Pelabuhan Hati Sekretaris Cupu

Pelabuhan Hati Sekretaris Cupu
Curiga


__ADS_3

Pagi yang cerah. Menjadi awal yang indah bagi para penduduk ibukota dan sekitarnya. Hamparan langit biru terbentang dengan anggunnya, menemani sang mentari menghangatkan hari.


Nisa berangkat ke kantor seperti biasa. Hatinya sudah sedikit lega, setelah pertemuannya dengan Revan tempo hari. Meski ia tidak tahu, kegilaan apa lagi yang akan Revan lakukan padanya setelah ini. Tapi satu yang pasti, ia sudah menegaskan bahwa ia tidak mau lagi menjalin hubungan spesial dengan laki-laki bernama Revan Julian Anggara.


Jika ditanya apakah Nisa sedih atas apa yang terjadi padanya, sejujurnya ia sedih. Mengingat, ia begitu tulus mencintai dan menyayangi Revan selama ini. Bahkan sempat terpikir di benaknya, bahwa Revan adalah jodoh yang Tuhan kirimkan untuknya. Karena selama ini, Revan menerima keadaan Nisa apa adanya. Revan tidak pernah protes atau menilai buruk penampilan Nisa.


Tapi ternyata takdir berkata lain. Nisa harus menghapus segala pemikiran itu karena pengkhianatan yang Revan lakukan.


Perasaan sayang yang Nisa rasakan untuk Revan, mendadak hilang tak berjejak, setelah malam itu. Pemandangan yang tidak ia harapkan malam itu, langsung mengubur semua rasa sayang yang pernah ia rasakan. Hanya dalam sekejap.


Dan hal itulah yang membuat Nisa bisa membuat keputusan yang begitu bulat, tanpa mau menoleh ke belakang. Apalagi, setelah apa yang Viona lakukan padanya, membuatnya makin merasa jijik dan sangat enggan untuk bertemu dengan Revan.


Kemarin, Nisa sudah merapikan kamarnya dari barang-barang pemberian Revan. Ia sudah mengumpulkan barang-barang yang pernah diberikan Revan untuknya. Ia kemas semua barang itu dalam tiga buah kardus berukuran sedang.


Barang-barang yang masih bisa terpakai, Nisa berikan ke sebuah tempat yang biasa menerima barang-barang yang sudah tidak terpakai tapi masih bisa digunakan. Ia ditemani Jeni mengantarkan dua kardus ke tempat itu.


Dan pagi ini, perasaan Nisa jadi lebih lega setelah semua itu. Meski hal itu tidak pernah Nisa harapkan akan terjadi, tapi Nisa tidak mau terpuruk karena laki-laki yang sudah jelas mengkhianatinya.


"Pagi, Nis!" Sapa Weni, saat ia bertemu dengan Nisa di tempat parkir.


"Pagi, Wen. Oh iya Wen, aku tadi beli jenang tempat biasa. Nanti makan bareng, ya?" Ajak Nisa antusias, sambil menunjukkan kantong plastik yang ia bawa.


"Siap!" Jawab Weni bahagia.


Nisa dan Jeni memang sering makan bersama saat di kantor. Tidak hanya saat makan siang saja, mereka bahkan sering meluangkan waktu untuk sarapan bersama. Bahkan dengan Jeni juga terkadang.


"Makan di mejaku aja, ya!" Ajak Nisa yakin.


"Tapi, aku naruh tas dulu, ya."


"Oke."


Nisa dan Weni pun berjalan memasuki gedung kantor sambil terus mengobrol. Tak lupa, mereka juga saling menyapa rekan yang lain, yang juga sedang berjalan menuju meja kerja masing-masing.


"Pagi, Pak Rudi." Sapa Nisa ramah.


"Pagi, Nis."


"Ini, buat Bapak, satu." Ucap Nisa, seraya menyerahkan sebuah gelas plastik berisi jenang dengan tiga susun warna.


"Kamu?"


"Udah ada, Pak. Nih!" Tunjuk Nisa sambil mengangkat plastik yang masih ditentengnya sejak tadi.


"Makasih, ya."


"Iya, Pak."


"Dan, Nis,,"


"Iya, Pak."


"Kamu ditunggu pak Reyhan di dalam." Ragu Rudi.


"Pak Reyhan udah dateng?"


Rudi hanya mengangguk.


Wajah Nisa mendadak kecewa. Ia menoleh pada Weni dengan sedih.


"Yaahh, nggak jadi makan bareng deh, Wen." Sedih Nisa.


"Udah, nggak papa. Nanti aja makan siang, kita makan bareng. Gimana?" Hibur Weni yang paham dengan keseharian Nisa di kantor.


"Oke." Mantap Nisa, sembari menunjukkan ibu jarinya.


"Ya udah, aku turun dulu, ya." Pamit Weni.


Nisa mengangguk manja. Ia lalu memberikan jenang kesukaan Weni.


