Pejuang Virtual

Pejuang Virtual
Ch. 7 Diancam Datu Busu-Naik Satu Poin


__ADS_3

Sambil meletakkan santapan siang dan beberapa obat, Perawat itu berkata, “Suamiku, siang ini Kau sudah bisa pulang. Tekanan darahmu sudah normal. Tapi Kau harus menjaga pola makan setelah ini.”


Bibir Asna bergetar saat mendengar perkataan si perawat. “Suamiku?! Apa Aku tidak salah dengar...?”


“Kau tidak salah dengar!” Datu Busu seketika mengomentari ekspresi Asna yang terlihat terkejut. Ia lalu menjelaskan, “Si Cantik ini istriku yang ketujuh belas. Kau jangan berani-berani berpikir mesum tentangnya!”


Asna heran dengan kejadian ini. Padahal Datu Busu tidak ganteng di usia tua. Membayangkannya saat masih muda, wajah Datu Busu masih kalah dengan dirinya. Asna tambah pusing saat Datu menjelaskan kalau istrinya ini adalah hasil pertarungan dirinya dengan aktor terbaik nasional sekaligus Pejuang Virtual, Reja Rahasian.


Datu Busu menjelaskan lebih jauh, “Kau harus tau, kelebihan orang yang memiliki kekuatan salah satunya adalah digandrungi gadis-gadis cantik. Ganteng itu relatif, keren itu harus dan kekuatan itu utama. Pejuang Virtual paling dekat dengan sumber kekuatan. Jadi sangat mudah mendekati para gadis.”


Asna terpengaruh dengan pernyataan Datu Busu. “Ganteng itu relatif, keren itu harus dan kekuatan itu utama. Aku cukup bersyukur dengan tampang kurang ganteng. Keren itu bisa diolah. Kekuatan... Pejuang Virtual paling dekat dengan sumber kekuatan.”


Asna sebenarnya tertarik untuk meningkatkan kekuatan. Hanya saja total status pertarungannya tidak bisa beranjak dari angka 15 poin. Bahkan setelah tiga bulan berlatih ekstra keras. Baginya mendapat satu gadis cantik sebagai tambatan hatinya sudah cukup. Tidak perlu memiliki kekuatan yang terlalu tinggi. Sekedar kekuatan yang cukup untuk mendapatkan cukup satu gadis cantik.


Menjadi terkuat di dunia sangat sulit menurut Asna. Jadi Asna bertekad untuk menjadi Pejuang Virtual terkeren di jagad raya. Setidaknya menjadi keren lebih mungkin dibanding menjadi yang terkuat.


Tapi menurut Datu Busu, kekuatan yang cukup hanya akan mendapatkan gadis yang kecantikannya secukupnya juga. Itu pun Asna harus bersaing dengan orang yang memiliki kekuatan yang melebihi dirinya.


Secara teori, semakin kuat seseorang, semakin besar kemungkinan mendapat tambatan hati nan cantik jelita. Terlebih menjadi Pejuang Virtual terhebat di dunia. Hadiahnya adalah gadis tercantik sedunia juga tentunya. Asna jadi teringat Boneka Biosilk yang hilang begitu saja dari genggamannya. Dengan boneka itu Asna yakin dapat menjadi manusia super. Gadis-gadis akan mengelu-elukan namanya. Datu Busu menggelengkan kepala. Ia tidak pernah bertemu remaja yang hanya mementingkan nafsunya daripada dirinya sendiri.


Perawat yang juga istri Datu Busu pergi meninggalkan ruangan. Pada periode itu Datu Busu terus menatap istrinya hingga benar-benar telah pergi.


Selang beberapa menit, Iyan datang bersama ayahnya dan seorang perawat lain. Dengan lirih, Iyan menegur Asna, “Na… Kau…”


“Aku baik-baik saja. Cuma tangan, kok.” Asna tersenyum lebar. Seolah Ia baik-baik saja.


