
Hari kembali berganti. Membawa semua asa dan cita dalam hati untuk kembali terangkai. Membingkai setiap rasa dengan penuh pesona, hingga terukir sempurna di dalam jiwa.
Nisa sejenak berhenti di meja resepsionis kantornya, karena bertemu Weni. Mereka sedikit mengobrol, setelah Weni tadi dicegat oleh sang resepsionis.
"Pagi, Nis!" Sapa Ihsan, yang tidak sengaja bertemu dengan Nisa di depan meja resepsionis kantor pagi ini.
"Oh, iya, Pak. Selamat pagi, Pak Ihsan." Sahut Nisa sedikit kikuk.
Ihsan berjalan santai menuju lift kantor. Ia tak menghiraukan beberapa tatapan mata tak biasa yang mengiringi langkahnya barusan. Ia pun dengan santainya ikut mengantri lift kantor yang akan membawanya ke ruang kerjanya, meski beberapa rekan kantornya mulai berbisik penuh selidik tentang dirinya.
Kenapa? Apalagi kalau bukan karena Ihsan mendadak menyapa Nisa dengan santai pagi ini. Dan itu bukan hal yang biasa pastinya.
Tak banyak yang mau menyapa Nisa selama ini. Meski Nisa adalah salah satu orang penting bagi Reyhan di kantor, tapi karena penampilannya yang tidak modis, wajah yang tak pernah bersih dari jerawat atau ruam merah, membuat beberapa rekannya enggan untuk sekedar menyapa atau bahkan dekat dengannya.
Dan apa yang Ihsan lakukan pagi ini? Menyapa Nisa? Jelas hal itu menjadi tanda tanya besar bagi beberapa karyawan kantor yang melihatnya.
Ihsan pun sebenarnya juga tipikal laki-laki yang cukup pendiam. Ia bukan laki-laki yang akan dengan santainya ganjen atau kecentilan pada semua wanita, bahkan hanya untuk menyapanya. Ia sedikit tertutup pada wanita.
Ihsan sebenarnya memiliki pesona tersendiri bagi sebagian karyawan wanita di tempatnya bekerja. Dengan jabatan yang diembannya saat ini, wajah yang jelas tidaklah pas-pasan, postur tubuh yang juga proporsional, dan belum lagi, latar belakang keluarga yang sungguh sangat jelas dan tidak bisa dipandang sebelah mata. Hampir menjadi paket lengkap dalam diri Ihsan.
Tapi sayangnya, sampai di usianya yang ke dua puluh delapan, Ihsan belum bisa memenuhi permintaan ibundanya untuk segera membawakan calon menantu. Karena ia sendiri, belum memiliki tambatan hati.
Sebenarnya banyak yang berusaha mendekati Ihsan. Dan bahkan, ibunya juga sudah beberapa kali memperkenalkannya pada anak perempuan dari temannya. Tapi belum ada yang bisa membuat Ihsan jatuh hati.
Lalu bagaimana dengan Nisa? Nisa pun selama ini jarang berbicara atau bahkan hanya sekedar menyapa Ihsan. Kecuali jika memang ada urusan pekerjaan.
"Pak Ihsan nyapa kamu, Nis?" Tanya Weni, yang berjalan beriringan dengan Nisa.
Nisa menoleh pada Weni dengan tatapan kaku. "Kayaknya iya deh,,"
Nisa pun tersenyum kaku pada Weni. Dan Weni masih menatap Ihsan yang mengantri lift bersama karyawan lain dengan bingung. Nisa pun akhirnya menoleh pada Ihsan yang mulai memasuki lift bersama karyawan lain.
"Kalian, ada hubungan, ya?" Selidik Weni.
Nisa segera menoleh lagi pada Weni dengan tatapan tajam.
"Iya. Kenapa? Kepo, ya?" Datar Nisa.
Weni jelas membelalakkan matanya. Ia tidak menyangka, jika Nisa dan Ihsan memiliki hubungan spesial di luar kantor.
