Pejuang Virtual

Pejuang Virtual
Ch. 8 Jurit Malam


__ADS_3

Sehari sebelum Upacara Kenaikan Tingkat dan Pelantikan Anggota Baru digelar, para anggota Gerakan Wira Muda berkumpul di dunia virtual. Mereka bersiap untuk melakukan ritual apel pembukaan untuk menyelenggarakan tradisi ujian dari para senior, Jurit Malam.


Pada apel pembukaan, calon anggota yang mayoritas berasal dari siswa kelas 10 dikumpulkan dalam satu barisan dan mengucapkan janji sebagai calon anggota GWM. Janji pertama untuk sang Pencipta, janji kedua untuk Bangsa dan Negara, dan janji ketiga untuk sesama makhluk hidup.


Dengan mengucapkan ketiga janji ini, anggota GWM terikat pada cita-cita luhur untuk membangun masyarakat. Hal ini sejalan dengan profesi mereka sebagai Pejuang Virtual yang tidak lain menjaga masyarakat dari gangguan makhluk virtual.


Acara pembukaan ditutup dengan membaca syair rahasia GWM 25 Samarinda yang berjudul, “Pataka di Medan Perang.” Pembacaan syair rupanya dilakukan oleh Rode.


Siswa yang sempat berseteru dengan Iyan dan Asna ini membawa senjata khas Kalimantan di pinggangnya, Mandau.


Setelah berdiri di tengah lapangan upacara, Rode mulai bersyair…


Pataka di medan perang


Simbol atau hanya sekedar simbol?


Panji membara jiwa


Martabat ibu pertiwi yang bersemayam di dadaku


Pataka itu adalah simbol… dan simbol itu adalah diriku…


atau…


Panji membara jiwa


Martabat ibu pertiwi yang pantas kau pertahankan


Panji itu hanya sebatas simbol… dan dirimu tetaplah dirimu…


Usai bersyair, Rode menarik Mandau dari sarungnya. Terlihat bilah Mandau mengeluarkan cahaya kuning nan bening yang memancar ke wajah para peserta upacara pembukaan. Sejurus kemudian Rode menancapkan senjata itu ke dalam tanah. Lantas Pak Haris berjalan mendekat dan mengambil sarung Mandau dari Rode.


Pak Haris kemudian memegang hulu Mandau yang tertancap di tanah. “Dengan dibacakannya Syair Rahasia dan ditancapkannya [Resurrection Mandau], maka rangkaian tradisi untuk upacara kenaikan tingkat Gerakan Wira Muda SMA 25 Samarinda telah dimulai. Kalian yang tewas di dunia virtual ini, akan dibangkitkan selama [Resurrection Mandau] tertancap. Masing-masing peserta jangan lupa untuk menyentuhnya…” terang Pak Haris.


Setiap anggota GWM berjalan munuju [Resurrection Mandau] dan menyentuhnya. Di mulai dari para senior, lalu dilanjutkan anggota baru.


Item seperti [Resurrection Mandau] sangatlah langka. Biasanya hanya ada satu dalam suatu komunitas. Dibuat oleh ahli tingkat tinggi dari kalangan pejuang virtual terdahulu. Pembuatnya sangat dirahasiakan karena benda yang Ia ciptakan itu sangat vital dalam peperangan. Prajurit yang mati di dunia virtual dapat hidup kembali asal sebelumnya menyentuh item resurrection.


Irvan mendekati Asna dan Iyan. “Kalau Kau ingin tau rasanya mati, inilah saatnya. Hehehe…”


“Soplak! Setelah mati, Kau baru kembali hidup saat acara penutupan!” sahut Iyan.


Irvan tertawa mendengar sahutan Iyan. Keberadaan [Resurrection Mandau] memang sedikit memberikan rasa aman pada anggota GMW 25 Samarinda.


