
Farhan Handoko adalah seorang pengusaha sukses, yang begitu sayang dengan keluarga. Diusia pernikahan yang ke sepuluh tahun, dia mempunyai tiga orang anak. Dua laki-laki dan satu perempuan. Mereka terdiri dari Alvin berumur sepuluh tahun, Alya berumur enam tahun, dan Alfian baru berumur dua tahun.
Hidup dalam kemewahan lantas, tidak membuat kedua pasangan Farhan dan Marisa sombong. Mereka sering menjamu keluarga yang lain, untuk datang ke rumahnya. Berkumpul, dan saling bertukar pendapat.
Suatu hari, Farhan sedang merayakan ulang tahunnya yang ke empat puluh di sebuah restoran. Farhan ingin membagi kebahagiaannya dengan mengundang semua kolega dan keluarga besarnya, sebagai ucapan syukur karena telah diberikan rizky yang begitu melimpah oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Karena restoran yang disewakan bertema out door, maka dengan sengaja Farhan menyewa orgen tunggal untuk melengkapi pesta tersebut. Marisa tertawa cekikikan ketika suaminya bergoyang dengan gestur tubuh yang menggelikan.
"Jangan joged seperti itu dong Pa, malu dah berumur. Diliat banyak orang lagi," ucap Marisa, sambil mencubit pinggang suaminya.
"Asik tau, yuk digoyang terus sampe pagi... ." teriaknya. Dan di sambung dengan suara tertawa lepas dari masing-masing tamu undangan.
Acara inti memang sudah selesai, kini hanya menikmati hiburan sembari memakan makanan ringan, dan minuman yang tersedia di meja.
Tak lama bintang tamu dari orgen tersebut datang. Dia nampak tergopoh-gopoh, berjalan dengan sepatu hak tinggi dan membawa tas yang begitu besar.
"Maaf, Pak saya terlambat," ucap wanita itu, dan berlalu menuju panggung yang disediakan oleh restoran tersebut.
"Ya, silahkan."
Perempuan yang usianya, kira-kira tiga puluh enam tahun itu, membuka jaket besarnya. Maka terlihatlah, bentuk dari tubuh perempuan itu. Begitu sexy, dengan baju tanpa lengan dan kerah begitu rendah, terlihat belahan dadanya yang menyembul ke atas.
Seketika para laki-laki bergerak maju ke depan panggung, alhasil para wanita memajukan bibirnya, karena merasa kesal melihat tingkah suami-suami mereka.
Mereka semua larut dalam lantunan lagu yang dibawakan oleh Jelita, badannya meliuk-liuk mengikuti lantunan musik yang semakin kencang.
Ada beberapa wanita, salah satu saudara Farhan mendekati Marisa. "Tante, kenal dimana sama penyanyi dangdut itu? Gak nyangka lo aku, kalau bakal nyewa penyanyi cantik seperti itu,"
"Tante dan Om malah gak tau, May. Kok tiba-tiba kedatangan artis terkenal," elaknya, dengan saling pandang satu sama lain.
Maya adalah keponakan Farhan, kebetulan sekali sejak kecil dia bisa melihat mahluk astral. Dengan gampangnya, Maya menunjukkan ketidaksukaannya terhadap wanita yang saat ini tengah menunjukkan aksi pertunjukannya.
Perempuan itu, segera menarik Azis-suaminya untuk mengajaknya menjauhi panggung. "Ada apa sih, May?" Azis melototin sang istri karena merasa kegiatannya diganggu.
__ADS_1
"Kamu tau tidak, wanita itu punya susuk di area wajahnya. Aku tidak akan membiarkan keluargaku, terjebak oleh wanita itu,"
"Kamu jangan berlebihan, ah... aku tidak suka!" Azis menarik lengannya dan kembali kedepan panggung untuk menikmati alunan lagu dangdut koplo.
Maya begitu kesal, tingkahnya itu dapat terlihat oleh semua orang yang juga tidak menyukai Jelita, yang berusaha tampil maksimal.
Hari semakin larut, Farhan dan keluarga bersiap untuk meninggalkan area restoran. Tidak terkecuali Jelita. Wanita itu, nampak sedang menunggu ojek online langganannya. Dengan sopan, wanita itu menganggukan kepalanya saat berpapasan dengan Farhan.
"Mau pulang?" tanya Farhan, yang berjalan berdua dengan sang istri.
