai apa yang dicita-citakan. Ada pula yang begitu-begitu saja dan lebih mengandalkan kecerdasaannya.
Jadi over power sejak pertama muncul sebenarnya bagus. Tapi terkesan arogan. Terlebih kalau karakter itu bisa kembali ke masa lalu.
Asna sebenarnya tipe orang yang cenderung suka apa adanya. Saat suka itu ada, saat suka ini ada. Ada pada orang lain, bukan pada dirinya. Beruntung Ia punya sahabat seperti Iyan. Punya cukup uang untuk memberikannya pinjaman tanpa bunga dan tanpa batas waktu pengembalian. Hal ini tentu saja membuat Asna merasa enak.
“Yan, pinjam koinmu donk! Nanti Ku ganti!” pinta Asna. Dahi Iyan mengerucut mendengar permintaan ini. “Buat apa?” tanya Iyan.
“Aku akan menggandakannya…” jawab Asna. Iyan segera mengetok kepala Asna. “Kau tidak perlu membuang-buang koin! Cepat, kita farming!” balas Iyan.
Asna menolak. “Dengan senjata sekarang tidak akan efektif! Ayolah… cukup seratus koin!”
__ADS_1
“Benar juga. Menemanimu farming membuat statusku stagnan! Tapi Kau yakin bisa menang?” Iyan terlihat masih ragu. Asna mencoba untuk meyakinkan. “Aku ada trik khusus yang bisa membuatku menang!”
Iyan mengeluarkan koin virtual dari sakunya. “Aku cuma ada 2 koin. Sudahlah… Ku berikan ini padamu, tapi Kau tidak perlu berju…” Belum sempat Iyan melanjutkan perkataannya, Asna merebut 2 koin miliknya dan bergegas pergi. “Hei! Kau lupa Aku punya videomu?!”
“Kali ini aja, Yan!” seru Asna.
-----------------------------------------
Pada jam-jam usai makan siang, umumnya anggota GWM di SMA 25 Samarinda tidak melakukan farming. Mereka lebih memilih menggandakan koin untuk membeli equipment. Tak heran kursi untuk berjudi sudah penuh.
Namun Asna tidak kehabisan akal. Ia mencari seseorang untuk bekerja sama. Meja domino qiu-qiu yang dijaga Aranena menjadi pilihan Asna. Ada enam penjudi saat ini. Salah satunya Irvan. Melihat Asna, Irvan menegur, “Na, bagaimana hari perdanamu ikut GWM?”
“Statusku terlalu rendah untuk masuk ke hutan,” sahut Asna. “Lain kali Aku akan menemanimu ke sana! Kemarilah, lihat dewa judi bermain!” Irvan menyombongkan diri.
Asna beralih ke belakang Irvan. Di antara para penjudi, ada Bovak juga rupanya. Asna masih kesal karena orang ini sementara waktu menjadi tambatan hati Dinia.
Aranena membagi kartu setelah para penjudi memasang taruhan awal 100 koin virtual. Masing-masing penjudi mendapat tiga kartu awal.
Kartu yang didapat Irvan adalah 0/1, 1/1, dan 2/2. Wajah Irvan tampak mengerucut. Satu kartu 0/2 sebenarnya bisa membuat Irvan mendapatkan jumlah total 9 dari empat kartu. Qiu murni. Peluang mendapat 0/2 tentu saja 1 banding 23. Sangat kecil memang. Tapi masih ada peluang yang cukup tinggi untuk mendapatkan satu kartu bernilai 5, 7 atau delapan.
Memiliki kemampuan membelah jiwa, membuatnya dapat mewujudkan satu jiwa lagi untuk mengawasi kartu-kartu milik para penjudi. Asna mengeluarkan jiwa ketiganya sesaat sebelum masuk tenda. Sehingga Ia dapat dengan mudah mengetahui set kartu lawannya Irvan. Tanpa perlu menghilangkan jiwanya yang saat ini masih berada di ruang warisan rahasia yang diincar Rode.