Sayup-sayup terdengar teriakan seorang senior. “Mohon untuk bekerja sama. Jangan sampai ada yang mati dalam kegiatan ini! [Resurrection Mandau] hanya bisa menyimpan tiga jiwa. Saat sudah ada dua jiwa di dalam [Resurrection Mandau], acara kita hentikan!”


Wajah Irvan sedikit berubah saat mendengar pemberitahuan tersebut. “Ku harap Kalian tidak tuli…” ujar Iyan seraya berjalan mendahului Irvan dan Asna.


Mati di dunia virtual akan seolah nyata selama masih ada benda misterius yang dapat membangkitkannya. Sayangnya [Resurrection Mandau] hanya bisa membangkitkan tiga orang anggota GWM yang tewas di dunia virtual. Jadi, saat kuota tiga orang terpenuhi, mati artinya mati.


Datang duluan, Iyan menjadi yang pertama memegang [Resurrection Mandau] sebelum Asna dan Irvan. Asna lebih memilih untuk memegangnya setelah Irvan.


Seperti biasa, ketika Asna mengikuti suatu aktivitas, jiwanya yang lain turut berkeliaran. Kali ini bahkan Asna dapat mengeluarkan dua jiwa dari raganya untuk melihat persiapan panitia pada ujian anggota nanti malam. Asna menyebutnya, Jiwa Senin dan Jiwa Selasa. Jiwa Senin untuk mengawasi Rode, Jiwa Selasa untuk mengamati lingkungan di luar.


Jiwa Senin menandakan semangat hari kelahiran Asna yang bertepatan pada hari Senin. Bagi Asna, hari Senin merupakan hari di mana para wanita karir dan gadis-gadis sekolah umumnya mengenakan seragam yang telah dicuci dan disetrika rapi. Wajah ceria sangat nampak di wajah mereka. Tak heran, sejak sekolah dasar, Asna sangat senang bergerilya menyapa para gadis di hari Senin.


Jiwa Selasa menandakan gelora jiwa Asna yang terpendam. Pada hari-hari Selasa, Asna lebih senang bermalas-malasan untuk memandang keindahan yang terpancar dari para gadis. Asna sangat malas bergerak pada hari itu. Sebab energinya sudah terkuras pada hari Senin. Ia akan kembali beraksi di hari Rabu. Itupun kalau panjang umur, sih.


“Harusnya Kau memberinya nama jiwa muda, ******!” seseorang tiba-tiba berbisik di telinga Asna. Sekonyong-konyong Asna menjawab ketus, “Itu terdengar seperti ‘istri muda’ di telingaku!”


Setelah beberapa detik tidak ada tanggapan dari orang yang berbisik, Asna penasaran dengan siapa yang tadi berbisik di telinganya. Asna pun menoleh. Seketika bibirnya menjadi bergetar.


“J-Jiwa Muda itu nama yang bagus! Ya, tidak ada yang lebih bagus dari nama itu!” ujar Asna, gelagapan.


Sebuah pukulan mendarat di kepala Asna hingga membuatnya tersungkur di tanah. Pukulan dari seorang yang sering mengancam Asna.


Datu Busu!


“Kau menyindirku punya istri muda, hah?! Kau benar-benar tidak sayang dengan nyawamu, ******!” umpat Datu Busu seraya menginjak punggung Asna. Orang-orang di sekitar tidak bisa berbuat apa-apa.


“Ampun datu… ampun…” Asna memelas di kaki Datu Busu dengan wajah hampir menangis. Asna tidak pernah menyangka Datu Busu akan datang.


Pak Haris menghampiri Asna dan Datu Busu. “Oh, rupanya Datu mengenal Asna…”


“Dia budakku! Bagaimana Aku tidak kenal?” sahut Datu Busu. Ia lalu berjalan bersama Pak Haris meninggalkan Asna dan teman-temannya.


Irvan dan Iyan segera menghampiri Asna dan membantunya berdiri. “Sialnya Kau, Na. Bukankah Dia Kakek di rumah sakit waktu itu?” ujar Iyan. Asna tidak berani menyahut perkataan Iyan karena takut Datu Busu akan kembali.


