
Tepat pada pukul 6 sore, anggota GWM pulang ke rumahnya masing-masing. Kala itu Iyan memaksa Asna ikut pulang ke rumahnya. Asna tentu saja menurut karena Iyan lagi-lagi memperlihatkan gawai miliknya.
Sesampainya Asna di rumah Iyan, Asna tersenyum sendirian. Kali ini tanpa diketahui Iyan. Senyum Asna mengisyaratkan bahwa jiwanya sedang mendapatkan sesuatu yang sangat berharga. Terlebih Ia berhasil mempercundangi Bovak.
Jiwa Asna telah sampai pada warisan terakhir yang ingin didapatkan Rode. Lokasi terakhir berupa ruangan seluas 100 meter persegi yang dipenuhi tanaman seperti dandelion yang mengeluarkan cahaya.
Asna memandang tulang belulang seorang pendekar yang juga pejuang virtual yang masih terduduk kokoh di atas sebuah batu. Seseorang yang memberi penghormatan terakhir pada jasad ini akan menjadikan dirinya sebagai ahli waris.
Warisan sepuluh ribu poin status pertarungan dan satu set equipment legenda!
Bayangkan, dengan berlatih keras, seorang pejuang virtual normalnya dapat meningkatkan status pertarungannya sebesar 10 poin dalam satu bulan. Bila dikalkulasikan satu tahun bisa mendapat 120 poin. Untuk mencapai 10.000 poin, seorang pejuang virtual setidaknya perlu waktu 83 tahun!
Dengan mendapatkan warisan ini, seorang calon ahli waris hanya perlu menjalani ujian selama kurang lebih satu setengah tahun. Selain itu ada bonus satu set equipment legenda. Warisan yang sangat menggiurkan!
Ada tiga tahap yang harus dilalui seorang calon ahli waris untuk mendapatkan warisan. Tahap pertama mengalahkan Bekantan Rambut Biasa. Tahap kedua mengambil item [Buntat Lipan]. Tahap ketiga mengalahkan lima roh master judi dalam permainan poker. Setelahnya, barulah ahli waris berhak mendapatkan warisan.
Sekarang ini Rode telah berhasil menyelesaikan tahap pertama penerimaan warisan, bersekutu dengan makhluk virtual Bekantan Rambut Biasa.
Untuk dapat mengambil warisan, Rode harus mengevolusi Bekantan Rambut Biasa menjadi Silverhair Bekantan.
Itu butuh waktu setidaknya satu tahun karena sebelum menjadi Silverhair Bekantan, Bekantan Rambut Biasa harus berevolusi dulu menjadi Bronzehair Bekantan.
Setelah mendapatkan [Buntat Lipan] tanpa membunuh Kelabang Merah Raksasa, Rode harus mendapatkan koin virtual sebanyak-banyaknya untuk memenangkan permainan poker dengan lima roh master judi. Kehabisan koin dapat menjadikan nyawa sebagai taruhan.
Semakin besar nilai warisan, semakin sulit pula ujiannya. Tingkat kesulitan daripada ujian itu tentu saja untuk menemukan calon ahli waris yang pantas menerimanya.
Asna telah memahami tahapan untuk menerima warisan. Tapi status pertarungannya saat ini tidak sepadan dengan Rode dalam upaya merebut status ahli waris. Terlebih rohnya saat ini hanya bisa jadi penonton.
Artinya, bukan warisan yang membuatnya tersenyum. Melainkan catatan kuno yang tertulis di dinding-dinding ruangan.
Huruf dan bahasa yang digunakan pada catatan ini berasal dari generasi ketiga kerajaan yang berkuasa di Kalimantan Timur saat itu, Kartaraja. Kerajaan yang mencapai puncak kejayaan sekitar 1200 tahun silam.
Dengan pengetahuan Ayahnya, Asna dapat membaca catatan-catatan itu. Pun dapat dipastikan Rode tidak dapat membacanya. Poin tambahan yang membuat Asna lebih tersenyum.
Catatan ini berisi tentang kemampuan alam berpikir manusia yang dapat menembus alam bawah sadar. Terobosan ini akan menyebabkan manusia memasuki alam berpikir yang benar-benar baru. Alam tanpa huruf, tanpa simbol, dan tanpa makna…
Di rumah Iyan, Asna mulai mencatat apa yang jiwanya lihat di ruang warisan rahasia. Mempelajari catatan ini akan membuat pengetahuannya bertambah. Tidak menutup kemungkinan akan berguna untuk menjadi pejuang virtual yang keren. Motivasi Asna cukup mejadi pria yang paling keren. Paling hebat itu cuma bonus.