"Nggak usah mikir aneh-aneh! Kan emang aku sama pak Ihsan punya hubungan. Kami partner kerja. Iya, kan?" Santai Nisa, setelah melihat ekspresi Weni.
"Kok itu? Maksudku di luar urusan kantor, Nis. Kalian diem-diem punya hubungan spesial, ya? Hayo, ngaku!" Cecar Weni gemas.
"Emang kenapa, sih?"
"Ya kita tahu sendiri, Nis. Pak Ihsan itu tipikal cowok pendiam. Kamu juga pernah bilang, nggak pernah nyapa atau disapa pak Ihsan kecuali urusan kerjaan. Lha ini, trus mendadak ramah banget sama kamu. Kalau kalian nggak ada hubungan, trus kenapa coba?"
Nisa terdiam. "Ini pasti gara-gara semalem."
"Hayo, ngaku!" Paksa Weni.
"Nggak ada, Wen." Jujur Nisa.
"Terus, kenapa mendadak pak Ihsan nyapa kamu?"
__ADS_1
"Ya mana ku tahu. Aku bukan cenayang, Weni Aprilia Maulani." Sahut Nisa mulai kesal.
Weni terdiam.
"Boro-boro punya hubungan di luar kantor, punya nomer pak Ihsan aja enggak. Gimana mau komunikasi coba? Masa iya, aku mesti dateng ke rumahnya? Tau aja kagak, alamat rumah pak Ihsan dimana." Imbuh Nisa lebih santai.
"Aku cuma tahu, pak Ihsan itu, manajer keuangan di kantor kita. Dia juga masih sepupunya pak Reyhan." Aku Nisa.
"Ya kalau itu, aku juga tahu." Sahut Weni tak terima.
"Nah, kan. Lagian, yang tiap hari satu divisi sama pak Ihsan, kan kamu. Harusnya kamu yang lebih kenal dan tahu tentang pak Ihsan dibanding aku." Cibir Nisa.
"Ya kalau di kantor kan kita fokus kerja, Nis."
"Ya sama dong kalau itu."
Nisa dan Weni akhirnya sama-sama diam.
"Gini aja! Nanti kamu tanya langsung aja ke pak Ihsan!" Usul Nisa.
"Tanya apa?"
"Ya tanya, kenapa tadi mendadak nyapa aku."
"Mana berani aku."
"Lha tadi kepo banget?"
"Tapi kalau urusan pribadi, nggak berani aku."
"Nis, tungguin!" Panggil Weni, yang melihat Nisa sudah beberapa langkah di depannya.
Nisa tidak menghiraukan panggilan Weni. Ia malah mengambil ponselnya yang masih ada di tas. Ia pun segera mengirimkan pesan pada Jeni.
"Sikap pak Ihsan berubah padaku. Dia mendadak ramah padaku barusan."
Nisa pun segera mengirim pesan singkat itu pada Jeni. Ia jelas menuruti saran Jeni kemarin, untuk mengatakan segala perubahan yang mungkin dilakukan Ihsan, setelah melihat wajah asli Nisa semalam.
"Aku harus lebih waspada pada pak Ihsan sepertinya." Batin Nisa seraya mengantri lift bersama Weni dan karyawan lain.
Di sisi lain, Ihsan masih tetap santai dengan apa yang baru saja ia lakukan. Ia tidak begitu memperhatikan sikap beberapa karyawan yang memandangnya sedikit berbeda.
"Bukankah wajahnya jauh berbeda dengan semalam? Tapi, kenapa dia menutupi wajah cantiknya itu?" Batin Ihsan sambil berjalan menuju ruang kerjanya.
Ihsan masih terus memikirkan wajah asli Nisa yang semalam tanpa sengaja terlihat olehnya. Hingga akhirnya, Ihsan memutuskan untuk mencoba mendekati Nisa. Ia ingin tahu, alasan apa yang membuat Nisa menutupi wajah aslinya.
Dan pagi ini, Ihsan sudah mulai mecoba mendekati Nisa. Dengan menyapanya.
