
Matahari semakin tergelincir ke barat. Semburat warna jingga di langit pun, semakin terlihat jelas. Itu menjadi pertanda, bahwa senja telah tiba. Mengantarkan para penikmat waktu, menuju malam yang mungkin menjadi pelepas lelahnya raga.
Nisa keluar dari parkiran dengan motornya bersama karyawan lain. Ia lega, motornya sudah tidak lagi kempes bannya, karena tadi siang, sudah dibantu diperbaiki oleh pak satpam. Baru saja ia ingin keluar dari pelataran gedung kantornya, motornya dan beberapa karyawan lain, dicegat oleh sebuah mobil secara mendadak.
"WOIII! Kalau nyetir yang bener dong!" Seru beberapa rekan Nisa.
Nisa juga jelas ikut terkejut karena hal itu. Tapi ia segera sadar, pengemudi mobil itu, sangat ia kenali. Dan karena posisi Nisa yang diapit oleh rekan-rekannya, ia tidak bisa banyak bergerak atau pergi begitu saja. Ia pun mulai panik.
Dan saat itu terjadi, pengemudi mobil itu keluar dengan santai. Ia tidak mempedulikan beberapa orang yang terlihat kesal karena ulahnya yang tidak karuan.
Rekan-rekan Nisa sedikit terkejut saat melihat si pengemudi keluar. Mereka akhirnya memilih diam dan acuh, tanpa mau berkomentar lagi.
Revan. Ia segera mencegat motor Nisa, setelah bisa melewati motor yang ada di depan motor Nisa.
"Kita harus bicara, Sayang!" Tegas Revan, saat berdiri tepat di depan motor Nisa.
Nisa tidak menghiraukan Revan sama sekali. Ia malah bersiap untuk memacu motornya, agar bisa segera pergi dan tidak bertemu dengan Revan.
Tapi Revan bertindak cepat. Ia tahu, Nisa pasti akan lari lagi darinya. Jadi, dengan cepat, ia meraih kunci motor Nisa, memutarnya hingga membuat motor Nisa pun tidak menyala. Dan dengan segera menarik kunci itu dari tempatnya.
"Kembalikan kunci motorku!" Pinta Nisa tanpa takut.
"Kita bicara dulu! Baru setelah itu, aku akan kembalikan kunci ini padamu." Jawab Revan yakin.
"Aku nggak ada urusan lagi denganmu." Kesal Nisa.
"Ada yang ingin aku katakan padamu, Sayang! Dengarkan penjelasanku dulu!"
"Jangan panggil aku dengan panggilan itu lagi. Aku sudah bukan kekasihmu lagi. Kita sudah putus sejak malam itu." Tegas Nisa.
"Tapi aku tidak mau." Tegas Revan balik.
"Aku tidak peduli."
"Kita bicara di tempat lain!"
"Aku ada urusan. Kembalikan kunci motorku!" Ketus Nisa.
"Kita bicara dulu, baru aku kembalikan kunci motormu!"
"Aku harus segera pergi menemui Jeni."
"Temui bersamaku!"
"Jangan ikut campur! Itu urusanku dengan Jeni." Tegas Nisa.
Revan mulai kehabisan kesabarannya. Ia berpindah posisi ke samping kiri Nisa. Ia dengan cepat menurunkan standar samping motor Nisa, dan segera meraih tangan kiri wanita yang masih berada di atas motornya itu.
"Lepasin!" Ucap Nisa sambil meronta.
Karena Revan yang tanpa aba-aba menarik tangan Nisa, Nisa hampir saja jatuh bersama dengan motornya.
Tapi tiba-tiba,,
"Lepaskan Nisa dan kembalikan kunci motornya!" Sela seseorang, sambil memegangi tangan kanan Revan.
Revan dan Nisa sontak menoleh.
"Pak Reyhan?" Gumam Nisa terkejut.
"Aku sudah memperingatkanmu kemarin. Jangan berulah di area kantorku! Apalagi, kamu berurusan dengan karyawanku." Tegas Reyhan yang sudah mulai geram dengan sikap Revan pada Nisa.
"Aku tak ada urusan denganmu. Aku ada urusan pribadi dengan Nisa." Ketus Revan tak terima.