Berulang kali Iyan mengintip aktivitas Asna mencatat. Berulang kali pula Asna berpindah tempat. Usai mencatat, Asna lalu menceritakan isi catatan yang Ia buat. Ternyata hanya menu latihan menjadi Pejuang Virtual versi Asna. Tentu saja catatan itu hanya akal-akalan Asna untuk menutupi catatan rahasia yang sebenarnya.
Malam minggu berlalu dengan permainan game mobile genre MOBA. Usai bermain game, Asna tertidur pulas. Semua pikirannya diistirahatkan. Jiwa Asna yang sebelumnya berada di ruang rahasia warisan pun menghilang. Kembali kepada batang tubuh Asna.
--------------------------------------------
Pada pagi hari Minggu, di sebuah rumah ulin mewah, Bovak sedang merebahkan kepalanya di pangkuan seorang nenek. Sosok orang tua yang cukup terkemuka di Kota Samarinda, Nini Seke.
Kata “seke” dalam budaya bahasa salah satu suku di Kalimantan berarti “pelit” bin medit. Gelar yang didapat nenek Bovak itu merujuk pada skill proteksi level maksimal yang Ia miliki sebagai pejuang virtual tua.
Proteksi dalam segala hal yang dimilikinya.
Sulit mendapatkan sesuatu dari Nini Seke. Bahkan sekedar senyuman munafik tidak akan Ia berikan kepada orang lain.
Dengan wajah ganteng yang dipaksakan, Bovak berkeluh kesah kepada Nini Seke. “Bovak tidak pernah diperlakukan orang kayak gini, Ni. Kalau menggitukan orang lain pernah. Pokoknya, Nini harus membantu Bovak membalas rasa malu ini.”
“Kau harus sabar menjalani adat yang ada di tempat itu. Sudah Nini katakan semua ini adalah batu loncatanmu untuk menjadi pejuang virtual hebat dan melanjutkan bisnis Nini…” sahut Nini Seke yang penuh kasih sayang.
Bovak menatap wajah Nini Seke menggunakan mata berairnya. Tampang Bovak kala ini seperti penjahat yang meminta air susu kepada seorang ibu yang tidak Ia kenal. “Nini… Selama ini Bovak sudah sangat bersabar. Tapi Nini pun bakal tidak akan sabar kalau barang Nini diambil begitu saja!” keluh Bovak.
Wajah Nini Seke berubah beringas mendengar keluhan Bovak. “Apa?! Berani sekali mereka mengambil sesuatu dari cucuku yang paling ganteng!”
“Makanya, bantu Bovak membalas rasa malu,” pinta Bovak. Nini Seke kemudian mengelus kepala berminyak Bovak. Sangat berminyak hingga membentuk sebatang margarine. “Apa yang Bovak mau? Katakanlah…”
Kembali Bovak menatap wajah Nini Seke. Kali ini dengan wajah penuh harap. Mendapat balasan tatapan kasih sayang dari Nini Seke, Bovak memberikan kode garis di lehernya menggunakan kuku jempol…
-----------------------------
Kala Bovak membuat sebuah rencana dengan Nini Seke, Iyan mengajak Asna melatih fisik dengan berlari mendaki gunung.
Mereka terus berlatih hingga jam makan siang.
Usai rehat tidur siang, lLatihan berlanjut pada sore hari dengan melakukan push up dan sit up.
Terlihat ada beban di kaki dan pundak Asna yang ditujukan agar otot-otot Asna menjadi kuat. Otot yang kuat akan menaikkan status kekuatan Asna. Status yang berdampak secara signifikan pada daya serang dan sedikit berdampak pada daya tahan.
Secara rutin Asna dan Iyan memeriksa status pertarungannya dengan [Broken Ordinary Stone].