Tidak mendapat tanggapan dari Asna, Iyan melanjutkan, “Kata Ayahku, kakek itu pimpinan paguyuban pahlawan lokal. Aku ingin sekali bergabung dengan komunitas seperti itu.”


“Sudahlah. Kau jangan berkata yang bukan-bukan tentangnya. Kau bisa kualat!” ujar Asna. Ia lalu ikut memegang hulu [Resurrection Mandau]. Sejurus kemudian Asna bertanya, “Ke mana Kita sekarang?”


“Ke situ!” jawab Irvan yang menunjuk ke arah salah satu tenda dengan bibirnya.


Di dalam tenda yang ditunjuk Irvan, para senior yang berjumlah tiga puluh orang berdiri di depan para calon anggota baru.

__ADS_1


Seorang panitia berjubah kulit kayu memberikan arahan, “Tradisi malam ini ditujukan kepada para anggota baru dan anggota lama yang akan mengikuti upacara kenaikan tingkat besok.


“Anggota lama dapat dengan bebas memilih calon anggota untuk membentuk sebuah squad. Antara empat hingga enam orang.


“Setiap squad akan diuji oleh tim penguji dari panitia pelaksana yang terbagi dalam empat pos. Tiap pos akan menguji STR, VIT, INT, DEX, dan MEN yang selama ini kalian tingkatkan. Ada pertanyaan?”


Teman sekelas Asna, Addin mengangkat tangan kanan. Seorang panitia berseru kepada Addin, “Biasakan mengangkat tangan kiri saat minta izin bicara. Silahkan bertanya.”


“Ya, Aku mohon maaf. Tadi dikatakan kalau anggota lama dapat dengan bebas memilih anggota squad mereka. Kenapa Kami tidak?” sahut Addin.


Panitia tersebut menjawab, “Pertanyaan dari orang yang berani. Mulai sekarang sampai upacara pelantikan besok, kalian calon anggota harus paham posisi seorang calon.


“Kalian hanya memiliki hak berbicara setelah diberi kesempatan bicara. Selebihnya kalian wajib diam. Seperti yang tertera di papan pengumuman, depan tenda ini.


“Aku ingatkan. Hanya ada dua aturan yang wajib kalian taati. Pasal pertama, panitia selalu benar. Pasal kedua, apabila panitia melakukan kesalahan, maka kembali ke pasal pertama.”


Suasana menjadi hening setelah panitia menjawab pertanyaan Addin. Mereka paham kalau panitia memegang kendali dan bertanggung jawab penuh terhadap peserta.


“Kalau tidak ada lagi sanggahan, kita lanjutkan pada tes status pertarungan. Setelahnya kami minta para senior yang menjadi peserta melakukan perekrutan anggota. Waktunya lima belas menit. Silahkan…”


----------------------------------------


Dua jiwa Asna terus bergentayangan dengan keponya. Jiwa Selasa mencari peta jalur dan letak pos yang harus mereka lewati. Sekaligus menggali informasi tentang jenis dan bentuk ujian yang akan Ia terima. Sedangkan Jiwa Senin masih mengamati gerak-gerik Rode yang belum menunjukkan tanda-tanda akan memasuki ruang rahasia warisan.


Saat ini Jiwa Selasa sedang mendengarkan rapat persiapan tim penguji yang sudah berlangsung selama sejam. Dari rapat tersebut diketahui bahwa jarak dari bumi perkemahan ke pos empat setidaknya 10 kilo meter. Jarak itu dapat ditempuh dalam durasi dua setengah jam dengan berjalan kaki.


Sejauh pengetahuan Asna, pos satu akan menguji kekuatan (STR) dan daya tahan (VIT) peserta ujian. Pada ujian itu, besar poin STR dan VIT tidak menjadi patokan. Para peserta akan melalui halang rintang yang membutuhkan efektivitas dan efisiensi penggunaan STR dan VIT. Yaitu rintangan dalam mendaki bukit ****.


