
Semenjak berkenalan dengan Nicky kemarin, sikap Laura berbanding terbalik dari biasanya. Seperti sekarang ini, Laura sibuk mencari-cari baju untuk dia pakai, hari ini Nicky mengajaknya untuk nonton bioskop berdua.
"Apakah cocok yang ini?" Tanya Laura dengan memperlihatkan penampilannya.
"Ya itu sangat cocok untuk mu kak." Angguk Rubella dengan tersenyum geli, dia pikir dia tidak akan pernah bisa melihat sosok Laura yang seperti ini, ternyata dugaannya salah.
"Kau yakin? apakah aku terlihat kurus dengan pakaian ini?" Tanya Laura dengan berputar putar di depan cermin kamar Rubella.
"Sudah kak, kakak sangat seksi dan cantik dengan pakaian itu. Pergilah...." Usir Rubella.
"Baik-baik, apa kau mau nitip sesuatu?" Tanya Laura dengan tersenyum lebar.
"Aku mau popcorn yang di jual di bioskop, belikan 5 ya." Cengir Rubella.
"Oke, apa ada lagi? jangan minuman bersoda!" Tegas Laura karena dia tahu bahwa Rubella menginginkan minuman bersoda.
"Baiklah baiklah, hanya itu saja." Pasrah Rubella.
"Oke, aku pergi dulu." Pamitnya dengan berjalan pergi, terdengar suara nya yang bernyanyi kecil. Nampak nya Laura benar-benar menyukai Nicky.
Rubella melirik jam yang menunjukan pukul 10 pagi, karena merasa bosan akhirnya dia turun ke bawah apartemen. Rubella ingin membeli bunga untuk dia pakai saat mandi nanti, kebetulan di samping apartemen nya terdapat toko bunga yang besar dan terkenal di sana.
Rubella berjalan menyusuri apartemen, semua pegawai mengenalnya karena itulah mereka menyapa Rubella dengan hangat.
Ting!
Rubella membuka pintu toko bunga itu, terdengar suara lonceng yang membuat nya senang.
"Selamat datang nona, apakah ada yang bisa kami bantu?" Tanya para pegawai dengan antusias, mereka juga mengenal Rubella karena Rubella sering datang kesana.
"Aku ingin melihat-lihat dulu, apakah ada bunga yang lebih segar?" Tanya Rubella.
"Ada nona, mari saya antar..." Ajaknya dengan ramah.
Rubella di bawa ke sebuah rumah kaca, disana terdapat banyak sekali bunga mawar merah dan hitam. Semuanya terlihat indah dan harum, Rubella mengambil satu tangkai bunga mawar hitam dan menghirup nya.
"Ini sangat harum, tolong ikatkan beberapa tangkai bunga bawar hitam dan merah juga. Pilih yang paling segar oke..." Senyum Rubella dengan membawa setangkai bunga mawar hitam.
"Baik nona, apakah untuk mandi?" Tanya nya dengan tersenyum kecil.
__ADS_1
"Ya..." Cengir Rubella lagi yang membuat pelayan itu terkekeh, sepertinya Rubella sangat suka mandi bunga.
Rubella melihat-lihat bunga disana, terlihat segar dan masih baru. Itulah yang mereka sukai dari toko bunga ini, semuanya akan di jual dalam keadaan masih segar.
"Ini adalah bunga Hyacinth, apa kau tahu artinya?" Tanya seseorang yang berdiri di samping Rubella, terlihat seorang wanita setengah baya yang sedang menatap bunga berwarna ungu itu.
"Ahh untuk bunga yang berwarna ungu, bunga ini melambangkan kelembutan, kecantikan, dan kebahagiaan. Tapi Hyacinth putih melambangkan rasa bersalah atau permintaan maaf." Ucap Rubella dengan mengambil bunga tersebut dan mencium aromanya.
"Kau tahu rupanya...." Senyum wanita itu dengan mengambil seikat bunga tersebut.
"Kenapa berwarna putih? bukankah yang ungu lebih indah?" Tanya Rubella.
"Bunga ini yang cocok untuk ku." Senyum wanita itu sebelum akhirnya pergi ke kasir.
Rubella terdiam, dia kembali mengingat arti bunga tersebut dan menghela nafas berat. Sepertinya bunga tersebut untuk seseorang, seseorang yang telah tiada.