Status pertarungan Iyan…
STR 51
VIT 37
INT 15
DEX 20
MEN 20
Sedangkan status pertarungan Asna…
STR 9
VIT 3
INT 1
DEX 1
MEN 1
Ada kenaikan status peraturan pada diri Iyan. Tapi tidak dengan Asna. Iyan mencoba meningkatkan semangat Asna. “Kau jangan terlalu risau. Baru hari pertama. Kita harus terus berlatih secara rutin. Tokoh utama dalam anime biasanya seperti dirimu, kan? Hahaha…”
-------------------------------------
Keesokan harinya, pasca Upacara Bendera Hari Senin, Asna yang berjalan bersama Iyan dan Irvan mendapati Dinia yang tidak mau didekati Bovak. Mereka segera bersembunyi untuk tertawa sejadi-jadinya.
Tawa ini kembali berlanjut setelah mereka melihat Dinia tampak cemberut di dalam kelas. Dinia tidak tahan untuk mengomentari perilaku trio tak jelas itu. “Apa yang kalian tertawakan? Jangan-jangan…”
“Betul sekali!” sahut Irvan. “Sabtu sore Kami melihat Bovak dipukuli anak buah mafia judi. Sepertinya Ia ada utang! Hahaha…”
__ADS_1
“Benarkah?” Dinia terlihat tertarik.
Dengan gaya tubuh terbaring di meja Dinia, Asna ikut membual, “Untungnya Aku datang melolong… eh, menolong. Kalau tidak, Bovak pasti tewas, sayang…”
Dinia langsung melompat ke atas kursi saat melihat Asna yang tak ubahnya seperti ular kekenyangan. “Iiihh… Jijay! Sesama orang jelek memang wajib tolong menolong!” seru Dinia sembari menyemprotkan parfum yang Ia kira desinfektan ke arah Asna.
“Terus, kenapa kemarin Kau mau sama Bovak?” sindir Iyan.
Sambil menceleng ke arah pintu, Dinia menjawab, “Itu… sih, karena…” Dinia kesulitan menjawab pertanyaan Iyan karena Pak Haris sudah masuk kelas.
Mengetahui kehadiran Pak Haris, Iyan gelagapan kembali ke tempat duduk. Sedangkan Irvan bergegas menuju kelasnya.
Adapun Asna…
Ia masih berbaring di atas meja Dinia.
Sebuah tinju mendarat di perut Asna. Air liurnya sampai menyembur ke wajah Pak Haris. “Asna! Lari 25 kali keliling lapangan!” bentak Pak Haris.
“Siap, Dan!” Asna segera pergi keluar kelas.
Baru satu putaran Asna berlari keliling lapangan, tiga orang preman muncul dari tembok belakang sekolah.
Awalnya Asna tidak peduli. Akan tetapi tiga orang ini bergerak sangat cepat sambil menatap tajam ke arahnya. Tentu saja Asna memilih untuk menepi.
Tak disangka Bovak langsung menendang perut Asna sampai tersungkur di pinggir lapangan. “Cepat bawa! Sebelum ada yang melihat!” seru Bovak. Tiga orang preman suruhan Bovak segera membawa Asna ke tembok.
Neti dan Agustin yang kebetulan lewat, terkejut dengan keberadaan preman yang menggendong Asna. “Asna?! Hei, Kalian!!!” teriak Neti. Agustin ikut berseru, “Panggil Pak Haris, Net!”
Dengan penuh keberanian, Agustin mengejar tiga preman yang membawa Asna. Saat ini Asna sudah digendong ke atas tembok. Seorang preman menghalangi Agustin yang melakukan perlawanan. Pertarungan antara preman dan Agustin terjadi.
Asna yang masih merasakan sakit di perut masih dapat menyaksikan pertarungan Agustin yang bukanlah lawan dari preman ini. Memandang lebih jauh, Asna melihat Bovak mengejar Neti. “N-Maks…!” teriak Asna dengan volume minor.
Agustin yang melihat gerak bibir Asna beralih pandang pada Neti. “Neeeet!!!”
Memprihatinkan Neti, Agustin terkena tendangan di bahu.
Tiba-tiba penyerang Agustin terbentur ke tanah dengan kepala penuh darah. Begitupun dengan dua orang yang membawa Asna, tiada angin tiada badai, mereka ikut jatuh tersungkur. Beberapa detik kemudian Bovak yang sedang mengejar Neti terkena tendangan Pak Haris.
“Kau sudah kelewatan, Bovak!” ucap Pak Haris. Ia langsung membawa Bovak pergi.