"Nanti aku tunggu di lobi, ya." Imbuh Weni sebelum pergi.


"Oke."


"Mari, Pak Rudi!" Pamit Weni.

__ADS_1


"Iya." Sahut Rudi santai.


Nisa lalu meletakkan jaketnya. Ia sedikit merapikan bajunya, agar tidak dikomentari oleh Reyhan pagi-pagi. Ia lalu mulai melangkahkan kakinya untuk menemui Reyhan di ruangannya.


"Permisi, Pak!" Sapa Nisa.


"Masuk!" Singkat Reyhan, yang sedang berdiri di dekat jendela ruang kerjanya.


Nisa lalu mendekat ke arah meja kerja Reyhan. "Bapak memanggil saya?"


"Iya. Duduklah!" Jawab Reyhan setelah membalikkan badan.


Nisa pun menuruti perintah Reyhan. Dan Reyhan pun menyusulnya duduk di sebrang tempatnya duduk.


"Bagaimana masalahmu dengan Revan? Apakah sudah selesai?" Datar Reyhan.


Nisa sedikit tertegun dengan pertanyaan Reyhan. Ia tadi mengira, jika Reyhan akan membahas proyek tender yang baru saja mereka menangkan. Tapi ternyata bukan.


Nisa sedikit melamun karena terkejut dengan pertanyaan Reyhan. Hingga ia tidak langsung menjawab pertanyaan Reyhan.


"Su, sudah, Pak." Jawab Nisa sedikit gelagapan, sembari menghilangkan rasa keterkejutannya.


"Kamu yakin?" Tegas Reyhan.


"Saya kemarin sudah menegaskan pada Revan tentang hal itu, Pak." Yakin Nisa.


Reyhan diam tak menjawab. Ia mencoba membaca raut wajah Nisa.


"Terima kasih, karena Bapak menolong saya dari Revan tempo hari." Imbuh Nisa tulus.


"Saya harap, ucapanmu tempo hari, benar adanya! Dan kamu tetap menjaga profesionalitasmu selama bekerja di kantor ini." Pinta Reyhan tegas.


"Kok pak Reyhan kayak nyurigain aku, ya? Ini pasti ulah Viona sialan." Batin Nisa kesal.


"Bukan aku melarangmu menjalin hubungan dengan siapapun, tapi, kamu pasti jelas tahu, dimana batasan urusan pribadi dan kantor. Bukan begitu?" Imbuh Reyhan.


"Iya, Pak. Saya mengerti."


Reyhan hanya mengangguk. Ia mengingat, ucapan Viona semalam.


Malam makin bergulir. Jarum jam pun terus saja berputar, dan membawa para penikmat waktu menuju pada apa yang memang harus terjadi.


Pukul sembilan malam, Reyhan masih berkutat dengan berkas-berkas tender yang baru saja ia menangkan. Ia harus benar-benar memastikan semuanya sesuai apa yang sudah ia presentasikan pada kliennya kemarin.


"Apa belum selesai, Yang?" Tanya Viona yang menyambangi ruang kerja Reyhan.


Reyhan sejenak menoleh ke arah pintu ruang kerjanya. Viona terlihat masuk dengan manja mendekati Reyhan. Reyhan pun tersenyum pada istri tercintanya itu.


"Sudah. Kenapa? Udah kangen banget?" Goda Reyhan sembari menanti Viona sampai padanya.


Viona mengangguk dan memasang wajah manjanya. Ia pun segera duduk di pangkuan Reyhan.


"Emang kamu nggak kangen sama mereka?" Tanya Viona, sambil memajukan dan menggoyangkan dadanya, yang sedikit terekspos karena baju tidur yang ia kenakan memiliki belahan dada yang rendah.


"Kangen dong." Jawab Reyhan manja.


Mereka lalu mulai saling mencium dan menikmati bibir satu sama lain. Meneguk indahnya rasa yang Tuhan ciptakan bagi pasangan halalnya masing-masing.


"Dilanjut di kamar aja ya, Sayang!" Pinta Reyhan setelah cukup lama mereka berciuman.


Viona mengangguk manja. Ia lalu turun dari pangkuan Reyhan.


"Kamu ke kamar dulu! Aku beresin kerjaan bentar." Imbuh Reyhan.


"Jangan lama-lama!" Rengek Viona.


Reyhan hanya mengangguk. Viona pun kembali ke kamar mereka.


"Aku harus berhasil membujuk Reyhan kali ini. Nisa harus mendapat pelajaran, karena berani menantangku." Gumam Viona seraya berjalan kembali ke kamar.


Setelah beberapa saat, Reyhan pun sudah masuk ke kamarnya. Viona segera menyambutnya dengan hangat.


"Apa kerjaannya banyak banget? Akhir-akhir ini, kamu sering lembur di rumah." Tanya Viona, setelah ia bersandar manja di dada Reyhan.