Ayah Iyan, Rizal Handoko, mendekati Asna. “Kau sudah bisa pulang. Tapi sebelumnya, jawablah pertanyaanku dengan jujur. Kenapa kalian bisa pingsan di belakang sekolah?”


Asna tertunduk memikirkan jawaban yang tepat. Tentu saja jawaban yang sama dengan Iyan. Ia paham, orang yang sedang dihadapinya sekarang adalah Rizal, Ayah Iyan yang notebene seorang penyidik di Kepolisian.


Iyan menyahut, “Sudah Ku bilang, Kami berkela…”


“Diam. Aku bertanya pada Asna.” Rizal menoleh ke Iyan tanpa menatapnya. Ia lalu mengawasi wajah Asna. Sesuai dengan keilmuwannya, Rizal dapat mengetahui jika Asna berkata bohong.


Mendapat sedikit informasi dari Iyan bahwasannya mereka berkelahi, Asna mulai menggunakan dua alam pikirnya. Satu pikiran Ia gunakan untuk mencari jawaban. Pikiran kedua Ia gunakan untuk memanipulasi wajah agar terus konsisten dengan perkataan.


“Sebelumnya Aku minta maaf kepada Ayah Iyan. Iyan berkelahi dengan teman sekolah karena sering melindungiku. Kami selalu kalah. Tapi entah mengapa orang itu seperti kesurupan dan memukul Kami sampai seperti ini.” Asna menjelaskan sambil memainkan ekspresi memelas, ekspresi malu, lalu ekspresi bingung.


Rizal mengajukan pernyataan lain dari jawaban Asna. Sesekali diselingi dengan pertanyaan berbeda dengan maksud yang sama, yaitu untuk mengkonfirmasi apa yang menyebabkan mereka masuk rumah sakit. Hampir 15 menit Rizal bertanya, namun jawaban Asna selalu sama dengan nada berbeda. Tentu dengan ekspresinya yang tidak berubah.


Tidak ada lagi yang bisa Rizal tanyakan kepada Asna. Pertanyaan beralih untuk dirinya sendiri. “Jawaban anak ini sangat konsisten. Ini sungguh mencurigakan. Seperti penjahat yang berpengalaman.”


Setelah tidak mendapat pertanyaan lagi, Asna memandang ke sekeliling. Datu Busu tiba-tiba hilang. Asna bertanya kepada perawat siapa kakek yang ada di ranjang sebelahnya. Perawat itu menerangkan kalau kakek itu sudah meninggal tadi malam. Asna kaget bukan kepalang.


Tak disangka Datu Busu lewat membawa setoples kacang. Asna menunjuk Datu Busu. Perawat bilang Datu Busu itu di ranjang seberang Asna. Bukan di ranjang yang ditunjuk olehnya.


Datu Busu berkenalan dengan Iyan dan Ayahnya. Sesudah itu Ayah Iyan mengajak Asna pulang ke rumahnya. Asna setuju saja. Tapi tidak untuk sekarang. Sebab Ia harus pamit dulu dengan Datu Busu karena telah bekerja di Kedai Kopi.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Asna memperhatikan Datu Busu yang sedang membereskan pakaiannya. “Kenapa Datu tidak ada yang menemani pulang? Katanya punya istri banyak. Seharusnya juga punya anak banyak.”


“Kau tidak akan mengerti walau Ku jelaskan. Sebelum mereka datang, Kau ikut Aku ke kedai. Bawa barang-barang ini!” Datu memberikan satu ransel, dua dus biscuit dan satu kresek makanan kepada Asna. “Sebanyak ini? Aku hanya punya satu tangan saat ini!” protes Asna.


Datu Busu meraih tangan kiri Asna. Dengan satu tarikan, tangan Asna tidak lagi terkilir. Akhirnya Asna terpaksa mengangkat semua barang Datu Busu karena tidak ingin dibunuh.


