Pelet Darah Menstruasi

Pelet Darah Menstruasi
Rencana menikah


__ADS_3

"Kamu?!" Tanya Farhan.


"Maaf, Om. Aku ganggu, boleh masuk gak?" Ucap Azis agak terkejut, karena melihat sosok perempuan yang berada di dekat Farhan.


Sekretaris Farhan nampak, bingung. Dia segera masuk dan berdiri di tengah ruangan.


"Ada apa Brian?" Tanya Farhan yang juga terkejut karena kedatangannya secara tiba-tiba.


"Maaf, Pak. Tadi, Mas Azis meminta langsung masuk, padahal saya sudah bilang kalau Bapak masih ada tamu," ucapnya sambil menunduk.


"Sudah, gak papa. Kamu boleh pergi,"


"Baik, Pak."


Farhan segera menyuruh Azis untuk duduk bersama dengan dirinya dan Jelita. Perempuan itu nampak, diam saja ketika Azis sibuk memperhatikan dirinya.


Bahkan, apa yang dikerjakannya tadi bersama Farhan tidak membuat wanita itu sungkan, atau pergi. Nyatanya, dia malah terang-terangan bercanda dan menunjukkan kebersamaan dengan pria yang diketahui telah menikah dan mempunyai tiga orang anak.


"Ada apa Zis, tumben kamu ke sini?" Tanya Farhan, membuat Azis gelagapan karena memperhatikan Jelita yang juga sedang mencuri pandang kepadanya.


"A a, itu anu Om. Tante meminta aku untuk melihat Om, disini. Soalnya tadi aku sama Maya, main ke rumah tapi Om gak ada. Kata tante Om jarang pulang, kenapa?"


Azis gelagapan, saat menjawab pertanyaan Farhan. Mukanya merah padam karena tertangkap basah, memperhatikan Jelita.


Tanpa Azis sangka, Om nya itu menjawab pertanyaannya dengan santai. "Om banyak pekerjaan Zis, makanya jarang pulang. Aku sudah bilang alasannya sama tante kamu juga,"


Dengan perasaan antara tidak enak atau apa, Azis ingin sekali bertanya. Siapa perempuan di dekatnya itu, tapi dia takut Farhan tersinggung. Tapi hal itu akhirnya ditanyakan juga kepada Farhan. Masalah marah akan dipikirkan lagi nanti, yang penting rasa penasaran nya itu terjawab.


"Wanita disebelah Om, ini siapa? Aku baru liat?" Tanya Azis dengan suara lirih.


Farhan menatap Jelita, dan langsung mendapat anggukan darinya. Farhan tahu apa yang harus dikatakan olehnya, dengan jujur.


"Em, ini Zis. Dia adalah Jelita, perempuan yang akan Om nikahi dalam jangka waktu dekat."


Bagaikan disambar petir disiang bolong, mata Azis membulat sempurna. Dia tidak percaya dengan ucapan Omnya barusan.

__ADS_1


Menurut penglihatannya, keluarga Om dan tantenya itu tidak pernah ada masalah. Bahkan keluarga Farhan tergolong keluarga paling harmonis diantara anggota keluarga yang lain. Tapi kenapa, bisa Farhan tiba-tiba memutuskan menikah kembali?


Apa tantenya sudah tau bahwa, suaminya akan menikah lagi?


Tiba-tiba dada Azis bergetar kencang. Dia tidak tau, apa yang akan dikatakannya nanti bila tantenya itu menanyainya. Pasti hal ini begitu menyakitkan.


"Kenapa tiba-tiba Om, mau berpoligami?"


"Siapa yang akan poligami Zis? Om akan segera mengurus surat perceraian, karena calon istri Om tidak mau dijadikan yang kedua," ucap Farhan sambil mengusap lembut kepala Jelita yang terbalut oleh jilbabnya.


Semakin dibuat pusing saja Azis saat ini, sekali lagi Azis menanyakan masalah cerai dan rencana pernikahan itu kepada Farhan.


"Om yakin, mau cerai dari tante Marisa? Lalu anak-anak bagaimana, mereka akan sedih bila melihat kedua orang tuanya berpisah Om?"


"Mereka tidak akan kehilangan Om, Zis. Mereka tetap menjadi anak-anak Om. Setiap bulan, Om akan kasih mereka uang. Bahkan aku sudah siapkan pekerjaan untuk Marisa, dia suka sekali membuat kue dirumah. Om sengaja akan buatkan toko roti lengkap bersama karyawannya pula. Dengan begitu dia tidak akan kekurangan uang, bukankah itu sudah lebih dari cukup?"