Saat jam makan siang tiba, Nisa sedang bersiap untuk keluar makan bersama Weni. Mereka sudah janjian melalui pesan singkat tadi. Namun tiba-tiba,,
"Hai, Nis!" Sapa seorang laki-laki, yang tiba-tiba berdiri di depan meja Nisa.
"Iya? Oh, Pak Ihsan. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Jawab Nisa sedikit terkejut.
"Aku ingin mengajakmu makan siang. Apa kamu sudah ada janji?" Ajak laki-laki tadi, yang memang adalah Ihsan.
__ADS_1
"Apa? Oh, maaf Pak, saya sudah janjian makan siang dengan Weni. Tapi kalau Bapak berkenan, mari makan bersama kami!" Ramah Nisa.
"Kalau begitu, mungkin lain hari saja. Ada hal pribadi yang ingin aku katakan padamu." Jujur Ihsan.
Nisa terdiam.
"Apa aku boleh minta nomor ponselmu?" Pinta Ihsan tanpa basa-basi.
"A,, apa, Pak? Oh, iya, Pak. Boleh." Jawab Nisa bingung.
Ihsan pun tersenyum pada Nisa. Ia lalu menyodorkan ponselnya pada Nisa, agar Nisa bisa mengetikkan nomor ponselnya.
Nisa pun menerimanya dengan sedikit kaku. Karena ia juga tidak memiliki alasan untuk menolak permintaan Ihsan. Nisa lalu mengetikkan nomornya di ponsel Ihsan, dan segera mengembalikannya.
Ihsan pun segera menyimpan nomor Nisa dan mengirimkan pesan singkat ke nomor Nisa.
"Aku sudah mengirim pesan ke nomormu." Jujur Ihsan.
Nisa pun mengecek ponselnya. "Iya, Pak. Sudah masuk."
"Baiklah. Aku akan menghubungimu nanti. Selamat menikmati makan siangmu." Akhir Ihsan dengan senyum ramahnya.
"Iya, Pak. Terima kasih."
Ihsan pun meninggalkan Nisa yang masih kebingungan. Ihsan bahkan menyempatkan diri menyapa Rudi yang akan keluar makan siang juga.
"Bener-bener nggak beres ini." Batin Nisa, setelah Ihsan pergi.
"Cciiyyeeee,," Ucap Weni, yang tiba-tiba nyelonong begitu saja di depan meja Nisa.
Nisa bahkan sampai berjingkat saking terkejutnya dengan tingkah Weni.
"Roman-romannya, ada yang punya fans baru nih." Goda Weni.
"Fans apaan?" Ucap Nisa tidak terima.
"Itu, yang barusan minta nomor telepon. Asseekk,," Goda Weni makin semangat.
"Kalau dipikir-pikir, aneh juga ya." Gumam Nisa bingung.
"Heelloowww eneng yang cantik! Dari tadi kemana aja? Kan pak Ihsan mendadak nyapa kamu udah sejak tadi pagi. Kenapa baru sekarang ngerasa anehnya? Ente tidur Neng, dari tadi?" Gemas Weni sambil menggerak-gerakkan tangannya.
Nisa malah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Weni. Ia tidak menyangka, Weni akan segemas itu karena ucapannya.
"Dia malah ketawa?" Ucap Weni tidak terima.
"Udah ah, ayo makan! Nanti nggak kebagian rujaknya pak Asep lagi." Ajak Nisa untuk mengalihkan perhatian Weni.
"Oh, iya. Jangan dong kalau yang itu. Aku udah pengen dari kemarin. Masa hari ini kehabisan juga?" Sahu Weni lebih lembut.
"Makanya, ayok cepetan!"
Nisa dan Weni pun segera turun dan membeli makan siang.
Tapi, adegan tadi sedikit mencuri perhatian orang lain yang berada tidak jauh dari meja kerja Nisa. Rudi. Dia juga melihat dengan jelas, bagaimana Ihsan dengan santainya mengajak Nisa makan siang dan bahkan meminta nomor teleponnya.
__ADS_1
"Syukurlah. Semoga ini memang hal baik untuk mereka berdua." Batin Rudi tulus.