Setelah menempuh jarak 2 kilo meter dengan berjalan kaki, Datu Busu dan Asna tiba di kedai kopi yang dimaksud. Kedai kopi Datu Busu adalah sebuah gubuk yang dibangun di antara bangunan megah, kompleks perkantoran M. Yamin. Kondisi kedai kopi ini tampak semerawut. Pantas tidak ada pengunjung yang datang. Asna hampir berpikiran buruk tentang tempat ini, tapi urung Ia lakukan karena tau kalau Datu Busu bisa marah.


Datu Busu tertawa. “Hahaha… Kau ini. Aku suka sikapmu itu.” Asna merasa tidak nyaman dengan tawa Datu Busu saat ini.


Usai tertawa, wajah Datu Busu berubah serius. “Ada yang ingin Ku ajarkan kepadamu. Sebuah teknik yang jarang dimiliki Pejuang Virtual… Kalau Kau tidak mau, Aku akan membunuhmu sekarang.”


“Aku pasti setuju kalau diancam. Ajarkanlah, Datu…” sahut Asna. Ia belum selesai dengan ancaman Iyan, ancaman lain kembali datang. Tapi bagi Asna ancaman ini terkesan aneh. Buat apa Datu Busu mengajarkan suatu teknik langka dengan ancaman.


Tanpa basa-basi Datu Busu memerintahkan Asna untuk menyelami ranah pikiran miliknya. Mengenal wadah pikiran yang disebut roh. Saat Datu Busu menyebut istilah roh, Asna yang sebelumnya mengetahui sepenggal pemahaman tentang roh tidak mengalami kesulitan mengikuti arahan berikutnya. Bagi Asna, hanya ada satu kunci dari penjelasan teknik yang diajarkan Datu Busu. Jiwa dalam bagian raga.


“Sekarang coba kau rasakan benda ini… simpanlah.” Datu Busu memberikan tas dari anyaman bambu, sebuah item yang dibuat ahli virtual tingkat tinggi, [Virtualspace Anjat].

__ADS_1


Asna menerima item tersebut dan mulai merasakan dan menyimpannya dalam ranah pikiran. [Virtualspace Anjat] sedikit memudar. Di saat yang bersamaan bayangan [B-Shock] muncul dalam benaknya. “Kalau Kau bisa menyimpannya di dalam ranah pikiranmu, Aku akan memberikannya kepadamu,” tantang Datu Busu.


“Apa kelebihan benda ini?” tanya Asna. Datu Busu mengangguk, paham dengan maksud Asna. Sebagai sesama manusia yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, Datu Busu bisa menangkap kelebihan yang dirahasiakan Asna. Begitupun dengan Asna. Ia paham maksud Datu Busu yang ingin menukar suatu benda dengan rahasianya. Asna jelas ingin menilai benda yang hendak diberikan Datu Busu, sepadankah dengan nilai rahasia miliknya?


Datu Busu lagi-lagi tertawa. Ia menjadi semakin tertarik dengan Asna. “Sederhananya, Kau bisa membawa berbagai macam benda sebanyak satu tongkang batu bara hanya dengan tas itu,” terang Datu Busu.


Asna tersenyum polos. Berdasarkan penilaiannya, tas itu memang sangat pantas untuk ditukar dengan rahasianya yang saat ini tersimpan rapi. Bahkan akan banyak pejuang virtual hebat yang akan merebut item itu. Menyimpan benda itu di ranah pikiran adalah cara yang tepat. Namun, yang masih membuat Asna penasaran, rahasia mana yang Datu Busu inginkan.


“Akan saya coba lagi Datu…” Asna kemudian mengelus [Virtualspace Anjat] dengan seksama. Saat item itu memudar, bayangan [B-Shock] kembali muncul. Shock sepeda motor itu seolah sudah mengisi ranah pikiran Asna. “Sepertinya Aku tidak bisa menyimpannya.” Asna lalu mengembalikan [Virtualspace Anjat].


“Kau tidak akan bisa menyimpannya kalau tidak mengeluarkan benda yang tersimpan di benakmu. Baliklah tahap menyimpan, maka benda yang ada di pikiranmu akan keluar,” sahut Datu Busu.


