
Tak terasa waktu pun cepat berlalu,setelah tiga bulan pasca pemasangan gips di kaki suamiku,dengan banyaknya drama yang di rasakan suamiku karena efek dari kaki, sempat juga beberapa kali terjatuh dan harus mengalami luka di beberapa bagian tangan dan kaki.
Belum lagi harus bolak balik RS untuk memeriksakan kondisi pemulihan cedera pada kaki suamiku,dan lagi harus membawa serta anakku yang baru belum genap 5 tahun, keluar masuk RS menemani ayahnya cek up, dengan situasi covid yang sedang gencar-gencarnya.Kami hanya berusaha kuat, dan sabar menjalani ini semua sebagai cobaan.
Dengan kesabaran kami sampai saat ini, Alhamdulillah ada kabar baik dari dr yang menangani suamiku,lusa suamiku akan di tindak pembukaan gips di kakinya.
Hari pun terus berganti terasa cepat, kini suamiku mulai beraktivitas seperti biasanya, pagi hari pergi ngantor pulang sore harinya, suamiku pun berusaha nekat membawa kendaraan sendiri ke tempat kerjanya,ada kecemasan yang begitu besar dalam hatiku, memikirkan kondisi mas Tegar yang mengendarai mobil sendirian, ya Alloh jagalah suami hamba, berikan keselamatan di mana pun dia berada... aamiin.
"Alhamdulillah" waktu bergulir dengan sendirinya,sampai saat ini masih di beri kelancaran, kemudahan, dan keselamatan bagi kami semua.
Namun kenapa setelah suamiku sudah bisa beraktivitas lagi, mulai ada pikiran yang entah, jadi kepikiran masalah ibu HRD itu...?
Aku mulai berpikir lagi, aku harus bisa melupakan masalah itu, ku pasrahkan semuanya pada yang maha kuasa, aku harus berusaha berpikir positif, dan berusaha untuk percaya dengan semua yang telah suamiku ungkapkan, semoga saja benar hanya sebatas mempermudah dalam masalah pekerjaan suamiku.
Setiap kali ku buka gawai milik suamiku,dan ku bukan pesan centang biru di sana, selalu ada status yang membuat risih, siapa lagi kalo bukan status ibu HRD, hari ini dia mengungkapkan rasa kegalauan hatinya.
"Aku akan berusaha mundur dan mengubur semua gejolak rasa yang ada untukmu, memang aku akui ini salah, tapi apa salah? dengan sendirinya ada rasa lebih kepadamu...?", dengan emoticon sedih dia membuat statusnya.Bukan kali pertama aku membaca status kegalauan ibu Alina.
Astaghfirullah... sebegitu dalamnya mencintai suami orang,padahal ia pun sudah berkeluarga, dan memiliki satu orang putri.
__ADS_1
"Assalamualaikum...! "... wa'alaikumssalam...eh ada dede cantik, sini sayang masuk.
pagi ini aku kedatangan tamu,istri dan anak dari rekan sekerja suamiku,kami pun sudah kenal lama dengan mereka.
Suamiku pun hari ini berangkat kerja bareng dengan om Fendy,kami bergegas masuk ke dalam rumah.
Kami saling bertukar cerita satu sama lain, sambil memperhatikan anak-anak asik bermain, sampai akhirnya aku pun menceritakan masalah keanehan ibu Alina pada Lusi. Lusi nama istri dari om Fendy.
"Aku mau nanya nih, menurut kamu gimana, aneh gak sih?, apaan tuh...? Lusi pun malah balik tanya padaku.
Kamu tau gak ibu Alina?, HRD di kantor suami kita kerja, hem... emangnya kenapa mbak?", tapi ku lihat Lusi agak menahan tawa di raut mukanya.
Yang aku jadi aneh dan heran, besoknya dia datang lagi pas mas Tegar baru aja keluar dari ruang operasi,tapi mas Tegar udah posisi sadar gak dalam pengaruh obat bius,bu Alina gak negur, gak nyapa sama sekali, aneh kan?, masa teman satu kerjaan, tau baru tindakan operasi gak ada basa basi sama sekali, kalo menurutmu gimana coba?, aneh kan? ".
Lusi malah ketawa ngakak pas ku ceritakan hal tadi."Lah ko malah ketawa? , apa kamu tau sesuatu?"
Masih dengan ketawa renyahnya Lusi berkata padaku, "lucu aja mbak dengernya..., lucu dari mananya?",dengan raut agak bingung aku bertanya lagi pada Lusi.
"Sekarang gini aja mbak, kamu taja aja langsung sama pak Tegar, ada masalah apa sama ibu Alina, coba dia jawab nya gimana.
__ADS_1
Orang aku udah nanya ko, kata mas Tegar dia sih biasa aja gak, gak gimana-gimana cuman sebatas kerjaan doang, tapi pas waktu itu dia sempet marah ke aku, gara-gara nya aku ledekin sama bu Alina".
"kayanya kamu tau sesuatu ya?. Jujur aja sih, aku gak bakalan gimana-gimana juga, percaya deh sama aku". Aku berusaha nyari info dari Lusi.
"Emang sih mbak suamiku pernah cerita masalah bu Alina yang kayanya suka sama pak Tegar, tapi pak Tegar Nya gak terlalu respek sama tuh orang, cuman hanya sebatas biar mudah aja dalan pekerjaan", akhirnya aku dapat sedikit informasi itu dari Lusi.
"Bagi aku sih ya Lus, silahkan saja mereka mau seperti apa juga, aku nyadar dengan semua kekuranganku, kalo memang mereka sama-Sama suka gak apa-apa, silahkan, yang penting jujur sama aku, itu saja..! ".
"Cuman gak habis pikir aja...!Sama-sama udah punya pasangan, udah ada anak juga, ko masih mengharapkan suami orang, sayang aja sama gelar dan jabatan, ko mau-mau nya merendahkan harga diri.Ya itulah mbak sifat manusia kadang pemikirannya beda-beda, atau mungkin pasangnya kurang memuaskan kali, sambil tertawa Lusi berucap, aku pun akhirnya ikutan ketawa ngakak".
Saking asiknya ngobrol, sambil masak bareng, mandiin anak-anak juga, waktu gak kerasa udah sore aja ternyata, waktunya suami kita-kita pun pulang dari tempat kerja.
Setelah acara makan bersama,om Fendy, Lusi dan kedua anaknya pamitan pulang.
Jangan terlalu di pikirin mbak, slow aja, yang penting pak Tegar masih fokus ke keluarga, Lusi berbisik padaku sebelum masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka pulang.
Malampun tiba, aku pun tak banyak bicara hanya memainkan gawai milikku dan asik bermain dengan zian di kamar, sedang kan mas Tegar asik ngobrol bersama teman-temannya di ruang tengah.
Aku jadi kangen sama putri sulung ku Namira, teteh semoga kamu baik-baik aja ya nak, sehat selalu, mamah kangen kamu nak, tak terasa air mataku pun menetes tanpa bisa ku cegah.
__ADS_1
Ada rasa ingin menyerah dalam benaku,teringat obrolan tadi dengan Lusi. Mungkin ada rasa minder dalam diri saat ini, aku merasa kecil tak ada yang bisa di banggakan dalam diriku, aku hanya seorang ibu rumah tangga biasa, yang hanya mampu mengurus rumah, dan anak, tak punya keahlian apapun, penghasilan pun tak punya, hanya mengandalkan nafkah dari suami.