Pada periode ini sekolah tidak terlalu gempar karena para siswa baru memulai pelajaran.
Lima belas menit berlalu. Tiga preman suruhan Bovak dibawa ke rumah sakit karena mengalami cedera. Sedangkan Asna duduk tersandar di tiang sekolah ditemani Agustin dan Neti. “Siapa yang menghajar mereka?” tanya Agustin kebingungan sambil melirik ke arah Asna. Merasa tidak nyaman, dengan tatapan Agustin, Asna menjawab pendek, “Mana Aku tau!” Hanya tiga kata.
“Kau tidak melihat Aku datang membantu?” ujar Pak Haris yang tiba-tiba muncul di samping Agustin. “Eh, Bapak… Liat, sih, tapi emang secepat itu?” balas Agustin meragu. “Kau memang tidak akan bisa lihat! Bapak ini hebat!” Pak Haris menjawab dengan santai.
Sayup-sayup terdengar teriakan Bovak sekeluarnya Ia dari Ruang BP. “Kenapa Aku diperlakukan seperti ini? Kami sama-sama Pejuang Virtual! Kami punya tradisi sendiri menyelesaikan masalah! Kami yang telah melindungi kalian dari makhluk virtual! kalian dengar itu?!”
Sambil mengelus dahi, Pak Haris berkomentar, “Astaga, Bovak! Begini jadinya kalau kalian tidak bisa dewasa!” Segera Pak Haris mendatangi Bovak.
Neti dan Agustin mendengar dengan jelas perkataan Bovak. Tapi maksud dari perkataan itu tidak mereka ketahui. “Bovak dah stress?” Agustin tertegun melihat perilaku Bovak yang kekanak-kanakan.
Seketika Neti memukul kepala Asna. “Awww…! N-Maks!” seru Asna yang merintih kesakitan. “Ada urusan apa Kau dengan orang itu?!” tegur Neti.
Asna membalas dengan ketus, “Itu urus… urusan macam-macam, N-Maks! Kau seperti pacarku saja! Emang Kau…” Pukulan Neti menghentikan omelan Asna. “Kau jangan sembarangan! Kau memang terobsesi jadi pacarku!”
Asna kembali membalas, “Apa?! Kau pikir Aku…”
“Aku memang seperti itu dengan semua gadis! Kau saja yang terbawa perasaan!” sahut Asna.
“Ya, memang Kau pria murahan yang suka semua gadis! Aku, sih, biasa aja!”
“Ini yang Aku tidak suka darimu!”
“Aku juga tidak suka!”
Perdebatan Asna dan Neti berlanjut sampai jam pelajaran pertama usai. Merekapun bubar dengan sendirinya.
----------------------------------
Pada jam-jam di luar sekolah, Asna dan Iyan selalu melatih diri. Berlatih fisik pada pagi dan sore hari. Melatih pikiran untuk meningkatkan Intelijensia pada malam hari.
Di sela-sela latihan fisik, mereka latihan bertarung untuk meningkatkan serangan kritis.
Seminggu sudah dilewati, Asna belum mengalami perubahan status.
Di hari sabtu, mereka mendengar kabar kematian Bovak. Pihak rumah sakit menyebut Bovak mengalami gagal jantung setelah mengkonsumsi minuman berenergi secara berlebihan.
Namun, kabar yang disampaikan oleh Pak Haris kepada anggota GWM berbeda. Bovak disebut mendapat kutukan kematian karena menyampaikan rahasia pengetahuan virtual secara oral kepada Bu Lili dan sebagian siswa lain yang bukan pejuang virtual.
Setelah ditangani Pak Haris, Bu Lili dan siswa-siswa yang mendapat informasi rahasia virtual dari Bovak menjadi paham. Kalau rahasia itu mereka bocorkan, kutukan kematian akan menghampiri mereka juga.
------------------------------
Hari berlalu dengan aktivitas biasa saja dari Asna. Latihan, sekolah dan mengintip perkembangan Rode. Puluhan kali sudah Rode menelpon seseorang yang dipanggil “papa” yang sebenarnya bukan ayah Rode. Topik yang mereka bicarakan melulu soal perekrutan anggota dan rencana menguasai suatu wilayah dunia virtual.
