
"Nisa? Apa itu benar-benar Nisa?" Gumam laki-laki tadi.
"Pak Ihsan?" Gumam Nisa terkejut, dengan kening yang berkerut dalam untuk meyakinkan pandangannya.
Dua pasang mata itu jelas bertemu pandang dalam jarak beberapa meter. Nisa bergegas menutup kaca mobilnya kembali. Tapi, saat itu juga, Ihsan pun berdiri dari kursinya dan dengan yakin melangkahkan kakinya untuk memastikan bahwa yang baru saja ia lihat adalah rekan satu kantornya.
"Aku tidak mungkin salah lihat." Batin Ihsan sembari berjalan dengan yakin.
"Apa pak Ihsan melihat wajahku tadi? Aduh, gimana ini? Kenapa juga aku pake lupa nggak pake masker sih?" Panik Nisa di dalam mobil.
Iya. Ihsan tadi sempat melihat wajah Nisa, saat Nisa membuka kaca mobil. Meski keadaannya sedikit gelap, tapi wajah Nisa cukup terlihat jelas oleh Ihsan. Hingga akhirnya, Ihsan memahami obrolan Jeni dan Elvin yang tidak sengaja ia dengar tadi. Ia pun ingin memastikan, jika Nisa sedang jadi angsa saat ini.
"Apa pak Ihsan jalan kemari?" Gumam Nisa, saat melihat Ihsan berjalan ke arah mobil.
Nisa segera meraih maskernya. Ia pun lalu memakainya dengan cepat. Dan saat itu selesai, seseorang mengetuk kaca mobil dari luar. Nisa pun sedikit berjingkat karena terkejut.
Tok, tok, tok. Ihsan mengetuk kaca mobil Elvin dengan yakin.
"Astaga! Pak Ihsan?" Gumam Nisa saat melihat Ihsan berdiri di samping mobil.
Nisa menelan salivanya dengan cemas. Jantungnya mendadak berdegup begitu kencang karena gugup. Ia sungguh tidak mengira, Ihsan akan menghampirinya saat ini.
Perlahan-lahan Nisa menurunkan kaca mobil yang diketuk oleh Ihsan tadi. Nampak jelas di mata Nisa, Ihsan segera membungkukkan badannya untuk melihat orang yang ada di dalam mobil.
"Nisa?" Sapa Ihsan segera.
"Pak Ihsan?" Jawab Nisa seramah mungkin. Ia bahkan berusaha tersenyum di balik masker yang ia kenakan.
"Ini beneran kamu, Nis?" Tanya Ihsan meyakinkan.
Nisa lalu menarik tuas di pintu mobil. Ia bermaksud untuk keluar dan menghadapi Ihsan dengan lebih sopan di luar mobil. Ihsan pun refleks memundurkan langkahnya agar Nisa bisa keluar.
"Iya, Pak." Jawab Nisa setelah ia menutup pintu kembali.
"Bapak dengan siapa?" Tanya Nisa demi mengalihkan perhatian Ihsan.
"Sendiri. Kamu, sama temenmu tadi?"
"Iya, Pak."
Ihsan mengingat wajah Nisa yang tadi sempat dilihatnya tanpa ruam merah dan jerawat yang melengkapinya.
"Mustahil wajah Nisa bisa mulus dalam sekejap jika tanpa riasan. Tapi, teman Nisa tadi bilang, Nisa sedang tidak memakai riasan. Apa memang wajah Nisa sebenarnya mulus dan secantik itu?" Batin Ihsan sembari menatap wajah Nisa yang tertutup masker.
Nisa menyadari sikap Ihsan yang mendadak diam. "Kayaknya, pak Ihsan menyadari wajahku. Aku harus mengalihkan perhatiannya." Batin Nisa.
"Maaf, Pak. Saya ke tempat teman saya dulu. Ada yang ingin saya katakan padanya." Pamit Nisa segera.
