
"Kenapa ketemuan di sini, sih?" Tanya Viona sedikit kesal, pada laki-laki yang baru saja memasuki lift yang ia tumpangi.
"Bersikaplah biasa! Kamu sedang diawasi." Jawab laki-laki itu tegas, tapi tetap lembut.
"Siapa?"
"Anak buah Reyhan."
Pintu lift pun tertutup, setelah laki-laki itu memencet tombolnya.
"Apa? Jangan mengada-ada!" Tolak Viona tidak terima.
"Aku sudah mengawasinya dua hari ini. Ada yang selalu mengikutimu. Makanya, hari ini aku meminta bertemu di sini saja. Untuk mengurangi kecurigaan mereka." Jelas si laki-laki, yang tidak lain adalah Revan.
"Mana mungkin Reyhan melakukan itu? Dia sangat percaya padaku."
"Dia punya mata lain yang juga tidak kalah jeli, Sayang."
"Pak Rudi maksudmu?"
Revan hanya mengangguk.
"Tapi, untuk apa dia membuntutiku?"
"Ini pasti buntut dari kecurigaan Revan pada Nisa. Apa sikap Nisa terlihat berbeda denganmu setelah malam itu?"
"Itu jelas, Sayang. Dia sangat acuh dan kesal padaku saat aku bertemu dengannya."
"Rudi pasti menyadari itu. Dan dia pun juga mengawasimu."
"Sial!" Umpat Viona kesal.
Saat itu terjadi, pintu lift yang mereka tumpangi pun terbuka.
"Aku keluar dulu. Aku akan menghubungimu lagi nanti."
Viona hanya diam tidak menjawab. Mereka berdua lalu berpisah begitu saja, karena beberapa pengunjung mall lainnya juga memasuki lift.
"Kenapa aku yang dibuntuti?" Batin Viona kesal.
Iya. Revan menyadari jika Viona dibuntuti oleh pengawal Reyhan selama dua hari. Awalnya ia tidak curiga dengan hal itu. Tapi karena pengawal Reyhan sempat memotret Viona yang sedang bersama dengannya, ia pun mulai curiga dan menyadari jika mereka sedang diawasi.
Dan karena hal itulah, hari ini, Revan menuruti permintaan Viona untuk menemuinya di tempat yang tidak biasa. Jika biasanya Revan akan menemui Viona di restoran atau hotel, tapi hari ini, mereka janjian bertemu di lift salah satu mall di ibukota.
Revan pun mulai jarang merespon pesan atau panggilan Viona di ponselnya sejaj semalam. Ia waspada, jika ternyata, nomor ponsel Viona juga disadap oleh anak buah Reyhan. Dan itu jelas akan membuat hubungan gelapnya dengan Viona terbongkar.
Revan lebih dulu menuju salah satu toko pakaian yang ada di mall itu, untuk sedikit mengalihkan perhatian, jika ada pengawal Reyhan yang membuntutinya.
Viona pun akhirnya juga melakukan hal yang sama dengan Revan, setelah keluar dari lift, tapi di lantai yang berbeda dengan Revan tadi. Ia langsung mengerti dan memahami maksud ucapan Revan tadi. Jadi, ia juga tahu, apa yang harus ia lakukan, demi menghilangkan kecurigaan pengawal Reyhan padanya.
Pengawal Reyhan yang membuntuti Viona, segera melaporkan apa yang mereka lihat pada Rudi.
"Apa mereka masih menjalin hubungan secara diam-diam selama ini? Tapi, bukankah pak Revan berpacaran dengan Nisa selama ini? Ataukah mungkin,," Batin Rudi bingung, setelah mendapat laporan anak buahnya.
Rudi masih belum mengetahui, alasan perubahan sikap Nisa pada Viona. Hasil pencarian anak buahnya, hanya memberikan hasil, bahwa Nisa selama ini bekerja dengan sangat profesional. Ia tidak pernah membocorkan apapun tentang pekerjaannya pada orang diluar kantor.
Dan yang mengejutkan Rudi, ternyata adalah hasil penyelidikan Viona. Rudi menerima foto, dimana Viona selama dua hari berturut-turut bertemu dengan Revan di hotel dan di butik milik Viona. Mereka bahkan terlihat begitu dekat dan santai saat saling berbicara dan bersenda gurau di foto yang diterima Rudi.