Pos dua akan menguji STR dan kelincahan (DEX). Ada rintangan berupa serangan kawanan gagak putih saat melompati jurang,


Rintangan pada pos tiga adalah meniti jembatan bergerak untuk menyeberangi jurang sejauh tiga ratus meter. Rintangan ini untuk menguji intelijensia (INT) dan mentalitas (MEN) peserta ujian.


Ujian terakhir yaitu menguji VIT dan MEN peserta ujian yang akan dilakukan di pos empat. Peserta cukup beristirahat selama lima menit di dalam barak.


Sambil istirahat peserta akan dihajar oleh manusia ****. Tanpa boleh melawan balik.


Semua ujian sangat tidak cocok dengan status pertarungan Asna saat ini. Kabar baiknya, panitia akan memberikan perlakuan khusus pada Asna sebagai calon anggota yang paling disukai.


Mengetahui hal ini, Asna merasa enak diperlakukan seperti itu.


Beralih ke Jiwa Senin…


Saat ini Rode tidak beranjak dari bumi perkemahan. Selayaknya senior dengan posisi penting, Rode berjalan kesana-kemari melihat persiapan setiap unit kepanitiaan.


Bahkan dua kali sudah Jiwa Senin bertemu dengan Jiwa Selasa. Pertemuan ini bagi Asna sangat mubazir. Menjalankan tiga pikiran sekaligus tentu saja membutuhkan MEN dan INT yang tinggi pula. Terlebih status Asna sangatlah rendah. INT dan MEN masing-masing 1 poin.


Perekrutan anggota squad yang dilakukan para peserta senior telah usai. Takdir menentukan Asna, Iyan dan Irvan tergabung dalam satu squad dengan dua pejuang kuat di GWM SMA 25 Samarinda. Mereka adalah Timpakul dan Lelaki Keibuan, Mawart, yang beberapa waktu lalu ikut menggebuk Bovak.


Irvan mendapat wewenang menjadi pemimpin squad. Sedangkan Asna mendapat kehormatan untuk memilih nama yang pas untuk squad mereka. “Perintis Jalan Skuad Kesetanan! Bagaimana?” ucap Asna, memberi saran.


“Penjaskes?!” seru Iyan kaget. “Itu nama mata pelajaran!” lanjutnya.


Mawart turut berkomentar. “Apalah arti sebuah namui… Eike setuju aje!”


“Kalau Kakak senior sudah setuju, kita tetapkan saja nama itu untuk skuad kita,” sahut Irvan yang langsung menanggapi. Ia segera berdiri. “Aku segera pergi mendaftar…”


Iyan melirik ke arah Asna dan bertanya, “Kemana Kakak senior yang satunya, Na?”


Asna menunjuk ke keramaian di tenda panitia. “Kak Timpakul! Dia selalu berada di tempat yang ramai. Aku suka gayanya!” jawab Asna.


Timpakul sebenarnya adalah nama hewan air yang hidup di pulau Kalimantan. Tidak seperti ikan pada umumnya, hewan ini gemar berkumpul di atas batang kayu yang mengambang pada pinggiran sungai.


Seseorang yang diberi gelar timpakul adalah tipe orang yang lebih mengutamakan keramaian dalam pertemanan. Saat pertemanan itu mulai sepi, dia “out” begitu saja mencari kawan lain yang lebih ramai.


Aktivitas peserta sebelum jurit malam tentu saja melakukan persiapan. Mempersiapkan fisik dan mental. Secara fisik, peserta harus dalam keadaan sehat wal afiat. Harus sudah mengisi kantong tengah, yaitu makan dan minum secukupnya. Kelebihan makan dapat menyebabkan kematian tentunya. Perut karet hanya ada di serial One Piece, bro!


Selain fisik harus bugar, peserta tidak boleh dihantui ketakutan. Ragu-ragu sebaiknya mundur dan jadi penonton. Ketakutan jelas akan menyusahkan diri sendiri dan orang lain.