"Tapi kamu masih berada di wilayah kantorku dan bahkan berurusan dengan sekertarisku." Jawab Reyhan tanpa ragu.
"Ini urusan pribadi. Dan lagi, ini sudah bukan jam kantor. Kamu tak bisa ikut campur sesukamu!" Bela Revan.
"Tapi, bukankah Nisa juga menolaknya? Apa seperti itu caramu memperlakukan wanita?" Tantang Reyhan.
"Aku tak ingin bicara denganmu saat ini. Jadi jangan menggangguku!" Teriak Nisa untuk menghentikan ulah Revan.
"Ada yang harus kita bicarakan." Sahut Revan sedikit mengiba.
"Tidak sekarang. Aku sudah ada janji dengan Jeni. Aku akan menghubungimu jika aku sudah ada waktu." Tegas Nisa.
"Kamu dengar sendiri, apa yang Nisa katakan, bukan? Jadi, segera lepaskan tangannya dan kembalikan kunci motornya! Atau perlu kupanggilkan polisi untuk menjauhkanmu dari Nisa?"
Nisa yang tadi fokus untuk menjawab Revan dan berusaha melepaskan tangannya dari Revan, dengan segera menoleh pada Reyhan. Ia berusaha memahami ucapan Reyhan yang sedikit, janggal.
Revan yang memang sudah terpojok, akhirnya memilih melepaskan tangan Nisa. Ia tidak menyadari kejanggalan ucapan Reyhan barusan.
Reyhan pun akhirnya juga melepaskan cengkeraman tangannya di tangan Revan.
"Kembalikan kunciku!" Pinta Nisa segera, sambil menahan rasa sakit di pergelangan tangannya.
__ADS_1
Revan akhirnya mengembalikan kunci Nisa dengan terpaksa. Ia pun segera melangkahkan kakinya menuju mobilnya.
"Terima kasih, Pak." Tulus Nisa, tanpa menghiraukan kepergian Revan.
"Lain kali, segera minta tolong pada sekuriti atau siapapun itu, jika Revan kembali memperlakukanmu seperti tadi!" Nasehat Reyhan.
"Iya, Pak. Sekali lagi, terima kasih karena Bapak sudah menolong saya lagi."
"Iya."
Reyhan pun akhirnya berbalik badan dan meninggalkan Nisa. Beberapa karyawan kantor yang sempat menyaksikan adegan drama itu pun akhirnya juga ikut membubarkan diri. Nisa pun juga segera kembali menaiki motornya dan meninggalkan kantornya.
Tapi, ada seorang karyawan Reyhan yang masih dengan seksama memperhatikan Nisa dari dalam mobilnya sendiri. Bahkan, ia tidak melepaskan pandangannya dari Nisa, hingga Nisa pergi menghilang dalam keramaian lalu lintas.
Dia Ihsan. Ihsan Novian. Ia adalah manajer divisi keuangan di kantor Reyhan. Ihsan juga adalah sepupu Reyhan. Ia saudara sepupu Reyhan dari sang ibu. Usianya hampir sama dengan Reyhan, hanya terpaut beberapa bulan saja.
"Kenapa Reyhan berkata seperti itu tadi? Apa dia memiliki hubungan yang tidak seharusnya dengan Nisa? Tapi, masa iya, Reyhan tertarik sama Nisa? Secara, Viona aja jelas beda jauh sama Nisa. Kayak langit dan bumi, banget." Batin Ihsan.
"Aku harus cari tahu." Gumam Ihsan sembari mulai melajukan mobilnya lagi, untuk meninggalkan kantornya.
Memang terkadang, apa yang terlihat secara kasat mata, tidak selalu seperti apa yang terlihat. Terkadang, ada sebuah niat hati yang memang hanya kita dan Sang Pemilik Hati lah yang mengetahui.
...****************...
Setelah sampai di apartemen, Nisa segera membersihkan diri, dengan perasaan kesal dan sedikit kebingungan. Perasaan yang sejak tadi membayanginya di sepanjang perjalanan.
"Pak Reyhan kok kelihatan serius banget sih tadi?" Gumam Nisa sembari memakai piyamanya.
Nisa mengingat dengan seksama, ekspresi wajah Reyhan yang begitu serius saat menolong Nisa tadi. Ia bahkan tidak terlihat takut atau ragu untuk membela Nisa. Yang notabene, hanyalah karyawannya saja.