Rudi akhirnya meminta anak buahnya untuk lebih menyelidiki Viona. Karena Rudi sangat tahu, masa lalu Revan dan Viona.
Iya. Tidak ada yang mengira, jika Viona akan menikah dengan Reyhan. Karena Viona dulu adalah kekasih Revan sejak masih di bangku SMA. Bahkan, hubungan itu berlanjut hingga saat mereka berdua berkuliah di universitas yang sama.
Hubungan istimewa Revan dan Viona, berlanjut hingga saat mereka menjalani skripsi. Banyak yang merasa iri dengan hubungan Revan dan Viona, karena mereka terlihat sangat serasi dan tidak pernah terlihat berdebat sama sekali. Teman-teman kampus Revan dan Viona mengira, hubungan mereka akan berlanjut hingga ke jenjang pernikahan.
Tapi semua hilang begitu saja. Revan dan Viona berpisah begitu saja tanpa alasan yang jelas. Hubungan asmara yang begitu romantis itu, mendadak kandas dan berakhir. Mereka pun akhirnya melanjutkan studi masing-masing di kampus yang berbeda.
Dan saat itulah, Viona segera menjalin hubungan dengan Reyhan, yang kebetulan berkuliah di kampus yang sama dengan Viona. Reyhan yang memang sempat tertarik dengan Viona, saat Viona masih berpacaran dengan Revan dulu, jelas segera mengambil langkah cepat untuk mendekati dan mengambil hati Viona.
Dan tidak butuh waktu lama bagi Reyhan untuk bisa meluluhkan hati Viona. Hingga mereka pun segera berpacaran. Dan hubungan itu, berlanjut hingga ke jenjang pernikahan. Dan sampai saat ini.
Apa Reyhan merebut Viona dari Revan? Jelas tidak, bukan? Karena saat itu, Viona dan Revan memang sudah tidak berpacaran. Jadi, sah-sah saja jika Reyhan mendekati Viona dan akhirnya berpacaran dan hingga menikah dengan Viona.
Tapi yang menjadi pertanyaan, apakah benar, rasa sayang dan cinta Viona pada Revan sudah benar-benar hilang? Dan apakah Viona benar-benar tulus mencintai Reyhan sepenuhnya? Mengingat, hubungan Revan dan Viona sudah terjalin cukup lama.
...****************...
__ADS_1
Malam yang indah kembali tiba. Jutaan bintang menghiasi langit gelap nan indah malam ini. Menjadi hamparan kanvas ciptaan Yang Maha Kuasa yang begitu istimewa.
"Nis, aku mau jalan-jalan sama Elvin. Mau ikut nggak?" Tanya Jeni sedikit berteriak, karena Nisa sedang di kamarnya.
"Jalan-jalan kemana?" Sahut Nisa dari dalam kamar, sembari turun dari ranjang.
"Muter-muter aja. Ikut nggak?"
"Oke. Bentar, aku ambil masker!" Jawab Nisa antusias.
Nisa pun segera mengambil masker untuk menutupi wajah aslinya. Ia sudah terlanjur membersihkan wajahnya dari jerawat jadi-jadiannya, dan sedang enggan membuatnya lagi. Jadi, ia memilih memakai masker saja saat ini.
"Nggak jadi itik lagi?" Sindir Elvin.
"Malas dandan lagi. Lagian, cuma muter-muter, kan?" Santai Nisa.
"Iya. Lagi bosen di rumah. Yuk!" Sahut Jeni.
Nisa mengangguk yakin. Ia segera digandeng oleh Jeni dengan manja. Elvin akhirnya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua sahabat itu.
"Aku malah mirip pengawal kalian, ya?" Cicit Elvin.
Nisa dan Jeni lalu menoleh pada Elvin yang baru saja akan keluar dari pintu. Mereka saling pandang sejenak. Dan sejurus kemudian, tawa renyah dua sahabat itu pun menggema dengan begitu nyaringnya.
Memang, kedekatan Nisa dan Jeni sudah seperti saudara kandung. Persahabatan yang terjalin sejak lama, bahkan mereka kini tinggal satu atap dan sering berbagi banyak hal, membuat ikatan perahabatan mereka lebih kuat.