“Cek,” ucap penjudi yang mendapat kesempatan pertama mendapat kartu. Kartu yang ia miliki adalah 2/3, 0/2 dan 3/3. Demikian pula dengan dua penjudi berikutnya. Penjudi urutan kedua memiliki kartu yang sangat baik, 0/3, 1/5, dan 3/5. Jaminan Qiu. Penjudi urutan ketiga tidak kalah baik. 2/6, 3/6, 4/6. Qiu-delapan. Tapi kartu ini tidak akan mendapatkan Qiu-Qiu karena kartu 0/1 ada pada Irvan. Mereka tidak melakukan peningkatan taruhan karena akan menyebabkan lawan-lawannya mundur.
Penjudi urutan keempat yang memiliki kartu 0/4, 1/4 dan 2/4 menambah taruhan sebesar 1000 koin virtual. Tiga penjudi sebelumnya tersenyum. Bahkan Bovak yang belum mendapat giliran tertawa terbahak-bahak. “Kau begitu yakin menang!” serunya.
Kini giliran Irvan. Saat ini Ia hanya punya sebuah pedang yang sudah terpakai senilai 8000 koin virtual. Kalau kalah, Ia akan kehilangan pedang dan mendapat uang kembali senilai 6900 koin virtual. Masih ada peluang menang, Irvan memilih mengikuti penambahan taruhan dengan menaruh pedang di meja, tanpa menambah taruhan kembali.
“Kenapa Kau ikut?” bisik Asna. Irvan kemudian menyikut dada Asna. “Tenang saja… small ini!” sahut Irvan dengan wajah gugup. Asna mendorong kepala Irvan seraya berkata, “Aku tau, Kau bisa merubah kartu!” Asna dapat melihat kartu musuh melalui jiwanya yang bergentayangan sehingga tau kalau Irvan tidak akan mendapat kartu small. Yaitu empat kartu yang bila dijumlahkan totalnya Sembilan atau kurang. Sayangnya kartu 0/2 sudah menjadi milik penjudi lain.
“Tambah 6900 koin!” seru Bovak. “Aku akan dapat pedang! Hahaha...” Seruan Bovak sangat mengintimidasi. Tapi sebenarnya kartu Bovak adalah yang terburuk dari penjudi yang lain. Asna jelas mengetahui kartunya. 0/5, 0/6, dan 6/6. Paling tinggi Bovak mendapat Qiu-Delapan pada pembagian kartu terakhir.
Empat penjudi yang sudah memiliki Qiu merasa terintimidasi. Mereka ragu. Setelah cukup lama berpikir, tiga di antara empat penjudi itu ikut penambahan taruhan dari Bovak. Penjudi keempat meletakkan 6900 koin virtual dan dengan tegas menambah taruhan sebesar 100.000 koin virtual.
“Astaga dragon!” seru Irvan dengan mata melotot. Setelah berpikir sejenak, Irvan memilih mundur dan mulai meratapi pedangnya yang hilang sambil bersandar di dada Asna. Perilaku mereka seperti sepasang kekasih.
Tidak disangka, Bovak menambah taruhan sebesar 200.000 koin virtual. Penjudi pertama mundur walau masih memiliki ratusan ribu koin virtual dan sudah ada jaminan Qiu. Penjudi kedua ikut penambahan 300.000 koin virtual. Begitupun penjudi ketiga dan keempat. Penjudi keempat tidak dapat melakukan penambahan karena sudah terjadi empat kali penambahan sebelum kartu keempat dibagikan.
Saat ini penjudi yang masih bertaruh ada empat orang. Setelah kartu dibagikan, penjudi urutan kedua mendapat kartu 4/5. Qiu-Tujuh. Oleh karena dealer mundur, Ia yang pertama kali melakukan pertaruhan. “Cek!” serunya. Raut wajahnya sangat datar.
Penjudi keempat menaikkan taruhan sebesar 500.000 koin. Ia memiliki kartu 2/5, Qiu-Tiga.
