PELAKOR

PELAKOR
Toilet


__ADS_3

Malam ini, Rubella memilih untuk menemani Henry saja karena dia ingin membungkam mulutnya agar tidak banyak bicara mengenai identitas aslinya itu.


"Bell, kau sengaja ya kerja kayak gini?" Tanya Henry dengan meminum wine nya.


"Masalahnya di mana?" Balik tanya Rubella dengan ikut meminum wine, namun kedua mata Rubella tetap tertuju pada Sergio yang sedang sibuk menyapa para tamu.


"kau ini, aku han...."


"Bella?" Panggil seseorang, Rubella dan Henry membalikkan tubuhnya dan melihat sosok wanita manis yang sedang bergandengan tangan dengan laki-lakinya.


"Wulan?" Kaget Rubella.


"Aku pikir aku salah lihat, kebetulan sekali kau ada disini. Kenalkan, dia calon suamiku, Rangga." Ucap Wulan dengan memperkenalkan sosok laki-laki di sampingnya yang tengah menatap Rubella penuh keterkejutan, sepertinya dia tidak menyangka dengan keberadaan Rubella disana.


"Aku sudah kenal." Balas Rubella dengan tersenyum kecil pada Wulan.


"Ah ya, kami sempat bertemu beberapa kali." Ucap Rangga juga.


"Kau sedang melakukan misi ya?" Tanya Wulan dengan sedikit berbisik.


"Ya, tapi ini sedikit sulit." Angguk Rubella dengan memberi kode pada Wulan untuk memperlihatkan sosok Sergio.


"Itu bukan cuma sulit, tapi sangat sulit! Bukannya nyonya Zaksario saja di tentang olehnya ya?" Ucap Wulan penasaran.


"Ya, justru itu aku bilang ini misi yang sangat sulit." Setuju Rubella.


"Tapi meskipun begitu, bonus yang di dapatkan tidak sedikit bukan?" Goda Wulan yang di balas cengiran oleh Rubella, hal itu membuat Wulan terkekeh geli.


"Bell, untuk membuat laki-laki tergoda itu sangat mudah." Celetuk Rangga.


"......??" Rubella terlihat bertanya-tanya dan juga penasaran dengan apa yang akan di beritahu oleh Rangga.


"Kau hanya perlu menarik ulur perasaannya, buat dia penasaran dan yang paling terpenting...... Buat dia menginginkan dirimu, hingga membuatnya gila jika tidak bisa menyentuh mu." Ucap Rangga dengan berbisik pelan.

__ADS_1


"Jadi, kau pun akan tergoda jika ada yang melakukan hal itu padamu?" Tanya Wulan dengan datar.


"Tentu saja, ehh apa? Tidak, bukan begitu maksudku..... Sayang, astaga......." Rangga terlihat panik saat Wulan pergi dengan kemarahannya, Rubella yang melihat itu tertawa pelan, begitu pun dengan Henry yang hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Bagaimana menurutmu?" Tanya Rubella pada Henry.


"Menurut ku? Entahlah, mau sebanyak apapun wanita yang cantik atau bahkan yy lebih seksi tapi jika dia sudah mencintai seseorang di hati nya maka semua itu hanya angin baginya." Balas Henry dengan santai.


"....... Aku mengerti." Angguk Rubella.


"Tapi bohong, jika laki-laki itu tidak tergoda. Kau lakukan saja apa yang di katakan oleh Rangga padamu tadi, jika kau bisa mendapatkan tubuhnya maka itu sudah lebih dari cukup. Hati nya hanyalah bonus untuk mu....." Senyum Henry.


"Tidak, aku tidak mau memberikan tubuhku dengan cuma-cuma...." Ucap Rubella dengan santai.


"Kau ini aneh, kau hidup di lingkungan seperti itu akan tetapi hal yang seharusnya sudah biasa kau lakukan, kau justru terlihat jijik." Heran Henry yang merasa bahwa Rubella sangat ajaib.


"Entahlah, sejak kecil momy tidak pernah mengatakan bahwa aku wajib melakukan hal tersebut." Ucap Rubella yang kini bertatapan dengan Sergio, Rubella tersenyum manis dan mengedipkan sebelah matanya.


Henry memperlihatkan gerak-gerik Rubella yang nampak menggoda itu, jika yang Rubella goda adalah dirinya, mungkin dia tidak akan bisa menahannya.