"Apa? Oh, iya." Jawab Ihsan sedikit gelagapan, karena sedikit terfokus dengan wajah asli Nisa tadi
Nisa lalu kembali membuka pintu mobil dan menutup kacanya terlebih dahulu. Ia lalu bergegas menyusul Jeni dan Elvin yang sedang menunggu pesanan. Sedang Ihsan, hanya menatap Nisa yang berjalan meninggalkannya.
"Aku ketahuan kayaknya." Ucap Nisa segera, saat ia sampai di dekat Jeni.
"Ketahuan apanya?" Sahut Jeni sedikit terkejut. Elvin pun spontan menoleh pada Nisa.
"Wajahku. Temen kantorku nyamperin aku barusan."
"Ya kali, dia lihat wajahmu?"
"Dia tadi lihat aku pas ngobrol sama kamu di jendela mobil."
__ADS_1
"Dia bilang langsung?" Paham Jeni.
"Enggak. Tapi kelihatan banget dari sikapnya barusan."
"Barusan? Dia nyamperin?"
"Iya. Dia langsung nanyain kalau ini beneran aku atau bukan."
"Terus?"
"Ya aku bilang, iya. Aku jelas nggak bisa buka masker dong, Jen."
Jeni yang sangat paham dengan keadaan Nisa, merasa iba dengan sahabat dekatnya itu.
"Mana orangnya?" Tanya Elvin perhatian.
"Itu. Yang masih berdiri di deket mobil." Tunjuk Nisa dengan sedikit mengangkat dagunya.
Jeni dan Elvin segera menoleh. Mereka sadar, orang itu adalah orang yang tadi duduk di belakang mereka.
"Siapa dia?" Tanua Elvin penasaran.
"Dia pak Ihsan. Manajer keuangan di kantor. Dia juga masih sepupu dari pak Reyhan." Jujur Nisa.
Jeni terdiam sejenak. Ia mengingat nama Ihsan yang sedikit tidak asing baginya. Nisa pernah menceritakan tentang Ihsan pada Jeni beberapa kali.
"Aku harus gimana dong, Jen?" Panik Nisa.
"Kamu jangan panik! Kita nggak bawa obat kalau kamu kambuh. Bentar, aku pikirin!" Jawab Jeni perhatian.
"Bang, minta air putih hangat satu, dong!" Pinta Elvin segera.
"Oke." Sahut salah satu pegawai di kedai itu.
"Minum dulu, Nis!" Pinta Eivin.
Nisa segera menerima gelas itu dan meminumnya. Kepanikannya cukup membuat jantungnya sedikit berdetak lebih cepat. Ia pun mulai merasakan nyeri sedikit di organ dalam tubuhnya satu itu.
"Dia bilang sesuatu nggak tentang wajahmu?" Tanya Jeni, setelah Nisa selesai minum.
Nisa menggeleng. "Tapi aku yakin, dia lihat wajahku tadi."
"Biar aku yang bicara padanya." Yakin Jeni.
"Aku temenin, Yang." Imbuh Elvin.
Nisa mengangguk pasrah. Ia tidak bisa memikirkan jalan keluar saat ini.
Jeni pun segera berdiri. Dan hal itu juga diikuti oleh Elvin dan Nisa. Mereka berjalan menghampiri Ihsan yang masih berdiri di dekat mobil.
"Maaf, selamat malam, Pak Ihsan." Sapa Jeni tanpa ragu.
Ihsan yang masih berdiri di tempatnya tadi, masih berusaha meyakinkan diri dengan apa yang dilihatnya tadi, sedikit terkejut dengan sapaan Jeni.
"Iya?" Jawab Ihsan terkejut.
Ihsan segera menoleh ke arah Jeni, yang sudah berdiri bersama Nisa dan Elvin.
"Saya Jeni, sahabat Nisa. Dan ini Elvin, kekasih saya." Ucap Jeni memperkenalkan diri tanpa berjabat tangan.
"Oh, iya. Saya Ihsan, teman kantor Nisa." Sahut Ihsan sedikit bingung.