“Satu juta!” seru Bovak. Dari pengamatan jiwa Asna, kartu keempat Bovak adalah 3/4. Qiu-Satu. Qiu terendah pada pertaruhan ini. Tapi Bovak terlihat sangat percaya diri.
Penjudi urutan kedua tampak ragu. Ia masih memiliki lebih dari 1.500.000 koin virtual. Ia bisa saja menghabiskannya. Tapi itu sungguh beresiko. Terlebih ada kemungkinan lawan memiliki seri kartu small. “Aku mundur!” ujarnya sembari mengembalikan kartu kepada Aranena.
Penjudi urutan ketiga menghitung tumpukan koin virtual miliknya yang tersusun di meja. Ada total 200.000 koin virtual. Ia tampak ragu mempertaruhkan semuanya. Harus semuanya, karena taruhan mencapai angka satu juta.
Asna berbisik di telinga Irvan. “Kalau penjudi ketiga ikut bertaruh, Kau ikut menambahkan sisa koinmu pada taruhannya!”
“Kau yakin?” balas Irvan. Asna mendorong kepala Irvan. “Yakinlah, pintar! Kita anak kelas favorit!”
“Aku bertaruh semuanya…” penjudi ketiga mendorong semua koinnya ke tengah meja.
Segera Asna mencubit pinggang Irvan. “Awww… Sakit!” rintih Irvan yang tanpa sadar tangannya digerakkan Asna untuk menggeser koin ke tengah.
“Ada apa ini?” tanya Aranena.
Irvan kebingungan. “Ee, Aku ikut bertaruh untuk kemenangannya.” Irvan menunjuk ke arah penjudi ketiga. Aranena menggebrak meja lalu berkata, “Kau harus mendapat persetujuannya!”
“Tidak masalah! Siapa tau membawa hoki,” sahut penjudi ketiga. “Syukurlah… tambahkan ini,” bisik Asna di telinga Irvan. Ia lalu memberikan dua koin pada Irvan.
Irvan mendorong kepala Asna. “Buat apa 2 koin ini? Kalau memang kita menang, Aku akan memberimu 50 koin! Kalau kalah, Kau harus jadi anak buahku!”
Asna mengangguk setuju dengan senyum pura-pura bodoh.
Tiba-tiba pemain keempat memilih mundur. Bovak terlalu banyak memiliki koin virtual di meja ini dibanding penjudi lain. Itu sangat merugikan.
“Buka kartu kalian!” tegas Aranena.
Bovak tertawa sambil membuka kartunya. “Ini Qiu-satu! Ini bukan kartu terbaik! Hahahaha…!”
Penjudi urutan keempat merasa menyesal. Ia memiliki kartu Qiu-Tiga. Hanya karena taruhan dari Bovak terlalu tinggi, akhirnya Ia lebih memilih menyayangi koin tersisa.
Perasaan menyesal yang lebih mendalam dialami penjudi urutan kedua. Ia memiliki kartu Qiu-Tujuh tapi memilih mundur karena ada kemungkinan penjudi lain memiliki set murni. Padahal Ia memiliki koin yang cukup untuk meladeni Bovak.
Rasa gembira sulit dilukiskan penjudi ketiga. Ia tidak menyangka akan menang dengan kartu Qiu-Lima. Padahal Ia sudah berencana melakukan farming untuk mengumpulkan drop dan menjualnya. Ia lalu menunjuk wajah Irvan. “Kau gila! Hahaha… ini punyamu!” penjudi ketiga menyerahkan pedang milik Irvan sekaligus uang hadiah sebesar 100.000 koin virtual. Ia tidak akan rugi karena mendapatkan setidaknya 2.000.000 koin virtual. Jika dirupiahkan nilai yang didapat adalah 1.000.000 dengan kurs 2 koin virtual per 1 rupiah.
Bovak mencoba menghibur diri karena Ia cukup banyak kehilangan uang. “Hahaha… Ini menarik! Ayo kita lanjutkan!”
Asna kembali berbisik pada Irvan. “Cukup bermain aman. Polanya, tunggu arahan dariku!” Irvan menangguk percaya kepada Asna.