Sekarang Asna mengerti kalau rahasia yang ingin diketahui Datu Busu adalah benda yang saat ini tersimpan di ranah pikiran Asna. Bahkan Ia dapat bonus cara mengeluarkan benda. Hanya saja, yang Asna bingungkan saat ini adalah keberadaan [B-Shock]. Sejak kapan benda ini ada di dalam ranah pikirannya.


Saran Datu Busu diikuti Asna. Benar saja, [B-Shock] seketika muncul. Melihat tangan Datu Busu hendak mengambil kembali [Virtualspace Anjat], Asna bergegas menyimpan tas itu.


Datu Busu tertawa nyaring. “Hahaha… Kau tau kalau Aku berbohong. Simpanlah. Aku sudah ada yang lebih bagus.”


“Terima kasih, Datu,” ucap Asna sopan. Ia lalu memberikan [B-Shock] kepada Datu. “Kalau boleh Aku bertanya, kenapa benda ini bisa ada di ranah pikiranku?” tanya Asna.


Datu Busu mengelus [B-Shock]. Sejurus kemudian Ia melemparnya dengan sekuat tenaga!


Tentu saja Asna kaget.


“Tenang saja. Sekarang Aku yang balik bertanya. Di mana Kau menemukan benda itu?” tanya Datu Busu.


“Benda yang tadi Datu lempar Ku temukan di belakang sekolah. Saat Aku berkelahi dengan seseorang,” sahut Asna.


“Benda ini,” ujar Datu sambil menunjuk [B-Shock] yang secara ajaib sudah ada di tangan Asna. “Bukanlah benda sembarangan. Ini besi spesial. Ada entitas di dalamnya yang sudah membentuk suatu ikatan denganmu.”


“Bagaimana bisa kembali?!” Asna kaget. Beberapa detik kemudian Ia lalu melanjutkan, “Memang saat Aku menemukan ini, ada sosok…” belum sempat Asna memberikan informasi secara utuh, Datu Busu langsung menyela. “Cukup. Yang seperti ini cukup Kau yang tau! Kalau Kau menceritakan kepadaku, Aku akan membunuhmu!”


Bangga dengan Asna, Datu Busu menepuk pundak Asna hingga terkapar di lantai.


“Sejujurnya Aku belum ada niat membuka kedai kopi. Oleh karena Kau masih sekolah, sementara waktu Kau tidak perlu bekerja untukku. Tapi tentu saja utangmu menjadi… satu trilliyun!” lanjut Datu Busu.


Pastinya Asna langsung protes “Kenapa bisa begitu?!”


“Ampun, Datu… Jangan bunuh Aku…!” Asna mengemis minta ampun.


--------------------------------------


Setelah bertemu Datu Busu, Asna mulai memperdalam ilmu kebatinan dengan banyak membaca kitab-kitab kuno. Hanya ini satu-satunya cara agar Ia dapat melebihi kemampuan pejuang virtual lain. Di samping mengharapkan takdir untuk kembali bertemu Tuwill si Boneka Biosilk. Dengan adanya Tuwill, Asna bisa menjadi super hero yang tentu akan membuatnya lebih dekat dengan gadis-gadis cantik.


Dua hari sebelum Upacara Kenaikan Tingkat GWM…


Rupanya terlalu banyak waktu terbuang untuk latihan, mengikuti tes serikat, dipukuli Neti dan bermain game mobile. Waktu paling berfaedah untuk Iyan dan Asna adalah saat mereka belajar dan mengerjakan tugas sekolah.


Satu hal yang paling disesalkan Asna di hari-harinya ini adalah kemampuan [Membelah Roh Meninggalkan Raga]. Kemampuan ini tidak berguna saat mengintip gadis-gadis mandi atau berganti pakaian. Berulang kali Asna mencoba, selalu saja gagal. Jangankan bisa mengintip, berniat untuk mengintip saja membuat jiwa Asna tidak dapat terbagi. Kemampuan ini rupanya akan rusak saat penggunanya tidak dapat mengendalikan libido.