Kali ini Azis sudah kehabisan kata untuk menjawab kembali ucapan Farhan, dia memilih untuk segera pergi dan mengatakan hal ini kepada istrinya. Biarlah Maya yang akan mengatakan berita besar ini kepada tante Marisa, Azis tidak tega melihat anak dan tantenya itu bersedih.


Sepanjang perjalanan, pikiran Azis tidak tenang dia masih berfikir tentang keputusan Farhan yang begitu mendadak. Dan wanita yang kini sedang diperjuangkan cintanya oleh Farhan, apakah itu benar perempuan baik-baik? Karena seorang perempuan yang baik tidak akan merusak rumah tangga orang lain.


---


Dikantor, Farhan masih menatap lekat wajah Jelita. "Kamu yakin mau menikah denganku, Lilit?" Ucapnya sambil terus mengecup punggung tangan Jelita.


"Aku bisa apa, kalau Sayang yang minta," jawabnya tersipu malu.


"Kamu panggil aku tadi apa? Katakan sekali lagi, aku mau dengar,"


"Yang bagian mana?"


"Tadi, kamu panggil apa sama aku?"


"Aku lupa,"


Tanpa Jelita duga, Farhan kini telah berada diatas tubuh Jelita. Mereka terlibat tatapan dalam satu sama lain, bahkan kedua tangan masing-masing saling membelai. Sehingga sebuah pagutan mesra terjadi ditengah suasana di luar bangunan yang begitu terik.

__ADS_1


Maya mengikuti kemana suaminya itu berjalan. Bahkan, saat Azis memutuskan untuk membersihkan dirinya, Maya menunggunya di depan pintu kamar mandi.


"Apa yang kamu lakukan disini, mengagetkan saja!" Ucap Azis berlalu begitu saja meninggalkan sang istri yang penasaran setengah mati.


"Aku masih penasaran, apa yang membuat mu begini sampai, tidak bisa berkata-kata seperti ini. Pasti ada yang kamu sembunyikan padaku?"


Entah mengapa Maya, begitu takut dengan perilaku suaminya. Karna Maya tau betul, Azis bukanlah tipe orang yang bisa menyembunyikan sesuatu. Setiap gerak-geriknya pasti akan menimbulkan pertanyaan.


Azis mulai duduk di tepi ranjang, disusul oleh Maya disebelah nya. Pria itu nampak, mengusap rambutnya dengan kasar lalu menarik napas dalam-dalam.


Azis harus segera mengatakan hal besar ini kepada istrinya, bisa bahaya kalau Azis terus menyimpannya. Bisa-bisa dia mati berdiri.


Maya dengan santai menunggu suaminya itu untuk bercerita, kupingnya dipasang lebar supaya, bisa mendengar setiap cerita dari mulut suaminya.


"Maya, aku harap setelah aku menceritakan hal ini. Tolong beritahu tante Marisa, ajak dia jalan-jalan supaya hatinya tenang dan tidak merasa stres nantinya,"


"Cerita secara detail, aku akan mendengarkannya," Maya memegang tangan Azis yang dingin seperti es, dia berusaha menenangkan hati suaminya.


"Tadi, aku melihat om Farhan bersama calon istri barunya dikantor."


Seketika Maya terdiam, dia melepaskan pegangan tangannya, lalu berpindah ke arah mulutnya yang menganga lebar.


Maya tidak menyangka akan mendengar kabar buruk ini, pantas saja suaminya bersikap aneh seperti itu. Ternyata ini yang akan disampaikannya.


"Siapa wanita itu, Mas?" Entah mengapa dia merasakan bahwa, perempuan yang kini akan menjadi calon istri om nya itu adalah orang yang pernah bertemu dengannya.


"Aku seperti tidak asing dengan wajahnya, dia berjilbab May. Tapi melihat matanya, aku seperti pernah melihat mata itu tapi dimana aku sendiri lupa,"


"Berjilbab? Siapa?"


Azis mengendikkan bahunya. Berkali-kali dia membuang nafas dengan kasar.


"Lalu bagaimana dengan tante Marisa, kapan kamu akan menyampaikan ini kepadanya? Kasian saja kalau om sendiri yang mengatakannya. Lebih baik tahu dari kamu dulu, nanti begitu Om mengatakannya kepada tante, dia sudah bisa memikirkan kata-kata yang pantas diucapkan oleh tante Marisa,"


"Entahlah aku tidak tahu."

__ADS_1


__ADS_2