Demi keamanan, peserta diwajibkan mengenakan equipment. Kalau tidak punya, ya, seadanya. Artinya kewajiban yang tidak dipaksakan.


Memiliki satu juta sembilan ratus ribu koin virtual di kantong, tentu saja tidak ada alasan bagi Asna untuk tidak memanfaatkannya. Asna mengajak squad untuk pergi berbelanja di tenda Arnabshop.


Melihat Asna kesulitan mengenakan vest dari perunggu, Iyan langsung berkomentar, “Kau tidak bisa membeli item bagus kalau statusmu rendah, ***!”


“Beli yang sesuai dengan statusmu, lah, Na. Ini...” sahut Irvan seraya memberikan rompi motif kotak-kotak yang biasa dipakai siswa sekolah dasar. “Hihihihi…” Irvan tidak dapat menahan tawa setelah Asna menerima rompi tersebut.


Asna hanya memandang rompi yang diberikan Irvan yang saat ini ada di tangannya. “Ah, pintarnya, Kau. Pakai ini membuatku terlihat bodoh.” Ia lalu berpaling pada Arnabshop. “Rekomendasikan Aku set equipment yang sesuai dengan statusku!” pinta Asna.


Segera Arnabshop mengeluarkan satu set seragam olah raga sekolah dasar. Melihat seragam itu, Asna menggebrak meja. “Tidak adakah item yang terlihat lebih dewasa?! Kenapa juga Kau jual perlengkapan anak SD di sini? Aku jamin tidak pernah laku!”


Arnabshop melirik ke salah seorang pelanggan yang mendekati Asna. “Kau harus menerima takdir, bos. Tidak ada pilihan bagi Kita yang berstatus pertarungan rendah untuk membeli item. Terima saja!” ujar si pelanggan yang kala ini mengenakan seragam sekolah dasar.


“Ya, Kau benar. Tapi tolong berikan Aku model lain. Ku mohon,” rengek Asna.


Akhirnya untuk equipment yang dikenakan, Asna hanya menggunakan rompi dan sarung tangan dari kulit kayu yang menambah VIT +2 serta sepatu ringan untuk meningkatkan INT +1. Item yang lebih murah dan rendah dari seragam sekolah dasar.

__ADS_1


Sisa koin virtual Asna gunakan untuk mentraktir anggota squad membeli equipment yang cocok bagi mereka. Koin virtual Asna hanya tersisa 112 keping setelah Ia membeli obat-obatan dan beberapa daging.


------------------------------------------


Tepat pukul delapan malam, peserta mulai meninggalkan bumi perkemahan secara periodik. Satu squad per sepuluh menit. Ada lima belas squad yang terdaftar.


Squad Asna menjadi yang pertama pergi karena menggunakan nama “perintis” pada squadnya, Perintis Jalan Skuad Kesetanan. Awalnya Iyan dan Irvan menganggap nama ini hanyalah nama lelucon. Rupanya Asna memang berencana menjadi squad yang paling pertama pergi untuk merintis.


Asna berlari di barisan kedua dari depan dalam squad. Tepat di belakang Mawart. “Dengan begini, Aku bisa lebih cepat melaksanakan jurit malam. Semoga tidak ada hal-hal menyusahkan terjadi…” pikirnya.


Walaupun di sepanjang perjalanan Asna sering menemukan sepasang mata merah yang mengintai, Ia masih tampak menikmati aktivitas ini. Dalam kelompok Asna tidak tampak Timpakul di sana.


Iyan berlari lebih kencang menghampiri Asna. “Seharusnya Kita menyimpan tenaga untuk melewati pos demi pos dengan santai,” ujarnya.


Mendengar perkataan Iyan, Irvan menyahut, “Inginnya seperti itu. Tapi kalau Kita lambat bergerak, makhluk virtual liar bisa menghambat pergerakan Kita.”