Pada akhirnya Asna menggunakan keahliannya untuk hal-hal positif. Membaca dari buku bacaan orang lain-karena roh Asna tidak bisa membuka buku, menelusuri keberadaan Tuwill, mengintip perkembangan Rode dalam mengambil warisan, dan bermain judi di dunia virtual. Selama belum dapat status keanggotaan, Asna masih dilarang pergi ke dalam hutan dunia virtual sendirian.


Usai latihan rutin di sore hari, Asna yang sudah mandi menunggu Iyan membuat makan pada pukul 18.00. Ia memanfaatkan waktu itu untuk berpikir sambil memainkan [Broken Ordinary Stone] di antara jari jemarinya. Dua pikiran sedang Ia gunakan. Satu untuk jiwanya yang sedang mengawasi Rode, dan satu lagi berpikir tentang makna kode angka pada dinding yang telah dihancurkan Rode.


Sekilas Asna melihat ada perbedaan status pertarungan yang ia miliki sekarang.


STR 9


VIT 3


INT 1


DEX 1


MEN 2

__ADS_1


Status MEN Asna naik satu poin! Asna kaget dengan peningkatan ini! “Ini pasti karena itu!” pikir Asna. “Yan, statusku naik!” teriaknya. Iyan bergegas mendekat. Sejurus kemudian menyentuh [Broken Ordinary Stone] di telapak tangan Asna. “Naik satu, Na! Kau bisa jadi anggota GWM sekarang!”


“Kau ngotot mengajakku bergabung GWM. Buat apa, sih?” Asna menyipitkan mata, melirik kepada Iyan. Sekonyong-konyong Iyan memukul kepala Asna. “Kebanyakan pejuang virtual saat sekolah ikut GWM, ******! Banyak manfaat yang bisa didapat. Kau sudah lihat selama ini Aku dapat mengeksplorasi dunia virtual di GWM lebih ke dalam hutan. Kalau beruntung, ya, dapat benda berharga dari mengalahkan makhluk virtual. Kayak Rode…”


“Cuman itu…?” Asna meremehkan. Iyan kembali memukul kepala Asna. “Di GWM kita dilatih menjadi pejuang yang memiliki berbagai keterampilan. Selain bertarung, kita diberi pengetahuan tentang navigasi darat, tanda jejak, sandi-sandi, pioneering dan banyak hal berguna lain…”


Asna tertarik dengan satu keterampilan yang disebut Iyan. Ia bergumam, “Sandi-sandi…?”


Mengetahui Asna mulai tertarik, Iyan menjelaskan masalah sandi-sandi. “Iya. Itu sebagian kecil. Kita akan diajarkan sandi-sandi untuk berkomunikasi. Suatu kode rahasia yang hanya anggota GWM yang tau!”


“Ada yang berupa nomor, gak?” tanya Asna. Iyan segera menjawab, “Ada. Sandi angka namanya! Huruf A itu diganti angka 1. Huruf B jadi angka 2. Begitu seterusnya…”


“Sangat sederhana…” Asna bergumam kecil. Suara rendah Asna terdengar Iyan yang kemudian menjelaskan lebih lanjut, “Dasarnya memang sesederhana itu. Tapi bisa lebih kompleks jika dikombinasi dengan sandi lain atau dilakukan suatu variasi… Hmm… Bau gosong!” Iyan bergegas pergi ke dapur untuk melihat olahan masakannya.


Wajah Asna berubah sangat serius saat ditinggalkan Iyan. “Kalau warisan itu diberikan oleh anggota GWM terdahulu, besar kemungkinan kode itu diperuntukkan bagi anggota GWM berikutnya,” ujar Asna dalam hati.