Poin penting lain yang Asna tangkap dari perbincangan Rode adalah memanfaatkan Foggoblin. Yaitu makhluk virtual dalam jumlah tak terkira yang hidup dalam kepekatan kabut. Jika rencana ini berhasil, ada kemungkinan terjadi perang besar.
Asna sebenarnya ingin menceritakan hal ini kepada Pak Haris. Hanya saja Ia tidak punya bukti konkrit.
Sampai pada hari Sabtu berikutnya.
Seperti pada hari Sabtu sebelumnya, Asna menjalani rutinitas farming di tepi hutan. Ia pun menerima ajakan Irvan untuk melakukan eksplorasi sedikit ke dalam.
Usai makan siang, Asna melanjutkan aktivitas menjual benda yang dijatuhkan makhluk virtual untuk mendapatkan koin. Koin virtual kemudian Asna gunakan untuk bermain judi Domino Qiu-Qiu dan Poker.
Dengan menggunakan teknik curang mengintip kartu lawan, Asna menang dengan mudah. Tentu saja mengalah untuk beberapa putaran. Koin virtual yang didapat Asna cukup banyak. Hampir satu juta koin virtual.
Satu hal yang membuat para penjudi lain suka dari Asna. Usai memenangkan banyak koin virtual, Asna mengembalikan dua per tiga koin lawannya sebagai bentuk solidaritas.
Pertemuan kedua Asna di GWM membawa kesan yang lebih mendalam di hati anggota-anggota yang lain. Asna pun menjadi lebih populer di sekolah.
Begitu pula pada minggu-minggu berikutnya.
Mereka terus berlatih dengan keras baik di dunia manusia maupun di dunia virtual memanfaatkan waktu dengan baik.
Iyan mengalami peningkatan status yang cukup signifikan di saat Asna lagi-lagi tiada perubahan.
Padahal semakin hari, waktu pelaksanaan upacara kenaikan tingkat semakin dekat. Berbagai kemungkinan Iyan usulkan. Seperti ledakan kekuatan atau kepemilikan tubuh super.
__ADS_1
Untuk membuktikan Asna memiliki tubuh super, mereka berkelahi dengan teman sekolah dan ikut para senior menyerang sekolah lain untuk tawuran.
Kalau memang super, Asna harusnya dapat meledakkan kemampuannya saat itu. Tapi nyatanya, cuma tubuh Asna yang meledak-ledak. Penuh dengan luka.
Iyan masih bersemangat untuk membantu Asna menaikan status pertarungan, setidaknya naik satu poin. Sambil mengobati lukanya sendiri, Iyan berkata, “Na, di negeri para pendekar Yin dan Yang, ada metode khusus yang membantu seseorang untuk membuka titik meridian. Semacam teknik akupuntur. Bisa jadi selama ini Kau…”
“Kau tidak perlu risau, saudaraku.” Asna menyela pembicaraan Iyan. Ia tidak ingin Iyan terlalu banyak membuang air liur hanya untuk menyampaikan sesuatu yang sulit untuk direalisasikan.
Asna lalu menyampaikan keresahannya. “Situasiku saat ini membuatku berpikir kalau menjadi pejuang virtual tidak melulu soal peningkatan status pertarungan. Aku mengerti itu penting. Tapi ada yang lebih penting.”
“Apa itu?” tanya Iyan.
Asna menjawab, “Akupun belum tau pasti apa itu. Tapi yang jelas, kehidupan pejuang virtual seperti di dalam game multiplayer online. Semua player bisa meningkatkan level dan berlomba menjadi yang terhebat. Sedangkan Aku seperti player yang kena bug, kesalahan sistem yang menyebabkan Aku tidak bisa melakukan peningkatan. Biasanya player yang mengalami hal ini melapor kepada pengembang. Sekarang Aku harus melapor pada siapa?”
“Kita akan melaporkannya pada pakar,” sahut Iyan.
Asna menggeleng tidak setuju. “Aku tidak ingin jadi objek penelitian. Tenang saja. Walaupun Aku tidak bisa meningkatkan status, setidaknya Aku masih tetap menjadi pejuang virtual yang mendukung pejuang lain. Jika kalian adalah player, maka Aku adalah…”
Menunggu kelanjutan perkataan Asna, Iyan tidak sadar menahan nafas. Matanya melebar tanpa berkedip.
“Aku adalah NPC. Non-Player Character yang membantu para player menikmati permainannya…” lanjut Asna.