Nisa dan Jeni bahkan rela bertengkar dengan kekasih mereka masing-masing, jika kekasih mereka mempermasalahkan kedekatan dua sahabat itu. Dan dari situlah, mereka makin percaya satu sama lain.
Elvin awalnya sedikit risih dengan kedekatan Nisa dan Jeni. Tapi setelah pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan Jeni saat awal pacaran dulu karena permasalahan itu, Elvin akhirnya menerima kedekatan Nisa dan Jeni dengan lapang dada.
Dan sekarang, mereka bertiga malah lebih mirip tiga bersaudara. Elvin pun kini sudah sangat terbiasa dengan Nisa yang akan mengikutinya dan Jeni, ketika ia dan Jeni pergi menghabiskan waktu.
Elvin berjalan santai di belakang Nisa dan Jeni yang asik bercerita sambil melewati lorong. Ia benar-benar mirip pengawal dua sahabat itu saat ini.
"Kalian mau kemana sih?" Tanya Nisa, setelah mobil Elvin keluar dari parkiran apartemen.
"Jalan-jalan aja." Santai Elvin.
Dan benar, Nisa, Jeni dan Elvin menapaki jalanan malam ibukota sambil menikmati pemandangan malamnya.
"Yang, laper." Rengek Jeni setelah jam menunjukkan pukuk setengah sepuluh malam.
"Oke." Sahut Jeni semangat.
"Siap laksanakan!" Jawab Elvin paham.
Jeni pun menyempatkan untuk mendaratkan kecupan manja di pipi kiri Elvin.
"Makasih, Sayang." Manja Jeni.
Elvin pun menoleh dan tersenyum manis pada Jeni.
Begitu juga satu penumpang yang duduk di kursi belakang. Nisa bahagia, melihat Jeni dan Elvin yang selalu akur dan begitu bahagia menjalani hubungan mereka.
"Semoga hubungan kalian langgeng, ya!" Batin Nisa haru.
Setelah berkendara sekitar tiga puluh menit sambil bercanda penuh tawa, Elvin mulai menepikan mobilnya di salah satu sisi jalan. Diantara barisan beberapa mobil lain yang juga terparkir rapi di sekitar.
"Aku nasi goreng spesial pedas, ya! Krupuknya ekstra." Pesan Nisa segera, sebelum Jeni dan Elvin turun dari mobil.
"Oke." Sahut Jeni paham.
Jeni dan Elvin pun segera keluar dari mobil. Sedang Nisa, segera memainkan ponselnya untuk menunggu Jeni dan Elvin selesai mengantrikan pesanan makan malam mereka.
Jeni dan Elvin segera memesan menu mereka masing-masing. Tidak lupa, pesanan Nisa pun juga ikut didaftarkan.
"Nisa mana? Kok nggak turun-turun?" Tanya Elvin celingukan setelah ia dan Jeni duduk di salah satu kursi yang ada.
"Ya di mobil dong, Yang." Santai Jeni.
"Dia nggak ikut makan? Bukannya tadi udah pesen?"
"Kan dia lagi nggak jadi itik, Yang. Mana mau dia makan di sini."
Elvin terdiam. Ia berusaha memahami kalimat Jeni.
__ADS_1
"Emang dia tadi nggak dandan, Yang?" Tanya Elvin meyakinkan.
"Astaga, Sayangku! Kita itu barengan sejak dari rumah, lho. Masak kamu nggak ngeh, kalau Nisa jadi angsa dari tadi? Lagian, kamu kan tadi udah tanya sama Nisa pas mau keluar rumah?" Ucap Jeni tak percaya.
Elvin terdiam lagi. Ia pun akhirnya ingat, tadi Nisa keluar dari apartemen dengan mengenakan masker demi menutupi wajah aslinya.
"Oh, iya. Aku lupa." Jawab Elvin sambil sedikit tertawa kaku.
Jeni hanya menggelengkan kepalanya.