"Tapi, kalau kayak tadi, pak Reyhan kelihatan ganteng banget. Wibawanya kelihatan banget. Uuhh, suami idaman banget kalau kayak gitu."
"Tapi sayang, istrinya kok malah selingkuh sama laki-laki lain. Kurang apa coba pak Reyhan itu? Udah ganteng, pinter, ramah, baik, tajir lagi. Paket komplit. Tapi masih juga diselingkuhin." Cerocos Nisa seorang diri.
"Apa iya, usulan Elvin kemarin aku terima aja, ya? Siapa tahu,,,"
"Ah, kok aku malah ngelantur sih?" Kesal Nisa.
Nisa akhirnya berusaha mengalihkan pikirannya dari Reyhan. Ia masih enggan menanggapi serius usulan dari Elvin yang sedikit kurang baik itu. Dan tidak lama, Jeni pun akhirnya juga pulang.
"Jen! Besok temenin aku, ya!" Pinta Nisa, setelah ia tiduran santai di kasur Jeni yang baru saja selesai mandi.
"Kemana?" Santai Jeni, sambil mengoleskan skin care di wajahnya.
"Ngapain kamu mau ketemu sama dia? Mau balikan?"
"Iihh, ogah! Aku mau negasin kalau aku udah nggak mau lagi ngelanjutin hubungan sama dia."
"Emang dia masih ngejar lagi?"
"Masih. Tadi aja, dia nyegat aku lagi pas mau pulang."
"Lagi?"
Nisa mengangguk manja.
"Terus?"
Nisa pun menceritakan pada Jeni, kejadian kecil saat ia akan pulang tadi.
"Aku kok curiga ya sama pak Reyhan?" Celetuk Jeni.
"Curiga kenapa?" Bingung Nisa.
"Jangan-jangan, dia ada rasa sama kamu?"
"Ngaco kamu! Masa iya, pak Reyhan bisa kecantol sama itik buruk rupa? Jangan lupa Neng, wajah asliku cuma kamu dan Elvin yang tahu."
"Ya kalau gitu, kamu pakai wajah aslimu aja. Biar pak Reyhan beneran kecantol sama kamu."
"Enak aja! Emangnya aku cewek apaan?"
"Tapi, jujur deh! Kamu seneng kan dibelain sama pak Reyhan?"
"Seneng sih, seneng. Tapi kan jadi nggak enak juga. Jadi hutang budi sama pak Reyhan."
"Budi siapa?" Goda Jeni.
"Budi noh, yang jualan nasi goreng langganan kita." Kesal Nisa.
Jeni pun tertawa terbahak-bahak karena mendapati Nisa yang kesal. Ia sengaja mengalihkan topik pembicaraan untuk menggoda Nisa, yang akan jelas tetap keukeuh menyembunyikan wajah aslinya.
Jeni yang sudah selesai dengan skin care malamnya, lalu duduk di tepi kasurnya.
"Kamu yakin mau nemuin Revan, besok?" Tanya Jeni.
__ADS_1
Nisa mengangguk mantap. "Aku mau urusanku sama dia segera selesai. Masa iya, tiap kali aku pulang kerja, dicegat sama dia."
"Oke. Dimana kamu besok mau ketemuan?"
"Di kafe biasanya aja. Gimana?"
"Oke."
Nisa tersenyum lebar. Ia lega, Jeni mau menemaninya menemui Revan untuk menyelesaikan urusannya.
"Setelah itu, jangan lupa ya, godain itu pak Reyhan! Biar impas, kamu sama istrinya yang nggak tahu diri itu." Usul Jeni.
"Nggak! Aku mau sama pak Rudi aja." Jawab Nisa sekenanya.
"Pak Rudi? Nggak salah kamu?"
"Enggak."
"Ya mending pak Reyhan kemana-mana dong, Nis."
"Lha kamu sih! Masa iya, aku disuruh jadi pelakor demi balas dendam? Teman apaan kamu, hah?" Kesal Nisa.
Jeni pun cekikikan mendengar jawaban Nisa. Mereka pun tertawa bersama sambil melepas lelah. Tak lupa, Nisa pun mengabari Revan untuk membuat janji bertemu esok hari, seperti yang ia rencanakan.