-------------------------------------
Tiga bulan telah berlalu. Laporan belajar sudah dibagikan. Asna meraih peringkat tiga di kala Iyan mencapai peringkat 24 dari 25 siswa di kelas 10-A.
Pada periode itu, keahlian bermain judi Asna di GWM SMA 25 lebih diakui. Ia lebih banyak menang dari pada kalah. Lebih tepatnya sengaja kalah agar pejuang lain tidak curiga. Saat mendapatkan banyak koin virtual, Ia kembali membagi-bagikannya kepada para pemain lain.
Sejauh ini Ia memang lebih mementingkan hubungan dari pada kekayaan. Hal ini tentu saja membuat Asna, yang notebene masih calon anggota, disukai seluruh anggota GWM SMA 25 Samarinda. Kecuali Rode dan enam anak buahnya yang selalu saja menghina diri Asna.
Memasuki libur sekolah gasal, status Asna masih tidak beranjak dari angka 15 total poin status pertarungan sejak mendapat warisan pengetahuan virtual. Target Iyan untuk menaikan status pertarungan Asna 10 poin setiap bulannya tentu tinggal kenangan.
Seminggu sebelum waktu upacara kenaikan tingkat diselenggarakan GWM SMA 25 Samarinda, Asna masih belum memenuhi syarat terendah keanggotaan. Yakni, total 16 poin status pertarungan untuk mencapai Little Circle. Padahal Asna hanya memerlukan 1 poin peningkatan.
Sedangkan Iyan berhasil mencapai total 169 poin pertarungan. Seperti kata Pak Haris, Iyan memang memiliki bakat menjadi Pejuang Virtual. Tak, heran pada Upacara Kenaikan Tingkat dan Pelantikan Anggota Baru nanti, Iyan akan dilantik menjadi Anggota First Shaf.
Pak Haris dan mayoritas anggota GWM yang lain umumnya menerima Asna menjadi anggota baru walau masih kekurangan 1 poin status pertarungan. Mereka sudah sangat menyukai Asna dengan sikap humble yang ditunjukkannya.
Saat rapat persiapan Upacara Kenaikan Tingkat dan Pengukuhan Anggota Baru, nama Asna masuk ke dalam agenda. Menyangkut Asna, Pak Haris mengungkapkan, “Namanya peraturan, ya, harus kita tegakkan. Tapi ada satu kasus di mana suara terbanyak adalah suara Tuhan. Bapak, sih, setuju saja dengan keputusan kalian.”
Sambil menunjuk Asna yang juga hadir pada rapat, Irvan mengacungkan tangan kiri dan ikut berkomentar, “Kau dengar, Na? Kita sama-sama akan dilantik menjadi anggota baru. Jadi bergembiralah. Walau Kau punya status rendah, Kami semua tidak akan menertawakanmu.”
Irvan kemudian menjepit bibirnya untuk menahan tawa. Status rendah Asna memang sangat memalukan. Pada akhirnya Ia tidak bisa menahan tawa, “Buahhhahaha… sorry, Na! Keceplosan! Hahaha…”
Gelak tawa anggota lain ikut terdengar. Asna tidak mempermasalahkan tawa ini. Toh, Asna tau kalau teman-temannya tersebut hanya menertawakan status pertarungan, bukan pribadinya.
“Hihhihi… Sorry, Na. Aku juga tidak bisa menahan tawa,” ucap Iyan. Ia lalu mengacungkan tangan kiri. “Masih ada waktu seminggu. Aku akan tetap berusaha membantu Asna meningkatkan status pertarungan. Mudah-mudahan dapat satu poin!”
“Amiinnn… Semoga saja! Ayo kita bubar! Irvan, pimpin doa!” tutup Pak Haris.
-------------------------------------
Dua bulan terakhir, ada satu cara yang terus dipaksakan Iyan dalam upaya membantu Asna meningkatkan status pertarungan. Selain berlatih keras, mereka secara rutin mengikuti tes menjadi anggota serikat pejuang virtual untuk mendapatkan warisan status pertarungan.
Serikat pejuang virtual adalah organisasi yang dibentuk Pemerintah Kota Samarinda secara rahasia. Organisasi ini bertugas untuk melakukan pengawasan, pengendalian dan penindakan aktivitas makhluk virtual di dunia manusia atau di dunia virtual.