"Iya, Pak. Terimakasih sudah mengundang saya, menghibur di ulang tahun, Bapak," ucapnya ramah.
Tapi entah mengapa, Marisa merasa senyumnya itu seperti mencurigakan.
"Oiya, saya mau tanya. Siapa yang meminta kamu tadi datang ke mari?" Marisa masih penasaran, siapa orang yang ada dibalik artis dangdut di depannya saat ini.
"Em, itu Bu. Pak Nadim, temannya Bapak. Kebetulan dia yang meminta, saya juga dibayar sama dia. Jadi Bapak sama Ibu tidak usah membayar saya lagi," terangnya.
Bukannya menjawab, Farhan hanya mengangguk sambil terus menatap Jelita yang sedang melihat ke arah lain. Mungkin dia tidak mau, Marisa telah menaruh curiga terhadapnya.
Tak lama ojek online yang dinanti oleh Jelita datang, dengan ramah dia berpamitan untuk pulang duluan. Tapi entah mengapa, Farhan begitu mengagumi kecantikan Jelita yang kini bayangannya hampir menghilang ditelan malam.
Marisa menepuk pundak sang suami.
Bug...
"Kok malah ngelamun, sudah ditunggu anak-anak di mobil. Kasian sudah pada ngantuk."
Seperti sadar akan sesuatu yang tidak diketahui maksud dan tujuannya, Farhan mengikuti langkah istrinya dan segera masuk ke dalam mobil.
Rupanya Alya, memperhatikan gerak-gerik papanya yang sedikit aneh. Karena sewaktu keluar dari toilet tadi, gadis kecil itu tak sengaja melihat papanya sedang berbicara dengan artis dangdut tersebut.
Saat sang mama baru menaruh tubuhnya di kursi depan, samping kemudi, Alya menanyainya. "Ma, Papa kenapa sih?" sambil melihat ke arah sang papa yang baru saja masuk mobil, dengan tatapan penuh selidik.
__ADS_1
"Entah, jadi suka bengong sendiri, Dek," jawab sang mama jujur.
"Kok, bisa sih? Padahal Papa orangnya suka ngobrol, kenapa jadi suka bengong?" lagi, si Alya yang basic nya suka bertanya jadi se kepo itu.
"Apa'an sih, ngomongin orang kok di sebelah orangnya. Kan gak sopan, jatuhnya jadi ghibah atau nyindir ini?" akhirnya suara itu keluar juga dari bibir Farhan.
Akhirnya mereka bertiga tertawa lepas. Alfian dan Alvin yang saat itu tengah memejamkan mata, jadi ikutan larut oleh obrolan mereka bertiga.
"Makanya, jangan merem terus kerjaannya. Jadi gak tau kan, kalau tadi Alya lihat Papa ngobrol asik sama si ratu dangdut Jelita itu di depan toilet." Alya menyindir sang kakak yang mulai memejamkan matanya.
Entah mengapa kata-kata Alya itu, seketika membuat suasana yang tadinya biasa saja kini hening seketika. Alya melihat ke arah kedua orang tuanya, sama-sama diam dan saling menatap.
"Kenapa pada diam, Alya salah ngomong ya?"
Segera Alvin membungkam bibir adiknya, yang suka berbicara seenak jidatnya.
"Em, apa'an sih Kak. Lepaskan!" Alya memberontak.
"Jangan suka ngomongin orang dewasa, Dek. Gak baik."
Sebagai anak laki-laki yang paling besar Alvin selalu menjadi penengah, saat kedua orang tuanya mulai berseteru. Supaya adiknya itu, berhenti mengatakan apa yang tadi dia lihat.
"Apa itu benar, Pa?" tanya Marisa, penuh selidik.
"Cuma ngobrol biasa, berterimakasih sudah menghibur tamu undangan. Itu saja, gak lebih,"
"Tapi, kok hatiku berkata yang lain ya Pa?"
"Sudahlah, aku sedang menyetir. Debatnya dirumah saja."
Farhan mulai fokus dalam berkendara dan kejadian tidak terduga itu, begitu membuat hatinya serba salah. Sebenarnya, kejadian tadi hanya obrolan biasa saja tapi entah mengapa ada perasaan yang aneh.
Setiap kali bertemu dan berbicara dengan Jelita, selalu membuat hatinya senang dan seperti ada kecocokan. Perasaan apakah ini?
__ADS_1