...••••...
"Ahh jadi begitu, sayang sekali....."
"Ya, karena itulah aku menjaganya begitu ketat."
"Hmm, tapi menurutmu.... Apakah ada laki-laki yang mau bersama nya?aku sangat khawatir jika dia akan terus-menerus hidup seperti ini." Ucap Laura dengan sedih.
"Dia pasti menemukan laki-laki yang begitu menyayangi nya, terlebih dari hal itu, bagaimana dengan mu sendiri? apa kau akan terus hidup seperti ini?"
"Apakah ada kehidupan yang layak untuk seorang jala*ng seperti ku?"
Keduanya saling tatap, Nicky tersenyum dan mengelus rambut Laura yang nampak terkejut karena tindakan yang dilakukan Nicky baru kali ini ia rasakan kembali setelah bertahun-tahun lamanya.
"Jangan mengatakan hal tersebut, kau juga pantas bahagia." Ucap nya dengan lembut.
"Aku tahu, tapi untuk sekarang aku ingin mencari kebahagiaan yang Bella terlebih dahulu. Terlalu banyak luka yang ia rasakan...."
"Bagaimana jika kita dekatkan dia dengan temanku?" Tanya Nicky dengan antusias.
"Temanmu? siapa? apa jangan-jangan yang kemarin itu?" Kaget Laura dengan menutup mulutnya.
"Ya, kau tahu? Jamie memiliki kebiasaan yang buruk. Dia sangat gila kebersihan, bahkan di setiap detik dia harus mensterilkan tubuhnya. Kemarin, aku melihat mereka bersentuhan tangan dan Jamie hanya diam." Ucap Nicky.
__ADS_1
"Benarkah? aku tidak bisa membayangkan bagaimana ribetnya jadi dia.." Laura hanya menggelengkan kepalanya saja karena dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadi Jamie.
"Justru itu, aku rasa Jamie tidak melakukan itu pada Rubella karena dia..... Tertarik."
"Kau yakin? maksudku, kau tahu bukan kondisi Bella sekarang?" Ucap Laura pelan.
"Aku tahu, meskipun sedikit sulit semoga saja mereka bisa di satukan."
"Baiklah, kapan kita akan memulai nya?"
...••••...
Rubella duduk di pinggir jalan tepatnya di bawah pohon, Rubella terus diam karena dia sedang sibuk membaca buku yang ia bawa dari apartemen nya.
"Permisi nona, apakah saya boleh duduk disini?" Tanya wanita itu dengan berdiri di depan Rubella.
"Ahh ya, silahkan nyonya." Balas Rubella dengan tersenyum kecil, wanita itu terlihat tidak asing dan ternyata wanita yang ia temui di toko bunga tadi.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" Tanya nya.
"Aku sangat bosan jika terus berada di dalam apartemen, karena itulah aku duduk disini." Balas Rubella.
"Tidak baik wanita hamil seperti mu duduk seorang diri, apakah tidak ada yang menemani mu?" Tanya nya dengan penasaran.
"Ahh itu, saudara ku sedang pergi berkencan untuk pertama kalinya. Biasanya memang dia yang selalu menemani ku disini, nyonya." Senyum Rubella yang sudah menutup bukunya karena hal itu sangat tidak sopan.
"Oh, lalu dimana suami mu?"
"Saya tidak memiliki suami nyonya..." Senyum Rubella dengan menatap ke arah jalanan.
"Maaf, saya tidak tahu." Ucapnya dengan penuh rasa bersalah.
"Tidak apa-apa nyonya, itu semua memang benar adanya..." Nampaknya Rubella tidak masalah dengan hal itu, karena dia sudah terbiasa dengan pertanyaan yang memang sering di tanyakan dalam kondisi nya saat ini.
"Kau tahu? dulu, aku juga sama seperti mu. Mengandung tapi tidak ada suami ..." Ucap wanita itu dengan tersenyum getir.
"....."
"Suamiku memilih untuk kembali bersama kekasihnya dan mereka hidup bahagia dengan anak yang mereka punya, sedangkan aku? aku hanya seorang diri dan mengurus anak pun hanya sendirian." Jelasnya yang membuat Rubella terdiam, ternyata memang banyak yang berada di posisi nya.
__ADS_1
Apakah suatu saat nanti dia akan kesepian sama seperti nya?