"Hanya memastikan beberapa hal. Tender yang aku menangkan kemarin harus berjalan dengan baik, karena ini klien besar." Jujur Reyhan.

__ADS_1


"Apa pak Rudi nggak bisa?"


"Sebagian sudah dihandle pak Rudi."


"Nisa?"


"Dia juga udah dapet bagiannya sendiri."


"By the way, kamu masih nggak curiga sama Nisa, Yang?"


"Aku masih nunggu hasil penyelidikan pak Rudi."


Viona tersenyum licik. "Bagus. Aku hanya perlu sedikit merayu suamiku ini, agar Nisa bisa segera dipecat."


"Kamu kenapa jadi kayak nggak suka gitu sama Nisa?" Tanya Reyhan curiga.


"Bukan gitu, Yang. Aku cuma nggak mau, rahasia kantor kamu tersebar ke rivalmu. Apalagi kita tahu banget, rival sekaligus sepupumu itu, pengen banget ngerebut perusahaanmu. Dan dia bisa ngelakuin apa aja kan untuk itu. Atau jangan-jangan, Nisa emang suruhannya Revan lagi?" Jelas Viona panjang lebar.


"Aku juga berpikir seperti itu kemarin, setelah tahu, dia pacaran sama Revan. Apalagi, aku denger, teman serumahnya itu, juga karyawan Revan."


"Nah, kan. Udah jelas banget deh, Nisa itu pasti suruhannya Revan." Tuduh Viona semangat, sembari menegakkan duduknya menghadap Reyhan.


Reyhan terdiam sejenak. "Kita tunggu hasil penyelidikannya pak Rudi!"


"Aku yakin, Nisa memang orang suruhan Revan. Dan kamu harus segera memecatnya, Yang!" Yakin Viona.


"Sudahlah Sayang, itu kita urus nanti! Sekarang, kamu harus tanggung jawab karena menyusulku ke ruang kerja tadi!" Pinta Reyhan tanpa ragu.


Viona tersenyum manis. "Tentu saja, Sayang."


Viona tanpa ragu segera meladeni permintaan Reyhan. Mereka pun segera memulai olahraga malam dengan penuh hasrat.


Flashback Off


"Ya sudah, kembalilah!" Datar Reyhan.


"Baik, Pak. Saya permisi." Pamit Nisa.


"Iya."


Nisa pun segera beranjak dari tempat duduknya. Ia lalu keluar dari ruangan Reyhan dengan perasaan yang sedikit kesal, karena merasa dicurigai oleh Reyhan.


"Lihat aja bu Vio, kamu pasti kena karma karena ulahmu sendiri." Batin Nisa kesal.


Nisa akhirnya duduk di kursinya dengan sedikit menghentakkan pantatnya. Wajahnya bahkan terlihat sangat kesal.


Dan saat itu terjadi, salah satu anak buah Rudi sedang menyerahkan hasil penyelidikannya pada Rudi. Nisa yang sedang kesal, jelas acuh dengan apa yang Rudi lakukan. Meski, biasanya Nisa juga tidak mau ikut campur dengan urusan Rudi dan anak buahnya.


"Sudah semua?" Tanya Rudi singkat.


"Baru ini yang kami dapatkan. Tapi, sudah cukup banyak bukti yang menguatkan." Jawab laki-laki yang sedang berbincang dengan Rudi.


Rudi segera membuka amplop yang diserahkan oleh anak buahnya. Ia segera membaca dan melihat isinya. Ekspresi wajah Rudi seketika berubah saat melihat beberapa foto dan membaca beberapa baris laporan itu.


"Apa kalian yakin, ini bukan rekayasa?" Tanya Rudi meyakinkan.


"Tidak, Pak. Rezki sudah memastikannya. Foto itu asli." Jawab si anak buah dengan yakin.


"Sialan!" Umpat Rudi kesal.


Rudi kembali membaca dan melihat laporan yang lain. Ia sedikit melirik ke arah Nisa, yang meja kerjanya berada tidak jauh darinya.


"Selidiki lagi tentang ini! Aku mau, dalam dua hari harus sudah selesai dan jelas semuanya!" Tegas Rudi, sembari memberikan beberapa lembar kertas laporan tadi dan juga beberapa foto.


"Baik, Pak." Jawab si anak buah.


"Kembalilah!"


"Baik, Pak."


Anak buah Rudi tadi, segera berbalik badan dan meninggalkan meja kerja Rudi. Ia sedikit melirik ke arah Nisa yang sedang memakan jenangnya dengan perasaan kesal.


Rudi menatap Nisa yang jelas dari sikapnya sedang sangat kesal. Ia menghela nafas kecewa dan penuh kebingungan sembari mengingat foto yang didapatnya dari anak buahnya tadi.


"Apa aku harus mengatakan itu tadi pada pak Reyhan?" Batin Rudi penuh pertimbangan.

__ADS_1


__ADS_2