Jeni dan Elvin sudah biasa menjuluki Nisa seperti itu, angsa dan itik. Nisa diujuluki angsa, saat ia sedang tanpa riasan jerawat jadi-jadiannya. Dan Nisa dijuluki itik, saat ia sedang menjadi wanita berjerawat dengan dandanan yang cupu, seperti saat keluar rumah.
"Eh, berarti kita makan di rumah, kan?" Tanya Elvin lagi.
"Iya. Aku udah pesen dibungkus tadi."
"Oke, Sayang."
Jeni dan Elvin pun mengobrol sambil menunggu antrian pesanan mereka. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang tanpa sengaja mendengar obrolan sederhana sepasang kekasih itu.
"Bukankah dia yang kemarin nganter Nisa berangkat ke kantor?" Batin seorang laki-laki, yang duduk di belakang Jeni.
Laki-laki itu sejak tadi sudah memperhatikan kedatangan Jeni dan Elvin. Dan tanpa sengaja, Jeni dan Elvin duduk di bangku tepat di belakangnya.
"Nisa, di mobil?" Batin laki-laki itu sambil memperhatikan mobil milik Elvin, yang kebetulan terparkir di belakang mobilnya.
Laki-laki itu menangkap bayangan seseorang di dalam mobil Elvin. Meski tidak begitu jelas, tapi ia yakin, itu adalah seorang wanita.
"Apa maksudnya angsa dan itik? Nisa nggak dandan? Angsa??" Batin laki-laki tadi penuh tanya.
Laki-laki itu menyadari sesuatu. Ia mulai paham dengan panggilan angsa dan itik yang disebutkan Jeni dan Elvin tadi.
"Tapi, bukankah angsa itu identik dengan wanita cantik? Dan itik,, tapi kenapa Nisa disebut angsa, padahal dia nggak dandan?" Batin laki-laki itu lagi.
"Oh, ponselku ketinggalan di mobil, Yang." Seru Jeni tiba-tiba sambil merogoh saku celananya.
"Aku ambilin." Sahut Elvin.
"Aku aja. Aku sama mau bilang sesuatu ke Nisa bentar."
"Oke. Aku tunggu sini, ya!"
Jeni pun mengangguk setuju. Ia lalu berdiri dan kembali ke mobil Elvin.
Mata laki-laki tadi pun, mengikuti kemana Jeni melangkah. Jeni ternyata berhenti di samping mobil Elvin. Ia lalu mengetuk kaca pintu belakang. Tak lama, kaca mobil pun diturunkan oleh seseorang dari dalam mobil.
"Kenapa?" Ucap Nisa sambil sedikit mengintip.
"Ponselku ketinggalan. Tolong ambilin dong, Nis!" Pinta Jeni santai.
"Dimana?"
"Kursi depan."
Nisa segera mencari keberadaan benda kotak pipih milik Jeni itu. Ia lalu memberikan pada Jeni, setelah menemukannya.
"Makasih." Ucap Jeni bahagia.
"Kamu yakin, nggak ikut turun?" Imbuh Jeni.
Nisa hanya mengangguk, yang juga dibalas anggukan kepala oleh Jeni. Nisa lalu kembali menutup kaca setelah Jeni berbalik badan. Tapi, ada yang mengganggu pikirannya secara mendadak. Nisa pun akhirnya kembali menurunkan kaca mobil. Dan tanpa sengaja, wajahnya sedikit terekspos dari luar. Ia lalu sedikit menunduk segera.
"Jen! Jeni!" Panggil Nisa, dengan wajah yang nyaris menempel pada kaca mobil.
Jeni pun menoleh dan kembali. "Kenapa?"
"Antrinya banyak nggak?"
"Enggak. Bentar, ya! Atau ayo ikutan keluar! Kamu tadi pakai masker, kan?"
"Enggak. Aku di mobil aja."
"Oke."
Jeni pun kembali berbalik badan. Dan saat itu, Nisa melihat seseorang yang ia kenali sedang duduk di belakang Elvin dan sedang memperhatikannya. Ia bahkan bisa melihat cukup jelas, orang itu menggumamkan namanya.
__ADS_1
"Nisa? Apa itu benar-benar Nisa?" Gumam laki-laki tadi.
"Pak Ihsan?" Gumam Nisa terkejut, dengan kening yang berkerut dalam untuk meyakinkan pandangannya.