Benar saja, sekawanan serigala bertanduk dan berbulu kambing yang semula hanya mengintai mulai menunjukkan sosoknya. Itu Goathair Wolf. Predator yang hampir selalu ada di dunia virtual.


Asna yang semula sudah mengetahui keberadaan Goathair Wolf telah membeli banyak daging sebelum berangkat. Sehingga sangat mudah melewati kawanan ini. Asna cukup memberi mereka daging. Kawanan itu untuk sementara waktu dapat ditangani.


Sembari mempercepat pergerakan, Irvan mengomentari keputusan Asna. “Ku pikir Kau beli daging untuk makan Kita besok pagi. Ternyata buat guguk. Boleh juga…”


“Sepertinya status INT bukan kecerdasan yang sesungguhnya. Hahaha…” balas Asna dengan nada bercanda. Irvan mengernyitkan dahi saat mendengar balasan Asna. Selama ini Asna adalah siswa yang lebih cerdas dari dirinya. Tapi anehnya status INT Asna hanya ada satu poin seperti yang tertera pada [Ordinary Stone].


Tanpa ada halangan dari makhluk virtual liar, Perintis Jalan Skuad Kesetanan tiba di pos satu dalam waktu kurang dari enam menit. Irvan langsung melapor kepada tim penguji untuk mengikuti ujian yang disiapkan.


“Tidak perlu tergesa-gesa melewati halang rintang di pos ini. Ku lihat Timpakul tidak ada di squad kalian. Sebaiknya kalian menunggu gadis aneh seperti dirinya. Bersantailah…” ujar seorang tim penguji.


Iyan memandang tebing curam nan vertikal. Tebing itu di penuhi benang-benang berwarna-warni seperti nylon. “Kenapa kita tidak langsung ke sana?” tanya Iyan kebingungan. Dengan kondisi tubuh yang masih sangat bugar, Iyan tentu saja memiliki semangat yang tinggi untuk mengikuti ujian.


“Ini tidak cucok!” seru Mawart sembari memandang ke kedalaman hutan yang ada di sekitar pos satu. Sebagai yang terkuat kedua setelah Timpakul di Perintis Jalan Skuad Kesetanan, Mawart merasakan adanya tekanan dari luar pos.


Melihat Mawart sedang resah, seorang tim penguji datang menghampiri. “Aku juga merasakan ada tekanan yang tidak biasa sejak beberapa menit yang lalu. Satu orang dari Kami sedang memeriksa lingkungan di sekitar sini.”


Asna tampak terlihat santai berada di belakang Iyan dan Irvan yang sedang mengobrol. Padahal di saat yang bersamaan, Jiwa Senin telah menemukan pergerakan dari orang-orang berjubah hitam. Dengan santainya Jiwa Senin bergerak ke arah asal orang-orang berjubah hitam itu datang.


“Delapan, Sembilan, sepuluh…” Jiwa Senin menghitung semua orang berjubah hitam yang ditemuinya. Sampai akhirnya Ia bertemu dengan kerumunan orang berjubah sama yang terus keluar dari lubang virtual.


Di antara kerumunan, seorang dengan equipment silver di balik jubah hitam berseru rendah, “Cari dan bunuh tiga anak itu segera!” Suara orang tersebut terdengar seperti nenek penyihir.


Mendengar perintah nenek tersebut, puluhan orang berjubah hitam pergi meninggalkan lokasi.


Si nenek membuka tudung jubahnya hingga tampak wajah keriput yang dipoles dengan riasan pengantin. Dia adalah nenek dari Bovak, Nini Seke.


Nini Seke adalah seorang pejuang virtual veteran yang cukup dikenal karena kepelitannya hampir dalam segala hal. Termasuk pelit terhadap kematian cucunya yang tidak lain karena salah cucunya sendiri.


Ibunda Bovak menarik jubah Nini Seke dengan wajah memelas. “Ni… Sudahlah. Aku sangat ikhlas dengan kematian, Bovak.”


“Kau memang seperti bapakmu yang dengan enaknya melepas sesuatu. Aku yang memelihara Bovak. Aku yang sangat kehilangan!” tegas Nini Seke.