Kode angka yang sempat dicatat Asna itu kini sudah sangat Ia hafal. Yaitu kumpulan angka dengan urutan… 5.2.21/15.18.24.14.1.7.14.1/7.22.17.14.24/15.2.25.18.21/7.22.17.8.5//


15.14.20.22/23.22.10.14/15.18.5.22.24.14.1/1,5/3.14.17.14.1.12.14///


Asna membatin, “Angka-angka ini seperti kode yang bahkan Rode bisa memecahkannya. Dunia virtual yang terhubung dengan sekretariat GWM bisa jadi ada kaitannya dengan GWM.” Ia lalu mulai mengambil pulpen dan kertas. Menulis huruf “A” yang didampingi angka 1 hingga huruf “Z” yang didampingi angka 26. Pesan yang muncul setelah angka diubah menjadi huruf ternyata tidak memiliki makna verbal. Artinya, pesan ini masih begitu kompleks. Seperti yang Iyan katakan, ada kombinasi atau variasi di dalamnya. Asna mulai melihat pola yang ada.


Cukup lama Asna mencari kunci untuk memecahkan sandi itu. Bertanya pada Iyan tentu saja sangat mudah. Tapi akan menimbulkan kecurigaan.


Usai menyantap hidangan gosong yang dimasak Iyan, Asna mulai kembali mencari kunci dari pola yang ada. Berbagai pola baru Ia buat.


Setengah jam kemudian, mata Asna terbelalak saat menemukan pola yang menimbulkan suatu frase yang memiliki makna! Sebelum dirubah menjadi angka, sandi itu ternyata dipertukarkan dulu, antara huruf A sampai M dengan huruf N sampai Z. Proses pemecahan kode tentu saja dengan membalik prosesnya.


 Ada dua kalimat pada kode angka tersebut yang berbunyi: “Roh bekantan tidak boleh tidur. Bagi jiwa berikan setengah padanya.”


Sejauh pengamatan jiwa kedua Asna, selama ini Rode memang terus mengembangkan Roh Bekantan. Tapi Rode tetap manusia biasa yang butuh tidur. Asna tidak menyangka kalau Rode dapat membagi jiwa, memberikan jiwa itu pada Roh Bekantan untuk selalu terjaga. Itu mengindikasikan kalau Rode minimal bisa berpikir pada dua hal sekaligus! Jika Rode menemukan teknik [Membelah Roh Meninggalkan Raga] tentu saja akan sangat berbahaya.


“Sejauh ini, kelemahan teknikku ada pada waktu-waktu Aku harus tidur. Saat Aku tidur, jiwaku yang gentayangan lenyap begitu saja… Ya, malam ini Aku harus lebih mencermati Rode.” Asna beralih mengambil buku pelajaran setelah mengambil keputusan.


-------------------------------


Pukul 23.00 Wita…


Saat Iyan sudah tertidur pulas dan Asna hanya pura-pura tidur, jiwa Asna sedang berada di kamar Rode. Jiwa ini semakin memperhatikan percakapan Rode dengan seseorang yang Dia panggil “Papa” pada gawai berupa Kaca Mata VR.


Jiwa Asna dengan jelas mendengar perkataan sosok yang dipanggil Rode “Papa,”< “Kau memang gila jabatan! Tapi Papa suka itu! Hahaha… Sekarang carilah pengikut baru di sekolahmu.”>


“Siap, Pa. Semoga Papa sehat selalu…” tutup Rode. Ia melepas Kaca Mata VR lalu berbaring di ranjang.


Rode mulai mengatur nafas, tarik-hela dengan ritme tetap. Terus seperti itu sampai Ia tertidur lima menit kemudian. Jiwa Asna memperhatikan dengan seksama ritme nafas Rode yang sangat konsisten. Umumnya di awal-awal tidur, manusia masih dapat mensensasi lingkungan. Artinya, Rode masih memiliki kesadaran untuk menjaga keteraturan nafas.