__ADS_1
Pada lima putaran berikutnya, Irvan tidak ikut gaya bermain Bovak yang selalu menaikkan taruhan sebelum set kartu lengkap. Uniknya, saat Asna menyuruh Irvan mengikuti salah satu penjudi, penjudi itu sudah dipastikan menang. Sebaliknya, ketika Bovak memiliki kartu tertinggi, semua penjudi memilih tidak ikut berjudi karena Irvan tidak menaruh taruhan pada mereka. Pun tidak mengikuti Bovak.
Pola ini terus berlanjut hingga belasan set. Bovak menatap marah kepada Irvan dan Asna. mereka seperti sedang mempermainkannya. Saat ini uang Bovak hanya tersisa 100.000 koin virtual.
Tiba-tiba Bovak menggebrak meja. “Kalian sengaja bersengkokol untuk mengalahkanku, kan?! Bedebah!”
Aranena menunjuk wajah Bovak. “Kau menudingku melakukan kecurangan?!”
“Bukan Nona Aranena yang Ku maksud! Tapi mereka!” sahut Bovak sembari menunjuk wajah-wajah musuhnya.
“Itu sama dengan Kau mengatakan, kalau Aku membiarkan kecurangan terjadi! Kami para Arnabshop sangat mementingkan reputasi!” balas Aranena. “Pergi Kau dari sini!”
Bovak keluar tenda sambil menatap tajam wajah lawan-lawannya. “Ayo kita bertarung di luar!” tantang Bovak.
“Kau pikir Aku takut?!” seorang penjudi mengikuti Bovak keluar tenda. Begitupun Asna dan Irvan.
Begitu berada di tanah lapang, seorang penjudi lain berseru, “Hajar!” Segera yang lain mendekati Bovak.
“Mau keroyokan? Satu-satu kalau berani!” pinta Bovak dengan nada menantang.
Pak Haris tiba-tiba hadir. Bovak menjelaskan kepadanya duduk perkara. Penjudi lain melakukan pembelaan. Akhirnya Pak Haris mempersilahkan Bovak dan lawannya bertarung secara adat. Tarung bebas!
Bovak tidak terima karena dua lawannya ada pejuang virtual yang setara dengannya. Dikeroyok adalah pilihan bodoh. Ia pun menawarkan diri untuk duel satu lawan satu dan Ia yang duluan memilih lawannya. Pak Haris setuju. Tentu saja Bovak memilih Asna yang menjadi lawannya. Irvan paling tidak terima dengan keputusan Bovak. Asna baru hari ini berada di GWM 25 Samarinda.
“Tidak masalah!” ucap Asna. Semua yang hadir terdiam mendengar ucapannya. “Aku memang ikut campur pada perjudian Irvan. Jadi Aku akan bertanggungjawab. Oleh karena lawanku adalah kakak senior, Aku tidak akan memberikannya pukulan. Aku hanya minta batas waktu untuk bertahan! Bagaimana Kak Haris?”
“Tidak bisa seperti itu!” tolak Bovak dengan wajah sok ganteng.
Pak Haris tiba-tiba memukul kepala Bovak. Ia termasuk orang yang akan merasa kesal melihat wajah sok ganteng Bovak. “Aku beri waktu lima menit untuk Asna. Mau dia bertahan atau menyerang terserah!”
“Hah?! Itu terlalu lama, Kakak!” seru Irvan.
Bovak menyahut, “Aku hanya perlu waktu 10 detik untuk menghancurkan bedebah ini! Lihatlah!”
Tiba-tiba Bovak sudah berada di depan Asna. Sebuah pukulan dihindari Asna dengan mudah. Ia lalu berlari memasuki kerumunan. “Kata Iyan, Bovak pernah mengalahkannya dalam waktu kurang dari satu menit. Waktu 10 detik yang dikatakan Bovak bukanlah isapan jempol! Aku harus menghindar!” seru Asna membatin.
Para siswa lain yang menyaksikan gaya pengecut Asna tertawa terbahak-bahak. Mereka menilai Asna itu cerdas dengan tidak meladeni Bovak.
