
"Alhamdulillah ya mas, setelah seminggu di sini,pihak RS sudah mengizinkan mas pulang beristirahat di rumah hari ini, kalo di rumah kan lebih leluasa lagi mas istirahatnya.
Iya mah, aku juga sudah gak betah tinggal di RS, pengen cepat-cepat nyampe rumah".
"Sabar dulu sebentar ya mas, kita nunggu dulu om frans ngurus berkas kepulangan kamu, untung saja ada om Frans ya mas, jadi ada yang bantuin aku ngurus berkas-berkas", coba kalo gak ada dia, pasti aku bingung sendiri mas.Aku berkata pada mas Tegar, sambil membereskan barang-batang bawaan ku dan mas tegar, tak lupa ku rapih kan juga ruang inap yang mas Tegar tempati selama di rawat di RS ini.
Ada panggilan masuk ke HP mas Tegar, "halo selamat siang bapak...gimana pak Robert?oh gak usah pak, biar saya pesan lewat online saja pak,gak usah repot-repot pak, jadi gak enak hati saya pak, harus merepotkan bapak.Oh ya sudah pak kalo begitu, terimakasih banyak sebelum nya bapak". Akhirnya mas Tegar memutuskan sambungan telepon tersebut.
"Siapa mas yang nelepon barusan, aku bertanya pada suamiku.Itu pak Robert atasanku mah, beliau mau menjemput kita ke sini,sudah dalam perjalanan katanya, mau mengantarkan ke rumah katanya".
Terlihat kendaraan roda empat mendekat ke arah kami yang sedari tadi di tunggu di kedatangannya, pak Robert memarkirkan kendaraannya tepat di mana kami berdiri. Selamat siang bapak, suamiku menyalami atasan nya dan aku pun ikut menyalami nya dan memperkenalkan diri,"maaf ya pak, bu nunggu lama,tidak apa-apa pak, baru saja kami turun, jadi gak nunggu lama pak.Aku bergegas membawa barang-barang lalu ku masukan ke dalam bagasi mobil pak Robert dengan di bantu om frans, gak berselang lama mobil pun meninggalkan area RS.
Akhirnya setelah waktu dzuhur, kami pun tiba di perumahan yang mas Tegar tempati bersama teman-temannya.
Dengan bantuan jangka mas Tegar berusaha berjalan terpincang-pincang memasuki rumah,ku bantu mas Tegar merebahkan diri di atas kasur yang di gelar di ruang tengah,agar lebih mudah dan leluasa melakukan pergerakan.
"Mas makan dulu ya, habis itu minum obat! biar mas bisa langsung istirahat, aku juga pengen istirahat sebentar mas".
__ADS_1
Aku menyuapi mas Tegar dengan perlahan sampai nasi habis, ku sodorkan beberapa butir obat pada mas Tegar dan segelas air ke hadapannya, setelahnya kami pun sama-sama terpejam dalam rasa lelah.
Aku terperanjat saat mendengar ucapan salam di luar sana.Iya tunggu sebentar, aku bergegas membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, bu Alina dan satu lagi rekan sekerjanya berdiri dengan senyuman yang sulit untuk di artikan olehku. "Mari silahkan masuk bu,iya bu maaf mengganggu waktu istirahatnya", ia berucap.
Aku langsung menuju dapur sekedar membuatkan teh manis untuk kedua tamu suamiku.
Ada perbedaan yang ku lihat pada bu Alina kali ini, dia biasa ngobrol dengan suamiku tak seperti waktu di RS kemarin, tegur sapa juga enggak.Apa mungkin sekarang dia bawa teman kali jadi gak ada rasa canggung untuk mengobrol yang di selingi candaan antara mereka bertiga.
Bu Alina membuka lagi obrolannya, dengan ada sedikit rasa canggung terlintas di wajahnya."Pak Tegar, bu. Maksud kedatangan saya kesini untuk menyerahkan titipan tali kasih dari rekan sekerja semua, untuk pak Tegar, mohon di terima ya pak".
"Bu Tania maaf dong di dokumentasikan untuk bukti ke kantor", dia berucap pada temannya itu, untuk mengambil foto serah terima antara bu Alina dan suamiku."Siap bu bos sambil tertawa bu Tania melakukan tugasnya".
Setelah sesi pemotretan merekapun pamit undur diri,aku pun bangkit dan mengikuti langkah mereka sampai ke halaman rumah,aku masuk lagi ke dalam rumah setelah mereka meninggalkan pekarangan rumah dengan mengendarai sepeda motor masing-masing.
Aku duduk di samping mas Tegar, dan aku mulai iseng ngerjain dia dengan becandain dia. "Cie... cie... yang habis di jenguk sambil ketawa aku berkata padanya, namun apa yang terjadi? suamiku malah emosi, dan marah padaku".
__ADS_1
"Apaan sih...!" dia bicara dengan nada agak meninggi padaku, "biasa aja kali mas kalo memang gak ngerasa ada apa-apa gak harus emosi juga kali, habis nya kamu sih mancing emosi,sumpah demi Alloh aku gak ada hubungan apa-apa sama dia, gak ada perasaan sekali sama dia, cuman sebatas pekerjaan saja", dia menjelaskan padaku.
"Wajar kali mas kalo aku punya pikiran gimana gitu, secara aneh saja setiap melihat sikap dia dari kemarin, terus barusan kaya ada sesuatu, tapi sudahlah mas, terserah mau ada apa-apa juga, gak begitu masalah buatku".Sambil berlalu aku berucap meninggalkan mas Tegar seorang diri di ruang tengah, aku memilih masuk ke kamar, dan rebahan sambil memainkan HP milikku.
Tak ku hiraukan mas Tegar yang menghampiriku ke kamar dengan cara menyeret kakinya, pantat dan tangan di jadikan tumpuan untuk bergerak.
Dia pun ikut merebahkan diri di sampingku, lalu memelukku dari arah belakang,karena posisiku membelakanginya.
"Mah maafin aku ya, barusan membentak kamu, aku ngaku salah, tapi beneran aku gak ada perasaan apa-apa sama dia, mungkin dia nya saja kali yang salah mengartikan sikap ku selama ini, padahal aku merasa bersikap biasa saja mah", mas Tegar tatap berusaha menjelas kan padaku.Aku hanya diam gak mau banyak bicara.
"Mas sudah sore, ayo biar tak lap dulu badan nya, biar keliatan seger, takutnya nanti banyak orang datang menjenguk kondisi kamu sekarang", aku berusaha mengalihkan topik pembicaraan yang tadi, dengan menawarkan bantuan untuk membersihkan badan suamiku.
Ya sudah mah, aku pun udah ngerasa gerah banget ini. sebentar tak siapin dulu airnya, sama baju buat kamu pakai nanti mas.
Dengan telaten ku lap badan mas Tegar, ku balur i kayu putih dan bedak supaya gak ada lecet di badan mas Tegar, karena untuk saat ini mas Tegar hanya bisa rebahan di kasur, gak bisa beraktivitas seperti biasanya.
"Terimakasih ya mah, udah mau ngerawat aku, dia berucap sambil memandang lekat ke arahku, udah gak apa-apa mas, sudah menjadi kewajiban ku melakukan ini sama kamu.Semoga kamu bisa cepat pulih lagi seperti sedia kala, aamiin".
__ADS_1