Tujuh menit telah berlalu. Kala itu ada suara gerakan tikus yang sangat berisik di plafon kamar Rode. Asna mendengarkan dengan seksama suara nafas Rode yang masih sama ritmenya seperti sebelum tidur. Bahkan detak jantung Rode ikut teratur. Lima belas menit berikutnya mulut Rode yang tertutup menganga dengan sendirinya. Rode jelas telah tidur nyenyak. Asna terus memperhatikan ritme nafas Rode yang masih tetap konsisten. Padahal dua jam telah berlalu sejak Rode tertidur.


Di kamar Iyan, Asna yang sudah mulai mengantuk membuat kesimpulan sementara, “Bisa jadi ritme nafas adalah kunci yang membuat sebagian Roh Rode tetap terjaga walau Ia tertidur pulas.” Ia lalu mencoba pendekatan serupa. Menarik dan menghela nafas secara ritmik. Rupanya perlu fokus yang tinggi agar ritme nafas bisa konsisten. Asna pun mulai terlelap.


Jiwa Asna yang sedang berada di rumah Rode mulai berpikir. “Secara teoritis, tidur dapat dikatakan sebagai aktivitas mengistirahatkan jasmani dan rohani. Manusia memasuki beberapa tahapan untuk dapat tidur nyenyak. Tahap pertama tidur-tidur ayam. Pada tahap ini manusia berada antara sadar dan tidak sadar. Saat detak jantung dan pernafasan mulai melambat dan menjadi teratur, manusia memasuki fase transisi antara tidur ayam menuju tidur nyenyak.


“Secara perlahan otak mulai untuk tidak merespon rangsangan yang diterima alat-alat sensori. Konsentrasi harusnya mulai hilang saat ini. Ketika fokus menghilang, nafas mulai tidak teratur. Artinya, teknik menjaga roh agar tetap sadar gagal. Fase ini adalah fase paling krusial. Sehingga dibutuhkan latihan tekad yang kuat.


“Rode yang berhasil melakukan teknik ini bisa jadi dikarenakan Roh Bekantan membantunya untuk menguatkan tekad. Saat fase krusial terlewati, tubuh akan terbiasa dengan ritme nafas yang akan terus konsisten hingga nanti terbangun dari tidur nyenyak. Bahkan saat bermimpi sekalipun. Kalau jiwaku yang sekarang masih sadar, berarti Aku sudah melewati fase krusial dari teknik ini. Dengan kata lain, saat ini Aku berhasil!”


Jiwa Asna berputar-putar kegirangan di kamar Rode. Akhirnya Asna berhasil menjaga kesadaran jiwanya yang terpisah. Pengalaman jiwa Asna ini seperti mimpi. Saat Ia mengistirahatkan otak dan tubuh, jiwanya berkeliaran di dalam ruang dan waktu nyata.


Asna mencoba untuk bangun dari tidur. Cukup dengan menguatkan tekad jiwa yang masih sadar untuk bangun, Asna sudah bisa terbangun dari tidur. “Hehehe… Sekarang Aku coba melakukan itu!”


Asna kemudian mengulang tahap mengatur nafas. Lima menit berlalu dengan sangat lambat. Rasa kesal menyelimuti Asna. Ia benar-benar tiada lagi mengantuk! “Ancriiit! Kantukku hilang. Bagaimana bisa tidur?!” kutuk Asna.


Di balik rasa kesal yang menghinggapi, ada rasa syukur di hati Asna kepada Tuhan karena telah mempertemukannya dengan Datu Busu. Walau tertekan dengan penuh ancaman, Datu Busu sudah memberikannya petunjuk saat menemui jalur buntu.


“Saat ini antara Aku dan Datu Busu seperti ada ikatan saling membutuhkan. Aku merasa sangat membutuhkan Datu Busu sebagai pengganti orang tuaku. Sedangkan Datu Busu memiliki motiv tertentu dengan kemampuanku. Entah apa motivnya?” pikir Asna. Tidak dapat tidur, Asna memilih untuk membuka buku pelajaran dan memikirkan makna di dinding ruang warisan rahasia sekaligus.

__ADS_1


***


__ADS_2