
"dia, siapa?"
pertanyaan terlontar tak mampu dipendamnya, rasa penasarannya lebih besar.
"uncle?"
panggilnya setelah beberapa saat tak mendapat jawaban.
"kenapa? tumben menanyakan gadis? biasanya juga cuek aja?"
jawab uncle Harry dengan pertanyaan pula.
"dia....mengingatkanku pada Alex...gadis kecilku.."
mendesah pelan.
"sudahlah....jangan konyol Bry....ini sudah lima tahun berlalu, mungkin dia sudah melupakanmu.... turuti kemauan daddy dan mommy mu untuk menikah dengan Isabella, kembali ke Amerika dan teruskan usaha daddymu disana"
ini adalah kalimat terpanjang yang pernah keluar dari mulut uncle Harry untuk menasehatinya, selama ini tak banyak kata yang keluar dari mulut pamannya itu....sifatnya tak jauh berbeda dengan dirinya sendiri. Acuh, angkuh, dan lebih banyak bekerja dibandingkan bicara.
Setelah menyelesaikan urusannya dengan sang paman, Bryan keluar dari rumah sakit menuju perusahaan tempatnya bekerja.
Dalam perjalannya....
"Jim... cari tau tentang gadis itu secepatnya" pinta Bryan pada Jimmy sang asisten yang bisa diandalkannya.
"baik, Tuan"
__ADS_1
mengangguk singkat.
*****
Sandrina kembali kerumahnya yang sepi... selama lima tahun ini dia hanya tinggal bersama kakek dan beberapa maid yang mengurusi rumah. Neneknya sudah meninggal karena serangan jantung sesaat setelah mendengar berita kecelakaan pesawat yang ditumpangi oleh kedua orangtua dan saudara kembarnya lima tahun yang lalu.
Dan, hingga saat ini tak pernah ditemukan kembali mayatnya...tak ada yang ditemukan...seluruh penumpang, kru, pilot dan co pilot tak ada satupun yang ditemukan jasadnya....berita kecelakaan pesawat terdahsyat kala itu...menghilang tak berjejak.
Sang kakek terpaksa kembali ke perusahaan yang sudah lama ditinggalkannya karena sudah diserahkan kepemimpinannya pada putra tunggalnya yang tak lain adalah ayah Sandria.
Dan kini, dengan tubuh rentanya, beliau kembali memimpin... Tak ada kemajuan yang berarti sepeninggal putera tunggalnya... Beliau hanya mempertahankan saja, agar perusahaan tetap hidup, karena harus menghidupi banyak karyawan.
Harapannya hanya pada Sandria seorang yang bisa meneruskan perusahaan ini, tapi dia malah memilih menjadi dokter, bukan belajar bisnis seperti yang diinginkan ayah dan kakeknya.
"Bi, Eyang kemana?"
"Tuan besar ada diruang kerjanya Non" jawab Bi Ina
Mengangguk pelan mendengar jawaban bibi, lalu berjalan keruang kerja sang kakek.
"Assalamu'alaikum, Eyang...."
kata Sandria sambil mengetuk pintu ruang kerja kakek.
"Wa'alaikumsalam....masuk aja Ria, pintunya tidak Eyang kunci" jawaban dengan suara seraknya.
Sandria memutar handle pintu dan membuka pintu, menyembulkan sedikit kepalanya kedalam, melihat apakah kakeknya sedang sibuk atau tidak.
__ADS_1
"Eyang....?"
"masuklah Ria, kemarilah..."
"ada apa?" lanjutnya
"Ria sudah menyerahkan laporan ke prof. Harry, semoga tidak ada revisi lagi, tinggal menunggu sidang dan wisuda"
jawabnya setelah duduk disofa dalam ruang kerja Kakeknya.
"lalu....?"
pertanyaan Kakek menggantung...ingin mendengar apa kemauan cucu satu-satunya ini.
Dia sangat menginginkan cucunya mengurus perusahaan, menggantikannya yang sudah renta termakan usia, setelah puteranya dinyatakan hilang akibat kecelakaan pesawat lima tahun yang lalu...
"......."
Sandria diam tak bergeming. Dia sangat tau, Kakek menginginkannya belajar bisnis, dan meneruskan usaha ayahnya tapi dia bercita-cita menjadi seorang dokter, sedari kecil dulu keinginannya menjadi dokter adalah semata mata karena penyakit yang diderita oleh saudara kembarnya semenjak lahir.
"Eyang, akan selalu mendukungku tetap menjadi dokter khan?"
bukan jawaban dari pertanyaan Eyang, tapi dia malah balik bertanya...
Eyang tampak terdiam lama, memikirkan jawaban apa yang akan diberikan kepada cucunya ini.
"Eyang akan mendukungmu menjadi dokter, tapi ada syaratnya Ria...."
__ADS_1
*****