Dan keesokan harinya, karena akhir pekan, Nisa dan Jeni menemui Revan pukul sebelas siang. Mereka tiba lebih dulu sebelum Revan, sembari nongkrong cantik menikmati akhir pekan.
Pukul sebelas tepat, Revan terlihat memasuki pintu masuk sebuah kafe yang sudah cukup terkenal di salah satu sudut ibukota. Kafe yang terkenal dengan citarasa es krimnya yang berbeda dan begitu menggugah selera.
Revan segera mengedarkan pandangannya. Ia mencari sosok perempuan yang jelas sudah sering menemaninya menghabiskan waktu dalam dua tahun terakhir. Apalagi, wanita itu memiliki penampilan yang cukup berbeda dengan yang lain.
Revan tersenyum sumringah saat melihat wajah seorang perempuan yang tidak asing baginya, Jeni. Ia yakin, Jeni berada di sana pasti bersama dengan Nisa. Revan pun melangkah dengan pasti.
"Kalian udah lama?" Sapa Revan santai.
Jeni dan Nisa segera menoleh. Karena mereka tadi sama-sama tidak menyadari kedatangan Revan.
"Belum." Singkat Nisa.
Nisa segera berpindah tempat duduk yang lebih dekat dengan Jeni. Ia berharap, Revan akan duduk di hadapannya. Jadi ia bisa mengambil jarak dengannya.
Revan lalu duduk di kursi, dimana Nisa tadi duduk. Ia lalu segera memesan minuman dan sedikit kudapan ringan sebagai temannya.
Nisa sedikit acuh dengan Revan. Ia malah sibuk berkirim pesan dengan Weni.
Revan yang jelas merasa diacuhkan, sedikit menahan amarah dan kekesalannya, demi bisa melancarkan rencananya yang sedikit tertunda karena ketahuan selingkuh dengan Viona.
"Aku nggak mau kita putus, Yang." Mulai Revan, setelah pesanannya tiba.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu!" Geram Nisa.
"Tapi,,"
"Aku udah nggak mau lagi ngelanjutin hubungan itu." Sahut Nisa tegas.
"Aku minta maaf, untuk malam itu, Nis. Aku kebawa suasana karena sedikit mabuk."
"Kebawa suasana kamu bilang? Kalian saja terlihat sangat menikmatinya. Mataku masih bisa melihat itu dengan jelas, Van." Sanggah Nisa.
"Aku benar-benar menyesal, Nis." Bohong Revan dengan penuh iba.
"Terserah! Tapi yang pasti, aku nggak mau lagi berhubungan denganmu. Jadi, jangan pernah menemuiku atau menggangguku lagi dimanapun!" Tegas Nisa lagi.
"Tapi Nis, aku masih sayang sama kamu."
"Terserah!"
Tanpa basa-basi, Nisa segera berdiri. "Ayo pulang, Jen!"
"Tunggu, Nis!" Cegah Revan.
"Urusan kita sudah selesai! Jangan pernah menemuiku lagi, selain untuk urusan kantor! Atau aku tidak segan melaporkanmu ke polisi." Ancam Nisa.
"Tapi Nis,,"
Nisa segera melangkahkan kakinya meninggalkan Revan yang jelas sangat kesal.
"Kami pergi dulu." Pamit Jeni singkat.
Revan diam tak menjawab. Ia hanya melihat Nisa yang sedang berjalan menuju kasir untuk membayar pesanannya. Yang juga segera disusul oleh Jeni.
"Sial! Dasar cewek cupu nggak tahu diri! Udah untung aku mau jadi pacarnya, malah seenaknya aja mutusin aku. Emang, siapa dia? Kamu jelas kalah telak kalau dibandingkan sama Vio. Cih!" Batin Revan kesal.
Perasaan kesal Revan, mengalahkan perasaan sayangnya pada Nisa yang tumbuh sedikit seiring berjalannya waktu. Apalagi, Nisa tidak pernah mau jika tubuhnya dijamah oleh Revan, yang jelas sudah terbiasa menjamah Viona. Itu jelas semakin memperkecil rasa bersalahnya pada Nisa.
"Kamu akan menyesal karena memutuskanku seenaknya saja!" Geram Revan sambil menatap Nisa yang mulai berjalan ke arah pintu keluar.
__ADS_1