__ADS_1
"Ada yang ingin saya katakan pada Anda. Ini mengenai Nisa." Terang Jeni.
"Oh, iya. Silahkan!" Jawab Ihsan, sambil sedikit melirik ke arah Nisa.
"Saya harap, Anda jujur dan mau memahami dan mengerti keputusan Nisa!"
Ihsan masih mendengarkan.
"Apa Anda tadi sempat melihat wajah Nisa tanpa masker saat masih di mobil?"
Ihsan melirik Nisa, yang berdiri di samping Jeni. Ia cukup terkejut dengan apa yang baru saja ditanyakan oleh Jeni. Ia tidak mengira, orang yang baru saja dikenalnya, bisa langsung menanyakan hal itu.
"Iya, saya sempat melihatnya tadi." Aku Ihsan.
"Saya harap, Anda merahasiakan apa yang Anda lihat tadi! Karena hal itu sudah menjadi keputusan Nisa untuk menyembunyikannya." Jujur Jeni.
"Menyembunyikannya?" Gumam Ihsan lirih, sembari menatap Nisa tak percaya.
"Setiap orang memiliki pilihan hidupnya masing-masing, Pak Ihsan. Dan selalu ada alasan di balik setiap pilihan itu." Jelas Nisa.
"Tapi,,"
"Ini pilihan saya. Dan saya tidak pernah keberatan akan hal itu." Sahut Nisa segera.
"Saya harap, Anda bisa mengerti tentang hal itu, Pak Ihsan. Karena saya yakin, Anda sudah cukup paham dan mengerti tentang hal-hal seperti itu." Imbuh Jeni.
Ihsan terdiam.
"Saya bukan tipikal orang pengancam, Pak Ihsan. Saya meminta pada Anda dengan baik-baik, karena kita sudah sama-sama dewasa dan bisa memahami, setiap hal yang menjadi keputusan dan pilihan orang lain." Tegas Jeni.
"Saya harap, Anda merahasiakan ini dari siapapun, Pak Ihsan! Bahkan dari orang tua atau mungkin juga kekasih Anda." Pinta Nisa.
"Baiklah, saya mengerti. Saya akan merahasiakan hal ini." Yakin Ihsan.
"Terima kasih, Pak." Sahut Nisa bahagia.
Nisa dan Jeni saling pandang dan tersenyum lega. Bahkan, Nisa tersenyum begitu lebar di balik masker yang ia kenakan.
"Saya pegang ucapan Anda, Pak Ihsan." Tegas Elvin mengakhiri.
"Tentu saja." Yakin Ihsan.
"Terima kasih."
Ihsan mengangguk paham.
"Kalau begitu, saya permisi. Pesanan saya sepertinya sudah selesai." Pamit Ihsan.
"Tentu, Pak Ihsan. Silahkan! Dan sekali lagi, terima kasih, Pak." Sahut Nisa.
"Iya."
Ihsan sedikit mengangguk dan kembali mengulas senyumnya. Ia lalu berjalan kembali ke arah penjual nasi goreng yang memang sudah menunggunya.
"Kenapa Nisa menyembunyikan wajah cantiknya? Apa, Revan juga tahu wajah asli Nisa? Hingga kemarin, Revan nggak mau putus dari Nisa?" Batin Ihsan sembari berjalan dan mengingat kejadian beberapa hari yang lalu di halaman kantornya.
Ihsan masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia menerka-nerka, alasan apa yang membuat Nisa menyembunyikan wajah aslinya yang ternyata begitu cantik.
"Sudah, tenanglah! Kita lihat besok saat di kantor. Kalau ada perubahan dengan sikapnya atau bahkan ia langsung membocorkan rahasiamu, kamu langsung kabari aku! Ya?" Pinta Jeni.
Nisa mengangguk ragu. Ia masih sedikit syok dengan apa yang baru saja dialaminya.
__ADS_1
Setiap orang memang selalu memiliki jalan hidup yang mereka pilih sendiri. Dan mereka selalu memiliki alasan mereka masing-masing.