“Aku mengerti, Ni. Tapi yang begini malah akan membuat Kita mendapat masalah… Membayar orang malah membuat uangmu berkurang.”


“Kau pikir Aku sedermawan itu? Aku berbohong kepada mereka. Sekarang Kau cukup lihat. Tidak perlu Kau berkomentar lagi!” tandas Nini Seke. Ia lalu membuat sebuah pola denga jarinya ke arah ibunda Bovak. Seketika guratan cahaya terbentuk lalu membuat sebuah kurungan.


“Ibu…!” seru Ibunda Bovak. “Membalas dendam tidak mengubah segalanya. Toh, anakku yang lain lebih ganteng dari Bovak!” lanjutnya.


Nini Seke meraung marah. Ia tidak terima dengan perkataan anaknya sendiri. “Sejelek-jeleknya Bovak, Ia tetaplah cucuku. Milikku! Kalau Kau bicara lagi, Aku potong kakimu!”


“Memotong kaki apa bisa membuat seseorang tidak bicara? Mengancam itu harus jelas, Ni.” Seseorang tiba-tiba mengingatkan Nini Seke.


Tiba-tiba leher orang tersebut ditebas Nini Seke dengan pedang. “Yang Ku maksud adalah kaki lidahnya, biar tidak lari ke mana-mana!”


Kepala seseorang yang tertebas itu masih dapat berbicara. “Lidah tidak punya kaki, Ni! Carilah kosa kata lain!”


Jiwa Senin menyaksikan drama tak bermutu yang terjadi antara Ibu dan Nenek Bovak. “Beginilah kalau Kau jarang membaca. Miskin diksi dalam percakapan. Makanya penting untuk mengunduh aplikasi novel atau komik yang mementingkan kualitas teks di atas segalanya. Cari developer yang mereview tulisan sebelum dipublish, itu adalah langkah yang sangat baik!” ujar Jiwa Senin sembari melayang menuju lubang virtual.


--------------------------------


Di saat ini Perintis Jalan Skuad Kesetanan telah diperbolehkan melewati rintangan pertama ujian. Mawart yang paling pertama mencoba mendaki dengan hanya boleh menggunakan kekuatan dan daya tahan.


Sehelai benang tipis berada di telapak tangannya. Lebih tepatnya rambut dari makhluk virtual Hairy Woo! Menarik terlalu keras rambut itu bisa membuat Hairy Woo membalas dengan membelitkan rambutnya kepada semua pejuang yang mendaki.


“Keynya ntu ada di pusar kekuatan Kita. Di udel!” ujar Mawart sambil memperlihatkan perutnya yang buncit. Ia lalu menunjuk wajah Irvan dan Iyan. “Ganteng, ganteng, kudu mengontrol udel biar si kekuatan menyebar di badan. Cus, tekanan pade tarikan bisa diminimize, beib,” terang Mawart.


Irvan menggaruk kepalanya saat mendengar penjelasan Mawart. “Yang seperti ini Aku belum pernah belajar!” Maksud Irvan, Ia tidak pernah belajar dengan manusia seperti Mawart.


“He-eh!” sahut Iyan. Setali dua uang dengan Irvan.


Asna mendekati Mawart. “Bisa Kau contohkan, beib?” tanyanya.


“Kau itu, lho, Na. Gak usah panggil Aike beib. Kau, kan, gak ganteng!” protes Mawart. Asna tersenyum polos seraya membalas, “Hehehe… Contohnya donk, bosku! Biar mereka mengerti…”


“Engkau seperti paham-pahamnya aja!” sahut Mawart yang mulai membelai rambut Hairy Woo. Sejurus kemudian Ia berjalan secara vertikal dengan bertopang pada rambut.


Seorang tim penguji berlari ke arah Squad Penjaskes. Ia pun berteriak, “Kalian, cepatlah naik!”

__ADS_1


***


__ADS_2