Melihat kepergian Rubella, Sergio seperti tersihir. Dia segera mengikuti nya setelah mengatakan akan pergi ke kamar mandi pada Hanan, hal itu juga di lihat oleh nyonya Samantha yang tersenyum diam-diam.


Di dalam kamar mandi, Rubella memakai lipstik dan membenarkan pakaiannya. Melihat dirinya yang cantik dan seksi membuat Rubella merasa puas, namun saat dirinya hendak berbalik, dia melihat sosok Sergio yang bersandar di dinding dengan menatapnya tajam.


"Anda membuat saya terkejut tuan." Ucap Rubella dengan terkejut, namun Rubella tetap tersenyum manis.


Rubella hendak pergi dari sana dengan melewati tubuh Sergio namun lengannya justru di tahan oleh Sergio, hal itu membuat senyum Rubella muncul.


"Maaf tuan, kamar mandi pria ada di sebelah sana." Tunjuk Rubella.


"Kau, apa yang sudah kau lakukan padaku hah?!" Tanya Sergio dengan mencengkeram lengan Rubella, itu terasa sakit namun lagi-lagi Rubella hanya tersenyum manis.


"Maaf? Saya tidak mengerti apa maksud anda, tuan." Balas Rubella dengan pura-pura tak mengerti, padahal dia sangat paham dengan apa yang di katakan oleh Sergio.

__ADS_1


"Apa kau bersekongkol dengan ibuku untuk memisahkan aku dengan istriku hah?" Tanya Sergio dingin.


"Memisahkan? Semua orang tahu bahwa anda sangat mencintai istri anda, bukankah dengan begitu saja sudah cukup untuk menyakinkan istri anda?" Ucap Rubella dengan melepaskan cekalan yang di lakukan oleh Sergio padanya.


"....." Sergio hanya diam, dia hendak berbalik namun dari kejauhan dia melihat sosok Hanan yang hendak datang ke kamar mandi. Rubella yang tahu itu segera menarik tangan Sergio untuk masuk kedalam toilet, mereka berdua saling bersentuhan karena di dalam sangat pas untuk tubuh mereka berdua.


"Nona Hanan, anda sangat beruntung karena bisa menikah dengan tuan Sergio. Kalian pasangan yang serasi, membuat semua wanita iri saja."


Terdengar keramaian di dalam kamar mandi, Rubella dan Sergio hanya diam dan menyimak pembicaraan mereka saja.


Namun, karena Rubella tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut, Rubella memilih untuk duduk di closed dengan tangan yang sibuk memainkan ponselnya.


Gerak-gerik Rubella terus di perhatikan oleh Sergio, bahkan Rubella sesekali menjilat bibirnya karena kering. Namun hal tersebut justru membuat Sergio merasa di goda, padahal Rubella benar-benar melakukan itu untuk menggodanya.


"Sepertinya aku mencium aroma suamiku." Celetuk Hanan yang membuat Sergio terkejut, begitu pun dengan Rubella.


Dengan cepat Rubella bangkit dari duduknya dan segera menyemprotkan parfumnya di sana, Sergio yang melihat itu langsung bernafas lega. Hanan memang sangat hafal mengenai dirinya, bahkan hal terkecil pun bisa Hanan ingat dengan jelas.


"Sepertinya istrimu sangat cekatan." Ucap Rubella dengan tersenyum.


"Ya." Balas Sergio.


Rubella menatap wajah Sergio yang terlihat sangat tampan, begitu pun dengan Sergio yang ikut menatap Rubella.


Melihat senyum cantik Rubella membuat Sergio segera memalingkan wajahnya ke arah samping, dengan cepat Rubella melingkarkan kedua tangannya di leher Sergio hingga hal tersebut membuat Sergio terkejut dengan tindakan yang di lakukan olehnya.


"Apa yang kau lak..."


"Suttt, nona Hanan dan teman-temannya masih ada di luar." Bisik Rubella.


"....." Sergio kembali diam, dia tidak bisa berkutik sekarang.


"Anda menutupinya dengan baik, tuan." Ucap Rubella dengan memegang leher Sergio.

__ADS_1


"......." Sergio mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya, jari jemari Rubella terus menggerayangi lehernya hingga akhirnya Sergio tak tahan lagi.


Di dorong nya tubuh Rubella hingga membentur dinding toilet, dan saat itu juga Rubella merasakan benda lembab dan hangat menyentuh bibirnya dengan brutal.


__ADS_2