“Dasar banci!” seru Bovak yang terus mengejar Asna yang berlari di antara kerumunan. Tiba-tiba seorang siswa yang keibuan merasa tersinggung dengan kata-kata “banci” yang dikatakan Bovak. Siswa itu menghalangi Bovak seraya berkata, “Kau bilang apa tadi?”
“Maksudku dia, bukan Kau!” ujar Bovak sembari menunjuk ke arah Asna. Siswa Keibuan mengayunkan tinju ke arah Bovak. Beruntung Bovak dapat menghindar dan berlari mengejar Asna.
Aksi kejar-kejaran segitiga terjadi. Bovak mengejar Asna dan siswa keibuan mengejar Bovak. Gelak tawa semakin santer terdengar.
Baru dua menit aksi ini dipertontonkan, Pak Haris langsung menghajar Bovak. “Ada apa ini, Kak?!” bentak Bovak. Pak Haris membalas, “Waktunya sudah habis!”
“Ini belum lima menit, pak!” Bovak tentu saja protes karena menurut perjanjian Ia punya waktu lima menit untuk menghajar Asna.
“Kau tidak terima?!” teriak Pak Haris. Ia lalu memandang para siswa lain. “Kambali ke tradisi awal. Selesaikan secara adat!”
Teriakan para siswa menggema. Puluhan orang langsung menerjang Bovak. Inilah adat di GWM!
Setiap masalah yang hendak diselesaikan dengan otot, selesaikan dulu. Siapapun boleh ikut campur sebagai pelajaran bagi mereka semua. Selama tidak saling membunuh, adat ini merupakan pelajaran bertarung sesungguhnya. Mereka dapat mengambil keuntungan peningkatan status pertarungan secara bersama-sama. Biasanya yang paling banyak digebuk akan mendapatkan penambahan poin yang cukup signifikan.
Mereka yang menghajar Bovak rupanya memiliki berbagai motiv. Sebagaimana wawancara yang dilakukan Asna menggunakan pelantang sepatu sekolah kepada Irvan. “Apa alasan Anda menghajar Bovak?”
“Saya suka sama Dinia! Tapi si doi lebih memilih ingus di atas kotoran ayam ini! Tentu Aku akan menghajarnya!” jawab Irvan.
“Kau, kan, sudah punya pacar?” sahut Asna.
Irvan menggaruk kepalanya sambil tersenyum seraya menjawab, “Yah, siapa sih yang tidak mengidolakan Dinia? Hehehe…”
Asna mewawancarai siswa keibuan dengan pertanyaan yang sama. Siswa keibuan menjawab, “Diana udah jahara sama Akika! Akika benci! Benci! Benciii…!!!”
Wawancara terakhir Asna tertuju pada siswi kuat berwajah besar yang sedang memukul Bovak dengan membabi buta. “Kau begitu bersemangat menghajar Bovak. Apa motivasi Anda?” tanya Asna. Sambil memukul, siswi itu menjawab, “Perkenalkan dulu, nama saya Timpakul! Saya punya hobi ikut-ikutan orang banyak. Di mana ada kegaduhan, di situ ada saya!”
Asna lalu berbalik menghadap Pak Haris. “Saya Asna Hamran melaporkan dari lokasi kejadian. Selamat siang!” tutup Asna.
“Jangan berlagak bodoh! Sana, pergi farming!” titah Pak Haris sembari meninju kepala Asna. Asna pun pergi ke tepi hutan untuk melakukan peningkatan status pertarungan.
-------------------------------
Pada pukul lima sore siswa-siswa yang juga anggota GWM berkumpul dalam tenda.
Sekarang sudah waktunya mereka kembali ke sekolah dan pulang ke rumah.
Mereka biasa melakukan ini untuk menghindari kecurigaan warga sekolah yang tidak memiliki pengetahuan virtual.
Memang hanya segelintir orang yang tau kalau GWM telah menjadi basis untuk mengumpulkan siswa yang juga pejuang virtual.
***
__ADS_1