
tap....tap....tap...
Terdengar suara hentakan sepatu yang menggema di koridor rumah sakit yang sepi... sedang si empunya pemilik sepatu tanpa rasa bersalah terus berlari mengejar pintu lift yang masih terbuka... rambut bergelombang yang dikuncir kuda bergoyang ke kanan dan kekiri seiring langkah kakinya, dan diiringi pula dengan suara gemerincing yang keluar dari gantungan boneka doraemon di tas ransel mungilnya.
"maaf"
ucapnya sambil masuk kedalam lift yang pintunya masih ditahan agar tetap terbuka oleh salah seorang dari dua laki-laki yang sudah berada didalamnya. Dengan nafas yang masih terengah-engah bersandar disalah satu dinding lift...
"huft...."
menyeka sedikit keringat yang menempel didahinya dengan punggung tangan sambil memejamkan mata. Tak sadar ada sepasang mata elang menatapnya tajam tanpa berkedip disebelah kirinya....
"Alex??...."
ucap si pemilik mata elang pelan. Mendengar ada orang yang memanggil namanya dengan sebutan tak biasa membuatnya sedikit terkejut dan membuka mata berlahan... memalingkan kepalanya kearah sumber suara.
"ya.....?"
jawaban singkat yang membuat kaget si pemilik mata elang hingga semakin membelalakkan matanya...
ting....
suara pintu lift terbuka, dan dua laki-laki itu melangkah keluar...
"hah, lantai berapa ini?"
__ADS_1
pertanyaan yang tak memerlukan jawaban dari orang lain, karena tak ada siapapun selain dirinya sendiri.
OMG.... bahkan dia lupa menekan tombol lantai berapa yang akan dia tuju.
Secepat kilat dia tekan tombol 7 sebelum pintu lift tertutup sempurna untuk mencapai lantai yang akan ditujunya, dan tak memakan waktu lama, sepersekian detik pintu lift pun terbuka kembali.
"lho?"
tak percaya keluar dari lift dan berjalan sambil menggelengkan kepalanya...
'aaaaaghhh, ada apa dengan hari ini?'
sudah terlambat bangun, jalanan macet, mobil masih dibengkel karena semalem nabrak tiang listrik sampai penyok parah, ditambah lagi taksi online pesanannya dicancel driver, padahal sudah menunggu cukup lama, hingga akhirnya pesan ojeg online saja dan meminta sang driver untuk melaju cepat....wusss wusss wusss....dan...lengkap sudah penderitaan hari ini, karena janji temu dengan prof Harry tepat pukul 09.00 dan sekarang? 15 menit telah berlalu dari waktu perjanjian.
tok...tok...tok...
Mengetuk pintu ruangan yang bertuliskan nama sang profesor doktor yang akan ditemuinya hari ini.
"masuk"
suara yang familiar ditelinganya, karena sudah selama 6 bulan ini Sandria menjadi asisten prof Harry untuk masa coas menyelesaikan studi kedokterannya.
klek,
memutar handle pintu dan masuk berlahan melangkahkan kakinya.
__ADS_1
"maaf prof. saya terlambat...."
ucap Sandria pelan, menundukkan kepala dan masih mendekap kertas laporan yang harus ditandatangani oleh prof Harry.
"iya, bawa kemari..."
prof Harry meminta satu bendel kertas laporan yang dibawa Sandria. Melangkah menuju meja sang profesor untuk menyerahkan laporannya tanpa melihat bahwa ada dua orang selain mereka yang masih menatap tak berkedip mengiringi langkah Sandria.
"besok ambil berkasnya lagi sebelum jam 10 dan jangan terlambat, karena saya ada rapat" prof Harry mengingatkan.
"baik prof. terimakasih"
menunduk dan memutar langkahnya menuju pintu untuk keluar dari ruangan itu.
Sebelum pintu menutup dengan sempurna, rasa penasaran seseorang tak terbendung lagi sedari tadi.
"Uncle....siapa gadis itu?"
pertanyaan terlontar dari pria bermata elang sambil berbisik mendekat pada sang profesor yang tak lain adalah pamannya.
'aaaaah apakah benar dia......?'
Ini adalah pertemuan pertama setelah lima tahun yang lalu?
*****
__ADS_1