Tidak terhitung banyaknya pejuang virtual yang telah tewas dalam bertugas. Sehingga serikat pejuang virtual terus merekrut anggota dengan iming-iming warisan dan upah yang tinggi. Warisan dapat berupa equipment, status pertarungan atau skill dari anggota yang telah tewas.
Umumnya, sih, status pertarungan. [Ordinary Stone] yang dibawa pejuang virtual akan berubah menjadi [Zakery Stone] setelah pejuang itu tewas. [Zakery Stone]inilah yang dibutuhkan Iyan untuk membantu Asna meningkatkan status pertarungan dengan hanya menyentuhnya. Tak heran [Zakery Stone] menjadi item rebutan. Cara instan yang butuh pengorbanan.
Puluhan dan bahkan ratusan poin status pertarungan adalah angka yang lumayan. Terlebih jika warisan status pertarungan itu dari pejuang hebat. Banyak pejuang virtual yang tergiur dengan warisan status pertarungan. Tak heran Asna dan Iyan tidak pernah lolos tes pertama hingga 33 kali di serikat pejuang virtual di Kecamatan Samarinda Ilir, tempat Iyan berdomisili.
Serikat itu bernama… --Serikat Burung Kaliyangan--
Lima hari sebelum Upacara Kenaikan Tingkat GWM, Asna dan Iyan memaksakan diri mengikuti tes serikat. Lagi-lagi mereka tak kunjung lulus.
Ingin sekali Iyan mencoba peruntungan di serikat lain. Hanya saja terganjal domisilinya saat ini.
Menurut aturan, pejuang virtual hanya dapat mendaftar pada serikat pejuang virtual sesuai domisili yang tertera di Kartu Keluarga.
Terlalu banyak berlatih dan berpikir membuat Asna tidak sadarkan diri di kelas. Iyan dan beberapa temannya yang lain membawa Asna ke ruang UKS. Di sana juga ada Neti dan Agustin.
Keberadaan Agustin membuat Iyan mematung. Salah gerak atau berkata-kata bisa membuatnya masuk rumah sakit atau minimal berakhir di liang lahat.
“Gus, bagaimana sekarang? Jam pelajaran sudah dimulai…” tanya Neti kepada Agustin. Mereka rupanya anggota Satuan Kesehatan Sekolah. “Yang seperti ini harusnya kita kubur hidup-hidup, Net!” Agustin memberi saran absurd.
Neti ternyata menyetujui saran Agustin. “Ooh… Kita minta tolong Pak Haris menggali lubang untuk Asna, Ya…”
Asna langsung bangkit dari tempat tidur. Ia lalu pura-pura sehat. “Wow, Aku tidak pernah sebaik ini! Kalian liat, kan, Aku baik-baik saja?”
Agustin menunjukkan kepalan tangannya kepada Asna seraya mengancam, “Tinjuk ini bisa mengirimmu ke neraka tanpa dihisab, lho…”
Terintimidasi, Asna kembali berbaring. Tubuhnya bergetar.
Sudah gemetaran, Asna malah mendapat pukulan dari Neti. “Kau jangan terlalu banyak mikir makanya! Bikin repot orang lain saja…” Neti dan Agustin lalu beranjak dari UKS.
Duo penghancur ini memutuskan pergi ke kelas.
Bukan hanya Asna yang gemetaran, Iyan pun demikian. Setelah Agustin pergi, Iyan berbaring di ranjang seberang Asna.
Cukup lama Asna berada di ruang UKS. Bahkan setelah jam pulang sekolah. Saat ini hanya ada Iyan dan Kuntilanak yang menemaninya.
Sayup-sayup terdengar suara orang-orang yang sedang berbincang.
“Kalau benar mereka ada di UKS, Aku akan menghajarnya! Lagi dan lagi!”
“Bos, memang tidak kenal ampun.”
“Tapi jangan sampai mati bos.”
“Hah! Kau pikir Aku bodoh.”
Pintu UKS dibuka secara paksa dari luar hingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga. Rupanya sekelompok siswa mendobrak masuk UKS tanpa salam.
Asna mengenal tujuh orang siswa yang sedang berdiri di muara pintu UKS saat ini. Terlebih bos mereka. Dia...
--Rode-- Bos Genk Sekolah. Lagi-lagi…
***
__ADS_1